Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.30


__ADS_3

Ayara membawa nampan berisi satu cup besar eskrim, dua jus wortel, satu porsi kentang goreng, dan dua porsi steak sapi.


Kayla sendiri telah duduk manis di sofa pojok ruangan, sedikit tertutup dari penglihatan pengunjung lain. Pemandangan cafe & resto ini langsung ke lantai bawah. Saat ini mereka sedang berada di lantai tiga, dengan pemandangan keramaian seisi mall.


Wajah gadis kecil itu terlihat murung. Meletakkan nampan ke meja, Ayara mengikuti arah pandang gadis kecil itu.


Terlihat seorang pria dewasa tengah mengikatkan tali sepatu anak kecil. Ibu dari anak itu tersenyum manis, begitupun dengan sang anak yang terlihat sangat bahagia.


"Hei, Sayang. Ngeliatin apa?" tanya Ayara lembut membuyarkan penglihatan putri kecilnya.


"Nope, hanya melihat-lihat, Mom sudah bawa eskrim ku." Ayara menanggung, lalu menyerahkan satu cup eskrim ke hadapan Kayla, "Yeay, thank you, Mommy. I like it," ujarnya antusias diiringi tepukan tangan riang.


Mengelus sayang rambut Kayla, Ayara memalingkan wajahnya ke atas. Mencoba menahan agar air matanya tidak menetas.


Ia bukannya tidak tahu jika putrinya ini sangat mendambakan sosok ayah. Apalagi Lucas akhir-akhir ini sedikit sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu luang untuk sekedar bermain dengan Kayla.


Kayla mungkin anak yang pintar, cerdas, dan energik. Namun di suatu momen tertentu, gadis kecil itu akan merasa sangat terasingkan. Seperti sekarang contohnya, ketika semua anak pergi bersama ayah mereka. Kayla hanya bisa menghibur diri dengan pergi bersama ibunya.


Kayla kecil dituntut untuk dewasa sebelum waktunya. Keadaan juga masa lalu kelam sang ibu membuatnya harus berhati-hati dalam bersikap. Bukan berarti dia tidak bersyukur akan ibunya. Namun ada kalanya dia juga membutuhkan pelukan seorang ayah.


Mendudukkan tubuh di samping Kayla. Ayara mulai mengiris kecil steak, lalu menyerahkannya pada Kayla.


"Makan sayang, nanti lagi eskrim nya."


"Oke, Mom." Tanpa banyak drama, Kayla sedikit menjauhkan cup eskrim miliknya. Memasukkan satu potong kecil daging ke mulut, lalu mulai mengunyah dengan imut, "Mom! Aku mau minum."


Dengan sigap Ayara segera mengambil satu gelas jus. Mengangkatnya, lalu mengarahkannya ke bibir Kayla.


"Aku ingin air putih, Mom." pinta Kayla menatap ibunya.


"Oke, wait... Sebentar ya, Mom ambilkan."

__ADS_1


Ayara berjalan ke arah meja kasir, lalu meminta satu botol air mineral kemasan di sana. Ketika Ayara memesan, tiba-tiba seorang anak kecil memeluk kakinya erat.


Ayara menunduk, melihat ke bawah siapa gerangan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat sosok itu. Itu adalah Alex, anak kecil yang bersamanya kemarin.


"Ya Tuhan, Alex. Kamu dengan siapa ke sini?" tanya Ayara sambil celingak-celinguk mencari siapa yang membawa bocah ini.


Tangan anak itu mengarah ke satu arah. Di sana ternyata ada Elena, dan seorang wanita paruh baya yang tengah makan. Mereka sepertinya tidak menyadari jika Alex telah hilang dari pandangan mereka.


"Elena?" tanya Ayara memastikan. Alex mengangguk dengan lucu. Mata belo milik anak kecil itu mengerjai teratur.


*Aduh, kenapa harus ada elena di sini Sama orang lain lagi.


Lagipula masa mereka gak sadar sih kalo ni anak udah ilang dari dekat mereka. Mau dianterin ke sana nanti lama, Kayla kan mau minum*.


Gimanapun anak aku lebih penting, batin Ayara bermonolog sendiri.


"Alex, ketempat Aunty Elena sendiri, ya. Bibi mau ngantar minum anak bibi, kasihan dia kehausan." bujuk Ayara dengan suara lembut. Ia bahkan sudah berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka.


"Alex, Sayang." Ayara menghembuskan napas panjang, lalu segera menggendong Alex, "Kalo begitu ikut bibi antar minum kakak, ya. Nanti Alex panggil anak bibi kakak. Dia lebih tua dua tahun dari pada kamu. Ouh iya, minggu depan ulang tahunnya," ucap Ayara setengah berbisik di akhir.


