
beberapa saat sebelumnya...
Waduri yang memiliki sebuah butik mengajak Elena, dan Alex yang sedang asik menonton kartun untuk menemaninya ke sana. Setelah pulang dari sana, mereka memutuskan untuk bermain-main di mall.
Saat tengah melihat-lihat di sana. Mereka tidak sengaja bertemu dengan Ace dan juga Brian. Saat itu mereka sedang melakukan pengecekan rutin, karena memang mall ini dalam tanggung jawab Ace karena memiliki saham tertinggi di sini.
Waduri yang merasa ini kebetulan. Mengajak putra tunggalnya itu untuk makan siang bersama. Jarang-jarang mereka memiliki kesempatan seperti ini. Ace menyetujui permintaan ibunya itu, namun ia akan menyusul setelah pekerjaannya selesai.
Waduri membawa Elena dan Alex untuk masuk salah satu restoran di sana. Mereka memesan banyak menu, lalu mulai makan dengan perlahan. Diselingi obrolan-obrolan ringan ala wanita.
Saat Ayara dan Kayla masuk ke dalam restoran. Alex yang saat itu duduk di samping Elena melihat kehadirannya. Alex pikir Ayara adalah bibi baik yang sebelumnya menyuapinya makan ketika bersama sang ayah.
Dia ingin merasakan itu lagi. Karena selama ini, dia tidak bisa meminta di suapi karena nenek dan kakeknya selalu mengatakan padanya untuk belajar mandiri.
Dia senang di suapi Ayara. Tanpa sepengetahuan nenek dan bibinya, Alex turun dari kursi lalu berlari untuk mengejar Ayara. Tetapi ia kehilangan jejak, anak itu terombang-ambing di dalam restoran itu karena jam makan siang yang memang cukup sibuk dan pengunjung ramai.
Setelah beberapa kali tidak sengaja tertabrak orang. Alex akhirnya kembali menemukan keberadaan Ayara, dan segera memeluk kakinya.
Di meja makan mereka, Elena dan Waduri panik karena Alex sudah tidak ada. Mereka sempat menanyakan kepada beberapa pengunjung apakah mereka melihat Alex. Tetapi mereka menggeleng.
Waduri menghubungi Ace dengan panik. Wanita paruh baya itu mengatakan bahwa cucunya menghilang. Ace bergerak dengan cepat, ia meminta untuk melihat rekaman cctv di resto itu pada petugas keamanan mall.
Matanya terbelalak lebar ketika melihat putranya di bawa gadis tidak di kenal. Penampilan gadis itu cukup nyentrik seperti anak kecil. Tapi sesaat kemudian ia bernapas lega melihat sosok itu membawa putranya ke tempat yang lebih tertutup dan sudut sepi pengunjung karena termasuk daerah privat sederhana resto itu.
Alex bergegas menuju tempat putranya. Diiringi Waduri dan Elena yang bahkan telah menangis karena panik.
"Alex! Aya..." Ace merubah intonasi suaranya menjadi rendah ketika melihat siapa gadis yang tadi sempat ia kira remaja.
Ayara, wanita itu tak kalah terkejutnya. Dia bahkan bergumam dengan tidak jelas, "A--Ace, bagaimana. Ah... tidak-tidak, Kayla."
Ayara segera berdiri. "Kay, berdiri, Nak!"
Kayla yang kebingungan segera mengikuti ucapan ibunya. Dia bahkan melupakan pertengkaran kecilnya dengan Alex.
Ayara mengangkat tubuh Kayla ke dekapannya. Bersiap untuk melangkah pergi, dan melarikan diri. Dia masih berharap jika Ace belum menyadari kemiripan wajahnya dengan putrinya.
"Aya, tunggu. Mau kemana?" Ace menahan tangan Ayara, bertanya dengan sedikit bingung karena melihat perubahan ekspresinya yang seperti ketahuan mencuri.
"Lepaskan, Pak!" tekan Ayara sedikit membentak.
Kayla sedikit panik. Dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang ibu. Mengelus punggung ibunya pelan, untuk mentransfer ketenangan.
__ADS_1
Gadis kecil itu tahu jika ibunya sedang ketakutan. Tapi karena apa? itu yang tidak dia tahu.
"Aya! Kayla!" Elena ikut terkejut melihat Ayara yang tengah ditahan oleh Ace. Melihat tubuh Ayara yang sedikit gemetar Elena kembali bersuara, "Kak, lepaskan tangan Ayara. Dia menggendong anaknya," pinta Elena menyuruh Ace untuk mengalah.
Dia sendiri bingung ada apa? Apa yang terjadi? Sedangkan Waduri juga tak kalah terkejut mendengar Elena menyebutkan nama ibu dari anak yang kemarin sempat ia yakini cucunya.
"Kayla, sama Oma dulu, Nak." pinta Waduri dengan halus.
"Jangan sentuh putri saya!" ketus Ayara saraya menghindar.
Ace semakin tidak mengerti. Kenapa wanitanya itu menjadi ketus, dan terlihat begitu ketakutan.
"Ya sudah. Ace, lepaskan tangan ibunya, Nak. Lihat, anaknya ketakutan."
