
Berhubung hari ini adalah hari weekend. Ayara dan Kayla masih bersantai di apartemen milik Lucas. Ibu dan anak itu bahkan tidak memperhatikan ekspresi wajah Lucas yang murung karena kurang tidur.
Handphone Ayara berdering, lagi dan lagi itu panggilan dari Elena, ia segera mengangkatnya dan menyapa penelepon diseberang sana.
Dan ternyata Elena ingin bermain ke rumah Ayara. Tetapi di sana masih tidak ada orang. "Kay, bibi Elena ada di rumah. Ayo kita pulang." ajak Ayara pada Kayla yang sedang asik membaca buku-buku bisnis berbahasa Inggris milik Lucas.
Menggelengkan kepala pelan. Ayara menarik buku yang tengah putri kecilnya itu baca. "Apa tidak ada buku menarik dari pada sesuatu yang rumit seperti ini, Baby girl?"
"Uncle, lihat Mommy!" Kayla mengadu.
"Ay, itu hanya sebuah buku. Apa salahnya dia membacanya?"
"Salahnya adalah ini buku bisnis, Luc. Buku bisnis! anak usia dini mana yang membaca buku bisnis." Kesal Ayara menatap Lucas nyalang.
"Baiklah, baiklah. Kau benar Ay, sudah jangan marah-marah lagi. Kalian mau pulang kan? Ayo aku antar."
"Aku bawa mobil sendiri!" ketus Ayara.
"Jangan keras kepala, ayo aku antar."
Ayara mendengus, melangkahkan kaki menuju kamar kemudian mengambil tas dan beberapa pakaian kotor Kayla.
Selama di perjalanan, Kayla dan Lucas sibuk dengan urusan mereka sendiri. Bercerita, bercanda layaknya ayah dan anak sesungguhnya. Sedangkan dia diacuhkan dibelakang, membuat rasa kesalnya semakin menjadi-jadi.
Namun tak dapat dipungkiri, jika disisi lain Ayara juga merasa bahagia. Lucas menjadi sosok pengganti ayah bagi Kayla hingga sekarang.
Mungkin karena kehadiran Lucas jugalah yang membuat Kayla bisa mengerti bahwa pertanyaan mengenai ayah adalah sesuatu yang sensitif pada Ayara. Entah bagaimana Lucas menyihir pikiran anaknya, namun benar itu adanya. Kayla tidak pernah menanyakan siapa ayahnya? dimana? atau kenapa ia tidak memiliki ayah? Ayara bersyukur untuk itu.
Saat tiba di rumah, Ayara keluar lebih dahulu. Membuka pintu pagar dan membiarkan Lucas memasukkan mobilnya ke dalam garasi.
Sedangkan Elena yang telah menunggu dari tadi segera mengiringi mobil Ayara yang dibawa Lucas.
Keluar dari mobil, ternyata Elena tidak sendiri. Gadis itu datang bersama Sofia dan kedua anaknya. Satu orang anak laki-laki, dan seorang bayi.
"Hai, Baby girl. Wah... Merindukan bibi?" tanya Elena penuh semangat. Tetapi Kayla hanya melirik sekilas kemudian memilih merentangkan tangannya untuk digendong oleh Lucas.
__ADS_1
"Ay, siapa dia?" tanya Elena penasaran.
"Namanya Lucas, dia temanku ketika di London. Ouh iya, siapa pria kecil ini humm..." perhatian Ayara teralih pada Tara---putra Sofia. "Biar Aunty tebak, usia kamu pasti 5 tahun?" bingungnya menatap pada Sofia.
"Bulan depan usianya 6 tahun, Ay." Ayara nampak bingung. Apa ada sesuatu yang ia lewatkan ketika berteman dengan Sofia lima tahun lalu.
"Oke para ledies, apa kita tidak akan masuk lebih dulu? Sepertinya aku sudah sangat mengantuk." keluh Lucas yang hanya menjadi pendengar diantara mereka.
Ayara membuka pintu rumah. Mempersilahkan semua orang masuk, lalu mengantarkan Lucas ke kamar Kayla untuk beristirahat. Karena di rumah ini memang hanya memiliki dua kamar.
Setelah membuat minuman, Ayara membiarkan Kayla untuk mengajak Tara bermain. Dan entah kesialan atau keberuntungan, kedua anak itu memiliki hobi yang sama. Membaca buku-buku rumit, dan kompleks.
"Mereka terlihat cocok berteman," komentar Elena semakin memperhatikan dua anak berbeda gender itu di ruang keluarga yang Ayara sulap menjadi area bermain Kayla.
"Tara-ku adalah monster. Mustahil bisa cocok dengan anak-anak lain," keluh Sofia menatap putra pertamanya itu sedih.
"Tapi dia seperti ayahnya bukan? Genius dan pendiam." ucap Elena memaklumi.
