
Rania terlihat sangat sedih karena dia tahu bahwa anaknya hilang. Kebetulan tadi dia tahu dari seorang perawat yang tak sengaja keceplosan. Padahal Elvan sudah mengatakan jika hal ini jangan sampai istrinya tahu.
Bu Rosma terus menenangkan Rania dan memintanya untuk tidak menangis. Bu Rosma takut terjadi sesuatu kepada Rania jika terus menangis seperti itu.
Terlihat pintu ruangan itu terbuka. Rania dan Bu Rosma melihat kedatangan Alvin.
''Mas, apa itu anak kita?'' Rania bertanya kepada suaminya yang sedang menutup pintu.
''Benar, sayang. Tadi Mas habis menyelamatkan anak kita,'' jawabnya.
''Syukurlah, aku sangat khawatir dan takut jika terjadi sesuatu dengan anak kita.''
Elvan menidurkan anaknya di sebelah istrinya yang sedang berbaring.
''Sayang, Mas mau panggil dokter dulu ya biar memeriksa anak kita,'' kata Elvan.
''Iya, Mas. Cepat ya!''
''Iya, sayang.'' Elvan mengusap pucuk kepala istrinya. Lalu dia segera pergi keluar dari ruangan itu.
Tak lama, Elvan sudah kembali bersama dengan dokter yang tadi membantu istrinya persalinan.
''Dok, tolong periksa anak saya. Saya takut terjadi sesuatu dengannya karena tadi habis diculik,'' pinta Elvan.
''Baik, Pak.'' ucapnya.
__ADS_1
Dokter itu mulai memeriksa bayi tampak mungil itu. Ternyata bayi itu baik-baiak saja. Hanya saja perlu sedikit di hangatkan di dalam inkubator, karena tubuhnya sedikit dingin. Mungkin karena efek udara luar.
''Pak, Bu, anaknya dibawa ke ruang bayi dulu ya. Anak kalian butuh sedikit kehangatan. Saya akan memasukannya sebentar di inkubator,'' ucapnya.
''Tapi saya takut jika anak saya hilang lagi, Dok.'' ucap Rania.
''Ibu tenang saja, saya akan menyuruh perawat khusus untuk menjaga anak ibu.''
''Baiklah, saya setuju, Dok.'' sahut Elvan.
Melihat suaminya setuju dengan permintaan dokter, akhirnya Rania juga ikut menyetujui. Setelah kepergian dokter, Elvan mendekati istrinya dan memberikan pengertian jika kali ini anaknya akan baik-baik saja. Akhirnya Rania bisa merasa lega saat suaminya sudah memberikan pengertian.
''Mas, kita percepat saja kepulangan kita dari sini. Aku ingin segera pulang,'' ucap Rania.
........
Kini Rania sudah pulang dari rumah sakit. Saat ini mereka sedang berada di perjalanan pulang. Sesekali Elvan menatap istri dan anaknya yang duduk di jok belakang, dari pantulan kaca mobil.
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Elvan turun dari mobil, lalu dia membuka pintu mobil belakang dan menggendong istrinya, membawanya masuk ke dalam rumah. Sedangkan Bu Rosma berjalan di belakang mereka sambil menggendong cucunya. Bu Rosma langsung membawa cucunya menuju ke kamarnya yang sudah di persiapkan. Begitu juga dengan Elvan yang sudah membawa istrinya ke kamar anaknya.
''Wah dekorasi kamar ini sangat indah. Aku suka sekali, Mas.'' Rania menatap sekeliling kamar.
''Ini desainnya dari mamah yang ingin mendekor kamar seperti ini,'' kata Elvan.
''Wah benarkah? Mamah memang hebat,'' Rania mengacungkan satu jempolnya.
__ADS_1
''Syukurlah kalau kamu suka desainnya, Nak.'' Bu Rosma tersenyum menatap menantunya.
Hanya sebentar Bu Rosma berada di dalam kamar itu. Kini Bu Rosma keluar, dan membirarkan menantunya untuk beristirahat. Sedangkan Elvan masih berada disana untuk menemani istrinya.
''Sayang, kita mau kasih nama siapa anak kita yang tampan ini?'' Elvan bertanya kepada istrinya.
''Terserah kamu saja, Mas. Aku menurut saja sama kamu.''
''Bagaimana jika Kevin saja, tapi nama panjangnya siapa ya,'' Elvan tampak memikirkan nama yang cocok untuk anaknya.
''Bagus juga sih. Untuk nama panjangnya kita pikirkan nanti lagi saja, Mas. Lebih baik kita istirahat dulu, Mas.''
''Dengan senang hati Tuan putri,'' Elvan naik ke atas tempat tidur. Dia berbaring di samping istrinya.
''Mas Elvan ngapain tiduran disini?''
''Mau istirahat, sayang. Tadi kan kamu sendiri yang ngajakin.''
''Ya tapi jangan disini juga kali. Nanti Mas Elvan malah berbuat macam-macam.''
''Kamu tenang saja, sayang. Mas itu tidak bisa ngapa-ngapain kamu loh.''
''Benar juga sih.''
Setelah selesai mengobrol dengan istrinya, Elvan langsung memejamkan kedua matanya. Sedangkan Rania tidak tidur. Dia memperhatikan anaknya yang berada di box bayi.
__ADS_1