
Mondy merasa bersalah karena telah membuat Gabriel bersedih. Dia langsung menggendong bocah itu dan meminta maaf.
“Makanya, kalau ngomong itu dipikir dulu,” kata Bara tanpa rasa bersalah.
“Biel, Om Mondy nggak maksud ngelarang Biel buat main kok. Maksud Om Mondy, Onty sama Om Mondy ‘kan baru selesai pesta. Onty juga baru tinggal di rumah Om Mondy, jadi kita mau bersih-bersih, nata lemari, mau sapu-sapu rumah juga. Kalau ada Biel ‘kan onty sama Om Mondy malah keasyikan main sama Biel.” Keyla mencoba memberi pengertian untuk keponakannya.
“Iya sih. Tapi, Om Mondy ‘kan temannya Biel. Jadi, Biel boleh main ke lumah Om Mondy ‘kan?”
“Ya, boleh dong. Besok Om Mondy pulang kerja, Om Mondy belikan robot-robotan, mau nggak?” tanya Mondy. Dia mencoba mengambil hati Gabriel yang sepertinya sudah mulai luluh.
“Mau, mau, mau.”
“Gab, mainan kamu sudah banyak banget loh, kamar kamu nanti penuh sama mainan,” kata Bara.
__ADS_1
“Bialin. Om Mondy yang nawalin kok, nanti kalau Om Mondy sama Onty Key punya dedek cowok, mau Biel sumbangin buat dedeknya Om Mondy,” balas Gabriel.
Bara dan Sheina tertawa mendengar ucapan putra mereka itu. Sedangkan Mondy langsung menyahut, “Kamu kasih sumbangan kok mainan bekas sih, Biel.”
***
Mondy dan Keyla akhirnya pulang dari rumah Bara dan Sheina. Mereka sempat makan juga di rumah kakak ipar mereka itu karena Sheina memaksa, hitung-hitung sebagai penyambutan Bu RT baru kata Sheina.
Dua orang yang baru menikah itu akhirnya bisa kembali berduaan. Mondy yang masih penasaran dengan hadiah dari para warga itu, memutuskan untuk membuka koper dan kadonya.
“Ya ampun. Aku malah nggak kepikiran buat cepet-cepet hamil, Yang.” Keyla tersenyum menatap kotak susu bergambar pengantin itu.
“Apa kata Tuhan saja Sayang, kalau rejeki ya jangan ditolak,” balas Mondy. Dia kembali sibuk melanjutkan kegiatannya membongkar isi kado dari warganya itu. “Ini biar tahan lama kayaknya,” celoteh laki-laki itu.
“Ya ampun, malu deh pakai ginian,” ucap Keyla saat mendapati beberapa lingeri dengan berbagai warna dan model.
__ADS_1
“Kamu pasti seksi banget pakai itu, nggak usah malu, Sayang. Kamu nggak pakai apa-apa saja nggak perlu malu kok, kan sudah sama-sama lihat,” komentar Mondy sembari memainkan alisnya naik turun. Laki-laki itu mulai membayangkan jika istrinya memakai pakaian tipis yang sangat menerawang dan pasti akan sangat menggoda. Mondy sampai menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum me.sum pada Keyla.
“Mau aku pakai sekarang?” Keyla balas menggoda dengan menempelkan pakaian itu di depan tubuhnya.
Mondy jadi semakin tergoda. Imajinasinya bertambah tinggi saat Keyla mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.
Tidak bisa tahan lagi, Mondy langsung menerkam tubuh Keyla hingga mereka terjatuh di karpet. Keyla masih memegangi pakaian tipis yang didapatnya itu dengan mata yang menatap Mondy tanpa berkedip.
“Aku mau lihat kamu pakai itu sekarang,” kata Mondy yang kemudian menyerbu leher Keyla dengan bibirnya. Dia kembali mengukir tanda merah di leher dan semua yang bisa dijangkau bibirnya.
Keyla tidak bisa bergerak. Tubuhnya yang tertindih oleh Mondy hanya bisa memasrahkan diri, hingga dia dapat merasakan sesuatu yang mengeras mengenai pahanya.
“Sayang, kita baru saja makan loh,” kata Keyla seolah menolak, tapi tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan.
__ADS_1
“Aku nggak peduli, Sayang. Lele jumbo kamu sudah mulai bangun ini. Kamu bisa merasakannya ‘kan?”