Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.13


__ADS_3

Walaupun sudah sah menjadi sepasang suami istri, namun Elvan dan Rania tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Bukannya Rania menolak, namun Elvan yang tidak pernah memintanya. Mungkin saja Elvan tidak meminta itu, karena tidak mau membahayakan kandungan istrinya. Rania juga tidak pernah mempermasalahkannya.


Dua hari dalam satu minggu Elvan menginap di apartemen menemani Rania. Sedangkan hari-hari lainnya dia di rumah menemani Clara.


Pagi ini Rania sedang berkutat di dapur memasak sarapan. Walaupun dia sedang hamil, bukan berarti dia bersantai-santai.


Elvan yang baru keluar kamar, dia melihat istrinya yang sedang memasak. Dia pergi ke dapur untuk menghampirinya.


''Ran, lagi masak apa nih?''


Mendengar suaminya berbicara kepadanya, dia menoleh ke belakang menatapnya.


''Lagi masak sup. Kebetulan pagi ini aku ingin makan pakai sup.''


''Baunya harum sekali. Sepertinya sup buatan kamu ini enak,'' Elvan menghirup aroma yang begitu menggugah selera.


''Lumayan sih. Mas Elvan mau makan sekarang? Kebetulan sebentar lagi supnya matang.''


''Nanti saja deh bareng kamu.''


Hanya sebentar Elvan di dapur. Sekarang dia kembali ke kamar, karena dia harus mandi dan bersiap pergi ke kantor.


Elvan merasa jika Rania itu istri yang baik. Selalu mengurus rumah tangga dengan baik. Padahal saat ini sedang hamil. Walaupun hamil, itu tidak membuatnya bermalas-malasan. Beda dengan Clara yang sama sekali tidak pernah melakukan kewajibannya.


Rania menghidangkan masakannya ke atas meja makan. Lalu dia pergi ke ruang depan untuk bersantai sejenak sambil menunggu suaminya selesai bersiap.


Tak lama, Elvan sudah selesai bersiap. Dia menghampiri istrinya yang sedang duduk sendirian.


''Rani, ayo kita sarapan!'' ajaknya.


''Iya, Mas.'' ucap Rania sambil menoleh menatap suaminya.


Rania beranjak dari duduknya, lalu dia pergi ke ruang makan bersama dengan suaminya.


Elvan mulai mengambil nasi dan sup buatan istrinya. Baru suapan pertama saja, rasanya begitu nikmat. Bahkan Elvan sampai nambah tiga kali.


'Aku tidak pernah merasakan masakan seenak ini. Andai Clara yang memasak, pasti aku sangat senang,' batin Elvan.


Elvan belum bisa membagi perasaannya. Apa yang dia lakukan ke Rania hanya sebatas bertanggung jawab saja.


......


Selama suaminya pergi ke kantor, Rania hanya bersantai saja di rumah. Dia memainkan ponselnya sambil melihat-lihat media sosialnya. Tiba-tiba dia melihat postingan temannya yang sedang berada di restoran menikmati ikan gurame bakar. Rania menelan ludahnya sendiri. Dia jadi ingin makan ikan bakar itu. Namun uang jatah yang di berikan oleh suaminya sudah habis. Jadi dia tidak bisa membelinya sesuai keinginannya.


Rania mencoba untuk menghubungi nomor suaminya, karena dia tak bisa menahan diri lagi untuk membeli ikan bakar seperti yang ada di postingan media sosial temannya. Ternyata nomor suaminya sedang sibuk. Mungkin suaminya sedang menerima panggilan telepon dari orang lain.

__ADS_1


Bi Darmi yang baru masuk ke apartemen, tak sengaja melihat Rania yang sedang duduk sambil menangis.


''Non Rania kenapa?" tanya Bi Darmi sambil melangkah menghampirinya.


''Tidak apa-apa kok, Bi.'' jawabnya.


''Jujurlah sama Bibi. Pasti ada sesuatu yang membuat Non Rania menangis.''


''Saya hanya ingin ikan gurame bakar yang di jual di restoran ini,'' Rania memperlihatkan layar ponselnya.


''Kalau begitu Non Rania beli saja. Atau mau saya temani?''


''Saya tidak punya uang, Bi. Uang jatah saya sudah habis.''


''Biar Bibi telepon Tuan Elvan,'' Bi Darmi hendak melangkah pergi ke kamar untuk mengambil ponsel jadulnya.


''Pakai ponsel saya saja, Bi.'' Rania kembali menghubungi nomor suaminya, lalu memberikan ponselnya kepada Bi Darmi.


