Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.12


__ADS_3

Elena menggandeng tangan kecil Kayla masuk ke dalam sebuah rumah mewah tiga lantai. Dari luar rumah ini sudah terlihat begitu indah. Banyak hiasan yang terbuat dari keramik dan batu giok.


Di halaman depan, ada satu batang pohon yang menjadi pusat perhatian Kayla. Yaitu pohon jambu air yang tengah berbuah lebat dan memerah karena telah banyak matang.


Di halaman depan memang termasuk banyak pohon yang ditanam. Seperti mangga, jambu air, jambu biji, bahkan pohon manggis juga ada.


"Bibi, apa buah itu bisa dimakan?" tanya Kayla menunjuk pohon jambu air.


"Tentu saja, kamu mau mencobanya?" Kayla mengangguk dengan antusias. Matanya terlihat berbinar-binar tak sabar ingin mencobanya.


Gadis kecil itu segera mengeluarkan kamera kecilnya dari dalam tas. Memotret beberapa untuk ditunjukkan pada ibunya.


"Kamu suka melihat jambu?"


"Iya, aku suka pohon berbuah. Di depan rumahku sekarang ada pohon mangga. Di London aunty dan uncle menanam pohon apel, anggur, pir, ahh... iya, uncle Lucas juga memberikan aku hadiah pohon stroberi yang banyak," jawab Kayla bersemangat.


"Benarkah, wah bagus sekali. Nanti bibi ajak kamu bermain lebih dekat ke sana. Sekarang kita masuk dulu, karena sebentar lagi acaranya akan dimulai."


"Benarkah?"


"Iya, bibi janji." Kayla menggenggam tangan Elena sembari tersenyum lebar. Pohon buah-buahan memang yang terbaik untuk membuat Kayla bersemangat.


Saat kedua gadis beda usia itu memasuki rumah. Seluruh pandangan orang-orang tertuju pada mereka. Orang tua Elena kompak menepuk kening mereka melihat penampilan Elena yang sangat diluar ekspektasi.


"Elena, kemari Nak. Kamu datang dengan siapa?" tanya Alkenzo lembut.


Benar, Elena dan Ace merupakan sepupu. Ayah mereka bersaudara, namun Elena memang enggan dekat dengan Ace karena gadis itu berpikir Ace menakutkan dan seram.


"Iya, Nak. Kau datang dengan siapa?" tanya Waduri ikut penasaran.


"Kenalin Om, Tante. Ini anak asuh, Elena--"


"Uhuk...," Spontan ayah Elena tersedak minumnya sendiri mendengar penjelasan putrinya itu.


"Ahh... Maksudku, dia putri Ayara, Pi. Elena yang gantian menjaganya, karena Aya harus kerja. Sebenarnya kemarin Ayara minta cariin jasa pengasuh profesional, tapi karena Elena nganggur. Ya udah deh!"


Ibu Elena dan Waduri kompak memijit kening mereka. Ada-ada saja tingkah putri mereka satu ini yang membuat keluarga pusing kepala.


"El, itu anak orang." ujar Widuri mengingatkan keponakan kesayangannya itu.


"Elena tahu, Tante. Yang bilang bukan anak orang siapa?"

__ADS_1


"Maksud tante mu itu, El. Kamu aja terkadang masih butuh pengasuh, gimana mau jadi pengasuh." Jelas Alkenzo tidak habis pikir.


Pria tua itu memperhatikan wajah Kayla yang terus berdiam diri di samping Elena. Alkenzo sedikit terkejut, wajah anak itu sangat mirip dengan Ace kecil.


Hidungnya, matanya, bahkan ekspresi datarnya. Ahh... apalagi ini?


"Dia anak siapa, El. Kenapa mirip sekali dengan kakakmu waktu kecil?" tanya Alkenzo kembali menatap Elena.


"Benarkah? Tunggu, tunggu." Elena duduk, kemudian mensejajarkan wajahnya dengan wajah Kayla. Ia memperhatikan wajah keponakannya itu dengan lebih teliti lagi.


"Benar, juga. Kenapa aku baru sadar," bisik Elena pada dirinya sendiri.


"Dia anak Ayara, teman kamu yang ngilang tanpa jejak 5 tahun lalu, El?" tanya ibunya Elena menebak.


"Iya, Mi."


"Waktu itu kamu bilang dia sedang hamil kan?" Elena menatap ke arah ibunya. Nampak berpikir dengan keras.


"Apa mungkin--"


"Bisa saja! Anak itu memang selalu berbuat ulah. Jika bukan wanita itu sendiri membawa Alex kehadapan kami. Bisa saja Alex juga gak ada di sini sekarang," jelas Waduri ikut memprediksi kemungkinan.


"Aduh... Gak mungkin, Tante! Ini ya, teman saya itu korban pemerkosaan. Dia itu gak tahu kalo dia udah di setubuhi laki-laki. Bahkan ingat aja dia enggak. Waktu itu kami udah berusaha bantu Ayara buat ingat, dia gak ingat sama sekali,"


Anak itu tidak pernah main-main, selalu menjadi gadis baik dan penyayang kepada semua orang. Mana mungkin?


