Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.34


__ADS_3

Elvan dan Rania sudah sampai ke rumah. Ternyata Bu Rosma sejak tadi menunggu mereka dengan rasa kekhawatiran.


Bu Rosma menghampiri anak dan menantunya yang baru turun dari mobil.


"Rani, syukurlah kamu sudah pulang, Nak. Mamah khawatir sekali sama kamu," Bu Rosma mendekati menantunya lalu memeluknya.


''Iya, Mah. Rani tidak apa-apa kok, Mah.'' ucapnya.


''Ayo kita bicaranya di dalam saja,'' ajak Elvan.


Elvan menggandeng tangan istrinya memasuki rumah.


Kini mereka bertiga sudah berada di ruang keluarga.


''Sayang, kamu mau apa? Mau makan atau minum mungkin, biar Mas ambilkan,'' tawar Elvan.


''Em ... '' Rania tampak berpikir. ''Aku tidak ingin apa-apa, Mas.'' ucapnya.


''Rani, bagaimana bisa kamu di culik?'' tanya Bu Rosma.


''Aku kan tadi pagi mau pergi ke kafe, Mah. Tapi saat sedang menunggu angkutan umum yang lewat, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di dekatku. Dua orang lelaki bertubuh kekar memaksaku untuk masuk dengan mereka,'' jelas Rania.


''Kok ada yah orang menculik wanita hamil?''


''Dia Roy, Mah. Saingan bisnisku. Mungkin dia menculik Rania karena mencoba untuk menggertakku,'' ujar Elvan.


''Kedepannya kamu harus berhati-hati lagi, Nak. Mamah tidak mau kamu dan cucu mamah kenapa-napa,'' ucap Bu Rosma.


''Mamah tenang saja, aku pasti akan selalu jaga diri,'' ucap Rania.


''Tapi Rania hebat loh, Mah. Dia kabur sendiri dari penculiknya. Tadi aku ketemu dia saat dia sedang berdiri di pinggir jalan,'' uca Elvan.


''Wah benarkah?''


''Iya, Mah. Penculiknya baik kok. Dia malah menuruti semua keinginanku. Tadi saja dia membelikanku rujak buah,'' kata Rania.


''Itu karena dia suka sama kamu, Rani." ucap Elvan.


"Kamu bicara apa sih, Mas? Mana mungkin ada orang yang suka sama wanita hamil. Kamu ada-ada saja deh."


"Tapi bisa saja seperti itu, sayang. Dan Mas tidak mau itu terjadi."


"Aku tidak akan pernah berpaling kok. Mas.''


''Mas percaya sama kamu, kok.'' Elvan mencium kening istrinya.


''Lebih baik kalian makan sana. Pasti kalian pada lapar,'' ucap Bu Rosma.


Elvan melirik istrinya yang duduk di sebelahnya.


'Ayo, sayang! Pasti anak kita juga lapar loh.''


''Aku kenyang, Mas. Tadi habis makan rujak buah,'' ucap Rania.


''Kalau begitu kamu langsung mandi, terus istirahat. Mas mau makan dulu ya. Lapar juga nih habis perjalaan jauh tapi perut belum diisi sama sekali,'' ucap Elvan sambil mengusap perutnya.


''Iya, Mas.''


Elvan dan Rania beranjak dari duduknya. Rania pergi ke kamatr, sedangkan Elvan pergi ke ruang makan.

__ADS_1


......


Elvan hendak berangkat ke kantor. Dia berpamitan kepada istri dan ibunya.


''Sayang, Mas berangkat dulu ya. Ingat loh kamu jangan prgi sendirian. Kamu di rumah saja istirahat. Kalau mau apa-apa tinggal minta sama Mas. Biar nanti Mas yang beliin,'' ucap Elvan.


''Tapi kalau pergi sama Mamah boleh kan?''


''Boleh, sayang. Asal kamu bisa jaga diri.''


Elvan bejabat tangan dengan istrinya. Rania mencium punggung tangan suaminya. Elvan juga berjabat tangan dengan ibunya. Setelah itu dia segera pergi.


Beberapa jam setelah kepergian suaminya, Rania berpamitan kepada Bu Rosma jika dia ingin pergi ke taman yang ada di kompleks perumahan itu,


''Mah, aku pergi ke taman dulu ya,'' pamitnya.


''Taman mana?''


''Aku pergi ke taman yang ada di komplek sini. Pasti aman kok, Mah.''


''Baiklah, kamu pergi di temani sama Bi Darmi ya. Mamah tidak bisa menemani kamu.''


''Iya tidak apa-apa,'' setelah berpamitan kepada Bu Rosma, Rania memanggil Bi Darmi yang ada di belakang.


Hanya berjalan kaki selama sepuluh menit, kini Rania dan Bi Darmi sampai di taman yang ada kompleks perumahan itu.


Rania duduk di bangku taman, sedangkan Bi Darmi berdiri di sampingnya. Rania melirik Bi Darmi yang berdiri sejak tadi.


''Bi, duduk dong! Memamgnya tidak pegal kakinya sejak tadi berdiri terus.''


'''Tidak apa-apa, biar Bibi berdiri saja, Neng.''


Bi Darmi merasa tidak enak karena duduk bersebelahan dengan majikannya, namun Rania tampak biasa saja. Walaupun dia sudah menjadi menantu di kelaurga orang kaya, namun dia tidak sombong. Dia juga sudah menganggap Bi Darmi seperti neneknya sendiri.


Rania melihat ada penjual roti keliling yang berhenti di dekat taman.


''Bi, aku mau beli roti dulu ya.''


