Terjerat Cinta Duda Playboy

Terjerat Cinta Duda Playboy
Terjerat Cinta Duda Playboy.26


__ADS_3

Masih di hari yang sama. Saat ini Ace membawa Ayara dan Alex menuju salah satu restoran seafood yang cukup terkenal di daerah ini.


Ketika mereka masuk ke dalam restoran, Ayara lebih dulu menghampiri resepsionis.


"Apa ada private room di sini?" tanyanya sedikit berbisik.


Resepsionis itu tersenyum, mengangguk pertanda bahwa mereka menyediakan ruangan pribadi. Dia melambaikan tangan dengan salah satu rekannya, lalu membisikkan sesuatu.


"Ayo saya antar, Mbak."


Ayara mengangguk, ibu satu anak itu segera menggendong Alex. Membawanya berlalu dari sana tanpa mempedulikan Ace mengikutinya ataupun tidak.


Kebiasaan Ayara yang tidak bisa makan di ruang terbuka masih ada. Bahkan bisa dikatakan tidak akan pernah hilang. Itulah sebabnya Ayara lebih nyaman makan di rumah, dari pada di luar yang harus memesan private room.


Meskipun keuangannya tidak terlalu buruk. Tetap saja dia harus banyak-banyak berhemat. Mengingat putri cantiknya yang terlampau cerdas itu sangat senang mempelajari hal-hal baru yang menarik perhatiannya.


"Kamu mau makan apa, Nak. Biar bibi pesankan," ucap Ayara lembut sembari menunjuk beberapa gambar menu di buku menu.


Alex ikut menunjuk apa yang dia inginkan. Anak laki-laki itu memilih ikan, lobster, juga tak lupa es krim sebagai makanan pembuka.


Ayara memesan beberapa menu pada pelayan. Private room ini berada di lantai dua restoran. Sedangkan Alex, anak itu turun dari kursinya dan melihat-lihat ke bawah.


Ia bergidik ngeri berada di ketinggian. Hal itu sontak membuat Ayara terkekeh. Anak yang lucu, dan manis. Tapi masih kalah lucu dengan putrinya, tentu saja di mata Ayara putrinya lah yang paling lucu.


Melihat tingkah Alex, Ia jadi merindukan putri kecilnya di rumah. Apa Kayla juga merindukannya? Pasti anak itu tidak bisa makan karena tidak mendengar suaranya sama sekali.


"Kamu sudah memesan makanan?" tanya Ace yang baru saja menyusul masuk ke dalam ruangan. Pria itu mendudukkan tubuhnya berhadapan dengan Ayara juga Alex. Matanya ikut memindai kegiatan Alex yang menjadi perhatian wanitanya.


"Kamu terlihat begitu menyayangi anak kecil? Lain kali ayo ajak putri kamu liburan bersama. Tidak ada salahnya kita mencoba pergi berempat."


Ayara nampak gugup mendengar penuturan Ace. Apa katanya? Liburan bersama? Ouh tidak akan pernah terjadi. Ia tidak akan pernah melakukannya! Never!


Dia bahkan tidak bisa membayangkan ekspresi apa yang Ace tunjukkan ketika melihat sosok putrinya yang menjadi duplikat pria itu versi perempuan.


Hii... mengerikan.


Alex sedikit berlari menghampiri Ayara. Anak laki-laki itu menarik-narik tangannya untuk ikut berdiri.


"Kenapa sayang? Ada apa? Kamu melihat sesuatu?" tanya Ayara.


"Hati-hati Alex, kau bisa membuat bibi itu terjatuh!" Suara datar Ace sontak mendapatkan pelototan tajam dari Ayara.

__ADS_1


Astaga, lihatlah cara pria itu berbicara dengan anaknya. Tidak ada nada lembut dan pengertiannya sama sekali. Tapi dipikir-pikir bukankah sifat putrinya itu menurun dari pria ini. Menyebalkan!


Alex menunjuk-nunjuk ke bawah. Tentu saja Ayara berusaha mencari tahu apa yang ingin di tunjukkan oleh anak itu.


Beberapa saat mencari, matanya melotot melihat sosok seorang wanita yang tengah bergandengan mesra dengan seorang pria. Ia melirik pada Ace sekilas, kemudian kembali melihat ke bawah.


Ya Tuhan! sebenarnya keluarga macam apa yang ada di lingkungan anak malang ini. Ayah yang mengejar-ngejar wanita, dan ibu yang bergelayut manja pada pria.


"Apa yang kalian lihat?" tanya Ace penasaran.


Ayara berdiri dengan cepat. Menghalangi arah pandang pria itu untuk tidak melihat ke bawah.


"Tidak ada, kami hanya melihat laut. I--iya, lautnya terlihat menyegarkan." kilah Ayara tampak gugup.


Ace tentu saja menyadari kegugupan wanita itu. Matanya mencari dengan cepat ke bawah, dan ia bisa melihat dengan jelas Joelyn bergelayut manja pada seorang pria.


Bibir Ace tersungging miring. Sepertinya ia bisa memanfaatkan situasi ini dengan baik. Terbaca dengan jelas, jika wanitanya ini tidak ingin ia melihat Joelyn di bawah sana.


