Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.15


__ADS_3

Ace melihat sosok Ayara yang tengah bolak-balik di depan pintu ruang kerjanya. Entah apa yang ingin wanita itu lakukan, tapi dia sudah seperti itu dari sepuluh menit yang lalu.


"Brian, suruh Ayara masuk!" titah Ace dengan suara datar. Matanya terus menatap ke luar jendela dari balik sela tirai. Memperhatikan gerak-gerik Ayara yang terlihat gelisah.


"Tuan, Nona Ayara sudah di sini."


"Keluarlah, Brian."


Brian keluar dari ruangan dengan patuh. Meninggalkan Ayara dan Ace yang diliputi aura canggung.


"Bapak memanggil saya? Ada apa?" tanya Ayara berusaha keras menghilangkan rasa nervous.


"Ada yang ingin kamu bicarakan denganku?" Ayara menggeleng cepat. Ia tidak ingin membicarakan apapun dengan Ace. Jikalau dia juga memiliki kepentingan itu bukan sesuatu yang bisa dibicarakan.


"Kalo begitu kita yang harus bicara, Aya. Ikut saya!" titah Ace tidak terbantahkan.


"Kemana Pak?"


"Harus saya jawab!" Aura intimidasi dari Ace sangat menakutkan. Sangat tidak mungkin rasanya Ayara bisa bertahan hidup lebih lama jika terus menerus menghirup udara yang sama dengan pria ini.


Mengikuti langkah Ace yang begitu lebar. Mereka berakhir di sebuah ruangan tersembunyi di kantor itu. Lebih tepatnya seperti kamar pribadi untuk pria itu beristirahat.


Ace mendudukkan tubuhnya di sofa single dekat ke dekat jendela. Dari lantai 40 ini terlihat jelas pemandangan indah kota Jakarta yang langsung memperlihatkan kemegahan Monas.


"Duduklah!" Memperhatikan sekitarnya, Ayara tidak menemukan kursi lain lagi. Pandangannya hanya tertuju di ranjang king size yang tertata rapi di tengah-tengah ruangan.


Di sana juga tersedia rak-rak yang berisi berbagai jenis anggur dan minuman keras legal lainnya.


"Kenapa? Mau minum sesuatu." tanya Ace menatap wajah Ayara yang memperhatikan sekitar.


Sontak Ayara menggeleng dengan cepat, "Aku enggak minum alkohol, Pak!" dustanya.


Ace tersenyum simpul. Namun tak urung dia juga mengangguk.


"Kalo begitu duduklah di mana pun kamu suka."


"Aku berdiri aja, Pak." tolak Ayara gugup.

__ADS_1


"Hahaha..." Ace tertawa dengan kencang. Ia berdiri dari tempat duduknya. Memutari tubuh Ayara kemudian berbicara dengan nada rendah, "Kamu yang seperti ini terlihat berbeda dengan lima tahun lalu, Sayang."


Ayara yang tidak mengerti arah pembicaraan Ace mengernyit bingung. Wanita itu terus melangkah mundur sejalan dengan langkah Ace yang terus maju langkah per langkah.


"Kamu versi remaja terlihat begitu menggemaskan. Tapi kamu yang sekarang, kenapa terlihat begitu menggairahkan."


"Apa maksud, Bapak!" ujar Ayara semakin panik. Langkahnya terpojok, sofa single yang tadi di duduki oleh Ace menghalangi langkahnya.


"Jangan panggil aku bapak, Aya. Sebut namaku!" desak Ace semakin mendekati Ayara.


"Pak?!"


"Namaku Ayara."


Ayara terlihat semakin panik, wajahnya terlihat memucat ketakutan. Dadanya naik turun karena menahan napas. Wajah Ace sudah semakin dekat dengan wajahnya. "Sebut namaku," titah Ace dengan napas memburu tepat di depan bibir Ayara.


"A--Ace," bisik Ayara hampir tak terdengar.


"Apa kamu tidak mengingat ku? Apa malam itu tidak meninggalkan berkas mengesankan apapun untukmu Ayara?" tanya Ace lirih.


"La-lu apa hubungannya denganku?!"


"Ayara, Ayara, apa kamu pikir bisa membohongi ku. Aku yakin jika kamu menyadarinya, perasaanku ke kamu. Kamu menyadarinya, itulah kenapa kamu memutuskan untuk berbohong. Kamu dan Lucas itu tidak pernah menikah, benarkan?"


