
Ayara datang terburu-buru ke kantor di saat Ace menghubunginya lagi. Dia benar-benar lupa jika tadi bos-nya yang menyebalkan menghubunginya untuk bekerja.
Tiba di lantai atas, Ace sudah berdiri di depan lift untuk bersiap pergi. Mata mereka bertatapan untuk beberapa saat, lalu Ayara menundukkan kepala hormat.
"Kenapa bisa terlambat?!" tanya Ace penuh dengan intimidasi.
"Maaf, Pak."
Hanya kata itu yang Ayara ucapkan. Tidak ada kata penjelasan lain, karena bagi Ayara itu hanya akan membuatnya menjadi beralasan, dan berkilah dari kesalahan. Salahnya karena lupa bahwa Ace menyuruhnya ke kantor, meskipun juga salah pria itu mengganggu waktu weekend nya yang seharusnya untuk keluarga.
"Karena kamu terlambat, tidak ada waktu untuk berkemas. Kita langsung saja menuju bandara."
"Bandara, Pak?" tanya Ayara terkejut.
"Kenapa, ada masalah?" Ace menatap Ayara dengan datar. Seakan mengatakan, jangan protes! Karena ini adalah perintah bukan penawaran.
"Gak bisa dong, Pak. Kenapa mendadak begini." protes Ayara tidak terima, "Aku punya anak, Pak. Anakku sendirian di rumah, mana bisa ditinggalkan."
"Bukankah ada ayahnya. Kamu sendiri yang bilang kalau bajingan Lucas itu ayahnya. Biarkan saja dia yang menjaga anaknya," tukas Ace dengan wajah santai.
Ingin rasanya Ayara menjambak rambut atasannya ini hingga rontok. Mengambil keputusan seenaknya, tanpa perundingan dan juga persetujuan darinya.
"Pak, putriku tidak pernah berpisah denganku. Bagaimana jika dia sakit? Menangis mencari ku malam-malam? Bapak punya anak, kan. Bapak pasti tahu rasanya cemas orang tua, ketika meninggalkan anaknya."
Ayara masih berdebat dengan Ace. Sebenarnya bukan karena serta merta ini tentang Kayla yang harus ia tinggalkan. Namun karena dia tidak terima, Ace mengambil keputusan sepihak seperti ini.
"Memangnya berapa usia anakmu? dua tahun? tiga tahun, atau--"
"Intinya saya tidak setuju untuk ikut, Pak!" Ayara memotong ucapan Ace yang belum selesai. Brian yang melihat keberanian Ayara hanya menelan ludahnya kasar.
Mati sudah, nona Ayara berani sekali memotong ucapan Tuan. batin Brian mengeluh.
"Kalo begitu bawa saja anakmu, kit jemput sekarang juga! Tidak ada alasan lagi. Ini proyek penting, Ayara. Aku tidak ingin menanggung kerugian hanya karena utusan Hayakawa yang tidak berkompeten." tandas Ace culas.
__ADS_1
Ayara menghentikan langkahnya yang terus mengikuti pria itu dari tadi. Apa katanya tidak berkompeten? Ayara yang tidak berkompeten, apa pria itu yang terlalu semena-mena?
Menghembuskan napas panjang. Ayara menghubungi Sheila untuk menjaga Kayla selama dia pergi ke luar kota. Tidak mungkin dia membawa Kayla yang memiliki wajah salinan dari Ace ini bersamanya.
Untungnya kakak iparnya itu masih cukup lama di Indonesia. Jadi ia bisa sedikit bernapas lega untuk meninggalkan Kayla bersama Sheila.
"Tidak ingin masuk? Masih mau membuat masalah dengan membuat kita semua ketinggalan pesawat?"
Ayara menggerutu. Kemudian segera mengakhiri panggilannya.
Masuk ke dalam mobil, Ayara lebih memilih untuk duduk di samping kemudi dari pada di sisi pria berhati iblis itu.
Mobil bergerak menuju bandara. Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara sama sekali. Ayara bahkan tidak tertarik untuk membuka mulutnya karena masih merasa kesal.
"Brian, kami akan di sana selama tiga hari. Tolong handel pekerjaan di sini, laporkan setiap pergerakan yang mencurigakan. Dan jangan lupa, awasi pria itu. Sepertinya dia tengah mencari sesuatu di kehidupan pribadiku!" ucap Ace pada Brian, ketika mereka mulai memasuki bandara.
Mendengar kata tiga hari, Ayara memutar kepalanya menoleh ke belakang. "Pak! Tiga hari? Memangnya di sana ada masalah apa sih, Pak. Aku sebagai GM pelaksanaan akan mendapatkan kabar lebih dulu jika terjadi sesuatu yang bermasalah. Tapi ini aku tidak mendapatkan kabar apapun, tiba-tiba kita terbang ke sana untuk melihat proyek pembangunan. Jadwal peninjauan pun akan dilaksanakan mulai bulan depan."
