Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.45


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Semalam di kediaman Bu Rosma mengadakan syukuramn pemberian nama untuk bayi tampan mungil yang merupakan cucu pertama di keluarga itu. Sesuai kesepakatam Elvan dan Rania, bayi mungil itu diberi nama Kevin Kusuma Wijaya. Tentu mereka sangat bahagia dengan kehadiran putra pertamanya. Apalagi Kevin akan menjadi penerus perusahaan yang Elvan kelola. Pastinya mereka akan merawat anaknya dengan baik, agar tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berbakti kepada kedua orang tuanya.


Pagi ini Rania sedang duduk bersama suaminya dan juga Bu Rosma. Kebetulan hari ini hari libur, jadi Elvan juga berada di rumah.


''Sayang, bagaimana jika Mas cari perawat saja untuk membantu kamu mengurus anak kita,'' ucap Elvan memberikan sarannya.


''Tidak perlu, Mas. Rani bisa mengurus Kevin sendiri kok.''


''Mamah juga setuju dengan istrimu, Van. Lagian takutnya nanti baby sister yang mengurus Kevin itu keganjenan. Kna banyak tuh berita di televisi yang baby sister menikah dengan majikan. Dan jadi perusak rumah tangga majikannya. Mamah tidak mau jika itu terjadi,'' ujar Bu Rossa.


''Mamah ini pikirannya kemana-mana sih. Aku tidak mungkin lah berselingkuh. Aku ini sudah sangat cinta sama istriku,'' ucap Elvan.


''Mamah hanya mengatakan kemungkinan yang bisa terjadi, Van. Kamu menurut saja dengan kita para wanita. Lagian mamah masih sanggup kok membantu mengurus cucu mamah.''


''Baiklah, Elvan tidak akan memaksa,'' ucapnya yang menurut dengan istri dan ibunya.


Oek oek


Terdengar tangisan Kevin dari dalam kamar. Rania berpamitn kepada ibu dan suaminya, karena dia akan menenangkan anaknya.


''Mas, Mah. Aku ke kamar dulu ya,itu anakku terbangun.''


''Iya, Nak.''


Walaupun Rania sudah tidak berada disana, namun Elvan dan ibunya masih saling mengobrol.


Terlihat Bi Darmi menghampiri mereka. sehingga mereka menghentikan obrolannya.


''Maaf, Tuan, Nyonya. Saya mau izin pulang kampung. Suami saya sedang sakit,'' ucap Bi Darmi.


''Yah kalau Bi Darmi pulang, tidak ada yang bantu Rania lagi deh. Pasti Rania sedih kalau Bi Darmi pergi,'' ucap Bu Rosma.


''Maaf, Bu. Tapi saya harus pulang,'' terlihat raut wajah Bi Darmi yang tampak khawatir.


''Iya, Bi. Tidak apa-apa. Bibi mau pulang kapan?''

__ADS_1


''Nanti sore saja, Nyonya. Nanti kalau Nyonya butuh pembantu lagi, saya bisa minta anak saya untuk bekerja disini.''


''Boleh, Bi. Nanti anaknya suruh datang saja kesini.''


''Baik, Nyonya. Saya permisi dulu mau beres-beres.''


Setelah kepergian Bi Darmi, kini Bu Rosma juga pergi ke kamarnya. Bu Rosma akan menyiapkan uang untuk diberikan kepada Bi Darmi.


................


Sudah tiga hari setelah kepulangan Bi Darmi. Rania begitu sedih, karena dia ibarat kehilangan sosok pengganti neneknya. Dia sudah menganggap Bi Darmi sebagai keluarganya sendiri. Namun sekarang mereka harus terpisah. Walaupun untuk sementara, namun dia tetap merasa sedih.


Tok tok


Bu Rosma yang sedang duduk bersantai, mendengar ada ketukan dari luar rumah. Bu Rosma pergi ke depan untuk membukakan pintu.


Bu Rosma melihat wanita muda yang sedang berdiri di depan pintu. Wanita itu juga membawa tas besar.


''Maaf cari siapa ya?'' tany Bu Rosma.


''Benar, kamu siapa?''


''Perkenalkan saya Ningsih, saya anak Bi Darmi.''


''Jadi kamu anaknya Bi Darmi? Ayo masuk!'' ucapnya dengan ramah.


''Terima kasih, Nyonya.'' Ningsih mengikuti Bu Rosma masuk ke dalam rumah.


Bu Rosma langsung mengajak Ningsih menuju ke kamar yang akan di tempatinya. Setelah itu meminta pembantu yang lainnya untuk membimbing Ningsih dan memberitahukan apa saja tugas-tugasnya.


Rania yang baru keluar dari kamar, dia melihat Bu Rosma muncul dari arah dapur.


''Mamah dari mana?'' tanya Rania.


''Mamah habis mengantar Ningsih, dia anaknya Bi Darmi. Kebetulan tadi baru datang.''

__ADS_1


''Wah akhirnya Rani punya teman baru lagi di rumah ini yang bisa di ajak mengobrol.''


''Iya, Nak. Mamah senang kalau melihatmu bahagia jika ada temannya.''


Terlihat Elvan yang baru pulang kerja. Dia  menghampiri istri dan ibunya yang sedang mengobrol.


''Wah sepertinya asyik sekali nih. Ngomong-ngomong sedang mengobrolkan apa?'' tanya Elvan.


''Hanya sedang mengobrol biasa, Van. Sini ikut mengobrol!''


''Nanti saja, Mah. Aku mau mandi dulu.''


''Mas, maaf ya aku tidak melayanimu,'' ucap Rania.


''Tidak apa-apa, sayang. Lagian kamu kan habis melahirkan, jadi jangan naik turun tangga. Mas bisa menyiapkan semuanya sendiri kok.''


Setelah kepergian Elvan, kini Rania dan Bu Rosma kembali mengobrol.


Beberapa menit kemudian, Elvan sudah selesai mandi. Dia turun ke lantai bawah, lalu bergabung dengan istri dan ibunya. Namun dia melihat seorang wanita muda yang sedang menghidangkan minum ke atas meja.


''Silakan di nikmati tehnya, Nyonya!'' ucap Ningsih.


"Terima kasih, Ning. Oh iya kamu buatkan satu lagi untuk suami saya,'' pinta Rania.


''Baik, Nyonya.'' saat berbalik arah, Ningsih melihat kedatangan Elvan. Sejenak dia menatap Elvan lalu tersenyum, namun tak lama dia melanjutkan lagi langkahnya.


Elvan mendudukkan dirinya di sebelah istrinya.


"Sayang, siapa dia?" tanya Elvan.


"Dia itu Ningsih anaknya Bi Darmi," jawabnya.


"Benarkah?"


"Benar, Mas.",

__ADS_1


__ADS_2