
Keyla terbangun di ruang tengah sambil berpelukan dengan Mondy. Kepalanya yang terasa pusing membuat keyla bergegas bangun dan terkejut bukan main.
"Sayang, kok kita bisa di sini sih," pekik Keyla sambil memunguti pakaiannya. Dia terbangun tanpa selembar pakaian pun sama halnya dengan Mondy yang tidak memakai apa-apa sehingga menampilkan lele jumbonya yang berdiri tegak.
"Loh, kok kita tidur di sini." Mondy juga ikut bingung. Masalahnya tadi malam mereka sama-sama mabuk dan meminum ....
"Astaga, pasti gara-gara minuman itu," ucap Mondy sambil tertawa.
Keyla masih bingung dengan apa yang dikatakan Mondy. Yang dia tahu tadi malam dia memang minum di rumah Selvy tapi tidak ingat siapa yang membawanya pulang.
"Ayo kita mandi dan ke rumah Selvy!" ajak Mondy sambil memakai celananya.
Mondy menarik tubuh Keyla yang masih terasa pusing, tetapi dia menurut saja dengan apa yang dikatakan suaminya. Sampai akhirnya, Mondy mengajak mereka main di kamar mandi pun, Keyla juga menurut.
"Sekali lagi ya, Sayang. Efek obatnya bener-bener kuat ternyata," kata Mondy yang masih merasa lele jumbonya berdiri tegak meski sudah mengeluarkan tinta putih pagi ini.
"Ih, katanya mau mandi. Kamu masih belum jelasin soal tadi malam loh. Nasibnya Gery sama Selvy gimana, kasihan 'kan kalau mereka sampai nganu-nganu. Kamu jahat banget sih, Sayang!" Keyla mengguyur tubuhnya dengan air, meski dia juga menikmati permainan Mondy, tapi Keyla tetap ingat bahwa Selvy dan Gery adalah sahabatnya.
__ADS_1
"Iya-iya, Sayang. Lagian aku juga bantuin si Gery, siapa tahu jalan mereka untuk bersama itu sama kayak jalan yang ditempuh Bara."
Keyla melotot karena kali ini suaminya sudah bersikap keterlaluan.
Usai mandi dan berganti pakaian, juga telah sarapan ala kadarnya, Keyla dan Mondy keluar rumah. Sayangnya, mereka tidak bisa membuka pintu karena terkunci dari luar. Pelakunya adalah Sheina yang sengaja mengunci pasangan suami istri yang tadi malam mabuk, karena dia pikir akan bahaya kalau mereka keluar.
"Aku cari kunci serepnya dulu, Sayang." Mondy mencari kunci cadangan yang ia simpan di salah satu lemari dapurnya. Lalu, dia segera menghampiri Keyla yang sudah menunggu.
Setelah pintu terbuka, mereka pun bisa keluar rumah dan di saat yang bersamaan, ternyata Sheina dan Bara juga keluar dari rumahnya.
"Si Siput di rumah kalian, 'kan?" tanya Mondy pada Bara dan Sheina.
Lalu, mereka berempat pun bergegas menuju rumah Selvy. Pembantu di rumah Selvy membukakan pintu dengan wajah sedih.
"Ada apa, Bi? Selvy sama Gery baik-baik aja, 'kan?" tanya Keyla khawatir.
Bara menyenggol lengan Mondy yang berdiri di belakang para istri.
__ADS_1
"Mereka tidak baik-baik saja, Non. Bibi bingung sebenarnya kalian tadi malam minum apa?" tanya wanita paruh baya itu dengan bingung.
"Kita, kita nggak ngapa-ngapain kok, Bi."
"Semua ini gara-gara kamu, Mon. Dasar Ketua RT abal-abal. Mana ada Ketua RT nyusahin warganya kayak gini," cibir Bara.
Mondy memicingkan mata. Ingin membalas tapi tidak bisa karena memang dialah yang bersalah.
"Kita langsung lihat aja, kali aja Selvy lagi nangis-nangis." Mondy mengusulkan untuk melihat keadaan mereka daripada terus bertanya-tanya dan menduga-duga.
Mereka pun menuju kamar tamu dan melihat Gery yang berselimut tebal.
"Loh, kok dia tidur sendirian sih, Selvy mana?" tanya Bara.
"Iya, jangan-jangan Selvy nangis-nangis di kamar mandi," sahut Mondy.
"Non Selvy di kamarnya, dia juga sakit," jawab Bibi.
__ADS_1
Mondy dan Bara menghampiri Gery, sedangkan Keyla dan Sheina melihat keadaan Selvy.
"Kok, dia tidur nyenyak banget sih," gumam Bara. "Astaga, demam."