Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.38


__ADS_3

Awan gelap menyelimuti langit malam, tidak ada sinar rembulan berarti yang menyapa, hanya ada cahaya yang meredup. Sofia menghela napas, ini sudah malam. Dia sendiri baru menyadari jika persediaan makanan di kulkasnya banyak yang telah membusuk karena ditinggalkan kurang lebih satu minggu.


Menghela napas panjang. Ayara bersiap untuk memasak satu mie instan dan dua telur yang masih tersisa setelah dia bereskan semua.


"Mom, aku lapar. Mommy masak apa?" tanya Kayla berjalan mendekati Ayara sembari menyeret boneka kelinci di tangannya.


"Hanya ada mie instan. Di luar mau hujan, Mommy tidak berani menyetir malam-malam saat--"


Tok...tok...tok...


Suara ketukan pintu terdengar. Ayara menghentikan ucapannya, lalu menatap putrinya sebentar.


"Sepertinya ada tamu. Sebentar ya, sayang."


Ayara mengernyitkan dahi ketika tahu siapa yang datang. Sedikit mengejutkan, tetapi tidak heran.


"Surprise... Aku datang lebih cepat, bukan? Dimana putri kecilku yang menggemaskan?" tanya Lucas dengan wajahnya yang sumringah.


Pria itu memberikan bingkisan makanan yang dia bawa pada Ayara. Lalu masuk ke dalam rumah permisi sama sekali.


Menghela napas sabar. Ayara menutup pintu, baru beberapa langkah ia berjalan, suara ketukan pintu kembali terdengar.


Ia membuka pintu lagi dengan malas. "Siapa, ya..." suara itu melemah di akhir. Di depannya, Ace dengan penampilannya yang berantakan berdiri.


Ace tiba-tiba memeluk Ayara erat. Dia tidak henti-hentinya membisikkan kata maaf di sela-sela pelukan mereka.


Ayara? Jangan ditanya bagaimana ekspresinya. Wanita itu terkejut, shock, dan tidak percaya jika seorang Ace akhirnya mendatangi rumahnya.


Bergegas Ayara memisahkan diri dari Ace. Menoleh keluar, memindai dengan siapa saja pria itu datang. Jangan-jangan dia datang bersama keluarganya, dan benar-benar berniat membawa Kayla.


Tidak! itu tidak boleh!


"Apa yang bapak lakukan di sini?!" tanya Ayara mendesis tajam.


"Ay, aku ingin meminta maaf sama kamu. Aku dengan Joelyn benar-benar tidak ada hubungan sama sekali. Aku bersumpah Ayara!"


"Pak, aku tidak peduli bapak ada hubungan apa dengan wanita tadi. Tapi apa yang bapak lakukan di sini? Kenapa bapak ada di rumah saya?!"


"Aku ingin melihat kamu. Seharian aku berusaha menenangkan diri, tidak bisa, aku tetap butuh melihat kamu, Aya. Maafin aku," bisik Ace lirih diakhir kalimatnya.


"A--aku maafin bapak. Ta--tapi tolong Anda pulang."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Ya--ya bapak pulang aja. Aku tidak--"


"Siapa, Ay?" Suara teriakan Lucas dari dalam terdengar keras. Ingin rasanya Ayara mengumpat. Kenapa Lucas harus bersuara dari dalam.


Jantungnya berdetak kencang. Hatinya menjadi tidak tenang, padahal ini seharusnya tidak apa-apa. Mereka tidak ada hubungan sama sekali. Hanya terdapat Kayla yang menjadi bagian dari mereka. Tapi Ayara malah seperti wanita yang baru saja kepergok sedang menyelundupkan laki-laki ke rumah.


Tatapan Ace menajam. Pria itu bertanya pada Ayara melalui tatapan.


Tak kunjung mendapatkan jawaban, ia kesal sendiri. Seharian dia menggalau takut Ayara nekat menghilang lagi bersama putrinya. Namun ternyata dia malah membawa laki-laki lain masuk ke dalam rumah.


Ace berusaha masuk. Tetapi Ayara spontan merentangkan tangannya, menghalangi jalan Ace untuk masuk.


"Minggir, Ayara. Siapa yang kamu bawa masuk ke dalam rumah?!" desis Ace geram.


"Loh... Kok, bapak marah sih. Terserah aku dong mau masukin siapa. Mending bapak sekarang pulang."


"Kamu ngusir aku? terus apa tadi, Pak. Namaku Ace Ayara bukan pak, bapak, atau yang lainnya." Ace tetap memaksa masuk. Mengabaikan Ayara yang terus berusaha menghalang-halangi langkahnya.


Mereka seperti sedang bermain kucing-kucingan sekarang. Terlihat lucu, dan menggemaskan.


