
Joelyn keluar dari area villa dengan sedikit tertatih. Kakinya sedikit terkilir karena ulah manusia dingin yang sialnya selalu berlarian di otaknya minta di taklukkan.
"Sial!" desisnya sembari mengelus rahangnya yang masih terasa panas.
Setelah berjalan lumayan jauh, Joelyn berhenti di pinggiran trotoar. Berharap ada taksi yang tidak sengaja lewat atau tersasar ke arah sini.
Yah... meskipun ia tahu jika itu sekedar harapan. Karena mulai dari 5 kilometer sebelumnya taksi memang di larang berlalu lalang di sekitar sini. Untuk melewati area villa pribadi di sekitar sini, taksi memang harus memiliki izin mengantar ketika berada di perbatasan jalan umum.
"Awas saja, aku akan buat wanita itu lari tunggang langgang dari sisimu Ace. Aku tidak akan tinggal diam!" makinya dengan penuh emosi yang membuncah.
Tin... Tin... Suara klakson mobil mengagetkan wanita itu. Ia melirik sekilas, kemudian memutar bola matanya jengah ketika melihat sosok pria yang bahkan tidak ia kenal itu mengedipkan mata nakal padanya.
"Mau kemana cantik?!" Goda pria itu diiringi tatapan mesum.
Joelyn memindai sekilas, dilihat-lihat pria itu tidak terlalu buruk juga. Mungkin usianya tidak beda jauh dengan Ace sekitar 40'an.
Tidak mendapatkan respon dari Joelyn. Pria itu tidak menyerah. Dalam otaknya, mungkin ia telah membayangkan adegan-adegan panas bersama dengan wanita cantik dihadapannya ini. Lumayan untuk menghangatkan ranjangnya, dan membuat ia sedikit lupa dengan istrinya yang ada di rumah.
"Mau bareng gak?! Aku ada villa di sekitar sini. Kelihatannya kamu kelelahan," tawar pria itu tersenyum nakal.
"Boleh, tapi aku sedikit kesusahan berjalan. Kakiku seperti terkilir," jawab Joelyn dengan lembut seperti wajah polos yang memainkan perannya.
Pintu mobil itu terbuka. Sosok pria itu terlihat lebih pendek dari tinggi badan Ace, dari balik kaos yang pria itu kenakan juga terlihat perutnya sedikit berlemak.
Untung tidak buncit, batin Joelyn.
______
Sejak suara ketukan di pintu, juga diiringi suara berisik dari bel yang terus menerus terdengar. Araya juga sudah membuka matanya.
Ia melihat Ace berjalan ke arah pintu untuk membukanya sendiri. Wajah bantal Ace membuat Araya tanpa sadar tersenyum tipis. Ternyata pria itu lebih memilih membukanya sendiri dari pada mengganggu tidurnya.
Apa pria itu memang pengertian seperti ini?
Cukup lama Ayara melihat Ace berdiri di daun pintu. Pintu itu bahkan tidak dibiarkan terbuka dengan sempurna dan masih ditahan dengan tangan.
__ADS_1
Sebenarnya siapa yang datang?
Langkah Ayara mendekat, dan ia tercekat ketika melihat sosok seorang anak laki-laki yang masuk melalui celah pintu yang Ace bukakan sedikit untuknya masuk.
Koper anak itu juga di dorong masuk oleh Ace, dan digantikan oleh anak itu untuk mendorongnya dengan susah payah.
Naluri keibuannya segera tergerak. Ayara mendekati anak itu, lalu memintanya untuk diam. Ayara membantu manarik koper yang tidak terlalu besar untuk ukuran dewasa itu masuk ke dalam kamar.
"Tunggu di sini ya sayang! Kamu pasti capek. Apa lapar juga?" tanya Araya penuh perhatian. Ia melepaskan sepatu yang anak itu gunakan, juga segera mengganti baju Alex dengan kaos yang sedikit tipis agar ia tidak kegerahan.
Alex mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Araya. Mata kecil itu terlihat begitu penasaran dengan sosok cantik yang begitu ramah ini. Biasanya jika ibunya memintanya untuk mengganggu kenyamanan ayahnya yang tengah bersama seseorang, ia pasti ditatap sinis dan di marahi jika tidak di depan ayahnya.
"Bibi lihat ayahmu sebentar, kita tidak punya makanan di sini. Bibi saja hampir kelaparan semalam," curhat Ayara diiringi kekehan kecil dan mengelus sayang kepala Alex, "Sebentar ya," pamitnya.
Setelah mendapatkan anggukan setuju dari anak dihadapannya ini. Ayara bergegas keluar dari kamar, dan sengaja tidak menutup pintunya agar Alex bisa keluar jika tidak ingin menunggu.
