Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.35


__ADS_3

"Morning sayang, aduh wangi sekali keponakan Aunty." Sheila mengangkat tubuh Kayla kedalam gendongannya. Mendaratkan ciuman-ciuman ringan di pipi gembul gadis kecil itu.


"Hahaha... Jangan cium lagi. Haha... Aunty geli." Ayara melihat dari ujung tangga. Bagaimana kakak iparnya itu sangat peduli dan sayang kepada putrinya. Lalu matanya beralih pada Reina yang sudah menarik satu koper besar di tangan kirinya.


Langkah kaki membawanya turun. Ia menyusul Reina hingga ke pintu keluar. Di depan ada ayahnya yang tengah berbicara serius dengan Doni. Juga ada Sulastri yang tengah menangis sesegukan seraya memeluk erat tubuh sang putri.


Ayara merasakan tepukan di bahunya. Menoleh, ternyata itu adalah kakaknya.


"Udah mau berangkat, Ay?" Arkan bertanya dengan senyum lebar. Disebelahnya juga ada Sheila yang membawa Kayla bersama.


"Iya, Bang. Kay, ayo!" ajak Ayara pada putri kecilnya. Wanita itu menuntut Kayla dengan langkah kecilnya masuk ke dalam mobil. Memasangkan seat belt, lalu menutup pintu mobil.


Ayara mengabaikan tatapan mata semua orang yang mengarah kepadanya. Punggungnya bahkan terasa panas karena terus menerus di lihat dari jauh.


Arkan yang juga membawa koper Ayara memasukkannya ke bagasi mobil. Pria itu mengeluarkan satu kartu bank Indonesia unlimited lalu memberikannya pada Ayara.


"Uang saku," ucap Arkan kemudian mengelus pelan surai miliknya. Ayara mengalihkan pandangannya pada Sheila, wanita itu terkekeh kecil lalu ikut mendekatinya.


"Terima aja, Ay. Lumayan buat belanja morotin Abang kamu."


"Thank you, Kak. Sering-sering main ke rumah, ya. Bantuin jaga Kayla," tutur Ayara tanpa beban.


Plak... Sheila menepuk pundak adik iparnya itu pelan. "Udah tahu butuh baby sitter tambahan, kenapa kamu gak pindah aja sih ke sini. Mana Abang kamu udah terlanjur usir orang lagi."


"Dari sini ke kantor AMC Grup jauh, Kak. Aku gak bisa kalo harus nyetir tiap hari." kilah Ayara berdalih. Sheila hanya mencebik mengejek, lalu memeluk Ayara erat.


"Pamit sama ayah, gih..." titah Sheila dengan gerakan kepala.


Ayara menatap wajah Arkan. Pria itu tersenyum, lalu memutar tubuh adiknya agar segera masuk ke dalam mobil.


Arkan masih belum setuju jika Ayara mulai kembali mendekatkan diri pada Ayasa lebih dulu. Ia ingin mendengar ayah mereka itu meminta maaf. Atau paling tidak, merasa bersalah atas kejadian masa lalu.


Hanya karena merasa malu, ia tega membuang seorang anak. Arkan tahu semua orang pernah membuat kesalahan. Begitupun dia yang juga pernah melakukan kesalahan besar dengan mengkhianati istrinya bahkan mencoba untuk bercerai.


Namun dia bisa menyesali perbuatannya. Dia bisa mengakui kesalahan, dan meminta maaf pada Sheila. Arkan juga berharap hal yang sama dengan ayahnya. Apalagi Ayara adalah satu-satunya peninggalan ibunya yang bisa membuat ia selalu ingat akan wanita hebat itu.

__ADS_1


Bagi Arkan, Ayara adalah pengganti sosok ibunya yang tidak akan pernah tergantikan. Bersyukurnya dia, bisa mendapatkan istri yang penyayang kepada adiknya, dan adik yang juga peduli akan perasaan kakak iparnya.


"Gak usah. Sana jalan, kamu kan juga harus ke kantor dulu. Udah berapa hari kamu cuti, pasti kerjaan udah numpuk."


Sheila menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah sang suami. Wanita itu malah menghadang langkah Ayara, lalu menatap tajam suaminya.


"Turunin rasa gengsinya, Mas. Gak boleh begitu sama orang tua. Ay, pamit dulu meskipun hanya basa-basi sama Ayah!" titah Sheila dengan mode galaknya.


Ayara tertawa kecil melihat Arkan yang langsung menciut dengan amarah sang istri. Ia berjalan mendekati Ayasa, lalu berbicara.


"Yah, aku harus balik ke rumah yang disediakan kantor. Ayara, pamit." Ia mencium punggung tangan ayahnya takzim. Setelah itu beralih pada Sulastri dan melakukan hal yang sama. Namun Ayara melewati Reina, wanita itu adalah orang yang akan ia hindari sebisa mungkin.


Sesak rasanya ketika melihat kenyataan bahwa Reina lebih memilih untuk kembali bersama Doni, daripada berpisah. Padahal jelas-jelas dia sudah diselingkuhi habis-habisan oleh suaminya sendiri.


