
Hanya tujuh hari Bu Rosma menginap di rumah Rania. Kini Bu Rosma sudah kembali ke rumahnya. Saat itu pula Elvan bersabar untuk tidak datang ke kontrakan Rania karena masih ada ibunya. Padahal dia ingin sekali datang kesana.
Saat ini Elvan sedang berada di supermarket. Dia sedang membeli belanjaan untuk Rania. Niatnya dia akan datang mengunjunginya.
Terlihat Elvan yang sudah selesai berbelanja. Dia pergi keluar dari supermarket dengan membawa dua kresek besar barang belanjaannya.
Setelah menaruh barang belanjaannya di bagasi, Elvan langsung mengemudikan mobilnya menuju ke kontrakan Rania.
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya Elvan sampai juga di mini market dekat gang masuk kontrakan Rania. Elvan turun dari mobil, lalu dia mengambil barang belanjaannya.
Elvan tak yakin Rania mau menerima kehadirannya atau tidak. Tapi yang pasti dia akan memenuhi semua kebutuhannya. Dia juga berniat untuk berbicara empat mata dengannya. Dia ingin menikahi Rania dan menjadikannya istri kedua. Dia sudah memikirkan ini selama beberapa hari. Dan mungkin itu keputusan yang terbaik.
Saat ini Elvan sudah sampai di depan kontrakan Rania. Kebetulan dia melihat Rania yang baru keluar dari dalam kontrakannya.
''Rani, mau kemana?'' tanya Elvan.
''Mau ke mini market depan beli keperluan. Ngapain kesini? Itu bawa apa?'' Rania bertanya sambil menatap belanjaan yang di bawa Elvan.
''Lebih baik Kita bicaranya di dalam.''
''Biklah, ayo masuk!''
Elvan melangkah memasuki kontrakan. Dia menaruh barang belanjaannya di lantai. Lalu dia duduk di kursi kayu yang ada di ruang depan.
''Sebelumnya aku mau minta maaf jika kedatanganku ini mengganggu. Tapi aku hanya ingin mengatakan jika mulai sekarang aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Kamu tidak perlu berjualan kue lagi,'' ucap Elvan.
''Aku masih bisa memenuhi kebutuhanku sendiri. Lagian untuk apa tiba-tiba berbaik hati seperti itu?''
''Aku akan bertanggung jawab untukmu dan anak kita.''
''Ini anakku dan aku bisa membesarkan anak ini sendirian.''
''Kamu yakin? Tidak mudah loh membesarkan anak seorang diri. Apalagi kamu ini tidak punya sanak saudara lag. Belum lagi cemoohan warga jika tahu kalau kamu hamil di luar nikah.''
''Iya benar, tapi aku harus kuat menghadapi semua itu demi masa depan anakku,'' ucap Rania, lalu raut wajahnya berubah sendu.
''Ayo menikah!'' Elvan berucap seperti itu sebenarnya karena dia sudah berpikir berulang kali. Mungkin menikah itu jalan yang terbaik untuk saat ini. Lagian dia tidak tega melihat Rania membesarkan anaknya sendirian.
''Jangan ngaco deh kalau bicara. Pak Elvan itu sudah menikah. Bagaimana perasaan istri bapak kalau tahu bahwa bapak menikah lagi?''
__ADS_1
''Itu urusan nanti. Yang terpenting sekarang saya bertanggung jawab kepadamu.''
''Kalau Bu Rosma tahu anaknya menikah lagi pasti akan kecewa.''
''Kita menikah diam-diam saja dulu.''
Rania masih diam, rasanya dia tidak tega jika menjadi orang ketiga di dalam pernikahan orang lain. Namun bagaimana dengan nasibnya jika dia tidak menerima pernikahan itu.
''Baiklah, mungkin ini memang jalan terbaik. Lagian aku tidak mau jika anak ini tidak memiliki status yang jelas,'' ucap Rania sambil mengusap perutnya yang masih datar.
''Jadi kapan kita akan menikah?''
''Terserah Pak Elvan saja.''
''Baiklah, minggu depan saja kita menikah. Kita langsung menikah di KUA saja.''
''Iya, Pak.''
‘’Oh iya ini aku bawakan banyak belanjaan untuk kamu. Kebetulan ada susu ibu hamil juga,'' kata Elvan.
''Terima kasih, Pak. Tapi tidak usah repot-repot''
''Sama-sama. Lagian itu sudah kewajiban saya untuk memenuhi semua kebutuhan kamu,’’ ucap Elvan, lalu dia membuka tasnya dan mengambil amplop coklat yang ada di dalamnya. ‘’Ini untuk kamu,’’ Elvan menyodorkan amplop coklat itu kepada Rania.