Ace menggeleng cepat. Pria itu segera menghubungi Brian dan meminta untuk segera mengosongkan restoran tempat mereka berada. Terpaksa, Brian melakukan tugas tersebut dengan penuh kesabaran. Dia harus mengeluarkan banyak kompensasi pada pelanggan yang tengah menikmati makanan mereka, maupun kepada pihak restoran.
Dalam sekejap, restoran itu menjadi sunyi. Bahkan para pegawai perlahan segera masuk ke dalam ruang istirahat mereka meninggalkan keluarga Monata yang tengah menahan seorang ibu dengan anaknya.
Ayara semakin panik. Matanya menatap tajam menghujam pada Ace, "Lepaskan saya, Pak!"
"Kamu kenapa sih, Ay. Kemarin kita masih baik-baik saja, tadi pagi kamu juga masih minta izin baik-baik denganku. Tapi kenapa --"
Gadis kecil itu memberontak karena ingin memukuli pria yang menjadi lawan ibunya ini. Dia ingin menggebukinya hingga merasa kesakitan seperti di film pahlawan Avengers yang sering dia tonton bersama Lucas.
"Kayla... Diam, Nak. Jatuh!" Ayara kesusahan menahan bobot Kayla karena sebelah tangannya masih di cengkram erat oleh Ace. Namun ketika pria itu menyadari wajah Kayla yang begitu mirip dengannya.
Perlahan pegangan tangan itu mengendor. Dia merasa linglung, dan tidak percaya jika anak Ayara begitu mirip dengannya.
"Permisi!" pamit Ayara dengan cepat meninggalkan mereka semua dalam keterkejutan. Waduri dengan cepat menggendong Alex, lalu berusaha mengejar Ayara namun ia kehilangan jejak.
Setelah sadar bahwa Ayara telah pergi. Ace ikut mengejar Ayara dan ibunya, diiringi oleh Elena.
"Ma, dimana?!" tanya Ace dengan suara bergetar tidak sabaran.
"Enggak tahu. Mama kehilangan jejak."
"El, bawa mama sama Alex pulang!" titah Ace sebelum pergi meninggalkan mereka di sana.
Ace berlari, ia segera menuju eskalator. Melihat ke bawah sebentar, matanya kembali menangkap siluet Ayara yang masih membawa Kayla di gendongannya. Sesekali wanita itu akan mengusap air matanya, entah apa penyebab dia menangis Ace tidak tahu.
Apa mungkin karena dirinya? Tapi kenapa?
__ADS_1
Ace segera menyusul dengan sedikit berlari meskipun menuruni eskalator. Di loby mall, Ace kembali kehilangan jejak. Namun dia tak kehilangan akal. Ace segera meminta Brian untuk memantau dari cctv keamanan lamu melaporkan padanya keberadaan Ayara.
Setelah mendapatkan kabar dari Brian bahwa Ayara menuju parkiran di basemen. Ace segera menyusul.
Ace melihat Ayara baru saja menutup pintu samping kemudi. Lalu berjalan mengitari mobil lewat depan, dan membuka pintu.
"Aya! Stop!" Ace menutup pintu mobil Ayara dengan kuat. Membuat wanita itu terkejut karena tingkahnya.
Plakk... Ayara seperti melepaskan semua beban melalui tamparan itu.
"Jangan ganggu kami. Hentikan Ace! Kau membuat putriku takut!" sentak nya kasar.
"Putriku juga, iya kan?" tebak Ace tidak mempedulikan rasa sakit dari tamparan Ayara. Pria itu menahan Ayara dengan kedua sisi lengannya di pintu mobil.
"Bukan! Dia putriku. Hanya putriku!" tukasnya tidak menyerah menyangkal.
"Hanya dengan melihat wajahnya. Semua orang tahu jika dia putriku, Ay."
Ace memegang tangan Ayara. Membawa wanita itu ke pintu mobil samping kemudi, lalu kembali membukanya.
"Masuk, aku yang menyetir."
"Apa-apaan ini, aku tidak---" Belum sempat Ayara menyelesaikan kalimatnya, Ace sudah memotongnya. Dengan menyuruh wanitanya itu untuk masuk ke mobil dengan lembut.
"Masuk, sayang. Putri kita--"
"Putriku!" sangkal Ayara masih menatap penuh permusuhan pada Ace.
"Iya, putrimu dan aku. Dia kelihatan takut, masuk ya."
Ayara menatap wajah Kayla yang terlihat biasa saja. Tidak ada raut takut seperti yang Ace katakan. Melainkan juga raut wajah penuh permusuhan ke arah pria itu.
"Humm... Kau buta. Dia juga kesal denganmu Ace!" Ayara masuk ke dalam mobil. Memindahkan tubuh Kayla ke pangkuannya, lalu Ace menutup pintu mobil.
Pria itu masuk ke kursi kemudi. Lalu mengadakan tangan pada Ayara.
"Apa lagi?!" Ayara bertanya sarkas.
"Kuncinya, Ay. Gimana mau jalan mobilnya."
Ayara mengambil kunci mobil di dalam tas. Menyerahkannya pada Ace tanpa suara lagi. Setelah itu, Ace membawa Ayara untuk menuju ke apartemennya. Bukan ke rumah wanita itu, atau ke rumah orangtuanya. Tetapi ke apartemennya.
__ADS_1