Atau mungkin ia cemburu?


"Kamu tidak berbohong, kan?"


"Tidak, untuk apa aku berbohong. Sudahlah, ayo duduk. Sebentar lagi makanannya akan datang!" ajak Ayara sedikit menarik pelan tangan Ace untuk mengikuti langkahnya.


"Astaga! Mencurigakan apanya. Ayolah, kita duduk di sana. Alex, ayo sayang duduk lagi, eskrim mu sebentar lagi datang."


Alex mengikuti ajakan Ayara. Tetapi Ace masih saja terlihat mencuri-curi pandang ke arah bawah.


"Ace, Ayolah. Alex sudah duduk di sana?"


Senyum tipis terlihat di wajah pria itu. Ia mendekatkan wajahnya pada Ayara, mencuri kecupan singkat di sana.


"Manis, aku menyukainya. Lain kali, jangan ragu lagi untuk menyebut namaku." ucapnya sambil membelai wajah Ayara pelan.


Ace kemudian berbalik, lalu melangkah menuju kursi mereka. Duduk dengan tenang, diiringi tatapan mata yang terus memperhatikan Ayara.


Ace bajingan! Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan. Lagipula aku kenapa? Seharusnya biarkan saja dia melihat istrinya berselingkuh. Cerai, cerai deh! terserah mereka! Gerutu Ayara dalam hatinya, lalu sedetik kemudian ia mengelus dadanya pelan. Astaghfirullah, Ayara.


Setelah menunggu beberapa saat. Makanan mereka tiba, Ayara dengan telaten memisahkan duri ikan dengan dagingnya. Tak lupa ia juga membukakan cangkang lobster juga kepiting untuk Alex.


Melihat bagaimana cara Ayara memperlakukan putranya. Entah mengapa hatinya begitu adem dan tentram.

__ADS_1


Sosok ibu seperti inilah yang dia mau untuk anak-anaknya. Sama seperti mama-nya di rumah yang begitu memperhatikannya.


Tekad Ace semakin kuat untuk menjerat Ayara ke sisinya. Peduli setan dengan Lucas!


Tugas utamanya sekarang adalah mencari tahu tentang putri Ayara. Lalu melakukan pendekatan ayah dan anak. Kemudian ia akan meminta izin pada putri Ayara untuk menjadi suami dari ibunya serta ayah untuknya.


Aku harus segera mencari tahu apapun tentang putri Ayara. Secepatnya!


Alex menatap ngeri ayahnya yang berpikir dalam lamunan. Ia menoleh pada Ayara, lalu menunjuk ayahnya sendiri.


"Biarkan saja, sayang. Ayahmu memang sedikit stress akibat kekurangan cairan. Tidak perlu khawatir," seloroh Ayara abai akan tingkah Ace.


Lamunan pria itu terhenti ketika ponselnya berdering dengan sangat kuat. Menatap layar ponselnya sejenak, kemudian ia mengangkatnya di tempat.


"Hemm..." gumam Ace menyambut pembicaraan di sebrang sana.


"Maaf mengganggu waktu Anda, pak. Tapi ini sedikit mendesak."


"Katakan!"


"Sepertinya perusahaan A'F Copration, bekerja sama dengan Rhys Grup. Dan menurut informasi, mereka tengah merencanakan untuk ikut andil dalam proyek konstruksi kita dengan Hayakawa." Jelas Brian dengan tenang.


"Hemm... lalu?"


"Masalahnya para investor dari pihak kita tidak terima. Mereka mengancam akan menarik dana mereka jika hal itu tetap dilanjutkan."


"Aku mengerti, siapkan rapat empat jam lagi. Kami segera pulang sekarang!"


Ace memutuskan panggilan itu sepihak. Kemudian melanjutkan acara makannya dengan santai.


"Ada apa, pak?" tanya Ayara penasaran. Sebab ia yakin jika yang menghubungi atasannya itu adalah pihak kantor.


"Ada sedikit masalah. Lanjutkan saja makan kalian. Setelah selesai kita pulang ke Jakarta," jawabnya diiringi senyum.


Ayara jelas menatap pada Ace tidak habis pikir. Bagaimana cara mereka kembali? Jika tiket pesawat saja mereka belum punya. Selain itu, apa dia pikir membeli tiket pesawat seperti menaiki metromini, yang kapanpun mereka mau naik bisa milih.


"Pak! Jangan bercanda. Kita bahkan belum membeli tiket pesawat!" keluh Ayara penuh urat-urat kekesalan.


"Tidak perlu tiket, kita kembali dengan jet pribadi."


Ayara sontak membulatkan matanya. Ia mengingat bagaimana dia di tarik ke tempat ini tanpa berkemas apapun. Sehingga dia haru rela membeli pakaian ganti di tempat ini. Tapi apa katanya tadi? Jet pribadi?!

__ADS_1


"Kamu memang rajanya membuat keputusan semaunya, Ace!"


"Yeah, It's me baby." respon Ace diiringi kekehan kecil.


__ADS_2