
Sudah tiga hari Ningsih bekerja di rumah Bu Rosma. Kinerjanya cukup bagus. Terkadang Ningsih juga membantu Rania menjaga Kevin.
Ningsih yang berada di dapur, dia melihat Elvan yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga. Dia berinisiatif untuk membuatkan kopi.
Ningsih menghampiri Elvan yang sedang membawa nampan berisi secangkir kopi buatannya.
''Permisi, Tuan. Ini saya buatkan kopi,'' Ningsih menaruh cangkir berisi kopi itu ke atas meja.
''Terima kasih,'' ucapnya sambil tersenyum.
''Sama-sama, Tuan. Saya permisi dulu.'' Ningsih kembali ke belakang.
Terkadang Ningsih sering mencuri pandang kepada Elvan. Tentu itu tanpa sepengetahuan Rania atau pun Bu Rosma. Dia bukannya naksir, namun hanya mengagumi saja, karena menurutnya majikannya itu mirip dengan aktor korea.
Rania yang baru saja menidurkan anaknya, dia keluar dari kamar. Dia melihat suaminya yang sedang duduk sambil menikmati secangkir kopi.
''Mas, sudah ngopi saja nih jam segini. Tumben sekali loh.''
''Ini tadi Ningsih buatin, lumayan kan rezeki. Tidak minta tapi di kasih.''
''Mas, jangan-jangan Ningsih naksir sama kamu,'' Rania berucap dengan sedikit berbisik di telinga suaminya agar tidak terdengar oleh orang lain.
''Kamu bicara apa sih, sayang. tidak mungkin lah.''
''Ya bisa jadi, Mas. Aku kan cuma menebak.''
''Tapi kalau tebakanmu itu salah, nanti bisa menjadi fitnah.''
''Iya deh, aku tidak akan menebak-nebak lagi.''
Elvan dan Rania masih asyik mengobrol. Hingga tak lama Rania merasa mengantuk. Namun dia tidak enak kepada suaminya yang masih saja mengoceh. Rania hanya mengiyakan setiap perkataan suaminya.
__ADS_1
Sejak tadi Elvan berbicara, namun dia tidak mendengar istrinya menanggapi perkataannya. Elvan menoleh ke samping, dia melihat istrinya yang sedang tidur sambil duduk. Sedangkan kepalanya di senderkan ke sandaran sofa.
''Astaga, ternyata sejak tadi kamu tidur, sayang.'' Elvan mengecup singkat bibir istrinya.
Elvan menggendong istrinya, lalu membawanya ke kamar anaknya. Dia merebahkan istrinya di atas tempat tidur. Elvan tak pergi keluar, dia masih duduk sambil memandangi wajah cantik istrinya.
''Kenapa kamu terlihat sangat cantik jika sedang tidur, sayang.'' Elvan mengusap pipi mulus istrinya.
''Tunggu sebentar, sayang! Mas mau cuci muka dulu sekalian ganti baju. Setelah itu kesini lagi. Mas ingin tidur sama kamu,'' Elvan mencium singkat kening istrinya. Setelah itu dia keluar dari kamar anaknya.
.............
Ningsih yang sedang mencuci piring, dia mendengar majikannya memanggilnya. Kebetulan majikannya sedang sarapan bersama.
''Ningsih, itu ada yang ketuk pintu. Tolong kamu bukain pintunya ya!'' pinta Bu Rosma.
''Baik, Bu.'' Ningsih menghentikan sejenak kegiatannya. Dia pergi ke depan untuk membukakan pintu.
Ningsih melihat seorang pemuda tampan yang berdiri di depan pintu. Beberapa kali dia mengucek kedua matanya karena takut salah lihat. Pemuda tampan yang ada di depannya ini tak kalah tampannya dengan Elvan.
''Ada di dalam, Tuan. Sedang sarapan bersama.''
Reno menatap aneh wanita yang ada di depannya, karena sejak tadi mengucek-ngucek kedua matanya.
''Kamu kelilipan?'' tanya Reno.
''Tidak, Tuan.'' jawabnya.
''Terus kenapa sejak tadi mengucek mata?''
''Em itu tadi ada angin lewat,'' ucapnya asal.
__ADS_1
''Dasar wanita aneh,'' gumam Reno, namun masih terdengar oleh Ningsih.
Reno menerobos masuk saja, karena Ningsih tidak mempersilakannya masuk. Sebenarnya Ningsih tidak fokus karena sejak tadi memperhatikan penampilan Reno yang terlihat keren. Ningsih menepuk keningnya saat menyadari jika Reno sudah masuk duluan.
Ningsih menghampiri Reno yang baru duduk.
''Tuan mau minum apa?''' tanya Ningsih.
''Apa saja, terserah.''
''Baiklah, sebentar ya.'' Nirmala berlalu pergi menuju ke dapur. Saat melewati ruang makan, dia mengatakan kepada Elvan, jka di depan ada yang mencarinya. Saat Elvan bertanya namanya, NIngsih mengatakan tidak tahu. Karena tadi memang tidak sempat bertanya
Setelah selesai sarapan, Elvan langsung saja ke depan. Dia melihat Reno yang sedang duduk sambil menikmati segelas teh hangat.
''Ren, sudah lama?'' tanya Elvan.
''Belum, Pak. Oh iya pembantu baru itu siapa namanya?''
''Ningsih, memangnya kenapa? Kamu naksir?''
''Tidak, lagian wanita aneh seperti itu.''
''Awas loh nanti naksir beneran,'' kata Elvan.
''Ih amit amit.''
Dari arah pintu yang menuju ke dapur, terlihat Ningsih yang sedang mengintip Elvan dan juga Reno.
''Lagi ngapain kamu?'' Bu Rosma menepuk pelan bahu Ningsih.
''Tidak kok, Nyonya. Saya permisi dulu mau ke belakang," Ningsih berlalu pergi dari sana.
__ADS_1
Bu Rosma menatap ke arah yang tadi di tatap oleh Ningsih. Ternyata Ningsih menatap Elvan dan Reno yang sedang mengobrol di ruang keluarga.
'Ngapain Ningsih lihatin mereka? Jangan-jangan Ningsih naksir. Tapi siapa yang dia taksir? Apa itu Elvan, atau Reno?' batin Bu Rosma.