
Mondy sangat bahagia dan antusias dengan kabar kehamilan Keyla. Namun Keyla justru kurang bahagia. Meski begitu, dia berusaha menerima anak dalam kandungannya.
"Sayang, kita udah dipercaya buat jadi orang tua, kita harus menjaganya dengan baik ya," kata Mondy sambil mengusap perut Keyla yang datar, lalu memasangkan sabuk pengaman di perut Keyla dengan hati-hati. "Jangan kenceng-kenceng kalau pakai seatbelt, sekarang ada anak aku yang hidup di sini."
Keyla mengembuskan napas berat. Dia menganggap perhatian Mondy adalah hal yang wajar, tapi sayangnya dia belum siap untuk menerima kehadiran anaknya itu.
Mondy menyetir mobil dengan sangat hati-hati. Dia tidak mau melukai istri dan anaknya. Karena itulah dia mulai bersikap protektif pada Keyla.
"Mon, agak cepet ya jalannya. Aku capek banget pengen cepet tiduran," kata Keyla yang mulai kesal karena Mondy menyetir dengan sangat pelan.
"Ya udah aku benerin sandarannya dulu ya biar kamu nyaman," kata Mondy yang hampir menepikan mobilnya.
"Nggak usah, aku capek pengen tiduran di kamar aja bukan di mobil," balas Keyla sambil cemberut. Sebagai wanita hamil yang hormonnya yang sedang tinggi, Keyla jadi gampang tersinggung dan kesal. Perasaannya jadi sangat sensitif sekarang, tetapi untungnya Mondy memahami hal itu.
***
***
__ADS_1
Semenjak dinyatakan hamil, Keyla memang banyak diam. Dia belum siap dengan kehamilannya. Namun, Mondy yang sulit mengambil hati istrinya karena sangat sensitif, akhirnya meminta bantuan Sheina untuk memberikan penjelasan pada Keyla.
Pagi ini, Sheina menghampiri Keyla yang sedang menonton televisi. Susu di hadapannya masih utuh tanda wanita itu enggan meminumnya.
"Hai, Key." Sheina duduk di samping Keyla. Sementara Mondy dan Bara menjaga Bia dan Biel di rumah Bara.
"Hai, Shein. Tumben sendiri, Bia sama Biel mana?" tanya Keyla sambil celingukan mencari keponakan-keponakannya.
"Mereka di rumah, sama daddynya sama Mondy juga," jawab Sheina. "Kenapa nggak diminum susunya?"
"Iya, nanti aku minum."
Keyla menunduk. Dia hanya syok bukannya membenci anaknya sendiri.
"Apa aku bisa jadi ibu yang sempurna untuknya, Shein?"
"Nggak ada ibu yang sempurna, Key. Mereka hanya sempurna di mata anak-anaknya. Justru, kalau kamu kayak gini, dia akan sedih, dia bisa rasain apa yang kamu rasakan sekarang. Percaya deh, punya anak itu bahagianya seribu kali lipat dari punya suami yang mencintai kita." Sheina memeluk Keyla yang akhirnya menangis.
__ADS_1
Cukup lama Sheina menasehati Keyla sampai akhirnya wanita itu bisa benar-benar menerima kehamilannya dengan bahagia. Sheina mengajak Keyla untuk menemui Mondy di rumahnya.
Laki-laki itu sedang berusaha membuat Bia yang dipangku Bara itu tertawa.
Melihat Bia yang tertawa terbahak-bahak karena Mondy, perasaan Keyla pun menghangat. "Nanti, kalau anak kita udah lahir, kamu bisa bikin dia ketawa kayak dia nggak Yang?"
Mondy yang mendengar suara Keyla, seketika itu menoleh ke belakang.
"Maafin aku ya. Bukannya aku nggak sayang sama anak kita, aku hanya sedikit terkejut aja, Yang."
"Nggak apa-apa, Sayang. Itu artinya kamu bisa dipercaya. Aku akan buat dia ketawa terus nggak akan aku biarkan dia menangis." Mondy memeluk Keyla sambil mengusap perut Keyla yang masih datar.
"Mana ada bayi nggak nangis, Mon. Justru kalau dia nggak nangis itu tanda bahaya," sahut Bara yang dengan teganya merusak suasana.
"Udah nggak usah dibalas. Kita lagi bahagia, sebentar lagi kita juga akan gendong anak kita, kamu nggak kalah dari Bara," kata Keyla sambil mencium pipi Mondy.
...TAMAT...
__ADS_1
Maaf ya, aku nggak bisa kasih ekstra part, tapi mereka akan sesekali muncul di novelku yang lain, jadi, ikuti semua novelku yađź’‹