
Elena menghembuskan napas berulangkali. Wanita itu ingin menghubungi Ayara, dan mengatakan jika tidak ingin maka mereka tidak akan melakukan tes apapun.
Setelah perundingan kembali, Widuri dan Alkenzo mau mengerti jika perjuangan Ayara untuk membesarkan anaknya tidak mudah. Banyak perjuangan yang harus ia lakukan, pengorbanan yang bahkan sulit dibayangkan oleh mereka.
Untuk itu mereka sepakat. Bahwa mereka tidak akan melakukan tes DNA itu tanpa persetujuan Ayara, atau jikapun masih mau, mereka memberikan keputusan penuh pada Ayara untuk memutuskan mau memberitahu hasilnya atau tidak pada mereka.
"Halo, ada apa El?" suara merdu Ayara terdengar dari sebrang sana. Hal itu membuat Elena semakin gugup. Dan menceritakan pelan-pelan tentang keputusan om dan tantenya.
"Jadi, bagaimana menurutmu, Ay." tanya Elena harap-harap cemas.
"Aku akan membicarakannya pada kakak ipar ku dulu, ya, El. Aku takut tidak siap menerima kenyataan jika sendiri. Apapun keputusannya nanti, aku akan langsung memberi tahu mu."
"Aku mengerti. Btw, apa kita bisa ketemu, Ay. Aku mau mengajak keponakanku bermain di mall, sepertinya akan asik jika mengajak Kayla juga."
"Sepertinya gak bisa malam ini, El. Kami ada rencana menjemput seseorang di bandara. Kapan-kapan, ya."
"Ouh oke, baiklah. Sampai jumpa, Aya."
Panggilan itu diakhiri dengan suara Kayla yang berteriak meminta Ayara untuk cepat melakukan sesuatu.
Elena merasa sedikit lega, karena Ayara bersedia untuk mendengarkan penjelasannya lagi. Bahkan wanita itu tidak marah lagi padanya. Padahal Elena sangat takut jika Ayara benar-benar marah karena kejadian malam itu.
"Bagaimana, El?" tanya Widuri dengan wajah sedikit cemas.
"Ayara bilang, dia mau berbicara dengan keluarganya dulu, Tan. Nanti apapun hasilnya pasti diberi tahu."
"Keluarga?" tanya Widuri heran. "Kamu bilang dia di usir ayahnya, El. Kok tiba-tiba rembuk keluarga?"
"Maksud Elena, kakak dan kakak iparnya, Tan. Selama ini kan yang membantu Ayara membesarkan Kayla itu mereka."
Widuri mengangguk mengerti. Kemudian kembali menatap foto-foto Kayla di ponselnya dengan ekspresi senyum bahagia.
__ADS_1
Kayla dan Alex terlihat begitu berbeda. Alex yang cucunya tetapi tidak memiliki kemiripan apapun dengan putranya. Sedangkan Kayla, yang bukan siapa-siapa bagai pinang di belah dua.
Sebenarnya tanpa melakukan tes DNA pun Widuri sangat yakin jika Kayla itu cucunya. Namun ia tidak ingin terlihat begitu jahat dan tidak berperasaan. Apalagi selama ini mereka bahkan tidak mengetahui apapun tentang Kayla.
Lagipula akan lebih baik jika mereka bisa mendapatkannya sekalian dengan ibunya. Memiliki menantu dari pemilik A'F Copration, dan juga ipar dari Hayakawa Grub itu merupakan sesuatu yang sempurna.
_____
"Uncle Lucas!!! I miss you so much!" pekik Kayla girang. Gadis kecil itu berlarian menghampiri Lucas kemudian melompat ke pelukannya.
Begitu juga dengan Lucas, pria itu mengangkat Kayla tinggi. Berputar-putar melepas rindu dengan gadis kecil yang telah dianggapnya sebagai putri kandungnya sendiri.
"Bagaimana perjalanannya, Luc. Lancar?" tanya Ayara sembari mengambil alih koper besar di tangan Lucas.
"Aman, tidak ada kendala sama sekali. Ouh iya, uncle punya sesuatu untuk Kayla. Mau tahu apa?" Kayla mengangguk antusias. Bibirnya terus menerus tersenyum tanpa henti.
"Apa-apa, Uncle bawa apa?"
"Masih rahasia dong hahaha... Besok sampai ke rumah Kayla. Malam ini, kita pergi beli buku baru juga eskrim dulu. Mau?" Tawar lucas diiringi gelak tawa Kayla yang setuju.
Di sana mereka makan malam di salah satu restoran berbintang. Lucas dan Kayla nampak sangat seru dengan berbagai kegiatan mereka.