Ayara mencari-cari keberadaan Ace namun tidak terlihat di dalam villa. Mengingat ada anak dari pria itu, kemungkinan istrinya juga, kan. Ia mengintip dari sela-sela kaca yang tertutup tirai.
Perlakuan Ace terhadap wanita yang masih Ayara anggap istri pria itu cukup membuatnya menegang. Ace sangat kasar, dan bahkan tak segan untuk menampar dengan kuat.
Ayara tahu Ace mengatakan sesuatu yang buruk pada wanita itu, yang mana terlihat dari cara wanita itu menatap takut, mengangguk kaku, lalu pergi menjauhi area villa dengan berjalan kaki.
"Kamu mengintip?" selidiknya dengan tatapan rumit.
"A--aku hanya tidak sengaja melihat," jawab Ayara.
Suaranya sedikit bergetar karena menahan rasa takut. Ia bahkan tidak menyangka jika pria yang terlihat konyol dan berprilaku seenaknya ini ternyata begitu kasar dengan seorang wanita.
"Kamu pasti melihatnya. Apa kamu takut denganku sekarang?" ucap Ace dengan suara rendah tetap di depan wajah Ayara, "Bagus jika kamu tahu takut denganku. Itu artinya kamu hanya perlu tahu untuk tidak membantah ucapan ku lagi, Aya."
Ace menahan napas untuk tidak tertawa ketika mendapatkan anggukan kepala dari Ayara.
Ada untungnya juga wanita itu datang mengacau.
"Gadis pintar." Ace menggiring Ayara untuk segera bergerak dari tempatnya berdiri, "Dimana Alex?"
__ADS_1
"Alex?!" tanya Ayara bingung.
"Anak itu, dimana dia sekarang?"
"Dia ada di dalam kamar. Aku membawanya ke sana untuk beristirahat. Ace, bi--bisakah kau keluar sebentar untuk membelikannya sesuatu untuk di makan." tutur Ayara sedikit terbata karena ragu untuk menyuruh pria itu.
Ace terlihat begitu menyeramkan ketika menatap wanita tadi. Dengan istrinya saja ia bisa kasar, apalagi dengan Ayara yang bahkan hanya seorang bawahan.
Matilah kau Araya, ke mana keberanian mu selama ini.
"Makanan?"
"Iya, dia belum sarapan. Kita tidak memiliki apapun di kulkas. Perut anak kecil tidak seperti perut kita."
"Baiklah, ayo kita keluar. Membeli sesuatu untuk dimakan, dan dibawa pulang. Besok pagi kita segera pulang!"
Ayara langsung mengangguk setuju. Segera meninggalkan Ace, dan bergegas masuk ke dalam kamar. Ia tersenyum manis ketika melihat sosok anak kecil yang baru diketahui namanya dari Ace.
Ia mengajak Alex untuk mandi. Setelah memandikan dan memakaikan pakaiannya. Barulah Ayara bersiap untuk mandi dan mempersiapkan dirinya sendiri.
Keluar dari kamar mandi. Ace terlihat sudah segar, dan duduk santai di atas tempat tidur. Di ujung tempat tidur, Alex terlihat duduk dengan kaku bahkan tegang.
Apa anak itu takut dengan ayahnya sendiri? tanda tanya besar meliputi otak Ayara. Wajar sih, laki-laki itu terlihat mengerikan. Semoga saja hasil DNA Kayla negatif, tapi gimana mau negatif orang dia satu-satunya yang main sama aku. Jelas-jelas iya, dia bapaknya.
"Alex, sebelum kita pergi kamu mau minum susu?" tanya Ayara dengan lembut.
"Dia alergi susu sapi, Aya. Dan terlebih, dia belum bisa bicara." pungkas Ace dengan suara rendah.
Ayara sedikit kaget mendengar Alex yang sudah berusia tiga tahun belum bisa bicara. Kayla-nya saja sudah mulai bicara dari usia satu tahun setengah, lancar di usia dua tahun setengah, dan suka membaca buku rumit sejak ia bisa mengerti ucapan Lucas yang meracuni pikiran Kayla.
"Kenapa dia belum bisa bicara?" tanya Ayara masih tidak percaya.
"Karena aku belum pernah mendengarnya. Semua orang di rumah juga belum pernah mendengarnya."
Ayara menatap sedih pada Alex. "Sepertinya bukan dia yang belum bisa bicara. Hanya saja kalian yang tidak terlalu memperhatikan perkembangannya." bisik Ayara dengan suara lirih.
__ADS_1
Ayara mengelus sendu wajah Alex. Terlihat begitu kasihan dengannya karena harus berada di lingkungan orang-orang yang cuek dan kasar seperti Ace.
Ia bahkan tidak bisa membayangkan jika putrinya yang berada di posisi Alex. Pasti hatinya akan sangat teriris dan terluka.