Ayara tidak tahu apa isi pembicaraan mereka kemarin malam. Tetapi ia yakin, jika ayahnya tidak akan lepas tangan begitu saja. Memang semua orang berhak menentukan pilihan. Namun jika pilihannya seperti ini, Ayara tidak terima rasanya.


Ia kembali mengingat bagaimana dia menjaga Reina sejak SMP, SMA, bahkan memasuki dunia pendidikan S1.


Ayara memalingkan muka. Kemudian masuk ke dalam mobil, lalu membuka kaca mobil samping Kayla. "Kami pergi dulu, Kak. Bye..."


Di depan rumah. Arkan masih menatap sinis pada Doni, "Ini kesempatan kedua untuk kamu. Jika kembali terulang, aku akan membiarkan Ayara melakukan apa yang dia mau. Membuat kamu mau tak mau harus menceraikan Reina."


Reina terkejut mendengar ucapan kakak sepupunya sekaligus kakak tirinya itu. Semalam ia mengusirnya, namun sekarang dia mengkhawatirkannya. Atau dia hanya sedikit lebih percaya diri. Mungkin saja Arkan sebenarnya mengkhawatirkan perasaan Ayara yang begitu peduli pada Reina, bukan?


...***...


Ayara dan Kayla tiba di lantai gedung dimana tempatnya bekerja. Ayara membuka pintu ruangannya, namun semua barang-barangnya sudah tak ada. Bahkan meja kerja dan kursinya pun tidak ada.


"Oh God, apalagi yang pria gila itu lakukan!" keluhnya seraya memijit keningnya lelah.


Tak lama, Ace juga tiba bersama dengan Brian dan seorang wanita berpenampilan rapi.


"Om jahat!" pekik Kayla lalu berlari mendekat pada Ace. Gadis kecil itu merentangkan tangannya, lalu melompat ke pelukan Ace. Ayara bahkan tidak sempat untuk menghalangi gerakan putrinya itu.


Ayara menutup wajahnya dengan telapak tangan. Ia malu, sungguh!

__ADS_1


"Aya, perkenalkan dia Dewi. Mulai sekarang kamu akan dibantu sama dia. Ruangan kamu sebelumnya akan ditempati oleh Dewi."


"Lalu saya, Pak?" Ayara bertanya.


"Tentu saja di ruangan saya. Dimana lagi." jawab Ace dengan penuh percaya diri.


Ayara menggoyangkan tangannya di depan. Memprotes keputusan Ace yang lagi-lagi memutuskan semuanya sendiri.


"Tidak... tidak... tidak... Pak. Saya satu ruangan saja dengan buk Dewi--"


"Panggil Dewi aja, Bu. Saya masih junior dan lebih muda dari ibu," sela Dewi memotong ucapan Ayara.


"Apapun itu panggilan mu. Maksudku, Pak. Tidak ada sejarahnya GM pelaksanaan malah bertugas di satu ruangan dengan CEO. Apa kata karyawan lainnya, Pak." keluh Ayara hampir mencapai puncak kesabarannya.


"Saya tidak peduli!" Final Ace tidak ingin didebat, lalu membawa Kayla masuk ke ruangannya.


Ayara saling bertatapan dengan Brian juga Dewi. Seakan meminta bantuan untuk menyadarkan bos mereka yang memiliki otak rada-rada miring satu itu. Namun keduanya malah kompak menggeleng, lalu memasuki ruangan masing-masing. Menyisakan dirinya yang masih berdiri di depan pintu ruangan CEO.


Ayara menghirup udara sebanyak-banyaknya. Menghembuskan-nya secara perlahan, lalu membuka pintu ruangan Ace.


Di sana ia bisa melihat jika meja kerjanya, kursi juga berkas-berkas penting telah menempati sudut ruangan Ace yang berdekatan dengan jendela. Jika tirai di buka, ia bisa melihat dengan jelas apa yang Dewi kerjakan dari sini.


Seketika Ayara tersentak. Jangan-jangan selama ini Ace sering menatapnya dari sini.


"Dimana Kayla?" tanya Ayara mencari-cari keberadaan putrinya itu.


"Sudah baca buku di kamar istirahat. Mau menyusul? Kita bisa menghabiskan waktu bersama di sana. Libur satu hari lagi tidak akan membuatku bangkrut."


Ayara mendelik, lalu mengarahkan tatapan tajam pada Ace. "Semakin kamu bertingkah begini, semakin cepat proses untukku keluar dari sini, Ace. Jangankan satu bulan, mungkin dalam satu minggu kamu akan segera mendengar bahwa aku ditarik kembali oleh pihak Hayakawa!"


"Bagus dong, kalo begitu kamu tinggal fokus denganku dan putri kita. Tidak perlu bekerja lagi, ya sayang. Uangku jauh lebih banyak untuk membuat kalian hidup dengan tenang dan mewah." tutur Ace tersenyum tanpa rasa bersalah.


"In your dreams, Bastard!"


"I love you too, Sayang." Ayara kesal sendiri dengan tingkah Ace. Ia lebih memilih diam, lalu tenggelam dalam pekerjaannya. Dia tidak peduli lagi. Terserah pria sinting itu ingin melakukan apa, pikirnya.

__ADS_1


__ADS_2