
Beberapa bulan kemudian.
Tak terasa usia Kevin sudah menginjak usia satu tahun. Elvan dan Rania sudah mempersiapkan pesta ulang tahun untuk anaknya. Bu Rosma juga ikut mempersiapkan pesta cucunya. Kebetulan pesta ulang tahun itu di adakan di rumah. Karena rumah mereka cukup luas, sehingga bisa melaksanakan pesta ulang tahun di dalam rumah. Bukan hanya anak para tetangga yang di undang, namun anak dari para karyawan bahkan anak-anak dari rekan bisnis mereka juga di undang.
Bu Rosma menatap ruang depan rumahnya yang sudah di dekorasi sangat indah.
Rania menghampiri ibunya yang sedang memperhatikan dekorasi rumahnya.
''Mah, bagaimana dekorasinya? Apa ada yang kurang?'' tanya Rania.
''Tidak ada, Nak. Ini sudah bagus kok.''
''Syukurlah, berarti sekarang kita tinggal bersiap saja, Mah.''
''Iya, Nak. Satu jam lagi pasti tamu datang.''
Bu Rosma dan juga Rania langsung pergi ke kamar mereka untuk bersiap. Saat melewati ruang keluarga, Rania melihat anaknya yang sedang bermain bersama suaminya.
''Anak mamah lagi ngapain nih?'' Rania mendekati anaknya yang sedang bermain di atas karpet. Dia menciumi kedua pipi anaknya.
''Lagi main sama papah,'' ucap Elvan dengan menirukan suara anak kecil.
''Mas, ayo kita bersiap! Nanti keburu para tamu datang,'' ucap Rania.
''Iya, sayang. Kamu jagain anak kita dulu ya.''
''Aku juga mau gantiin pakaian anak kita, Mas. Nanti kalau Mas Elvan sudah selesai, Kevin sama Mas dulu ya.''
''Baik, sayang.'' setelah mengatakan itu Elvan berlalu pergi ke kamarnya. Begitu juga dengan Rania yang pergi ke kamar anaknya.
Beberapa menit kemudian, Rania sudah selesai mengganti pakaian anaknya. Dia mengajak anaknya keluar dari kamar. Rania melihat suaminya yang sedang menuruni tangga.
__ADS_1
''Mas, sudah selesai?''
''Iya nih, sayang. Sini biar Kevin sama Mas!''
Elvan menghampiri istrinya, dia mengambil anaknya yang ada di gendongan istrinya.
''Kevin main sama papah dulu ya, sayang.'' ucap Elvan, lalu dia mencium pipi anaknya.
Kevin memang anak yang menurut. Sama siapa pun dia tidak rewel. Jadi Rania tidak terlalu kecapean mengurusnya.
Rania sudah tampak cantik dengan mengenakan dres yang warnanya senada dengan warna pakaian suaminya. Kebetulan mereka memang sengaja berseragam. Pakaian Bu Rosma dan Kevin juga sama seperti mereka.
Setelah melihat penampilannya yang sudah rapi, Rania keluar dari kamarnya. Rania menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul. Kebetulan Ningsih dan Roy juga sudah datang.
''Wah sudah ada tamu rupanya,'' Rania bersalaman dengan Roy dan juga Ningsih.
''Rani, bagaimana kabarnya?'' tanya Ningsih.
''Saya juga baik, tapi ya sampai sekarang kami belum di kasih kepercayaan.''
''Yang sabar, Ning. Lagian kalian baru beberapa bulan menikah. Nikmati dulu waktu berduanya.''
''Iya, Ran.''
Sekarang Ningsih memang memanggil Rania dengan menyebutkan namanya. Dia tidak lagi memanggil Non, karena memang dia bukan lagi pembantu disana.
Mereka mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah. Sepertinya para tamu sudah mulai datang. Bu Rosma mengajak anak dan menantunya untuk pergi ke depan, karena mereka harus menyambut tamu.
Saat semua tamu sudah hadir, Elvan langsung memulai acaranya. Dia memberikan sedikit sambutan dan ucapan terima kasih kepada semua tamu yang datang.
Setelah selesai memberi sambutan, kini Elvan langsung menyalakan lilin yang ada di atas kue ulang tahun. Semua anak-anak bernyanyi lagu ulang tahun. Kevin yang masih kecil, dia terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
''Sekarang Kevin tiup lilin ya,'' ucap rania.
Rania mendekatkan anaknya biar dekat dengan kue ulang tahun, begitu juga dengan dia dan suaminya. Mereka meniup lilin itu bersamaan. Semua tamu undangan tampak bertepuk tangan. Rania memotong sedikit kue ulang tahun itu, lalu dimasukan ke piring kecil. Dia menyuapi anaknya hanya sekali suap saja. Dia juga menyuapkan kue itu ke suaminya, dan begitu pun sebaliknya. Semua tamu undangan kembali bertepuk tangan.
''Untuk semuanya, silakan menikmati hidangan yang ada!'' ucap Elvan.
Para orang tua mulai mengambil hidangan yang tersedia. Sedangkan anak-anak mereka sudah makan sejak tadi.
Elvan mengajak istri, anak, dan juga ibunya untuk foto bersama. Kebetulan dia juga sudah menyewa fotographer untuk mengabadikan momen kebahagiaan mereka.
Akhirnya pesta ulang tahun Kevin sudah selesai. Semua tamu sudah pulang dari sana. Elvan dan keluarganya, mereka duduk bersantai di ruang keluarga sambil mengobrol. Mereka tidak harus membereskan ruang depan, karena Elvan sudah menyewa orang untuk bantu beres-beres di rumahnya. Elvan sama sekali tidak mau melihat istri ataupun ibunya kelelahan.
''Mas, rasanya baru kemarin anak kita lahir, tapi ternyata sudah satu tahun saja usianya,'' ucap Rania, sambil menatap anaknya yang duduk di pangkuan Bu Rosma.
''Iya, sayang. Anak kita tumbuh dengan baik, dia juga sangat tampan.''
''Sepertinya kalau sudah besar lebih tampan anak kita nih dari pada kamu, Mas."
"Enak saja, suami kamu ini akan tetap tampan selamanya."
"Biarpun sudah menjadi aki-aki, apa tetap tampan?"
"Iya dong, sayang. Mas akan jadi aki-aki tampan."
"Percaya diri sekali kamu, Van. Pasti nanti anakmu yang lebih tampan dari pada kamu," ujar Bu Rosma.
"Ah terserah mamah saja deh, Elvan akan tetap tampan menurut Elvan sendiri.
"Duh suamiku jangan ngambek dong. Suamiku yang paling tampan, tidak ada tandingannya," Rania memeluk suaminya.
Elvan tersenyum lalu dia mengacak gemas pucuk kepala istrinya.
__ADS_1