Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.12


__ADS_3

Elvan dan Rania sudah sepakat jika nantinya akan menyembunyikan pernikahan mereka. Elvan belum siap untuk berbicara kepada ibunya. Apalagi jika Clara tahu, bisa-bisa Clara melarangnya agar dia tidak menikahi Rania. Elvan tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau jika Rania menanggung beban seorang diri.


Pagi ini Elvan menjemput Rania di kontrakannya. Kebetulan pukul sepuluh nanti mereka akan melangsungkan pernikahan.


Terlihat Rania yang baru keluar dari kontrakan. Setelah mengunci pintu kontrakan, dia menghampiri Elvan yang sedang berdiri menunggunya.


''Ayo, Pak!'' ucap Rania sambil membenarkan tas selempang yang dia pakai.


Kini keduanya pergi dari sana. Para tetangga kontrakan yang melihat kebersamaan mereka, mengira jika mereka sepasang kekasih.


Saat ini keduanya berada di dalam mobil. Rania menoleh menatap Elvan yang sedang fokus mengemudi.


''Pak, sekarang kita kemana? Apa langsung ke KUA?'' tanya Rania.


''Tidak, kita akan ke salon dulu. Kamu harus di rias yang cantik. Kebetulan aku sudah menyewa kebaya untuk kamu pakai nanti.''


''Terima kasih sudah menyiapkan semuanya. Bahkan aku saja tidak memikirkan akan di rias atau tidak, karena pernikahan kita ini sederhana,'' ucap Rania.


''Sama-sama. Lagian aku tidak mau jika saat menikah nanti, kita memakai baju biasa-biasa saja.''


Elvan kembali fokus mengemudi. Kini keduanya sudah tidak saling mengobrol.


Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di salon yang sudah Elvan sewa.


Elvan melihat Rania yang masih berdiri di depan, sedangkan dia sudah hendak membuka pintu salon.


''Kenapa masih berdiri disitu? Ayo masuk!'' ajaknya.


''Eh iya, Pak.'' Rania sedikit tersenyum. ''Tapi aku kok gemetar gini ya?''


Elvan mendekati Rania lalu menggandeng tangannya, dan mengajaknya masuk.


''Jangan gerogi dong.''


''Tidak kok, hanya sedikit tak nyaman,'' Rania melepaskan tangan Elvan yang menggandengnya.


Sesampainya di dalam salon, ternyata kedatangan mereka sudah di tunggu


''Permisi, Kak. Ini orangnya yang akan di rias,'' ucap Elvan yang baru memasuki butik.


'''Silakan, Nona!'' ucap salah satu pegawai butik itu.


Rania langsung duduk di kursi sesuai arahan pegawai salon itu. Sedangkan Elvan, dia juga duduk sambil menunggu Rania selesai di rias.


Setelah cukup lama menunggu, kini Elvan melihat Rania yang baru saja beranjak dari duduknya. Rania membalikkan badannya, dia mendekati Elvan yang sedang duduk.


''Bagaimana? Apa sekarang aku sudah terlihat cantik? ‘‘tanya Rania, yang saat ini sudah berada di depan suaminya.


Elvan tidak menjawab, sejak tadi dia terpesona dengan kecantikan Rania. Sehingga dia menatapnya tak berkedip.


''Pak ... '' Rania menepuk pelan bahu Elvan. Sekarang Elvan baru tersadar.


''Eh iya, ada apa?''


''Kenapa melamun?''


''Ah tidak kok. Sudah selesai ya. Sekarang tinggal ganti baju.''


Terlihat seorang pegawai salon yang baru keluar dari sebuah ruangan.


''Nona Rania, ini kebayanya,'' ucapnya sambil mendekati Rania, lalu memberikan kebaya itu kepadanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak." Rania segera pergi ke ruang ganti.


Hanya beberapa menit saja, kini Rania sudah selesai berganti pakaian. Dia keluar dari ruang ganti.


Elvan terpana melihat Rania yang terlihat anggun menggunakan kebaya.


''Kamu cantik sekali, Ran.''


''Bapak bisa saja,'' ucapnya malu-malu.


''Jangan panggil bapak lagi, aku bukan bapakmu.''


''Lalu panggil apa?''


''Terserah kamu saja,'' ucapnya.


''Aku panggil Mas Elvan saja.''


''Nah itu boleh,'' Elvan beranjak dari duduknya. ''Aku mau ganti baju juga,'' Elvan melangkah menuju ke ruang ganti.


Setelah berganti pakaian, mereka langsung pergi. Mereka akan langsung pergi ke KUA. Karena kebetulan sekarang sudah pukul setengah sepuluh.


Sesampainya di KUA, ternyata masih beberapa menit lagi giliran mereka. Elvan mengajak Rania untuk duduk bersantai dulu.


Elvan melihat Rania yang beberapa kali meremas jemarinya sendiri.


''Kamu kenapa, Ran?''


''Mas, saya gugup.''


''Masih belum menyangka ya mau menjadi seorang istri.''


''Iya, apalagi jadi istri Mas Elvan, aku tidak menyangka sekali.''


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya sekarang jadwal mereka di nikahkan. Tepatnya pukul sepuluh pagi, Elvan dan Rania masuk ke sebuah ruangan. Disana sudah ada penghulu dan orang yang akan menjadi saksi.


Terlihat Pak penghulu mengarahkan Elvan untuk mengucapkan ijab qabul. Elvan mengucapkan ijab qabulnya dengan lancar. Semuanya ikut berbahagia termasuk Rania.


