
"Turunlah, tunggu aku di mobil. Aku parkir mobil dulu," ujar Ace dengan lembut. Ia ingin mengusap pucuk kepala Ayara, namun wanita itu segera menghindar.
Ayara turun, dari mobil lalu masuk menuju lobi. Setelah memastikan Ayara masuk ke sana, Ace baru menuju parkiran.
Sebelum turun, Ace menyempatkan diri untuk mengamati isi mobil Ayara. Ada beberapa foto semasa wanita itu SMA, dan kuliah yang masih terpasang di dashboard mobil.
Ace menyentuh foto itu pelan. Tersenyum tipis, "Dia masih sangat liar," gumam Ace seraya terkekeh.
Kini matanya beralih ke sebuah amplop kecil berlogo rumah sakit yang sedikit menyembul dari dalam dashboard. Ace mengambil amplop itu, membolak-balik nya sebentar lalu membukanya.
Tadinya dia pikir itu adalah laporan kesehatan Ayara atau Kayla. Namun ternyata, matanya melebar ketika melihat yang tertulis jelas di sana.
"Hahaha..." Ace tertawa keras dengan hambar. Jadi ternyata ini alasan Ayara selalu menghindarinya selama ini. Takut ia mengetahui fakta tentang ini, "Kamu ternyata memang sangat liar dan lincah, sayang. Sangat lincah..."
Ace melipat amplop itu, lalu memasukkan ke dalam saku jasnya. Ia kembali menelisik tetapi tidak menemukan apapun. Hanya persiapan susu botol yang Ace yakini milik Kayla di jok belakang.
Ace mengambil tas berisi susu kotak itu. Keluar dari mobil, lalu segera menyusul menuju lobi.
"Ay, ayo. Biar aku yang gendong Kayla."
"Tidak usah! tunjukkan saja jalannya." ketus Ayara.
Ace tersenyum simpul, sudut bibirnya berkedut karena mencoba menahan tawa karena merasa gemas pada Ayara yang terus berusaha menghindar.
"Ya sudah, ayo."
Tidak lama setelah mereka masuk lift. Mereka sampai di lantai apartemen milik Ace. Ia membuka pintu seraya menyebutkannya pada Ayara agar mengetahui sandi apartemennya.
Ayara adalah wanita pertama yang dia bawa kesini. Bahkan Joelyn yang selalu menerornya selama ini tidak tahu jika Ace memiliki apartemen sendiri. Wanita itu pikir, Ace selalu beristirahat di kantor kalau tidak kembali ke kediaman Monata.
"Masuklah, tapi aku belum menyediakan sandal rumah lebih. Hanya ada satu. Kamu pakai saja."
__ADS_1
Ayara tidak menyahut, wanita itu melepaskan sepatunya lalu berjalan masuk tanpa menggunakan sandal sama sekali. Dia menurunkan Kayla di sofa, lalu ikut duduk di sana.
Kayla kembali memeluk erat perut ibunya. Takut jika pria itu akan melakukan hal yang jahat pada sang ibu.
"Kamu sangat keras kepala, Ay. Tidak heran kenapa aku begitu tertarik untuk mengejar mu," canda Ace diiringi kekehan kecil.
Ace meletakkan tas susu Kayla di atas meja. Ayara yang baru menyadarinya segera menatap tajam.
"Kenapa di bawa?!" tanyanya kesal.
"Punya Kayla, kan. Nanti dia mau minum susunya, ya, kan sayang?" Ace bertanya pada Kayla. Gadis kecil itu mengangguk pelan, lalu sedetik kemudian menggeleng dengan cepat.
Dasar susu! Dia membuat Kayla merasa berkhianat pada ibunya.
"Hahaha... Kamu lucu sekali. Malam ini kalian menginap di sini. Kayla mau tidur sama, Mommy atau tidur sendiri?" Ayara menatap Ace dengan tajam.
"Tidak ada bantahan, Ay. Kita perlu bicara, banyak!" tekan Ace diakhir kalimatnya seraya menunjukkan lipatan amplop yang tadi sempat ia bawa dari mobil.
Araya hanya mendengus, lalu memutar bola mata malas. Tanpa berniat menjawab ucapan Ace, dia lebih memilih untuk memejamkan matanya.
