Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.32


__ADS_3

Hari ini Elvan harus pergi ke luar kota untuk mengurus bisnisnya disana. Rasanya dia enggan untuk meninggalkan istrinya. Apalagi belakangan ini keduanya sangat lengket, seperti pasangan yang tak terpisahkan.


Terlihat Rania yang baru selesai membereskan pakaian suaminya yang akan di bawa nanti. Sebenarnya Elvan mau membereskannya sendiri, namun rasanya malas sekali. Untuk pergi saja rasanya malas. Dia ingin di rumah terus bersama dengan istrinya.


Elvan sudah berniat untuk mengajak istrinya ikut dengannya. Namun Bu Rosma melarangnya. Bu Rosma tidak ingin jika Rania kecapean. Apalagi sekarang sedang hamil. Akhirnya Elvan menurut dengan ibunya. Dia tidak akan mengajak istrinya untuk pergi.


Rania mendekati suaminya yang sedang duduk di pinggir ranjang.


''Mas, kenapa kamu diam saja? Kamu terlihat tidak bersemangat,'' Rania memperhatikan raut wajah suaminya.


''Iya, sayang. Mas sedikit tak bersemangat. Rasanya malas sekali untuk pergi. Mas tidak mau meninggalkan kamu sendirian.''


''Aku tidak sendirian, Mas. Kan ada Mamah Rosma yang menemaniku.''


''Tapi tetap saja, sayang. Nanti kalau Mas kangen peluk kamu gimana? Pasti Mas tidak bisa tidur kalau tidak memelukmu.''


''Bagini saja, Mas. Nanti kalau mau tidur kamu telepon aku biar aku bisa nina boboin kamu.''


''Aku bukan anak bayi, masa di nina boboin sih.'' Elvan mencubit pipi istrinya karena merasa gemas.


''Habisnya Mas Elvan manja sih.''


''Biarin, yang penting manjanya sama kamu.''


''Mas, kita keluar yuk! Aku tadi sudah memasak yang enak loh.''


''Sayang, kamu jangan sering masak ya. Mas tidak mau kalau kamu kecapean.''


''Iya, Mas. Aku masak kalau ada kamu saja. Kalau kamu tidak di rumah, aku tidak akan masak.''


''Kamu memang istri yang baik. Ayo kita keluar!''


Mereka berdua keluar dari kamar. Mereka akan menghabiskan waktu yang hanya tinggal beberapa jam lagi.


.....


Sudah satu hari Rania dan Elvan berjauhan. Tentu Rania merasa ada yang kurang saat tidak ada suaminya di sisinya. Walaupun saling memberi kabar, namun mereka masih tetap saling rindu.


Sejak tadi Rania menatap layar ponselnya. Dia beberapa kali mengirim pesan kepada suaminya, namun nomor suaminya sedang tidak aktif, sehingga isi pesannya belum dibaca juga.


''Mas Elvan kemana sih, kok nomornya tidak aktif,'' gumam Rania


Rania merasa bosan di rumah. Apalagi nomor suaminya sedang tidak aktif. Jadi dia tidak bisa melakukan video call seperti biasanya.


Rania teringat jika ada kafe yang baru buka beberapa hari yang lalu, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Mungkin sekitar lima belas menit saja jika menaiki kendaraan. Rania jadi ingin pergi kesana, karena dia belum pernah mampir ke kafe itu. Rania segera berganti pakaian karena sekarang juga dia akan pergi.

__ADS_1


Rania yang baru keluar dari kamarnya, dia menatap kanan kirinya yang tampak sepi. Biasanya Bu Rosma sedang duduk bersantai atau sedang menonton televisi, namun kali ini tidak ada.


''Bi ... Bibi ... '' Rania memanggil pembantu yang ada di rumah itu.


Terlihat Bi Darmi yang muncul dari arah dapur.


''Iya, Non. Ada yang bisa Bibi bantu?'' Bi Darmi menghampiri Rania yang sedang berdiri di ruang keluarga.


''Kok rumah sepi sekali, memangnya mamah Rosma kemana?''


''Kebetulan Nyonya sedang pergi keluar. Katanya sih ada acara sama teman sosialitanya.''


''Kok tidak pamitan sama aku?''


''Tadi Non Rania sedang tidur, jadi Nyonya tidak berani membangunkan untuk berpamitan,''  jawabnya.


''Oh seperti itu ya. Em aku mau pergi nih, apa sopir rumah tidak ada?''


''Tidak ada, Non. Pak sopir sedang mengantarkan Nyonya.''


''Baiklah, kalau begitu aku naik taxi saja.''