''Biar bibi saya yang belikan. Non Rania duduk saja disini.''


''Baiklah,'' Rania mengambil uang dari saku baju yang dia kenakan, lalu memberikannya kepada Bi Darmi.


Setelah kepergian Bi Darmi, tiba-tiba ada seorang pria yang memakai topi hitam dan juga kaca mata hitam duduk di sebelahnya.


''Hai cantik,'' lelaki itu membuka kaca mata hitamnya.


Rania sejak tadi sudah menatap ke sampingnya. Karena saat lelaki itu duduk di sebelahnya, bau parfumnya sudah terasa sekali.


''Kamu ngapain disini? Apa mau menculikku lagi?'' Rania sedikit terkejut melihat Roy yang ada disana. Sepertinya Roy ingin menculiknya lagi.


''Tidak, aku tidak akan menculikmu. Hanya saja sedang menunggu jandamu,'' ucapnya sambil mencolek dagu Rania.


''Jangan colek-colek!'' Rania menepis tangan Roy. ''Ingat ya, sampai kapan pun aku tidak akan menjadi janda, karena aku dan Mas Elvan tidak mungkin berpisah,'' ucapnya.


''Yakin nih tidak mau berpisah. Kalau aku tunjukkan sebuah video, apa kamu masih tidak percaya,'' Roy mengambil ponselnya dari saku celananya. Dia memperlihatkan video Elvan yang sedang bergelut di atas ranjang dengan seorang wanita. Rania sangat tahu siapa wanita itu, yang merupakan sekretaris suaminya di kantor.


''Aku tidak percaya dengan video ini.''


''Yakin tidak percaya? Sudah jelas sekali terlihat jika ini suami kamu.''

__ADS_1


Namun memang benar jika laki-laki yang ada di video hot itu sangat mirip dengan suaminya. Tapi Rania tidak percaya begitu saja. Dia percaya jika suaminya tidak akan mengkhianatinya.


''Aku tidak percaya,'' kata Rania.


''Baiklah. Coba saja datang ke hotel Andini. Pasti suamimu ada disana.''


''Bagaimana bisa tahu kalau suamiku ada di hotel?''


''Aku saja bisa tahu kamu ada disini, masa untuk mengetahui dimana suamimu saja tidak tahu.''


Rania tidak memikirkan hal lain lagi. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah ingin menemui suaminya.


''Baiklah, aku akan mengeceknya sendiri ke hotel itu,'' ucap Rania.


''Mau saya antar?''


''Tidak usah, saya bisa pergi sendiri,'' ucapnya.


Rania beranjak dari duduknya lalu pergi dari sana. Dia menghampiri Bi Darmi dan mengajaknya untuk segera pulang.


Sesampainya di rumah, Rania mengajak sopirnya untuk pergi. Bi Darmi sempat menawarkan diri untuk menemani. Namun Rania menolak dengan alasan jika dia hanya ingin pergi sebentar.


Saat ini Rania sedang berada di perjalanan menuju ke Hotel Andini. Rania hanya duduk diam saja sambil menatap kendaraan yang berlalu lalang.


Akhirnya dia sampai juga di depan hotel Andini.


''Pak, tunggu di mobil saja. Saya hanya pergi sebentar kok,'' ucapnya.


''Baik, Non.''


Rania turun dari mobil, dia melangkah memasuki hotel. Dia menghampiri resepsionis yang sedang berjaga.


''Permisi, saya mau bertanya apa disini ada tamu hotel yang bernama Elvan?'' tanya Rania.


''Maaf untuk data tamu disini itu privsi,'' ucapnya.


''Saya ini istrinya Pak Elvan. Saya hanya ingin memastikan suami saya ada disini atau tidak,'' Rania memperlihatkan foto pernikahannya yang ada di ponselnya. Dia juga memperlihatkan buku nikah yang dia bawa.


''Baiklah, sebentar saya cek dulu,'' resepsionis itu langsung membuka buku tamu.


''Bagaimana?'' Rania merasa penasaran.


''Kebetulan di hotel ini ada tamu yang bernama Elvan, dan cek in sekitar satu jam yang lalu.''


''Bisakah saya meminjam kunci akses kamar tersebut? Saya hanya ingin memastikan yang ada di kamar itu suami saya atau bukan.''


"Baiklah, tapi Ibu akan di temani oleh petugas hotel,'' ucapnya.


Saat ini Rania sedang melangkah  menuju ke kamar hotel dimana suaminya berada. Dalam hatinya dia terus berdoa semoga yang ada di dalam kamar itu Elvan yang lain, bukanlah Elvan suaminya.


Rania sudah sampai di depan kamar hotel 101. Dia membuka pintu itu dengan kartu akses yang dia pegang.


''Maaf, Bu. Apa mau saya temani?" tanya seorang petugas hotel yang berdiri di sebelahnya.


''Jangan! Biar saya pergi sendiri saja,'' Rania langsung membuka pintu kamar itu, lalu masuk ke dalam.


Rania melihat pasangan yang sedang tidur di bawah selimut yang sama. Dia juga melihat pakaian mereka berserakan di lantai. Rania berjalan mendekat, dia melihat wajah laki-laki yang sedang tidur dengan posisi membelakanginya. Kedua matanya terbelalak saat tahu bahwa lelaki itu adalah suaminya.


''Aku tidak percaya kalau kamu tega melakukan semua ini, Mas. Di depanku kamu selalu bersikap manis, tapi di belakangku kamu berselingkuh,'' gumam Rania.

__ADS_1


Rania keluar dari kamar itu dengan berlinang air mata.


__ADS_2