Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy. 43


__ADS_3

Mobil revenge milik Ace menepi. Memasuki sebuah rumah, yang bahkan lebih cocok disebut mansion ketimbang rumah. Bibir pria itu tak henti-hentinya tersenyum, memandang kursi belakang yang diduduki oleh Ayara serta kedua anaknya.


Disampingnya, sang adik sepupu---Elena--- terus menerus memutar bola matanya jengah. Entah apa yang membuat gadis itu kesal. Ace tidak tahu, dan juga tidak berniat untuk mencari tahu.


Menghentikan mobilnya. Ace menoleh kebelakang dengan terang-terangan, tersenyum lembut menatap wajah Ayara yang ikut tertidur bersama putra putrinya.


"Ay, kita sudah sampai."


Ayara melenguh, mengucek matanya sejenak. Lalu perlahan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kayla, "Bawa Alex, aku akan bawa Kayla. Tidak usah dibangunkan," ucapnya pelan.


"Humm... kamu bawa Alex saja. Kayla pasti berat, biar aku saja yang bawa." Ayara menghentikan gerakannya untuk membuka pintu. Menoleh pada Ace, lalu mengangguk setuju.


Ace mengambil alih Kayla. Gadis kecil itu sempat membuka matanya karena merasa terganggu, namun tepukan tangan Ace pelan di punggungnya membuat dia kembali tertidur.


Bibir mungilnya tersenyum dengan lebar. Semoga, Kayla tidak hanya merasakan mimpi jika dia digendong oleh daddy-nya.


Ace dan Ayara berjalan beriringan. Masuk melalui pintu besar yang langsung terhubung dengan ruang tamu.


Dari dalam, terlihat Waduri dan Alkenzo keluar bersama dengan Elena. Mereka terlihat sumringah, menyambut kedatangan Ayara yang sedikit tidak disangka-sangka akan datang.


"Nak, kamu datang. Oups... anak-anak sedang tidur, ya. Bawa ke kamar Alex saja, ahh... nanti biar mama suruh pelayan buat merapikan sebuah kamar khusus Kayla. Siapa tahu dia mau menginap di sini sesekali!" ucap Waduri.


Ayara menghentikan langkahnya seketika. Wajahnya langsung berubah menjadi muram, ucapan Waduri membuat dirinya tidak tenang. Dia merasa jika ucapan itu memiliki makna lain, meskipun sebenarnya Waduri tidak berniat untuk melakukannya.


Mungkin sesekali akan dibawa menginap. Lalu nanti benar-benar dipisahkan olehnya. Tidak! Dia tidak akan--


"Mikirin apa? Ayo, bawa anak-anak ke kamar dulu. Jangan berpikir yang aneh-aneh, mama cuman terlalu senang melihat kalian datang," ujar Ace menenangkan Ayara.


Lengan atasnya di sentuh dengan halus, mengingatkan Ayara jika apa yang dia pikirkan itu hanya sebuah ketakutannya semata. Tanpa alasan yang berarti. Dia harus bisa mengontrol diri.


•••

__ADS_1


Ayara dan Ace baru saja turun dari lantai dua. Mereka berjalan menuju ruang tamu, namun hanya menemukan Alkenzo seorang di sana.


Ayara bahkan celingak-celinguk mencari-cari keberadaan Elena ataupun Waduri. Tetapi kedua orang wanita beda usia itu tidak terlihat sama sekali.


"Nyari apa, Ay?" Ace bertanya.


"Elena sama Mama, kok mereka tidak kelihatan, ya."


"Elena sudah pulang, orangtuanya lagi-lagi mengatur kencan buta untuknya. Kalo istri saya di dapur, mungkin sedang memasak sesuatu," ujar Alkenzo memberi tahu.


Nada bicara Alkenzo terdengar datar. Raut wajahnya ketika berbicara juga tidak terlalu berubah, terkesan dingin dan seolah tidak menyukainya.


Padahal tadi ketika dia pertama datang membawa anak-anak bisa melihat senyum tipis dari pria lanjut usia ini. Tapi sekarang, sepertinya itu sudah tidak ada lagi.


Bolehkan Ayara berpikir jika lagi-lagi hanya Kayla yang mereka harapkan. Bukan kehadirannya.


Menggelengkan kepala pelan, Ayara menarik napas sedalam-dalamnya dalam diam. Apa yang dia pikirkan, memangnya kenapa jika mereka tidak menyukainya. Yang memiliki hubungan dengan keluarga ini memang putrinya, dia? Anggap saja seorang wanita beruntung yang bisa melahirkan putri untuk sang pewaris keluarga Monata.


"Emm... Kalo begitu aku mau nyusul Mama saja. Dimana dapurnya? Apa di sana?" Ayara berucap dengan canggung. Ace dapat melihat jika wanitanya itu tengah gelisah, pelan Ace menendang pelan ujung kaki ayahnya, membuat Alkenzo mendelik tidak terima. "Baiklah, aku permisi ke dapur aja, Pak Ace, Tuan."


Ayara berhenti, mau tidak mau kembali menoleh pada sang Tuan besar Monata. Menunggu kelanjutan ucapan yang akan pria paruh baya itu katakan.


"Panggil saja aku, Papa. Apa kamu mengerti?" imbuhnya seraya menatap Ayara dengan senyum manis yang tipis.