Setelah selesai makan malam. Mereka memutuskan untuk pergi ke Gramedia, mencari buku bacaan untuk Kayla.
Tanpa di sengaja, saat Lucas dan Kayla tengah memilih buku di rak buku pengetahuan alam tingkat lanjut. Seseorang mengejutkan Ayara dengan tepukan pelan di bahu.
"Ayara,"
"Astaga! Ahh... Pak Monata, selamat malam, Pak. Selamat malam Nyonya," sapa Ayara sopan melihat sosok atasan yang tengah berdiri dihadapannya bersama istri juga anaknya.
"Dengan siapa ke sini?" tanya Ace memastikan. Joelyn yang melihat perhatian Ace pada Ayara telah menunjukkan ekspresi wajah suram. Sedangkan Alex bersama baby sitternya sibuk memilih buku-buku untuk anak-anak.
__ADS_1
"Dengan anak saya, Pak." jawab Ayara seadanya.
"Benarkah? Dimana anak kamu?"
"Itu dia, sedang cari buku dengan ayahnya." Ace terdiam mematung melihat sosok seorang pria yang sedang memperlihatkan sebuah buku pada seorang anak perempuan.
Ace jelas mengetahui siapa pria itu? Saingan cintanya sebelas tahun silam untuk mendapatkan cinta sang mantan. Dan sekarang, haruskah ia kembali bersaing lagi dengan orang yang sama.
Lucas yang mencari-cari sosok Ayara bertatapan mata dengan Ace. Ia berpamitan sebentar dengan Kayla kemudian mendekati Ayara.
"Jadi, kamu sosok ayah dari anaknya Ayara?" tanya Ace sarkas dengan nada intimidasi yang kentara.
Lucas yang tidak mengerti. Menatap Ayara sesaat, kemudian beralih melihat ke Kayla. "Iya, saya ayahnya. Lihat putri saya sudah besar, bahkan lebih besar dari anak seseorang yang bahkan tidak bisa diselamatkan sebelas tahun silam." sarkas Lucas tak mau kalah.
"Benarkah, selamat kalo begitu. Tapi sepertinya kamu tidak sanggup menghidupi istrimu dengan baik sehingga dia harus bekerja keras sendiri."
"Aku membebaskan istriku berkarir. Dia tidak ingin hanya duduk diam, maka aku mengizinkannya. Apapun itu asal ibu dari anakku bahagia, aku akan mengizinkannya. Bukan memaksanya diam di rumah hingga membuatnya stress sampai keguguran." ucapan pedas dari Lucas lagi dan lagi menghantam harga diri Ace. Pria tampak sangat emosional.
Melihat situasi yang seperti sudah tidak terkendali. Ayara membuka suaranya, "Kalo begitu kami permisi, Pak. Putri kami menunggu!"
Ayara menarik Lucas untuk meninggalkan Ace beserta Joelyn yang sama-sama tengah menahan emosi. Ace segera meninggalkan Joelyn dan Alex di mall itu tanpa berkata-kata. Sedangkan Joelyn langsung menandai Ayara sebagai saingannya.
Ace tidak pernah berbicara panjang lebar seperti ini. Apalagi hanya untuk membelanya. Namun untuk wanita itu, Ace bahkan sanggup bersitegang dengan pria lain.
"Apa hubunganmu dengannya, Ay? Kenapa dia seperti terlihat begitu marah?" tanya Lucas mulai mengintrogasi Ayara.
"Dia atasanku, disebelahnya sepertinya istrinya. Soal kenapa dia terlihat begitu emosional, aku juga tidak mengerti. Kami hanya sebatas atasan dan bawahan, itu saja. Tidak lebih,"
"Tapi, Lucas. Aku mengkhawatirkan sesuatu, aku curiga dia adalah ayah dari Kayla. Wajah mereka terlihat begitu mirip, seperti tidak ada bedanya. Maaf, tadi aku memperkenalkan kamu sebagai ayahnya Kayla tanpa berpikir panjang. Aku hanya takut, jika dia melihat wajah Kayla dan mulai curiga,"
"Aku pikir jika dia tahu sosok ayah Kayla. Dia tidak akan begitu penasaran lagi dengan aku ataupun dengan anakku, maafkan aku Luc. Sungguh aku tidak berniat buruk sama sekali." jelas Ayara penuh penyesalan.
__ADS_1
Lucas hanya tersenyum. Ia malah senang jika Ayara memperkenalkan dirinya sebagai ayah Kayla. Itu artinya sedikit banyak dia memiliki kesempatan untuk mendekati wanita itu lebih dalam lagi.
"Aku mengerti, kok. Terus apa keputusan selanjutnya? Bukankah kamu bilang mereka terlihat begitu mirip."