Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.29


__ADS_3

Elvan dan Reno baru keluar dari cafe. Mereka habis bertemu dengan Klien. Mereka melihat ada kerumunan di pinggir jalan. Mereka pergi melihat kerumunan itu.


''Maaf, ini ada apa ya?'' tanya Elvan kepada seorang wanita muda.


''Ada wanita yang keserempet motor, dan pingsan,'' jawabnya.


Elvan dan Reno menerobos ke kerumunan itu.  Mereka melihat korban kecelakaan itu. Ternyata wanita itu Clara.


''Clara,'' Elvan berjongkok, lalu menggendongnya.


Reno melihat ada darah yang ada di paha Clara.


''Bro, ada darah di kaki,'' ucap Reno.


''Iya aku tahu. Ayo cepat kita bawa dia ke rumah sakit.''


Reno langsung pergi mengambil mobil yang masih berada di parkiran depan kafe.


Reno menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat Elvan yang sedang berdiri. Setelah Elvan masuk, dia langsung mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit pelita. Elvan menggendong Clara memasuki rumah sakit. Sedangkan Reno mengekor di belakangnya.


Saat ini Clara sudah berada di ruang penanganan. Elvan dan Reno melihat Dokter yang baru masuk ke ruangan itu.


''Maaf, Pak. Silakan keluar dulu! Saya mau memeriksa pasien,'' ucap seorang dokter wanita.


''Baik, Dok.'' kata Elvan.


Elvan dan Reno segera keluar dari ruangan itu, sedangkan dokter mulai memeriksa Clara.


Beberapa menit kemudian, Elvan melihat dokter keluar dari ruangan itu.


''Dok, bagaimana keadaan Clara?'' tanya Elvan yang kini sudah berdiri di depan pintu masuk.


''Pasien hanya mengalami luka ringan. Hanya saja kandungannya tidak bisa di selamatkan.''


Mendengar itu, Elvan merasa sedih. Biar bagaimana pun, dia belum melakukan tes DNA. Bisa jadi anak itu anaknya.


''Apa saya bisa bertemu dengan Clara?''


''Silakan!'' ucapnya.


Elvan dan Reno melangkah masuk ke ruangan itu. Mereka melihat Clara yang terlihat sedih.


''Cla, aku ikut sedih saat tahu bahwa kandunganmu tidak bisa di selamatkan. Kamu yang sabar ya,''  ucap Elvan yang saat ini berdiri di samping ranjang pasien.


Clara hanya menatap sekilas ke arah Elvan. Lalu dia kembali mengalihkan arah pandangnya. Dia sedang malas berbicara kepada siapa pun.

__ADS_1


''Aku sama Reno tidak bisa lama-lama karena masih ada pekerjaan. Aku pergi dulu. Cepat sembuh ya,'' setelah mengatakan itu Elvan segera pergi. Reno mengikutinya di belakang.


Setelah Elvan dan Reno keluar dari sana, Clara menatap ke arah pintu keluar.


''Kamu jahat, Mas. Bahkan kamu tidak mau menemaniku disini,'' gumam Clara


Elvan dan Reno kembali ke kantor, karena harus lanjut kerja.


.......


Rania menyambut suaminya yang baru pulang dari kantor.


''Biar aku yang bawaakan tas nyaa, Mas.'' Rania mengambil tas kerja suaminya.


''Terima kaasih, Ran.''


Mereka berdua pergi menuju ke kamar. Rania juga mengambil pakaian ganti untuk suaminya dari dalam lemari.


''Mas, ini bajunya ya,'' Rania menaruh baju ke atas sofa yang ada di kamarnya.


Rania segera keluar dari kamar, karena dia melihat suaminya yang sedang melepaskan kemejanya. Mereka tidak pernah saling melihat saat berganti pakaian. Rania juga masih sedikit canggung jika melihat suaminya bertelanjang dada di hadapannyaa. Apalagi jika dia menyaksikannya berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian, Elvan sudah selesai membersihkan diri. Bahkan dia sudah terlihat tampan dengan pakaian yang dia kenakan. Elvan keluar dari kamar, dia menghampiri istri dan ibunya yang sedang duduk bersantai sambil mengobrol.


''Sepertinya sedang asyik nih. Ngobrolin apaan?'' Elvan mendudukkan diri di sebelah istrinya.


''Oh iya, Mah. Tadi siang aku menolong Clara. Dia jadi korban kecelakaan motor. Akibat kecelakaan itu dia kehilangan janinnya.''


Bu Rosma yang tak terlalu memperhatikan anaknya, setelah anaknya selesai bicara barulah menatapnya karena penasaran.