''Tapi, Non. Kalau nyonya nanti pulang nyariin Non Rani gimana?''


''Baiklah, hati-hati, Non.''


''Siap, Bi.'' Rania tersenyum menatap Bi Darmi.


Setelah berpamitan, Rania segera pergi keluar dari rumah.


Rania tidak akan memesan taxi online, dia akan menyetop taxi di depan kompleks saja.


Rania sudah menunggu selama sepuluh menit, namun belum ada taxi yang lewat. Dia memutuskan untuk naik angkot, kebetulan di seberang jalan ada angkot yang sedang berhenti  menunggu penumpang. Saat hendak menyeberang, tiba-tiba ada mobil hitam yang berhenti di depannya. Dua orang berbaju hitam keluar dari mobil, lalu membawa Rania ke dalam mobil itu.


Saat ini Rania duduk di jok belakang bersama dengan kedua orang berbaju hitam itu.


''Siapa kalian? Kenapa kalian menculikku?''


''Diam!'' salah satu dari mereka membentak Rania.


Mobil itu melaju dari sana. Rania tidak tahu kemana dia akan dibawa. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa di culik. Dia takut jika orang-orang yang menculiknya itu mau menyakitinya. Rania memilih diam, dia tidak berteriak mencari pertolongan. Lagian siapa yang mau menolong, sedangkan dirinya berada di dalam mobil yang sedang melaju.


Setelah satu jam di perjalanan, kini akhirnya mereka sampai juga. Salah satu dari mereka menyumpal mulut Rania dengan kain, agar Rania tidak berteriak saat nanti mereka keluar dari mobil.


Rania hanya pasrah dibawa oleh dua orang berbadan kekar dan berbaju hitam itu.

__ADS_1


Mereka memasuki sebuah rumah berukuran besar namun terlihat sepi. Rania melihat seorang lelaki yang berdiri di ruang depan dengan kedua tangannya di taruh di saku celananya. Lelaki itu membelakanginya, sehingga Rania tidak tahu siapa dia.


"Tinggalkan kami berdua!" Ucapnya tanpa menoleh ke belakang.


"Baik, Bos." ucap dua pria yang tadi membawa Rania. Mereka segera keluar dari rumah.


Rania merasa takut, karena disana mereka hanya berdua saja. Dia takut jika lelaki di depannya itu berbuat macam-macam kepadanya.


'Siapa dia? Kenapa menculikku,' batin Rania.


Lelaki itu berbalik badan, lalu tersenyum menatap Rania.


"Selamat datang, cantik. Ah sayang sekali kamu sedang hamil," lelaki itu melangkah mendekati Rania.


Rania memundurkan tubuhnya karena merasa ketakutan.


"Jangan takut! Saya tidak akan menggigit kok," lelaki itu mengambil kain yang di gunakan untuk menyumpal mulut Rania.


"Siapa kamu?" tanya Rania.


"Kamu tidak perlu tahu siapa saya."


"Kenapa menculik saya? Apa salah saya? Saya ini hanya wanita hamil," kata Rania.


"Kamu tidak punya salah, tapi suami kamu yang membuat masalah sama saya. Hm saya jadi penasaran, bagaimana reaksi suami kamu jika tahu kalau istrinya di culik. Ah pasti akan panik sekali dia."


"Silakan saja kasih tahu suami saya. Paling nanti dia datang kesini untuk menyelamatkan saya."


"Jangan percaya diri dulu!" sejenak lelaki itu memperhatikan penampilan Rania dari atas sampai bawah.


"Ngapain lihat-lihat!"


"Kamu cantik," lelaki itu memegang dagu Rania. "Saya tidak sabar menunggu kamu lahiran. Setelah itu aku akan merebutmu dari suamimu yang so pintar itu," ucapnya lagi.


"Jangan harap itu terjadi! Aku tidak akan pernah mau dengan lelaki sepertimu."


Lelaki yang bernama Roy itu, dia mengambil ponsel miliknya yang tadi di taruh di atas meja. Lalu menghubungi nomor Elvan menggunakan panggilan video call. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Elvan mengangkatnya juga.


"Hallo, Pak Roy. Kenapa video call ke saya ya?" tanya Elvan yang sedikit heran.


Roy mengarahkan ponselnya ke Rania.


"Istrimu cantik ya. Sepertinya aku tertarik," ucapnya.


"Kenapa kamu bersama istriku? Apa yang .... " belum juga Elvan selesai berbicara, namun Roy memutuskan panggilan video call itu dengan begitu saja. Bahkan langsung mematikan ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2