‘’Itu sejumlah uang yang bisa kamu pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Jangan lupa loh, mulai besok jangan jualan lagi.’’
‘’Baik, Pak. Terima kasih uangnya.’’
‘’Sama-sama,’’ jawab Elvan sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. ‘’Sudah jam segini nih, aku pulang dulu ya,’’ ucapnya berpamitan.
‘’Iya, hati-hati di jalan, Pak.’’
Rania mengantar Elvan hingga sampai ke depan rumahnya.
‘Jika sangat perhatian seperti itu, lama-lama aku bisa jatuh cinta. Ah tidak-tidak, apa yang kamu pikirkan, Ran. Ingat kamu itu menerima tawaran menikah agar anak kamu mempunyai asal-usul yang jelas siapa orang tuanya. Lagian dia pasti sangat cinta dengan istrinya,' batin Rania sambil menatap kepergian Elvan yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
......
Hari ini Elvan memilih untuk pulang dari kantor lebih awal. Bukan karena ada tujuan lain, namun dia hanya ingin saja. Lagian sebelum-sebelumnya dia tampak sibuk, bahkan sering lembur. Kebetulan hari ini pekerjaannya tidak terlalu banyak, jadi dia memilih pulang lebih awal saja.
__ADS_1
Elvan yang baru sampai, dia memarkirkan mobilnya di depan rumah. Lalu dia turun dengan membawa bingkisan. Kebetulan tadi dia singgah dulu untuk membeli kue kesukaan istrinya.
Elvan sudah berucap salam dan mengetuk pintu. Namun tidak ada yang membukakan pintu rumahnya. Dia mencoba membuka pintu itu, ternyata tidak terkunci.
Ternyata suasana di dalam rumah cukup sepi. Sepertinya tidak ada orang di rumah. Elvan menaruh tas kerjanya di atas sofa, lalu dia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Elvan mencoba untuk memanggil-manggil Bi Ijah, namun tidak ada sahutan. Sepertinya Bi Ijah tidak ada di rumah.
Elvan yang sudah selesai minum, dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Saat ini Elvan sedang berdiri di depan kamarnya, namun pintunya terkunci dari dalam.
‘’Sayang, kamu ada di dalam? Buka dong pintunya!’’ ucap Elvan.
Clara yang sedang asyik memadu kasih, tentu kaget. Dia turun dari atas tubuh Kekasihnya. Untung saja dia menyalakan pengendap suara, jadi suara-suara sexy yang keluar dari mulutnya, tidak terdengar oleh suaminya.
Tok tok
'’Sayang, kamu di dalam tidak?'' Elvan kembali bertanya sambil mengetuk pintu kamarnya.
''Sebentar, Mas. Aku baru bangun tidur,’’ ucap Clara.
Clara menyuruh kekasihnya untuk kembali memakai pakaiannya, lalu bersembunyi di bawah ranjang.
Cklek
Akhirnya pintu kamar itu terbuka. Elvan melihat istrinya memakai lingeria berwarna merah. Bahkan wajahnya terlihat berkeringat.
‘’Sayang, kok kamu berkeringat?’’
‘’Iya, Mas. Aku kepanasan,'' Clara berucap sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Elvan percaya begitu saja dengan istrinya, lalu dia melangkah masuk ke dalam kamar.
‘’Mas, pasti kamu gerah juga. Kamu langsung mandi saja ya,’’ pinta Clara.
‘’Iya, sayang. Ini Mas mau mandi kok.’’
Clara menatap suaminya yang sedang membuka satu persatu kancing kemejanya. Setelah itu Elvan segera pergi ke kamar mandi.
Setelah melihat suaminya masuk ke kamar mandi, Clara menyuruh kekasihnya untuk keluar dari persembunyiannya dan menyuruhnya untuk pergi.
__ADS_1
Elvan yang hendak mandi, dia memicingkan matanya saat melihat sesuatu di pinggir bathtub. Saat dia mendekat, ternyata ada dua dalaman disana. Satunya dalaman wanita berwarna merah, dan satunya dalaman pria berwarna biru.
‘’Sepertinya ini milik Clara,’’ ucap Elvan sambil menatap dalaman berbentuk segitiga berwarna merah. ‘’Lalu yang itu milik siapa? Sepertinya aku tidak memiliki dalaman berwarna biru,’’ Elvan beralih memperhatikan dalaman berwarna biru.