
Punggung Ayara menghilang dari balik pintu ruangan CEO, meninggalkan Ace dan Joelyn di ruangan itu. Mata Ace menangkap berkas-berkas yang telah kusut tidak berbentuk di atas meja.
Berkas basah, dan hancur ketika diangkat. Ace membaca potongan judul kertas berkas itu.
Rencana final proyek building construksi Hayakawa.
"Brian!" Geram Ace dengan mata melotot tajam pada Joelyn.
"Iya, Tuan."
"Pergi ke bagian keamanan. Berikan rekaman cctv di ruanganku satu jam terakhir. Aku penasaran apa yang terjadi dengan berkas-berkas yang sangat penting ini."
Brian mengangguk, lalu segera pergi dari ruangan Ace. Setelah kepergian Brian, Ace duduk di sofa dengan kaki bersilang.
Joelyn berjalan mendekat, aura Ace begitu mencekam dan seperti tidak tersentuh. Pria itu terlihat begitu marah.
"Tetap diam di situ sebelum aku membunuhmu!"
Beberapa saat kemudian. Ace mendapatkan salinan cctv dari satu jam yang lalu. Dia melihat-lihat adakah sesuatu yang janggal. Sampai, ia melihat Joelyn dengan sengaja menumpahkan air ke berkas-berkas itu.
Darahnya mendidih. Perempuan ini! Memang sama sekali tidak bisa dibiarkan.
Ace mendekati meja kerjanya. Menekan interkom yang tersambung langsung ke resepsionis.
"Panggil satpam keruangan ku. Lain kali, tidak ada yang boleh naik ke ruanganku seenaknya tanpa terkecuali!"
"Ace, kamu gak bisa memperlakukan aku begini. Aku ini ibu dari putramu, Ace. Ace!" pekik Joelyn tidak terima.
Ace mendekati Joelyn. Ia mencengkram dagu wanita itu kasar.
"Bersyukurlah karena aku tidak sampai menamparmu, atau bahkan menyakitimu lebih. Keluar! Bawa Dia!"
Satpam yang baru saja datang menganggukkan kepala. Tanpa perasaan mereka menyeret Joelyn keluar dari ruangan secara kasar hingga ke keluar kantor perusahaan.
Gosip dengan cepat menyebar. Ayara semakin tersudut karena dituduh sebagai penggoda, dan membuat Ace memperlakukan istrinya dengan buruk.
"Brian!" panggil Ace.
"Iya, Tuan."
"Hubungi media, aku akan meluruskan kesalahpahaman berlarut ini."
"Baik, semua akan siap dalam 30 menit ke depan Tuan."
Setelah Brian keluar. Ace mendudukkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Pria itu terus menunggu Ayara kembali ke ruangan.
__ADS_1
Satu jam berlalu, dua jam berlalu Ayara belum juga kembali. Padahal dia bahkan sudah melakukan konversi pers untuk meredakan gosip yang beredar.
Sekarang semua orang tahu jika Alex merupakan anak yang lahir di luar pernikahan. Sesuai hukum negara, keadaan ini agak sedikit susah. Namun tidak untuk Ace, apa yang tidak bisa ia lakukan dengan uangnya yang banyak.
Headline tentang percintaan Ace menjadi tranding topik di berbagai media. Hal itu cukup menggemparkan, karena sosoknya yang berpengaruh.
"Apa yang dilakukan anak itu!" tanya Alkenzo menatap murka berita-berita yang ada di televisi, dan berbagai jejaring sosial.
"Sabar, Pa. Ace pasti punya alasannya," tutur Waduri membela putra tunggalnya.
"Apanya yang sabar. Lihat kelakuan anakmu itu! Sekarang bagaimana membersihkan nama Alex? Gimana?"
"Pa, mungkin saja Ace melakukan hal ini karena ingin Ayara tidak salah paham lagi. Iya, mungkin seperti itu. Kamu kan tahu, bagaimana anakmu itu jika sudah menyangkut hubungan percintaan."
"Arghh... Terserah! Bilang sama anak itu. Bereskan segera! Setidaknya jangan sampai berita ini mempengaruhi saham perusahaan. Semua kerja kerasnya akan hancur dengan sendirinya jika dia terus bersikap semboro begitu!"
Waduri menghela napas panjang melihat kepergian suaminya. Ace... putranya itu tidak pernah berubah. Jika menyangkut soal hubungan percintaan dia selalu melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang.
Berkali-kali Waduri menghubungi Ace. Dia seolah kehabisan kesabaran, akhirnya memutuskan untuk datang ke kantor sendiri.
•••
Ayara tengah bersama Alex di cafetaria saat ini. Orang-orang tidak menyadari keberadaan mereka karena sedikit terhalang tembok.
Dia sengaja memilih tempat paling pojok. Karena menurut pengalaman nya, di sini orang-orang tidak akan segan-segan untuk bergosip dan menyindir orang lain secara terang-terangan.
"Bibi, aku rindu kakak cantik."
Ayara membaca tulisan Alex di note. Dia tersenyum manis, membelai wajah anak laki-laki itu sayang.
"Kakak cantik sedang bersama Uncle-nya sekarang. Besok pagi, dia ada perlombaan piano. Alex mau ikut melihat kakak? Bibi akan minta bibi Elena membawamu."
Alex mengangguk cepat. Anak laki-laki itu terlihat begitu antusias.
