Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.30


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Saat ini kandungan Rania sudah memasuki bulan ke empat. Kebetulan mereka juga sudah menyiapkan acara empat bulanan yang menjadi satu dengan acara resepsi pernikahan mereka. Untuk hubungan Elvan dan Clara itu sudah berakhir. Mereka sudah resmi berpisah secara agama dan negara. Walaupun Clara menolak untuk di ceraikan, namun itu sudah keputusan Elvan yang tidak bisa di ganggu gugat. Lagian dia sekarang sudah tidak mencintainya lagi. Rasa cinta itu sudah hilang saat dia tahu bahwa Clara berselingkuh. Sekarang hatinya untuk seseorang yang selalu melayaninya dengan baik. Dia Rania, yang sekarang menjadi istri satu-satunya.


Terlihat Elvan dan Rania memasuki kamar mereka. Kebetulan kamar mereka sudah di dekorasi seperti kamar pengantin baru. Karena besok mereka juga akan berfoto-foto di kamar itu. Rania duduk di pinggiran ranjang. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Elvan yang masih berada di dekat pintu, dia menutup pintu itu. Lalu dia mendekati istrinya dan duduk di sebelahnya.


''Ran, ada yang ingin aku katakan kepadamu,'' Elvan menatap istrinya dengan tatapan serius.


Rania kembali menaruh ponsel miliknya ke atas nakas, lalu dia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


''Mas Elvan mau bicara apa?"


''Sebentar,'' Elvan beranjak dari duduknya, lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari.


Rania melihat suaminya memegang sebuah kotak kecil di tangannya.


Elvan kembali duduk di sebelah istrinya. Dia memegang tangan kiri istrinya.


''Aku tahu jika ini harusnya aku ucapkan dari dulu. Namun aku baru berani mengungkapkannya sekarang. Setelah hari demi hari kita lalu, aku merasa nyaman hidup bersamamu. Kamu sosok istri yang sempurna. Aku bahagia memilikimu. Izinkan aku menyematkan cincin ini sebagai lambang cintaku kepadamu,'' Elvan melepaskan tangan istrinya. Dia membuka kotak cincin yang dia bawa. Lalu dia kembali memegang tangan istrinya, dan menyematkan cincin itu di jari manisnya.


Rania menutup mulutnya dengan satu tangannya. Dia begitu terharu saat mendengar ucapan cinta dari suaminya. Ucapan cinta yang dari dulu dia ingin tahu, ternyata di ucapkan oleh suaminya di malam yang spesial ini.


''Mas, aku juga mencintai kamu. Bahkan dari sejak kita menikah,'' Rania jujur dengan perasaannya.


''Aku tahu kok kalau kamu cinta aku,'' ucap Elvan dengan sedikit percaya diri.


''Dari mana Mas Elvan tahu? Selama ini aku tidak pernah mengatakannya loh.''


''Dari tatapan matamu, dari kasih sayangmu, dan semua hal yang kamu lakukan itu atas dasar cinta.''


Rania langsung memeluk suaminya.


''Terima kasih, Mas. Karena kamu sudah memilihku menjadi pendamping hidupmu. Terima kasih karena selama ini sudah memperlakukanku dengan baik,'' tiba-tiba Rania terisak di dalam pelukan suaminya.


''Jangan menangis, sayang.'' Elvan mengusap punggung istrinya. Lalu dia melepaskan pelukan itu. Elvan mengusap air mata istrinya dengan kedua tangannya.


''Aku terharu, sudah sejak dulu aku menunggu Mas Elvan mengatakan ini.''


''Maaf, sayang. Mas hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya.


Elvan melihat istrinya tersenyum. Dia mengusap bibir istrinya dengan jari telunjuknya.


''Apa boleh?''


Rania tidak mengerti dengan kode dari suaminya.


''Boleh apa, Mas?''


''Ah tidak jadi,'' Elvan menjauhkan jari telunjuknya dari bibir istrinya.


Rania menarik tangan suaminya, saat suaminya beranjak dari duduknya. Kini Elvan kembali duduk. Rania menyambar bibir suaminya. Namun dia hanya menempelkannya saja, karena dia tidak mengerti cara berci*uman.