Ayara yang telah mendengar ceritanya, bahwa Tara adalah putra dari abangnya Sofia yang telah meninggal dua tahun lalu bersama istrinya. Sejauh yang Ayara ingat, sosok kakak Sofia memang pendiam, menakutkan, dan pintar tentu saja.
"Karena itulah sebabnya, kalian tahu, Tahun lalu Tara ditawari untuk loncat kelas langsung ke kelas 6sd. Apa itu tidak menakutkan?"
Pembicaraan mereka terus berlanjut, saling bercerita melepas rindu. Dan kecurigaan Ayara bahwa Sofia adalah selingkuhan Doni itu salah. Wanita itu ternyata sudah menikah dengan seorang pengusaha kuliner yang terbilang cukup sukses.
Pikiran buruk bahwa rumah tangga sepupunya itu berantakan segera terenyah kan. Dan tentu saja hal itu membuat Ayara lega.
_____
Di kediaman besar Pramana, Reina tengah sibuk dengan kue-kue kering. Entah sudah berapa lama ia tinggal disini, bahkan iya tidak mengingatnya.
Setelah pertengkaran besar dengan suaminya hari itu. Reina memutuskan untuk pulang kembali ke kediaman Pramana. Dengan alasan bahwa Doni suaminya itu tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.
"Rei," panggil Ayasa pelan. "Papa lihat semakin kesini, kamu terlihat semakin murung. Apa benar tidak terjadi apapun sebelum Doni pergi bisnis trip?"
Reina menatap paman sekaligus ayah tirinya ini. Ibunya menerima lamaran Ayasa satu tahun setelah Ayara pergi. Mereka menikah tanpa memberitahu satupun anak dari pria itu.
__ADS_1
Memikirkan hal ini, entah mengapa rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi. Tidak hanya merebut Doni, Reina juga merebut ayahnya Ayara. Apa dia memiliki muka untuk bertemu suatu hari nanti? Atau, masalah rumah tangganya ini adalah karma untuknya yang merebut kebagian orang lain?
Satu bulir bening jatuh dari kelopak mata Reina. Membuat Ayasa heran, dan tak urung berusaha menenangkan anak tirinya itu.
"Jujurlah pada papa, Rei. Kalian ada masalah apa?" desak Ayasa.
"Ti--tidak ada, Pa. Reina hanya merasa bahwa pernikahan Reina dan Doni ini merupakan kesalahan. Itulah mengapa kami tak kunjung diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk menjadi orang tua." lirih Reina berucap disela-sela tangisnya.
"Apa mungkin ini hukum karma, Pa? Apa ini doa dari Ayara yang belum memaafkan kami?" tandasnya dengan tangis semakin keras.
"Tidak! Semua ini tidak ada hubungannya dengan anak itu, Nak. Semuanya hanya takdir Tuhan. Mungkin Tuhan hanya ingin kalian lebih bersabar sedikit lagi. "Ayasa menepuk-nepuk pelan punggung Reina menenangkan, "Papa harap, apapun masalahmu dengan suamimu segera diselesaikan. Bicarakan baik-baik, jangan terus saling menghindar."
Reina menyeka air matanya. ia menghirup udara segar, kemudian menghembuskan napas dengan panjang.
"Papa gak kerja?" tanya Reina berbasa-basi sebentar.
"Ini weekend, Rei. Waktunya untuk keluarga." Reina terkekeh geli. Mengambilkan satu kue kering yang sudah dingin, lalu ia menyuapi Ayasa.
"Bagaimana rasanya, Pa?" Ayasa mengunyah itu dengan perlahan. Mencermati rasanya, kemudian baru berkomentar, "Ini enak. Masih sama seperti biasanya."
Sosok seorang wanita paruh baya ikut bergabung dengan mereka. Mengambil satu kue, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Sulastri penasaran dengan kegiatan ayah dan anak itu.
"Hanya mencicipi kue, Bu. Bagaimana enak kan?" Sulastri mengangguk. Kue kering buatan anaknya memang selalu yang terbaik.
"Enak."
Hubungan keluarga yang terlihat begitu harmonis. Suami dan istri dengan satu orang anak yang sedang bercanda, terlihat begitu bahagia.
Tidak ada yang bisa mengira jika keharmonisan mereka akan berakhir hanya dalam hitungan menit. Atau bahkan detik.
"Wah... wah... coba kita lihat. Keluarga yang harmonis sekali!" sarkas seorang pria menghampiri mereka. Dibelakangnya ada seorang gadis cantik berwajah campuran Jepang dan Amerika.
"Arkan?!" gumam Ayasa tidak percaya.
__ADS_1
"Kak Arkan," bisik Reina hampir tak bersuara.
"Kenapa? Tidak ingin menyambut ku dan menantu mu, Ayah!" tekan Arkan dengan nada sarkas diakhir kalimat.