Apartemen Ace ini ada dua lantai. Dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu ruang kerja, area dapur yang menyatu dengan ruang bersantai.
Setelah kepergian Ace, Ayara mengajak Kayla untuk memasuki kamar yang tadi Ace tunjuk. Dia butuh untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Berhadapan dengan Ace yang pemaksa, dan semena-mena memang selalu membuatnya kehabisan tenaga.
Sekarang apa yang Ayara takutkan telah terjadi. Ace telah menyadari jika perbuatan mereka satu malam itu membuahkan hasil. Sekarang yang harus dia hadapi adalah istri Ace. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa itu merupakan suatu kejadian yang tidak diperhitungkan.
Bagaimana jika nanti istri pria itu meminta cerai karena dirinya. Apa yang ia hindari selama ini akan benar-benar terjadi. Dia akan di cap sebagai perempuan murahan yang merebut suami orang.
"Mom, aku mau tidur," rengek Kayla sembari memeluk leher Ayara seperti biasanya.
"Iya sayang, tidurlah. Mimpi yang indah baby girl." Ayara menepuk-nepuk pelan punggung putrinya. Mengelus rambut itu kebelakang sesekali, lalu bersenandung musik Disney yang menjadi kesukaan Kayla.
__ADS_1
_____
Ayara keluar dari kamar. Ia baru bangun tidur dan merasa haus. Hari sudah sore dan perutnya juga sedikit merasa lapar.
Ayara menyusuri apartemen milik Ace, melihat-lihat sekaligus menuju dapur. Apartemen ini terlihat kosong, tidak banyak barang di sini. Bahkan satu hiasan dinding pun tidak dia temukan.
Tiba di dapur, Ayara membuka kulkas. Isi kulkas tidak jauh berbeda dengan kulkas di villa. Tidak ada bahan makanan sama sekali, hanya ada beberapa telur dan roti tawar.
Ayara menghela napas. Mengambil semua telur lalu memasaknya menjadi telor ceplok. Tak lupa ia juga memanggang roti dengan sedikit mentega, lalu mencairkan keju untuk toping.
Roti panggang isi telur cukup untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Dan cemilan sore putri kecilnya.
Ketika Ayara masih fokus memotong roti. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangnya membuat ia terkejut hingga melukai jarinya.
"Awhh..." ringis Ayara seraya menekan jarinya yang terluka dengan kuat.
"Astaga... Kamu terluka?" Ace segera melepaskan pelukannya. Berlari menaiki tangga dan mengambil kotak p3k. Ace melihat Ayara mencuci jarinya di wastafel dalam diam, rasa bersalah tiba-tiba menyeruak menghampiri hatinya. Sejak memasuki apartemen ini, Ayara bahkan hanya bicara satu kalimat dengannya.
"Aya, maafkan aku. Sini biar aku obati lukanya." Ace membersihkan luka itu dengan cairan alkohol, lalu membalutnya dengan plaster transparan.
Ayara kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa mempedulikan keberadaan Ace. Setelah menyiapkan cemilin untuk Kayla, dia meninggalkan Ace di dapur tanpa suara.
"Kay, mau cemilan?!"
"Mau!" Kayla berlari dengan girang menghampiri ibunya. Mendudukkan dirinya sendiri di sofa lalu mulai mengunyah roti buatan sang ibu.
Ace ikut bergabung dengan mereka. Kayla memperhatikan wajah Ace yang terlihat kusut. Menoleh pada Ayara sebagai persetujuan, lalu dia mengambilkan satu potong roti untuk Ace setelah mendapatkan anggukan sang ibu.
"Om jahat! I--ini, makanlah. Buatan Mom enak tahu." Ace menatap tidak percaya. Dengan ragu-ragu pria dewasa itu mengambilnya lalu memakannya dengan pelan.
"Terimakasih."
__ADS_1
Ayara menarik sudut bibirnya. Tersenyum sedikit menahan tawa karena melihat seorang pria pemaksa berbadan besar seperti Ace malah bertingkah malu-malu dihadapan putrinya.
Ketika Ace menoleh padanya, Ayara segera merubah kembali raut wajahnya menjadi datar dan acuh tak acuh.