Ayara mendorong tubuh tegap Ace sekuat tenaga. Namun apa daya, kekuatan tubuhnya tidak sepadan dengan pria itu.


"Aku tidak mengerti. Apa yang kamu bicarakan?"


"Lima tahun lalu, kita pernah menghabiskan malam bersama Ayara. Kamu lupa? Aku juga pernah mendatangimu ketika kamu makan siang. Tapi kamu mengabaikan ku, dan kemudian menghilang. Apa sekarang kamu akan menghilang lagi?"


Ayara termenung mendengar ucapan Ace. Kilasan ingatan yang susah payah ia hilangkan perlahan kembali terlintas.


"Temannya Batara?" cicit Ayara dengan suara rendah. Mata mereka bertemu, tanpa Ace menjawabnya pun Ayara mengetahui jawabannya adalah benar.


Ayara mengingat pria itu adalah sosok pria dewasa, yang kemungkinan besar telah beristri. Itulah sebabnya Ayara lebih memilih untuk mengatakan tidak mengingat apapun pada semua orang dari pada harus merusak rumah tangga orang lain.


Dan ternyata benar bukan tebakannya. Pria itu telah beristri. Tapi ternyata pria itu memang bajingan.

__ADS_1


Ace telah memiliki istri, namun masih mendesak seorang wanita seperti ini. Pria memang tidak ada satupun yang bisa dipercaya kesetiaannya.


"Sorry, Pak--"


"Namaku Ace, Ayara!"


"Oke, Ace. Aku tidak mengingat apapun lagi, itu terjadi sudah sangat lama. Selain itu, Lucas memang ayah dari anakku--"


"Tapi kalian tidak terdaftar di pernikahan negara manapun!" sangkal Ace masih kukueh ingin mendengar ucapan jujur dari Ayara.


Ayara mengusap wajahnya pelan. Kemudian menatap mata pria yang mengungkungnya di kursi ini, "Dengar Ace, aku ditinggal menikah oleh pacarku. Kemudian aku menghabiskan malam bersama pria lain, pindah ke luar negeri dan melakukan hal yang sama hingga akhirnya aku memiliki anak. Apa kau puas?!"


"Mau aku menikah atau tidak. Itu tidak akan mengubah fakta bahwa Lucas adalah ayah anakku. Bisa aku pergi sekarang?"


Ace melepaskan kungkungan nya. Mata pria itu menatap manik mata Ayara dengan intens. Ia masih berusaha mencari kebohongan dari wanita itu.


Tetapi sekuat apapun ia mencari. Ace tidak menemukannya, semua ucapan yang wanita itu katakan terdengar jujur dan benar.


Apa dia salah? Apa dia telah terlalu berharap?


"Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan. Aku permisi, Pak!" pamit Ayara kemudian berbalik dengan cepat. Meninggalkan Ace yang terus menatap jauh kebalik jendela kaca.


Ayara menutup pintu ruangan. Berdiri dengan jantung yang berdetak kencang, dan tubuh yang bergetar. Tangannya yang terus ia genggam perlahan terbuka. Entah sejak kapan ia memiliki keberanian untuk mengambil helai rambut Ace.


Mengingat kejadian lima tahun silam, dan pengakuan dari pria itu hari ini membuat Ayara semakin takut.


"Nona Ayara, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Brian panik ketika melihat penampilan Ayara yang sangat berantakan.


"Tidak, tidak terjadi apapun. Aku permisi, Pak Brian!"


Sedangkan Ace yang masih berdiri diam di tempat sebelumnya memejamkan matanya sejenak. Sedetik kemudian pria itu berbalik, ia mengacaukan seisi kamar pribadi itu.


Pecahan kaca dimana-mana. Brian sendiri tidak bisa mendengar suara apapun dari dalam karena kedap suara.


Ace benar-benar mengamuk. Amarahnya benar-benar memuncak, dan penyebabnya telah pergi begitu saja tanpa bertanya apa dia baik-baik saja atau tidak.


Ace keluar ruangan itu dengan penampilan yang lebih kacau dari Ayara. "Hubungi Batara, aku butuh wanita sekarang juga!" tukas Ace kemudian berlalu meninggalkan ruangan CEO diikuti oleh Brian.

__ADS_1


__ADS_2