"Eits... Tidak boleh. Kan aku udah bilang, bap--"


"Ace!" potong Ace jengah karena Ayara terus menerus memanggilnya bapak.


"Iya itu, kamu harus pulang!"


"Kalian sedang apa?" Lucas keluar bersama dengan Kayla. Tadinya mereka sedang mengisi formulir pendaftaran perlombaan pianis yang akan diadakan sebentar lagi di Plaza.


Lucas iseng-iseng menawarkan pada Kayla karena dia tahu gadis kecil itu sangat menyukai piano. Tetapi suara ribut-ribut dari arah depan membuatnya penasaran dan mengajak Kayla untuk melihat.


"Kamu?!" Lucas dan Ace saling tunjuk. Mereka langsung memancarkan aura permusuhan.


Ayara Menghela napas panjang. Lihat kan? Dua orang ini tidak bisa disatukan dalam satu ruangan. Hanya sekali melihat pertengkaran kecil mereka ketika di toko buku saja sudah menunjukkan dengan jelas jika mereka tidak memiliki hubungan yang baik.


"Kamu kenapa ada di sini?!" tanya Ace galak.


"Loh... terserah saya dong. Ini rumah istri saya, ya, jelaslah saya di sini." seloroh Lucas percaya diri. Dia tidak tahu saja jika sebenarnya Ace sudah mengetahui jika Ayara dan Lucas tidak ada hubungan lain selain pertemanan.


"Istri? Sepertinya kamu belum bangun dari mimpi. Ayara itu ibu dari anak saya, calon istri saya.

__ADS_1


Lucas nampak berpikir sejenak. Mengalihkan pandangannya pada Ayara, kemudian kembali bersuara, "Ya, terserah status kamu apa, yang jelas Ayara itu calon istri saya!"


"Tadi bilangnya istri, sekarang jadi calon istri." ejek Ace menyeringai licik.


"Suka--"


"Stop! Kalian tidak malu anak aku melihat pertengkaran bodoh kalian. Menyebalkan! Mendingan kalian berdua keluar dari rumah aku sekarang juga!" usir Ayara dengan wajah memerah saking kesalnya.


***


Di sinilah mereka berakhir. Di satu meja makan, menikmati mie instan dan makanan yang tadi Lucas bawa.


Lucas dan Ace duduk berdampingan. Diwajah mereka menampilkan senyum manis pada Kayla dan Ayara. Di bawah meja, kaki mereka saling membelit, menendang, menginjak, dan masih terlibat pertengkaran.


Ayara bukannya tidak tahu. Hanya saja dia lebih masa bodoh. Terserah dua pria dewasa itu mau apa? Mungkin urat malu mereka memang telah hilang bersama kewarasan mereka masing-masing.


"Mom, tadi Kayla isi formulir lomba piano sama Uncle Lucas. Bolehkan Kay ikut?" tanya Kayla menatap penuh harap.


Ayara mengusak rambut putrinya sayang. "Boleh dong, nanti Mom, Uncle Arkan, sama Aunty ikut nonton, ya."


"Terus yang nemenin buat perform Uncle Lucas, kan, Mom?" Ayara melirik dua orang pria dihadapannya.


"Memangnya Kayla mau ditemani siapa?" tanya Ayara sambil tersenyum.


Kayla menatap Ace dan Lucas bersamaan. Dia ingin ditemani oleh Ace, sekali saja rasanya dia ingin merasakan bagaimana diantarkan oleh ayah kandungnya.


Tetapi bagaimana dengan Mommy-nya. Pasti dia sedih jika Kayla jujur akan keinginan hati kecilnya.


"Uhmm... Uncle Arkan aja, deh." putus Kayla pada akhirnya, "Nanti kita ke rumah Uncle yang, Mom. Piano Kayla kan adanya di sana, yang dibeliin Uncle kemarin."


Ayara memeluk putrinya erat. Mencium keningnya berkali-kali.


Hatinya menghangat melihat perhatian sosok putrinya. Namun matanya memanas karena sedih putrinya ternyata bisa bersikap sedewasa ini.


Kenapa dia harus bersikap egois. Sedangkan jelas tatapan putrinya menunjukkan binar ketika melihat Ace---ayah kandungnya.


"Mommy sayang Kayla, maafin Mom ya, karena masih sering bersikap egois buat Kayla." lirih Ayara merasa bersalah.


Kayla menggeleng cepat. Dia tidak apa-apa, dia tidak ingin ibunya bersedih apalagi menangis. Ibunya adalah segalanya untuk Kayla, tidak ada yang lain lagi bisa menggantikannya. Dia bisa menunggu lebih lama, agar ibunya tidak marah lagi dengan sang ayah.


Suatu saat itu pasti terjadi, kan?

__ADS_1


__ADS_2