"Bapak tahu sejauh mana proyek ini berjalan? Masih di tahap pendataran tanah, dan penebangan kayu, Pak. Bapak tahu, kan lahan yang kita bangun ini masih hutan? Jadi jelas belum ada yang bisa dilihat selain luas wilayah. Ngapain di sana tiga hari, pak!" Ayara menjabarkan perkembangan proyek mereka dengan maksud untuk memprotes keputusan Ace.
"Sekalian liburan," jawab Ace singkat, namun sukses membuat Ayara semakin kesal dan emosi.
"Bapak kalo liburan ngapain ngajak aku, Bapak." Ayara meremas tangannya di udara. Seolah-olah bahwa yang tengah ia hancurkan itu adalah tubuh Ace hingga hancur berkeping-keping, "Seharusnya ajak anak dan istri, Bapak. Kenapa malah melibatkan aku..."
"Kamu cemburu?" tanya Ace dengan pd-nya.
Mata Ayara membulat mendengar penuturan atasannya yang terlampau percaya diri. Cemburu? Apa yang harus membuatnya cemburu dengan rumah tangga orang lain?
"Cemburu? Kenapa aku harus cemburu, memangnya aku siapa bapak, dan bapak siapa aku? Please deh, Pak. Jangan terlalu percaya diri," ejek Ayara tidak habis pikir.
"Karena kamu wanitaku dari lima tahun lalu. Kamu lupa kita pernah menghabiskan malam hangat berdua. Aku ingin kamu mengingat itu lagi."
Ayara menghela napas kasar. Menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskan napasnya dengan kasar.
__ADS_1
"Pak Brian, apa kamu tahu tempat untuk mendinginkan kepalaku dimana? Aku butuh asupan oksigen yang banyak sekarang."
____________
Disisi lain, Joelyn terus menerus mencoba menghubungi Ace sejak tadi. Namun tidak kunjung juga mendapatkan balasan.
Wanita itu melemparkan ponselnya kesal. Selalu saja begini, Ace selalu mengabaikannya. Sebenarnya apa yang kurang darinya, wajah? Dia bahkan lebih cantik daripada wanita-wanita yang pernah ditiduri oleh pria itu. Kemampuan? Keahliannya di ranjang bahkan tidak ada yang bisa meragukannya.
Sebenarnya apa yang dicari oleh pria itu hingga selama ini.
Setelah menetralkan emosinya, Joelyn menghubungi salah satu orang suruhannya untuk menanyakan apakah Ace hari ini ke kantor apa tidak.
Dan ketika ia mendapatkan kabar jika Ace pergi ke luar kota bersama GM baru itu. Ia tidak bis membendung amarahnya lagi.
Seluruh barang ia hancurkan. Keadaan apartemennya menjadi sangat berantakan, layaknya sebuah kapal yang pecah.
"Aku harus menyusulnya! Tidak akan aku biarkan wanita itu mendapatkan perhatian Ace begitu saja." tekadnya dengan kuat.
Tidak lama, ia menghubungi Batara untuk meminta bantuan. "Tar, aku butuh tiket pesawat sekarang juga."
"Untuk apa?"
"Ace pergi berlibur dengan wanita lain. Aku ingin menyusulnya."
"Jo, kau yakin bisa mengatasi Ace yang bahkan bisa membunuh wanita itu. Ayolah, Jo, aku ini temanmu tetapi aku juga sahabat Ace. Aku tahu betul dia pria seperti apa, tidak usah khawatir. Dia tidak akan tergoda dengan wanita itu, percayalah mereka hanya akan menghabiskan waktu beberapa hari, kemudian berakhir." Batara berusaha menolak permintaan Joelyn. Jelas pria itu tahu siapa wanita yang Joelyn maksud. Siapa lagi jika bukan Ayara.
Bahkan yang memberikan pria itu ide untuk menjebak Ayara di sebuah perjalanan dinas adalah dia. Mana mungkin dia membantu Joelyn, yang jelas dia tahu Ace tidak menginginkannya sama sekali.
"Tapi ini berbeda, Tar. Ace sudah memperhatikannya dari lama, bahkan di kantor orang suruhan ku mengatakan bahwa Ace dengan terang-terangan memperhatikan wanita ini."
"Jo, sudahlah. Kamu gak capek ngejar-ngejar Ace terus? Dia gak pernah ngelirik kamu sama sekali. Ngapain sih,"
"Dengar ya Batara, aku menghubungi mu untuk meminta bantuan. Kalo kamu tidak ingin membantu, aku bisa mencari bantuan dengan orang lain. Tidak usah menggurui ku, tentang apa yang harus aku lakukan."
__ADS_1
Joelyn mematikan panggilan itu secara sepihak. Ia segera berkemas, dan menghubungi orang lain yang kalanya bisa membantu untuk mendapatkan tiket menyusul Ace saat itu juga.