Tak ada yang lebih membahagiakan daripada kita diterima baik oleh seseorang. Mendengar ucapan Alkenzo, tentu saja Ayara merasa ada sedikit percikan bunga kebahagiaan di hatinya.


Jika dia diterima seperti ini. Mereka tidak akan tega memisahkannya dengan Kayla kecilnya, kan? Itulah yang dia pikirkan.


Ayara mengangguk dengan kaku, sebelum kembali melanjutkan langkahnya dengan senyum lebar yang terpancar dari wajahnya.


Sampai di dapur. Ayara dapat melihat Waduri berkutat dengan kuali, ternyata ia dibantu oleh beberapa pelayan. Padahal tadinya Ayara pikir Waduri benar-benar masak sendirian. Dia salah, wanita itu terlihat hanya memerintah ini dan itu seraya dia terus mengoreksi rasa. Apa yang harus diragukan dari seorang nyonya kaya Monata.

__ADS_1


"Ma, apa ada yang bisa aku bantu?" Waduri melirik Ayara sekilas. Nampak berpikir dengan serius, ia terlihat menimang-nimang apa yang harus calon menantunya itu lakukan.


Meskipun sebenarnya semua hampir selesai. Tak ada salahnya juga membiarkan calon menantunya ini membantu.


"Kupas buah buat jus aja, Ay. Bisa?" Ayara tentu saja langsung mengiyakan.


Seorang pelayan membawakan Ayara buah-buahan yang perlu ia kupas. Ada apel, pepaya, mangga, dan pir di sana. Sebenarnya ada pisang dan anggur juga, namun tentu saja untuk kedua buah itu tidak akan dia kupas.


Rasa pisang akan berubah jika dikupas lebih dulu dan dimakan belakangan. Tekstur buahnya juga bisa berubah benyek jika ditumpuk dengan potongan-potongan buah yang lainnya.


"Wah... Aunty sedang masak apa? Loh, ada Ayara juga." Joelyn tiba-tiba saja datang, masuk ke area dapur dengan ekspresinya yang pura-pura terkejut melihat sosok Ayara di sana.


"Iya, Bu. Aku--"


"Ngapain kamu kesini?" tanya Waduri ketus pada Joelyn. Memotong ucapan Ayara yang baru akan memberikan penjelasan pada wanita yang dia ketahui berstatus sebagai ibu Alex, dan digadang-gadang akan menjadi istri sahnya Ace. "Saya tidak merasa mengundangmu sama sekali!"


"Aku di undang Ace, Aunty. Katanya hari ini Kayla akan main ke sini. Aku pikir Kayla dijemput sendiri, ternyata sama ibunya juga, ya," ucapnya dengan suara manja. Namun tentu saja ada terselip sebuah ejekan juga di sana yang ditujukan untuk Ayara.


"Ace? Jangan membual. Putra saya tidak mungkin melakukan hal itu." Dengus Waduri tidak percaya sama sekali.


Tidak mau menyerah. Joelyn menunjukkan bukti chat dari Ace beberapa jam yang lalu. Itu berarti Ace kirim saat mereka masih dalam perjalanan menuju ke sini.


"Lihat, kan, Aunty. Aku tidak berbohong."


"Kamu...!" Waduri ingin sekali mencakar-cakar wajah wanita penggoda ini. Wanita yang dulunya berprofesi sebagai pelacur murahan di sebuah club malam sebelum putranya membiayainya, karena telah melahirkan seorang anak, juga cucu laki-laki untuknya. Sial! Dia tidak bisa melakukan itu disini. Ayara pasti akan mengira dia ibu mertua yang jahat.


Tidak mengindahkan pertengkaran Waduri dan Joelyn. Ayara terus melanjutkan pekerjaannya. Dia tidak berhak ikut campur dalam pertengkaran mereka, kecuali jika dia ikut dibawa-bawa.


"Kamu gak pulang aja, Ay. Biarkan Kayla menginap bersama kami disini. Terimakasih udah--"


Tak... Cukup sudah! Ayara kehabisan kesabaran. Ia meletakkan pisau yang ia gunakan dengan kasar ke atas meja. Wanita ini sepertinya tidak belajar dari kejadian di kantor waktu itu. Dia tidak suka di provokasi sama sekali.

__ADS_1


"Aku datang bersama anakku, dan pulang juga bersama anakku. Lagipula, aku yang berinisiatif untuk membawa anakku ke sini, karena CALON SUAMI SIALAN MU ITU!" Tunjuk Ayara mengacung ke arah ruang tengah. Suaranya yang lantang tidak main-main, bahkan Ace dan Alkenzo dapat mendengar kata 'Calon suami sialan' itu dengan jelas, "Merebut tiket undangan acara anakku yang aku berikan khusus untuk mereka."


"Dengar Mrs. aku tidak ada masalah apapun dengan kamu. Tapi aku merasa, akhir-akhir ini kamu terlalu sering memprovokasi ku. Jika ada yang membuatmu tidak puas, silahkan bicarakan dengan pak Ace. Jangan terlalu membuatku kesal, aku tidak sebaik itu untuk terus diam membiarkanmu terus mengoceh sesuatu yang tidak jelas!"


__ADS_2