
Senyum manis itu mengembang. Seorang wanita cantik menepuk-nepuk pelan ujung gaun sang anak yang tengah bersiap untuk bergabung ke belakang panggung bersama peserta yang lain.
Gadis kecil dengan gaun mengembang ala princess itu juga tak henti-hentinya bersenandung. Mengulang kembali note-note lagu yang akan dia mainkan.
"Gimana? Princess Mommy udah siapa?" tanya Ayara menatap manik mata putrinya lekat.
Kayla mengangguk. Bibirnya melengkung ke bawah ketika memindai kursi penonton yang hanya diduduki oleh Sheila dan Lucas yang berdampingan.
Ternyata, daddy-nya tidak datang. Padahal Kayla sangat berharap. Meskipun tidak berani berbicara pada sang ibu, tetapi Kayla mengharapkan kehadiran Ace lebih dari apapun.
"Ya udah, Mom duduk di sana, ya. Semangat sayangnya Mommy!" ucap Ayara menggebu-gebu. Arkan dan Kayla terkekeh geli melihat tingkah Ayara yang menyemangati sang anak.
"Semangat!" jawab Arkan menimpali ucapan Ayara tak kalah menggebu. "Ayo, Kay."
Arkan menggiring Kayla untuk masuk ke ruangan khusus peserta di belakang panggung. Ini adalah acara lomba pertama Kayla di sini.
Meskipun di London keponakannya itu sudah cukup dikenal. Tetapi di sini, dia hanya gadis kecil yang mencoba menyalurkan hobinya. Tidak banyak acara yang mengundang para pianis, dan hanya ada beberapa acara seperti ini.
Untuk mengobati rasa rindunya terhadap piano. Kayla menjadi bersemangat ketika Lucas membawa brosur informasi lomba ini. Sudah lama dia tidak bermain dihadapan orang ramai. Dia rindu!
"Uncle, humm... Apa Da-- ehh... maksudnya--" Kayla menghentikan ucapannya tanpa selesai. Tidak! Dia tidak boleh menanyakan keberadaan orang lain. Apalagi itu tentang daddy-nya yang sangat tidak ibunya sukai.
"Apa, kenapa sayang?"
"Gak jadi, Kayla cuman gugup. Apa Kayla bisa jadi juara?" tanya Kayla tidak percaya diri.
Arkan mengusak rambut Kayla. Mengangguk pasti, bahwa ia sangat yakin tidak ada yang bisa menandingi kepiawaian keponakannya itu dalam memainkan piano.
Ya, bagi Arkan, keponakannya lah yang terhebat.
"Pasti dong!"
•••
Beberapa peserta telah maju dan memainkan dua lagu setiap orangnya. Ayara bergerak gelisah, sebentar lagi giliran Kayla tapi Waduri dan Elena belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Apa mereka terjebak macet? Atau mereka memang membatalkan rencana ke sini?
"Kamu kenapa, Ay. Dari tadi keliatan gelisah banget?" tanya Lucas yang terlihat tidak nyaman dengan pergerakan Ayara.
__ADS_1
"Aku nungguin Elena."
"Elena? Temen kamu itu?"
"Iya, dia," jawab Ayara seraya terus menatap pintu masuk para penonton.
"Udah diem. Jangan berisik, kalo emang gak datang kenapa? Gak penting-penting amat juga, Ay. Tu... tu... liat! Kayla kita tampil." Tegur Sheila heboh. Wanita itu berteriak keras memberikan tepuk tangan paling meriah untuk Kayla.
Lucas juga melakukan kehebohan yang serupa. Bahkan pria itu bersiul untuk menyemangati Kayla. Tangannya melambai-lambai, sesekali bertepuk tangan.
"Liat tu... Ya ampun, anak aku hebat banget," puji Lucas bangga tanpa tahu malu.
Ayara mendengus. Anak katanya? Cih... Memang sih Lucas sudah membantunya menjaga Kayla seperti anaknya sendiri. Ayara juga mengakui jika pria itu cukup tanggap perihal Kayla.
Lucas mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Membuka fitur kamera, lalu merekam momen Kayla memainkan tuts piano dengan lincah, gemulai. Menghasilkan nada-nada indah yang halus, dan sangat enak didengar.
"Ay, kami terlambat?" tanya seseorang tiba-tiba menyerobot duduk. Mengambil tempat diantara dirinya dan Lucas, membuat Lucas tergeser dengan mendengus kesal.
"Sorry, Ay. Tadi ada drama sedikit di rumah." Elena ikut bersuara. Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi sebelah Lucas, dia memangku Alex kemudian langsung berteriak heboh seraya bersiul, "Kayla! Bibi padamu." cuitt... cuit...