Elvan mengangkat teleponnya. Saat mendengar perkataan Bi Darmi, dia segera bergegas untuk pulang.


Tiga puluh menit kemudian, Rania melihat kedatangan suaminya.


Elvan melangkah mendekati istrinya sambil tersenyum.


Sebenarnya Rania juga tidak ingin menangis. Tapi entah kenapa keinginan yang belum terpenuhi membuatnya sedih. Mungkin ini efek kehamilannya.


Rania pergi ke kamar untuk mengambil tas miliknya. Setelah itu barulah dia keluar lagi menghampiri suaminya.


''Ayo pergi!'' ucap Rania dengan penuh semangat.


Elvan beranjak dari duduknya, lalu mendekati istrinya yang sedang berdiri menunggunya.


''Dede jangan rewel ya, kasihan Mamah.'' Elvan mengusap perut Rania yang belum terlalu terlihat buncit.


Rania tersenyum melihat perlakuan suaminya.


Dari dekat dapur, Bi Darmi memperhatikan keduanya. Bi Darmi yang tidak tahu Rania sedang hamil, awalnya hanya mengira jika Rania itu sedang manja. Namun saat melihat perlakuan Elvan yang mengelus perutnya, Bi Darmi mengerti jika Rania sedang hamil. Selama ini Rania atau pun Elvan belum memberitahunya.


Kini keduanya sedang berada di perjalanan menuju ke restoran.


Sesampainya di restoran, Rania tampak bersemangat memesan ikan gurame bakar yang dia mau.


‘’Mas Elvan mau pesan apa?’’ tanya Rania.


‘’Samakan saja, sayang.’’ Ucapnya.

__ADS_1


Rania mengatakan kepada waiters jika dia memesannya dua porsi.


Elvan menatap sekeliling restoran yang tampak ramai. Lalu tak sengaja dia melihat Clara yang sedang bersama pria. Mereka duduk di kursi yang jaraknya cukup jauh dari Elvan.


‘Siapa lelaki yang bersama Clara?’ batin Elvan.


Elvan menatap istrinya yang duduk di hadapannya.


‘’Ran, aku ke belakang sebentar ya,’’ pamitnya.


‘’Iya, Mas.’’ Jawabnya.


Saat Elvan hendak menghampiri Clara, ternyata Clara beranjak dari duduknya, lalu pergi. Elvan mengikuti kemana Clara pergi. Ternyata Clara pergi ke toilet wanita.


Elvan memutuskan untuk menunggu di luar toilet.


Beberapa menit kemudian, Clara hendak melangkah keluar dari toilet. Namun tak sengaja dia melihat suaminya yang sedang berdiri di depan toilet sambil memainkan ponselnya. Elvan tidak menyadari jika istrinya hendak keluar, karena dia fokus menatap layar ponsel.


Clara melihat petugas kebersihan yang memasuki toilet.


‘’Mba, mau uang tidak? Tapi ada syaratnya,’’ ucap Clara kepada seorang petugas kebersihan.


‘’Berapa dulu uangnya?’’


Clara mengambil uang dua ratus ribu dari tasnya. Lalu memperlihatkannya kepada petugas kebersihan itu.


‘’Apa tugasnya?’’


‘’Usir lelaki yang berdiri di luar. Tuduh saja kalau dia mengintip, dan akan di laporkan ke petugas keamanan restoran.’’


‘’Siap, Nona.’’ Petugas kebersihan itu mengambil uang yang di sodorkan oleh Clara. Lalu pergi keluar untuk mengusir Elvan.


Kini petugas kebersihan itu berdiri di dekat Elvan.


‘’Maaf, Kak. Dari tadi saya memperhatikan kakak sedang mengintai toilet wanita. Jangan-jangan mau mengintip ya? Saya laporkan loh ke petugas keamanan restoran kalau di toilet wanita ada lelaki me*sum.’’


‘’Maaf, tapi saya tidak mengintip,’’ ucap Elvan.


‘’Baiklah, jika tidak mau pergi biar saya teriak,’’ petugas kebersihan itu hendak berteriak, namun Elvan mencegahnya.


''Baiklah, saya pergi dari sini.’’ Elvan langsung melangkah pergi. Dia akan kembali ke dalam restoran.


Sejak tadi Elvan menatap ke arah tempat duduk yang tadi di duduki wanita yang mirip Clara. Namun masih kosong, hanya ada lelaki duduk sendirian. Hingga sampai lelaki itu pergi, namun wanita yang mirip Clara tadi tidak kembali kesana.


‘Apa aku hanya salah lihat?’ batin Elvan.

__ADS_1


__ADS_2