__ADS_1


Elvan tersenyum melihat tingkah agresif istrinya. Dia membimbing istrinya untuk membuka mulutnya. Dia mengajarkan istrinya cara berci*uman yang benar.


Rania sedikit tegang, dia masih diam. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


''Balas dong, sayang. Jangan tegang gitu! Kamu yang rileks saja, nikmati semuanya.''


''Tapi aku tidak bisa caranya, Mas.''


''Kamu ikuti saja apa yang Mas lakukan.''


''Iya, Mas.''


Elvan kembali mendekatkan bibirnya ke bibir istrinya. Kali ini Rania mulai melakukan apa yang di arahkan oleh suaminya. Hingga tak sadar jika suaminya mulai merebahkannya ke atas kasur.


Rania membiarkan suaminya berbuat lebih. Hingga kini pakaian atasnya sedikit terbuka.


''Mas, aku ingin pipis,'' Rania merasakan jika dirinya ingin buang air kecil. Padahal itu efek dia yang begitu menikmati sentuhan suaminya.


''Baiklah, kamu ke kamar mandi saja,'' Elvan menghentikan apa yang dia lakukan. Dia membiarkan istrinya pergi ke kamar mandi.


Beberapa  menit kemudian Rania keluar dari kamar mandi. Dia kembali menghampiri suaminya.


''Mas, untuk yang tadi ... '' Rania menjeda perkataannya.


''Mas tidak akan melakukan lebih, karena kamu sedang hamil. Kita perlu berkonsultasi dulu dengan dokter jika kita mau melakukan itu. Maaf ya jika kamu kecewa.''


''Tidak kok, Mas. Lagian semuanya demi anak kita.''


''Ayo tidur! Besok jangan sampai kesiangan loh.''


Elvan memeluk istrinya, lalu dia mulai memejamkan kedua matanya.


.......


Tepat pukul enam pagi, Elvan mengajak istri dan ibunya untuk bersiap pergi ke hotel tempat acara mereka akan di langsungnya. Acara pertama itu syukuran empat bulanan kehamilan Rania, dan acara yang kedua resepsi pernikahan.


Saat ini mereka sudah berada di perjalanan menuju ke hotel. Kebetulan acara mereka akan di mulai pukul delapan pagi. Hanya saja mereka harus datang lebih awal karena Rania harus di rias.


Hanya tiga puluh menit saja mereka di perjalanan. Kini mereka sudah sampai di tempat tujuan.


Elvan menggandeng tangan istrinya. Mereka melangkah masuk ke dalam hotel. Sedangkan Bu Rosma mengikuti mereka di belakang.


''Van, perias yang kamu sewa, apa sudah datang?'' Bu Rosma bertanya kepada anaknya yang sedang berjalan di depannya.


''Sudah, Mah. Mereka sudah ada di kamar hotel. Tadi aku sudah menghubunginya,'' kata Elvan.


Mereka berjalan menuju ke kamar hotel yang sudah di sewa untuk tempat Rania di rias.


Kebeulan kamar hotel itu masih berada di lantai satu.


Kini mereka sudah sampai di depan kamar itu.

__ADS_1


Tok tok


Elvan mengetuk pintu kamar itu. Dalam hitungan detik pintu kamar terbuka. Perias yang akan merias Rania, yang membukakan pintunya.


''Silakan masuk, Tuan, Nyonya,'' ucapnya ramah.


Mereka melangkah masuk ke dalam. Rania dan Bu Rosma di arahkan untuk duduk di sofa. Mereka akan di rias. Bu Rosma hanya di rias tipis saja. Karena untuk sesi foto keluarga, nanti perlu penampilan yang cantik. Sambil menunggu istri dan ibunya selesai di rias, Elvan pergi ke ballroom hotel tempat acara mereka akan di laksanakan. Dia mau mengecek semua persiapannya. Takutnya dari pihak katering atau pihak lain yang ikut serta dalam pelaksanaan acaranya, mereka belum datang.