"Gak apa-apa. Dimana mama Waduri?"
Niatnya mau datang bersama sang suami untuk membanggakan sang cucu. Kartu undangan juga telah ia terima. Tetapi putra dan keponakannya malah maksa mau datang.
"Emang iya?" Ayara tidak percaya begitu saja. Padahal kemarin wanita paruh baya itu sangat excited. Kenapa tiba-tiba menjadi sakit.
Ace menyentuh pelan belakang tangan Ayara. Merubah fokus wanita itu untuk menatapnya, "Ada apa?" tanya Ayara.
"Aku udah telat banget, ya?"
"Satu lagu lagi."
Lagu pertama Kayla selesai. Ayara berdiri, lalu bertepuk tangan meriah. Beberapa orang yang kagum akan permainan gadis kecil itu juga melakukan hal yang serupa.
Ace tersenyum hangat melihat putrinya tampil di atas panggung. Ingi rasanya dia berteriak. Lihatlah! Itu putriku.
"Shuitt... Shuitt... Kayla! Huu... Bagus baby, girl. Lihat, dia anak saya." heboh Lucas pada beberapa penonton. Ayara meringis malu melihat tingkah temannya itu.
Ace? Jangan ditanya ekspresi wajahnya. Rahangnya mengeras mendengar Lucas memamerkan putrinya sebagai anak dari pria itu.
__ADS_1
Apa-apaan itu! Tidak tahu malu.
Lagu kedua dimainkan. Kali ini, Kayla ditemani oleh pendamping. Arkan tidak bisa memainkan piano seperti Lucas, jadi pria itu bernyanyi. Menunjukkan bakat yang bahkan hanya bisa dilihat sebanyak satu kali setahun.
"Cih... Suara abangmu itu fals. Kenapa gak Lucas aja sih yang nemenin." Protes Sheila yang merasa cemburu suaminya menjadi pusat perhatian orang-orang, terutama wanita.
"Kenapa, kak? Cemburu, ya?" Goda Ayara menyikut pelan lengan sang ipar.
"Gak, dih... Tapi suara abangmu itu cuman buat penampilan Kayla kita jadi jelek."
"Orang bagus gitu, kok."
"Gak bagus itu abangmu. Jelek!" Ayara terkekeh geli melihat wajah iparnya yang memerah karena menahan gejolak api cemburu.
•••
"Mommy!" Kayla melambaikan tangan. Mengangkat piala juara pertama yang baru saja dia dapatkan tinggi-tinggi.
Gadis kecil itu tengah berada di dalam gendongan Arkan. Tiba di depan Ayara dan yang lainnya. Lucas langsung mengambil alih Kayla. Mengangkat tinggi anak itu seraya berteriak heboh, "Hore menang. Menang. Menang!"
Aya memperhatikan situasi itu dengan tersenyum tipis. Tawa Kayla yang menggema membuat semua orang tersenyum bahagia. Kecuali Ace, pria itu menekuk wajahnya, sendu.
Dia sedang berpikir iri tentang kedekatan mereka. Seharusnya dia yang menggendong Kayla seperti itu. Seharusnya, yang membuat putrinya tertawa lebar itu dia.
Melihat tatapan sedih itu, Aya menjadi tak tega. Ia menepuk pelan pundak Ace. Tersenyum manis ketika pria itu menoleh.
"Emm... Aku mau ngajak Kayla main ke rumah orang tua kamu habis ini. Boleh?" pinta Ayara ragu-ragu.
Raut wajah Ace tiba-tiba langsung berubah cerah. Menyunggingkan senyum tipis, lalu mengangguk setuju.
"Tentu saja boleh. Sebenarnya aku sama Elena datang merebut tiket Mama. Aku gak tahu kalo lomba yang dibicarakan malam itu hari ini. Jadi, gak sempat beli tiket, untung ada tiket Mama sama Papa. Kamu... kenapa gak ngasih tahu aku?" Ayara tersenyum kikuk.
Gak mungkin dia bilang sejujurnya kalo dia tidak berani untuk memberitahu Ace. Takut pria itu menolak. Jadilah, dirinya hanya tersenyum. Tak tahu harus menjawab apa.
"Ya udah, kita berangkat sekarang!" putus Ace tidak ingin membuang-buang waktu. Ayara mengangguk, lalu berpamitan pada Arkan dan Sheila untuk membawa Kayla pada orang tua Aca.
Sheila sempat bertanya, apakah dia yakin. Dan Ayara hanya berkata, bahwa dia harus berdamai dengan keadaan. Bagaimanapun perasaan anak yang pertama.
Lebih baik dia mendekatkan Kayla secara baik-baik pada mereka. Dari pada nanti mereka malah merebutnya paksa.
__ADS_1