"Tapi, El. Lihat! Mereka mirip sekali." kukuh Waduri.


Kayla yang mendengar ucapan orang-orang dewasa di sekitar mereka menjadi muak. Ia tahu jika mereka membicarakan ibunya. Padahal pembahasan tentang ibu, Kayla sangat sensitif.


Gadis kecil itu tahu jika ibunya sangat menderita dulu karena orang-orang jahat. Atau jangan-jangan mereka termasuk orang-orang jahat itu.


Wajar saja uncle-nya keberatan mereka kembali ke tempat asal ibunya. Karena orang-orang seperti ini ternyata.


"Bibi jahat!" pekik Kayla membuat orang-orang kaget.


"Kayla, sayang. Ada apa?" tanya Elena heran.


"Bibi bilang baik sama, Mommy. Kenapa jahat? Kenapa ngomongin Mommy. Mommy ku gak jahat! Kenapa kalian jahat!" cecar Kayla dengan tangis yang kencang.


Elena menatap orangtuanya, juga paman dan bibinya. Beberapa tamu yang sudah datang juga memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Sepertinya anak itu salah paham, El. Tenangkan dulu dia, nanti kita perlu bicara keluarga. Ini sepertinya bukan kebetulan biasa." ucap Alkenzo bijak.


"iya, Om."


________


Hari sudah sore, Elena membawa Kayla yang masih tertidur pulas untuk kembali ke rumahnya.


Setelah pembahasan panjang dengan paman serta bibinya tadi. Mereka memutuskan untuk melakukan tes DNA secara diam-diam. Tidak, lebih tepatnya Elena sendiri yang akan melakukannya.


Apapun hasilnya, Elena tidak akan membiarkan mereka tahu kebenarannya selain seizin Ayara. Apalagi jika kakak sepupunya itu terbukti adalah ayah dari Kayla. Maka dengan tegas, ia mengatakan perang dengan kakaknya itu.


Betapa susahnya Ayara karena perbuatannya itu? Betapa menderita? Betapa tersiksanya Kayla karena harus menahan diri untuk bertanya kepada ibunya sendiri?


"Bibi, harap itu hanya kebetulan, Kay. Bibi tidak tahu harus meminta maaf seperti apa jika kamu memang adalah putrinya kak Ace," lirih Elena sembari menyibakkan rambut Kayla.


Tiba di rumah mereka. Terlihat mobil Elena sudah ada di parkiran. Itu berarti sahabatnya itu telah pulang.


"El, kalian dari mana? Loh... Kayla tidur? Tumben sekali?" tanya Ayara heran. Tidak biasanya putri kecilnya itu ketiduran ketika berpergian keluar.


"Iya, tadi ada sedikit masalah, Ay."


"Kenapa? Kayla bertengkar dengan anak yang lain, ya. Maaf, ya, El. Dia memang susah bergaul dengan anak-anak seusianya." sesal Ayara tidak enak hati.


"Bukan, soal itu. Bawa dulu Kayla ke kamar. Setelah itu kita baru berbicara, ini soal ayahnya Kayla." Ayara yang mendengar perihal ayah dari putrinya itu terdiam. Tidak berkata apa-apa lagi, Ayara segera memindahkan Kayla ke kamarnya.


"Minumlah dulu, El."


Elena mengambil minuman yang diberikan Ayara. Setelah beberapa saat, Elena mulai menceritakan tentang apa yang terjadi sebelumnya.


Ayara tidak banyak berkomentar. Ketika Elena mengatakan keluarga dari kakak sepupunya itu menginginkan tes DNA untuk pembuktian. Ayara masih diam.


"Apa tujuan mereka?" tanya Ayara tanpa ekspresi.


"Mereka hanya ingin tahu, El. Itu saja, aku yakin mereka tidak ada niatan untuk merebut Kayla darimu. Keluargaku tidak sejahat itu, Aya."


"Lakukan saja tes DNA-nya. Tapi, aku sendiri yang akan menemui mereka. Sekarang pulanglah dulu, El. Ini sudah malam." usir Ayara dengan halus.


Melihat ekspresi Ayara yang tidak bisa ditebak. Elena tahu jika wanita itu terguncang. Ia sendiri merasa sangat bersalah atas kejadian ini.


Saat Elena membuka pintu, Ayara kembali memanggilnya. "Elena, tunggu!"

__ADS_1


Elena menoleh, "Mulai besok tidak perlu datang untuk menjemput Kayla. Aku sudah bisa izin keluar untuk sekedar menjemputnya pulang. Lagipula uncle-nya Kayla tiba di Indonesia. Jadi kamu tidak perlu repot-repot lagi, terimakasih atas bantuannya selama ini." tukas Ayara sembari tersenyum paksa pada Elena.


Seakan-akan tidak bisa berkata apa-apa. Elena hanya mengangguk, dan kemudian meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk.


__ADS_2