Ngomong-ngomong, Kayla pasti juga akan terlihat antusias jika melihat daddy-nya ada diantara penonton besok. Apa Ace akan bersedia untuk datang? Apa pria itu akan menolaknya?
Haa... Memikirkannya membuat perasaannya semakin galau saja. Diingat-ingat, tadi dia meninggalkan Ace bersama Joelyn di ruangan itu berdua kan.
Apa yang mereka lakukan? Apa mereka berpelukan? Atau mungkin...
Argh... sebenarnya dia ini kenapa. Apa pedulinya mereka mau melakukan apa. Terserah dengan mereka, toh mereka juga memiliki Alex diantara mereka.
Setelah menghabiskan es krim sebagai makanan penutup mereka. Ayara membawa Alex kembali ke ruangan Ace.
Selain dia harus mengembalikan anak laki-laki ini pada ibunya. Dia juga harus memeriksa ulang berkas-berkas yang tadi sempat minta tolong Dewi untuk kembali memfotokopi rekapannya.
__ADS_1
"Cah... Sampai!" Alex tertawa tanpa suara. Menunjukkan deretan giginya yang belum sepenuhnya tumbuh.
"Ayo, masuk." Ajak Ayara, yang langsung dijawab anggukan setuju oleh Alex.
Ayara membuka pintu ruangan yang menjadi tempatnya bekerja, sekaligus ruangan CEO. Dia mematung melihat sosok paruh baya yang tengah menoleh padanya karena acara marah-marahnya terpotong.
"Ahh... Maaf, saya permi--"
"Ayara." Suara tegas wanita paruh baya itu melantun. Menghentikan langkahnya yang ingin berbalik keluar.
Astaga! Siapa sebenarnya ibu-ibu ini. Apa dia ibu Ace, atau ibunya Joelyn. Gawat! Dia pasti akan dicecar karena menyebabkan kesalahpahaman diantara hubungan anaknya.
"Ma..." Waduri mengangkat tangannya memerintah putranya untuk diam. Sekarang! Bagian dirinya dulu yang berbicara.
"I--iya, Bu." jawab Ayara gugup. Dia takut dilabrak!
"Kamu cantik sekali, ini pertama kalinya kita bertemu. Ahh... Perkenalkan saya, Waduri. Ibu pria brengsek itu!" ucap Waduri langsung berubah ramah. Telunjuknya mengacung lurus ada Ace ketika dia mengatakan kata brengsek dengan penekanan diakhir kalimat.
"A--aku, ahh... maksudnya saya, Ayara Basagita. Salam kenal, Bu."
"Kok ibu, sih. Panggil mama aja," Ayara melirik pada Ace memberikan kode pertanyaan. Namun pria itu hanya tersenyum dengan bahu yang mengangkat naik, pertanda dia juga tidak tahu apa-apa.
"Ma--Mama."
"Iya begitu, dan pria kecil. Apa yang kau lakukan dibelakang sana? Bersembunyi dari Oma-mu? Hemm..."
Alex menyengir kuda. Ia menunjukkan wajahnya, kemudian segera berlari menghampiri Waduri.
"Dasar cucu nakal! Oma kebingungan mencarimu karena papamu bilang tadi ibumu tidak kesini membawamu. Ternyata kamu bersama mamamu yang lain hemm..." oceh Waduri tanpa memperhatikan ekspresi wajah Ayara yang telah menunduk takut. Wanita itu menggigit pipi dalamnya kuat.
Mamamu yang lain. Kata-kata itu terdengar aneh. Dia merasa itu berarti bahwa akan ada sesuatu yang tidak baik terjadi. Tapi apa?
"Nak, kemarilah. Temani Mama bicara, tidak perlu bekerja. Dia pasti bisa menyelesaikannya!" Ajak Waduri pada Araya seraya menghampiri sofa di ruangan itu. Lagi-lagi Waduri menunjuk putranya tanpa beban.
"Ouh, iya. Bagaimana kabar Kayla? Mama sudah yakin dia putri kandung Ace sejak Elena membawanya ke pesta ulangtahun Alex waktu itu. Wajahnya pak-ketiplek banget sama Ace waktu kecil kayak gak ada bedanya."
"Baik, Ma. Tadi pagi dia pergi ke rumah ayah dengan pamannya. Ka--kalo mama tidak keberatan, besok Kayla mengikuti lomba piano. Jadi, emm... Apa mama mau datang?" tanya Ayara ragu-ragu.
Sebenarnya dia tidak yakin dengan idenya ini. Tapi jika nanti Ace menolak datang, setidaknya ada Oma dari daddy-nya yang bisa ia tunjukkan pada Kayla. Supaya putrinya itu tidak terlalu sedih.
Ayara sangat tahu dua hari ini Kayla sangat sedih karena tidak bisa berkata jujur jika dia ingin bertemu daddy-nya. Bahkan bisa dibilang, gadis kecilnya terkesan menghindar dari Ace, mungkin karena dia takut Ayara akan merasa sedih jika dia melakukan itu.
"Benarkah?"
"Iya, Ma. Besok siang di aula gedung Plaza."
__ADS_1
"Kalo begitu, Mama akan datang sama Papa kamu. Dia pasti senang dan bangga liat cucunya bisa main piano." Ayara tersenyum mendapatkan respon positif dari Waduri. Semoga, keputusannya kali ini tidak berdampak buruk.