Lucunya, Alex malah mengangguk setuju. Ia mengangkat kedua jempolnya pertanda bahwa ia mengerti.


"Kay," Ayara tersenyum jahil ketika melihat putrinya tengah menyesap jus wortel di meja dengan berdiri. "Katanya gak mau. Kok udah mau habis?"


"Mommy sih lama. Kayla haus tahu."


"Iya, iya, maafin Mom, ya. Tadi mom ketemu sama anak temen Mom. Dia mau ikut, jadi mom ajak. Geseran dikit sayang," pinta Ayara setelah menjelaskan penyebab ia sedikit lama kembali ke meja.


Kayla menatap tidak suka dengan anak yang di gendong ibunya. Tetapi masih mengikuti permintaan sang ibu. Ingatkan Ayara bahwa putrinya ini tidak menyukai anak-anak seusianya. Mungkin ada toleransi untuk bayi yang masih sangat kecil, tapi untuk yang lain. Kayla tidak akan berniat untuk berteman.


"Kenalan dulu, ya. Sayang, ini Alex, Alex ini putri bibi, Kayla. Bibi udah bilang, kan tadi harus panggil apa. Kakak, ya, Alex mengerti?!"

__ADS_1


Alex menjawab dengan anggukan. Anak laki-laki itu duduk di sebelah Kayla. Ia mengulurkan tangan kecilnya pada Kayla.


Kayla sempat melirik ibunya, mendapatkan arahan mata. Kayla lalu menerimanya dengan sedikit malas, "Aku Kayla, ingat kata Mom. Aku kakak, ya, kita tidak seumuran. Jangan panggil aku dengan nama!" jawabnya sambil mengacungkan jari tunjuk seperti mengajari anak kecil.


Kepala Alex lagi-lagi mengangguk dengan sendirinya. Mengikuti ucapan Kayla untuk memanggilnya kakak. Tapi sayang, ia bahkan belum bisa mengucapkan itu.


"Bagus!" songong Kayla sambil tersenyum miring. Gadis kecil itu kembali mengambil *** eskrim miliknya, lalu menyuapnya.


Ia bahkan tidak peduli jika Alex terus menatap dirinya dan eskrim sambil menelan ludah. Kayla kembali menatap Alex, lalu bertanya dengan nada ketus, "Kau mau?"


"Lain kali minta belikan sama ibumu. Haiss... Mom dia merepotkan seperti anak anjing," ujar Kayla tanpa dosa. Namun tak urung tangannya terulur untuk memberikan satu sendok pada Alex.


Ayara yang sempat sedikit terkejut dengan ucapan putrinya hanya bisa mengelus dada. Lalu ikut tersenyum, setelah melihat Kayla mengulangi kegiatannya. Menyuapkan dua sendok untuk dirinya sendiri, lalu memberikan satu sendok pada Alex.


Gadis kecilnya terus menerus berceloteh. Mengatakan pada Alex bahwa seharusnya semua yang di makan anak itu adalah miliknya, jadi Alex harus berterimakasih. Lalu menasehatinya layaknya seorang guru, jika anak laki-laki itu harus bertindak layaknya seorang pria. Memperhatikan gadis manis seperti dirinya, bukannya diam sambil memakan eskrim miliknya.


"Mom, kenapa dia diam saja. Aku cape bicara! Dia tidak merespon ku!" kesal Kayla lalu menyerahkan cup eskrim itu sepenuhnya pada Alex.


"Sayang, Alex masih belajar bicara. Kayla kan pintar, lebih bagus Kayla ajarin bicara."


"Benarkah, Mom."


Ayara mengangguk membenarkan, lalu menyuapkan satu potong steak terakhirnya pada putrinya, "Iya, tapi ingat jangan bicara yang tidak-tidak. Harus lembut seperti ibu guru Kayla kemarin di sekolah."


"Ibu guru itu bukan lembut. Tapi gak bisa ngajar, masa seharian di suruh ngulang nulis angka satu sampai sepuluh. Kan capek!" protes Kayla tidak mau.


Ayara hanya menghela napas sabar. Putrinya memang sedikit berbeda. Dikaruniai IQ yang tinggi sehingga memudahkannya menyerap apa yang ia pelajari membuatnya harus sedikit bersabar menghadapi sifat songong putri kecilnya.


Terkadang Kayla memang tidak sungkan untuk mengatakan apa yang tidak ia sukai, dan tidak ia minati. Apalagi dalam hal mengkritik orang, Kayla adalah jagonya.


"Alex! Aya..." lirih seorang pria.

__ADS_1


__ADS_2