"Mamah ikut sedih dengarnya, Nak. Biar pun dia istri tidak baik, tapi kalau mendapat mesibah seperti ini, mamah ikut sedih juga."


"Aku juga kasihan sama Clara. Pasti dia merasa sangat kehilangan," sahut Rania.


"Dari musibah yang menimpa Clara, itu mengingatkanku untuk selalu menjaga kandunganmu. Kamu jangan sering pergi-pergi keluar ya Rani," Elvan berucap kepada istrinya.


"Iya, Mas. Aku akan lebih berhati-hati lagi dan tidak akan pergi keluar."


"Kamu tenang saja, Van. Ada mamah yang akan menjaga istrimu disaat kamu di kantor."


"Terima kasih, Mah. Karena mamah mau menerima Rania sebagai menantu mamah. Dari dulu aku mau bicara jujur juga takut mamah marah. Tapi nyatanya mamah malah suka sama Rania," ucap Elvan.


"Mamah suka kalau Rania yang menjadi pendamping hidupmu. Oh iya kapan kalian akan mengadakan pesta resepsi pernikahan?"


"Nanti saja, Mah. Aku urus perceraianku dengan Clara dulu," kata Elvan.


"Iya, Nak. Nanti kalau semuanya sudah beres, kamu bicara sama mamah saja. Biar mamah yang mengurus pesta kalian. Kalian tinggal terima beres saja."

__ADS_1


"Baik, Mah."


Dua jam kemudian.


Elvan dan Rania sudah berada di kamar. Kebetulan mereka baru selesai makan malam. Tadi Rania meminta langsung ke kamar, jadi Elvan ikut pergi ke kamar.


Sejak tadi Rania menatap suaminya. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu namun masih ada keraguan.


Elvan menatap istrinya yang sedang menatapnya.


"Kamu mau bicara apa, Ran? Sepertinya mau mengatakan sesuatu."


"Hehe maaf, Mas. Sebenarnya aku mau meminta tolong, tapi tidak enak sama kamu."


"Bicara saja! Mas akan memenuhi apa pun yang kamu inginkan."


"Aku ingin buah potong, tapi maunya Mas Elvan sendiri yang kupas."


"Baiklah, sebentar ya Mas ambilkan dulu."


"Maaf ya karena aku sudah merepotkan."


"Tidak apa-apa, Ran." Elvan tersenyum menatap istrinya, lalu dia pergi keluar dari kamar.


Tak lama Elvan kembali dengan membawa pesanan istrinya. Dia mendekati istrinya yang sedang duduk di sofa, lalu dia ikut duduk di sampingnya.


Rania yang hendak mengambil piring dari tangan suaminya, dia di larang olehnya.


''Biar aku saja yang menyuapimu,'' kata Elvan.


Rania merasa sangat bahagia karena untuk pertama kalinya suaminya itu mau menyuapinya.


''Apa itu tidak merepotkan Mas Elvan?''


''Tidak sama sekali,'' Elvan mulai mengambil buah potong dari dalam piring menggunakan sendok garpu, lalu dia menyuruh istrinya membuka mulutnya.


Sejak tadi Rania menatap suaminya yang dengan telaten menyuapinya. Dia merasa sangat beruntung mempunyai suami yang begitu baik dan perhatian kepadanya. Walaupun dia belum mendengar sendiri ungkapan cinta dari mulut suaminya, namun dia yakin bahwa suaminya itu pasti menyayanginya. Karena itu terbukti dari perhatian-perhatian kecil yang selalu dilakukannya.


Elvan yang masih menyuapi istrinya, dia mencoba meledeknya dengan cara menjauhkan sendok yang dia pegang saat istrinya membuka mulut. Lalu dia mendekatkan lagi sendok itu ke depan mulut istrinya. Elvan menyambar buah potong yang ada di sendok itu, bersamaan dengan Rania yang juga mendekatkan mulutnya. Akhirnya terjadi sesuatu yang tidak di duga-duga. Bibir mereka saling menempel.


Rania langsung menjauhkan bibirnya, dan dia terlihat salah tingkah.


''Buat Mas Elvan saja buahnya. Aku sudah tidak mau,'' ucapnya dengan sedikit malu-malu.


''Maaf untuk yang tadi,'' ucap Elvan.


''Tidak apa-apa,'' jawabnya.

__ADS_1


Kejadian tadi tentu tidak bisa Rania lupakan begitu saja. Saat jarak mereka yang begitu dekat, bahkan bibir mereka saling menempel. Dia jadi merasa canggung kepada suaminya. Karena hal itu belum terbiasa mereka lakukan.


__ADS_2