
Elvan yang baru memasuki kamar, dia melihat istrinya yang sedang bercermin sambil merapikan rambutnya. Dia mendekati istrinya, dan berdiri di belakangnya.
Rania melihat suaminya dari pantulan cermin. Namun dia cuek, dia mengabaikan suaminya yang sedang menatapnya.
''Sayang, kamu cantik sekali hari ini.''
''Lalu?''
''Mas semakin cinta sama kamu,'' Elvan memeluk istrinya dari belakang.
''Jangan peluk-peluk deh,'' Rania melepaskan pelukan suaminya.
''Sayang, jangan ngambek terus sama Mas,'' Elvan kembali memeluk istrinya.
Rania melepaskan pelukan itu, lalu dia beranjak dari duduknya. Rania keluar dari kamar, begitu juga dengan suaminya yang mengikutinya.
Kebetulan sekali ada Bu Rosma yang sedang duduk bersantai. Rania menghampirinya dan duduk di depannya. Tentu Elvan duduk di sebelah istrinya. Melihat suaminya duduk di sebelahnya, Rania bergeser. Elvan juga ikut bergeser. Hingga sampai di pinggir sofa. Rania melirik suaminya yang duduk di sebelahnya.
''Mas Elvan jangan geser-geser deh. Nanti aku terjatuh loh.''
''Mas cuma ingin duduk berdekatan denganmu, sayang. Tapi kamunya yang geser terus.''
''Biarin, aku tidak ingin dekat-dekat dengan Mas Elvan.
''Masa dekat suami sendiri tidak mau sih,'' Elvan beranjak dari duduknya. Dia beralih duduk di sebelah ibunya.
''Biarin,'' Rania menyalakan televisi, lalu menonton acara kesukaannya.
Rania dan Bu Rosma tampak asyik menonton sinetron kesukaan mereka. Sedangkan Elvan terlihat bete. Elvan memutuskan untuk pergi dari sana. Rania hanya menatap sekilas kepergian suaminya yang pergi menuju ke kamar. Tak lama, terlihat Elvan yang sudah berpakaian rapi. Dia hendak pergi ke luar.
''Mah, Rani, aku mau pergi dulu ya,'' ucapnya berpamitan kepada ibu dan istrinya.
''Mau kemana?'' tanya Bu Rosma.
''Mau keluar sebentar,'' jawabnya.
Rania menatap penampilan suaminya. Benar-benar terlihat keren. Bahkan suaminya itu mengenakan celana jeans.
''Mas, kenapa penampilanmu seperti anak muda? Pasti kamu mau cari wanita lain ya?'' Rania menatap suaminya penuh selidik.
__ADS_1
''Jangan curigaan gitu dong, sayang. Mas cuma mau nongkrong saja kok.''
''Gayanya so anak muda. Kalau begitu biar aku ikut. Aku akan mengawasi Mas Elvan biar tidak berani macam-macam,'' Rania beranjak dari duduknya, lalu dia mendekati suaminya.
''Kamu tidak mau ganti baju dulu?''
''Tidak, memangnya kenapa? Aku tidak cocok pakai baju ini? Aku tidak cantik lagi?''
''Kamu selalu cantik kok, sayang.''
''Ambilkan tasku dulu dong di kamar!'' Rania meminta tolong kepada suaminya.
''Baik, sayang.'' Elvan kembali ke kamar untuk mengambil tas istrinya.
Setelah berpamitan dengan Bu Rosma, mereka segera pergi.
Mereka pergi ke kafe yang jaraknya tak jauh dari rumah. Hanya perjalanan lima belas menit menggunakan mobil, mereka sampai ke kafe itu. Sebenarnya Elvan pergi ke kafe karena akan nongkrong bersama dengan teman lamanya. Elvan menatap sekeliling, dia melihat teman lamanya yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita. Dia menggandeng istrinya, lalu menghampiri mereka.
''Hai, Bro. Sudah lama kita tidak bertemu,'' ucap Elvan yang kini sudah berdiri di depan mereka.
Boy yang merupakan teman lama Elvan, dia mengangkat tangannya dan saling berjabat tangan dengan Elvan.
''Benar, oh iya ngomong-ngomong dia siapa? Apa dia istrimu?''
''Belum jadi istri. Dia masih jadi kekasih,'' jawabnya.
Wanita bernama Dinda itu bersalaman dengan Elvan dan Rania.
''Cepat dong Bro! Enak loh kalau sudah nikah.''