Elvan sudah sampai di ballroom hotel.


Dia menatap sekeliling, semuanya tampak sempurna. Lalu dia melihat beberapa karyawan katering masuk dengan membawa semua menu masakan yang sudah di pesan oleh Bu Rosma.


Elvan yang sedang berdiri, tib-tiba ada yang menghampirirnya dari arah belakang.


''Permisi Pak Elvan,'' ucapnya dengan ramah.


Elvan berbalik badan, dia menatap seorang wanita muda yang sedang melangkah menghampirinya.


''Iya, ada apa Bu Finda?''


''Saya hanya mau bertanya, apa Pak Elvan merasa puas dengan hasil dekorasi dari karyawan saya. Jika ada yang kurang, kami bisa melengkapinya selagi acara belum mulai.''


Elvan menatap sekeliling. Dia merasa jika semuanya sudah bagus, dan tidak perlu ada penambahan dekorasi lagi.


''Sepertinya sudah cukup bagus, tidak perlu ada tambahan dekorasi lagi,'' ucap Elvan.


''Baiklah, terima kasih karena sudah menggunakan jasa kami di acaranya. Kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada hal lain yang harus saya lakukan.''


''Silakan! Terima kasih karena Bu Finda sudah menyempatkan untuk datang.''


Hanya lima belas menit Elvan berada disana. Kini dia kembali ke kamar hotel untuk menemui istri dan ibunya.


Elvan melihat istrinya yang masih di rias. Sedangkan ibunya sudah selesai, bahkan sudah berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian, Elvan melihat istrinya beranjak dari duduknya. Istrinya sudah selesai di rias. Sekarang tinggal berganti pakaian dengan gaun putih. Kebetulan di acara empat bulanan nanti, mereka memakai serba putih.


Pukul delapan pagi kurang lima menit, mereka pergi ke ballroom hotel. Ternyata sudah banyak tamu yang mulai berdatangan. Mereka langsung menyapa mereka satu persatu.


''Maaf ya semuanya, tadi kami habis istirahat dulu. Kasihan istri saya sedang hamil, jadi saya minta dia istirahat dulu,'' ucap Elvan kepada beberapa tamu yang sedang duduk di tempat mereka.


''Tidak apa-apa, Pak Elvan. Kami memakluminya kok,'' ucap salah satu dari mereka.


Elvan mengajak istrinya dan ibunya untuk duduk di kursi yang sudah di persiapkan untuk mereka.


Terlihat pembawa acara yang mulai membacakan rangkaian acara. Pembawa acara itu mempersilakan ustadzah yang sudah di undang untuk maju ke depan. Karena acara empat bulanan ini di pimpin olehnya.


Satu jam telah berlalu, acara doa bersama untuk mendoakan Rania dan kandungannya telah selesai. Bu Rosma mempersilakan semuanya untuk menikmati hidangan. Sementara Bu Rosma menemani tamu yang ada. Sedangkan Elvan mengajak istrinya pergi ke kamar. Mereka akan berganti pakaian dengan pakaian pengantin. Bu Rosma juga akan berganti pakaian, hanya saja setelah mereka kembali. Karena tidak enak jika meninggalkan tamu semua.


Elvan melihat istrinya yang terlihat sangat cantik menggunakan gaun pernikahan berwarna putih. Di kepalanya ada hiasan kepala yang terlihat seperti mahkota. Di lehernya dia memakai kalung berlian yang terlihat mahal.


''Sayang, kamu cantik sekali seperti ratu,'' Elvan mendekati istrinya lalu menciumi punggung tangannya.

__ADS_1


''Mas Elvan juga sangat tampan,'' Rania juga memuji ketampanan suaminya.


Walaupun perut Rania sudah terlihat membuncit, itu tidak sedikit pun mengurangi kecantikannya. Semua orang juga tidak ada yang berkomentar negatif. Karena mereka tahu kalau sebelumnya Elvan pernah mengumumkan pernikahannya saat konferensi pers. Jadi wajar saja kalau Rania sudah hamil. Namanya juga sudah bersuami.  


__ADS_2