Terlihat Pak penghulu menyiapkan berkas-berkas dan buku nikah.


''Mas, memangnya kita bukan menikah siri?'' Rania berbisik di telinga suaminya.


''Tidak, aku menikahimu sah dimata agama dan negara. Memangnya kamu mau kalau hanya di nikahi secara siri?'' Elvan ikut berbisik di telinga istrinya.


''Tidak mau,'' jawabnya.


Setelah selesai semuanya, Elvan mengajak Rania untuk pulang. Namun dia tidak akan mengajaknya ke kontrakan yang kecil itu. Elvan akan menyuruh Rania untuk tinggal di apartemennya.


Setelah perjalanan cukup lama, mereka sampai di depan deretan apartemen mewah. Setelah memarkirkan mobilnya, Elvan menyuruh Rania untuk turun.


Mereka berdua berjalan berdampingan menuju apartemen milik Elvan.


Dengan menaiki lift, kini mereka sudah sampai di lantai atas. Rania mengikuti Elvan yang melangkah di depannya.


Sesampainya di dalam apartemen, Rania kagum karena apartemennya sangat besar. Apalagi terlihat mewah.


Terlihat Bi Darmi menghampiri mereka.


''Selamat datang, Tuan, Nona.'' ucapnya ramah.


''Bi, kenalkan ini istri saya. Nanti Bibi yang urus semua kebutuhannya ya.''

__ADS_1


''Baik, Tuan.'' jawabnya.


''Mulai sekarang Bibi tidak usah pulang pergi lagi, tinggal disini saja temani istri saya. Karena tidak setiap hari saya disini.''


''Baik, Tuan. Mari Nona saya antar ke kamar,'' ucap Bi Darmi.


''Baik, Bi. Rania mengikuti kemana Bi Darmi pergi.


Rania terlihat kagum melihat kamar yang begitu besar. Bahkan kamar mandinya juga ada di dalam kamar. Kamar itu juga di dekorasi seperti kamar pengantin baru. Ada mawar merah yang di bentuk love yang ada di atas ranjang.


''Bi, kamarnya kok di dekorasi seperti in?"


''Iya, Nona. Tuan Elvan yang menyuruh orang untuk mendekorasi kamar ini,'' ucapnya.


Setelah melihat kamar, Rania kembali keluar. Dia menghampiri Elvan yang sedang duduk di ruang keluarga.


''Mas, aku harus ke kontrakanku mengambil semua pakaianku,'' ucap Rania kepada suaminya.


'’Biar aku saja yang mengemasi semua pakaianmu. Kamu disini saja ya.''


''Baiklah,'' Rania menurut dengan Elvan yang sudah sah menjadi suaminya.


......


Bu Rosma sengaja datang ke kontrakan Rania, namun ternyata kontrakan itu sudah di tempati oleh orang lain. Saat bertanya ke tetangganya, katanya Rania sudah pindah. Namun mereka tidak bilang jika yang mengajak Rania pindahan itu Elvan. Karena Elvan sudah memberikan mereka uang tutup mulut jika ada yang menanyakan Rania, siapa pun itu jangan di jawab.


Bu Rosma mencoba untuk menghubungi nomor Rania. Namun nomornya sedang tidak aktif.


Bu Rosma memutuskan untuk pulang saja dari sana. Bu Rosma berharap bisa bertemu dengan Rania lagi.


Sebelum benar-benar pulang, Bu Rosma mampir ke swalayan dulu. Karena ada beberapa keperluan yang harus di beli.


Saat berkeliling mencari barang yang akan di beli, tak sengaja Bu Rosma berpapasan dengan Rania.


"Rania, ini benar Rania," Bu Rosma melihat penampilan Rania dari atas sampai bawah. Terlihat berkelas, tidak seperti biasanya yang sering memakai pakaian sederhana.


“Iya, Bu. Bagaimana kabar Bu Rosma? Lama kita tidak bertemu, Bu.”


“Iya, Nak. Tadi Saya habis dari kontrakan kamu. Tapi katanya kamu sudah pindah.”


“Iya, Bu. Aku sudah lama pindah.”


“Kalau boleh tahu dimana tempat tinggal kamu, Nak?”


“Emm itu aku ... “ Rania tampak berpikir mencari alasan.


“Kenapa, Nak?”


“Saya bekerja di sebuah apartemen orang kaya, Bu. Saya juga tinggal disana,” ucap Rania berbohong.


“Pantas saja, tapi sekarang penampilan kamu berubah ya. Kamu juga berdandan tidak seperti dulu.”


“Iya, Bu. Kebetulan majikan saya baik sekali. Jadi saya hidup enak disana.”


“Syukurlah, saya senang mendengarnya. Dimana alamat lengkap tempat tinggalmu, Nak? Mamah ingin sesekali berkunjung.”


Tring tring


Tiba-tiba ponsel milik Rania berdering karena ada panggilan masuk dari suaminya.


“Maaf, Bu. Ini majikan saja menelepon. Saya permisi dulu ya,” Rania bergegas pergi dari sana.

__ADS_1


Bu Rosma menatap Rania dengan sedikit heran. Sepertinya Rania sedang menjaga jarak dengannya. Padahal Rania itu hanya takut jika Bu Rosma tahu kalau dia itu ternyata menantunya. Bukan maksud dia sengaja menjaga jarak.


__ADS_2