''Inginnya sih cepat, Bro. Tapi dia yang belum siap.''
Mereka masih asyik mengobrol. Sedangkan Rania memanggil waiters. Kini seorang waiters datang menghampiri mereka. Setelah mencatat pesanan mereka, waiters itu segera pergi.
Rania merasa tidak nyaman karena wanita yang merupakan kekasih dari sahabat suaminya, wanita itu terus menatap suaminya. Rania yang merasa cemburu, tiba-tiba dia meminta suaminya untuk menyuapinya.
''Mas, suapi aku dong! Anakmu nih lagi ingin makan di suapi oleh ayahnya,'' ucap Rania dengan sedikit merengek.
''Siap, sayangku.'' Elvan menuruti kemauan istrinya.
__ADS_1
Keduanya menjadi pusat perhatian. Bukan hanya Boy yang iri dengan keromantisan mereka, namun pengunjung lain juga merasa ingin ada di posisi Rania. Mereka menilai Elvan itu suami sayang istri. Bahkan di tempat terbuka seperti ini juga masih mau menyuapi istrinya.
...............
Rania sedang duduk sendirian di kamarnya. Sedangkan suaminya sedang berada di ruang kerja yang ada di rumahnya. Kebetulan Elvan sedang mengerjakan pekerjaan kantor. Karena banyaknya pekerjaan, dia memutuskan untuk lembur di rumah.
Rania menatap jam yang ada di dinding, ternyata sudah pukul sembilan malam. Mungkin sebentar lagi suaminya kembali ke kamar. Rania mempunyai ide jahil, dan dia akan melakukannya sekarang. Dia mengambil lingeria berwarna merah maroon yang ada di lemari, lalu mengenakan lingeria itu.
Rania menatap penampilannya sendiri di depan cermin. Walaupun dia sedang hamil, namun itu tidak mengurangi kemolekan tubuhnya. Dia tetap terlihat sexy. Apalagi bagian tubuh tertentu yang terlihat berisi.
Cklek
Pintu kamar terbuka. Terlihat Elvan memasuki kamar. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat istrinya yang sangat sexy menggunakan lingeria berwarna merah. Elvan menelan ludahnya sendiri. Apalagi saat melihat istrinya yang sedang mengoleskan krim ke kaki mulusnya, bahkan hingga ke paha.
Rania sedikit menyunggingkan senyumnya. Dia melihat suaminya yang tampak berhasrat. Akhirnya usahanya untuk mengerjai suaminya berhasil juga.
''Mas mau tidur ya? Cuci muka dulu sana!'' pinta Rania.
''Siap, sayang.'' Elvan tampak bersemangat. Dia buru-buru pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai cuci muka, Elvan menghampiri istrinya yang saat ini sudah berada di atas tempat tidur. Lagi-lagi dia harus meneguk ludahnya sendiri saat melihat lingeria istrinya tersingkap. Apalagi bagian depannya cukup rendah sehingga dada istrinya sedikit terlihat.
''Sayang, apa malam ini kita ... '' Elvan sengaja menghentikan perkataannya. Dia memberi kode kepada istrinya dengan mengedipkan sebelah matanya.
''Mas, tolong pijat kakiku dong!'' pintanya dengan sedikit manja.
''Siap, sayang. Mau pijat yang atas atau yang bawah?''
''Pijat kaki saja,'' Rania langsung duduk berselonjor di atas tempat tidur.
Elvan mulai memijat kaki istrinya. Namun semakin lama pijatannya itu semakin ke atas, sehingga kini dia memijat paha istrinya. Ini kesempatan bagi Rania untuk mengerjai suaminya. Dia membuka kakinya sedikit, dia juga sengaja menikmati pijatan suaminya. Bahkan suara sexynya terus keluar dari mulutnya. Elvan yang sudah tidak tahan, dia hendak menyerang istrinya. Namun istrinya mencegahnya.
"Mas, aku ngantuk nih mau tidur," Rania menguap sambil menutupi mulutnya dengan satu tangannya.
Elvan merasakan kepalanya pusing, karena hasratnya yang sudah naik tidak bisa tersalurkan. Apalagi bagian bawahnya yang terlihat sudah mengeras.
"Iya, sayang. Tidurlah yang nyenyak," Elvan berucap dengan sedikit lesu.
Elvan beranjak dari atas tempat tidur, lalu dia buru-buru pergi ke kamar mandi.
__ADS_1