Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.50


__ADS_3

Tak terasa sudah enam bulan usia Kevin. Rania dan Elvan selalu menjaga anaknya dengan baik. Bahkan mereka bergantian begadang tengah malam jika Kevin terbangun. Bu Rosma juga sangat perhatian kepada cucu pertamanya. Begitu juga denagn Ningsih yang ikut membantu menjaga Kevin jika Rania sedang sibuk. Bu Rosma dan Rania juga sudah tidak menjodoh-jodohkan Ningsih dengan Reno. Mereka tidak mau memaksa perasaan seseorang. Apalagi jika yang mencintai hanya satu pihak. Lama-kelamaan Ningsih mengerti, mungkin karena status sosial mereka, atau mungkin dia itu bukan tipe wanita idamannya Reno. Dia sudah tidak terlalu berharap lagi dengan Reno.


Rania menghampiri Ningsih yang berada di dapur.


''Ningsih, tolong kamu pergi ke swalayan ya, beli detergen dan kebutuhan lainnya,'' pinta Rania.


''Baik, Non. Tapi nanti dulu ya, saya sedang mencuci piring.''


''Santai saja. Nanti kamu temui saya di kamar, kalau sudah siap.''


''Baik, Non.'' jawabnya.


Beberapa menit kemudian Ningsih sudah bersiap untuk pergi. Dia menghampiri Rania di kamar anaknya. Rania langsung memberikan uang belanja beserta daftar belanjaan yang harus dibeli.


Ningsih pergi dengan di antar oleh sopir. Sesampainya di supermarket dia langsung mengambil semua barang yang sesuai dengan daftar belanjaan.


Ningsih yang sedang mendorong troli, tak sengaja menabrak seseorang karena dia lengah. Tadi dia sedang menatap ke samping. Dia tidak menyadari jika di depannya ada orang. Jadi troli yang dia bawa menabrak orang itu.


''Hati-hati diong kalau jalan,'' ucap Roy yang terlihat marah.


''Maaf, Tuan.'' Ningsih mendekati Roy, dia memegang tangannya melihat ada yang luka atau tidak.


''Ngapain pegang-pegang?''


''Saya hanya mau memastikan jika tidak ada yang lecet,'' ucapnya.


''Wanita aneh,'' gumam Roy.


Ningsih mendengar apa yang di katakan oleh Roy.


''Saya tidak aneh, tuan. Saya permisi dulu. Sekali lagi saya ucapkan minta maaf,'' Ningsih berlalu pergi dari sana meninggalkan Roy yang masih berdiri sambil menatapnya.


''Kenapa saat melihat wanita itu, aku jadi teringat istrinya Elvan,'' gumam Roy.


Entah apa yang membuat dia mengira jika wanita yang baru ditemuinya itu mirip dengan Rania. Dari cara berpakaiannya yang sederhana, dan senyumnya mengingatkan dia dengan sosok Rania. Karena rasa penasaran, Roy mengikuti Ningsih. Hingga dia keluar dari swalayan, dia terus mengikutinya. Saat melihat Ningsih naik ke mobil, Roy juga segera mendekati mobilnya yang terparkir tak terlalu jauh dari mobil yang dinaiki oleh Ningsih.

__ADS_1


Roy mengikuti mobil yang di naiki oleh Ningsih. Hingga mobil itu masuk ke area kompleks perumahan yang ditinggali oleh Elvan dan keluarganya.


Roy menghentikan mobilnya saat mobil itu memasuki halaman rumah yang dikenalnya. Itu rumah orang tua Elvan.


''Ngapain wanita itu masuk ke rumah ini? Apa mungkin dia itu saudaranya Rania. Terlihat sekali dari penampilannya dan kecatikannya yang hampir mirip. Hm boleh juga jika aku dekati. Rania tak dapat, saudaranya pun tak apa,'' gumam Roy.


Roy mengendarai mobilnya pergi dari sana. Dia akan mencari cara untuk mendekati wanita yang tadi di lihatnya.


..........


Rania dan keluarganya yang sedang bersantai, mereka mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya.


''Biar aku yang ke depan,'' Elvan beranjak dari duduknya, lalu dia pergi ke depan untuk membukakan pintu.


Elvan melihat seorang lelaki yang berdiri membelakanginya.


''Cari siapa ya?"' tanya Elvan.


Lelaki itu menoleh, dan itu membuat Elvan tak suka. Karena dia Roy yang di anggapnya orang jahat dan berbahaya.


''Mau menemi seseorang,'' ucapnya sambil tersenyum.


Elvan melihat Roy membawa buket bunga mawar merah dan juga paper bag. Dia mengira jika kedatangan Roy itu karena akan mengganggu istrinya.


''Pergi kamu! Beraninya kamu membawa bunga segala ke rumah saya. Tamu tidak di undang seperti jelangkung saja. Kamu mau godain istri saya?"


''Jangan salah paham dulu, saya ... '' ucapan Roy terhenti saat Elvan menyerobot ucapannya.


''Tidak usah banyak alasan! Saya tahu niat licik kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini!'' Elvan masih terus mencoba untuk mengusir Roy agar pergi dari sana.


Rania dan Bu Rosma yang mendengar suara ribut-ribut dari luar, mereka pergi ke sumber suara untuk melihat Elvan sedang berdebat dengan siapa.


Ternyata Elvan sedang berdebat dengan Roy.


"Ada apa ini?" tanya Bu Rosma.

__ADS_1


"Ini ada Roy datang ke rumah kita, ya langsung saja aku mengusirnya," ucap Elvan.


"Maaf, Tante. Tapi Elvan salah paham sama saya. Saya datang kesini bukan untuk mencari Rania tapi ... " belum juga Roy meneruskan perkataannya, Bu Rosma sudah angkat bicara.


"Wah kamu datang bawa bunga segala. Kalau bukan untuk Rania, berarti untuk saya dong. Kamu naksir sama saya?" Bu Rosma mendekati Roy, lalu merebut buket bunga mawar merah yang di pegang oleh Roy.


"Bukan, Tante. Kedatangan saya kesini itu untuk menemui wanita cantik yang masih muda. Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengannya di supermarket. Dia cantik seperti Rania."


"Wanita cantik selain Rania di rumah ini ya Tante. Kamu bagaimana sih?" Bu Rosma memukul lengan Roy.


"Ningsih mungkin, Mah." Ucap Rania.


"Bisa juga sih. Coba deh kamu panggil Ningsih!" Pinta Bu Rosma.


Rania masuk ke dalam rumah untuk memanggil Ningsih. Tak lama dia kembali menghampiri mereka bersama dengan Ningsih.


"Ada apa, Tante?" tanya Ningsih yang sudah keluar.


"Kamu kenal sama dia?" tanya Bu Rosma, sambil menunjuk Roy.


"Dia kan yang di supermarket itu," jawabnya.


"Hai,  Nona. Saya Roy," Roy mengangkat tangannya dan mengajak Ningsih untuk berjabat tangan.


Ningsih menerima jabatan tangan itu.


"Ya sudah ayo masuk! Tapi ingat ya, jangan macam-macam sama  menantu saya. Kalau berani macam-macam, saya langsung lapor polisi," ucap Bu Rosma dengan sedikit mengancam.


"Tenang saja, Tante. Saya hanya ingin ngapel," ucapnya, sambil melirik Ningsih yang menurutnya sangat cantik.


Mereka masuk ke dalam rumah. Rania dan Elvan langsung masuk ke kamar. Begitu juga dengan Bu Rosma yang masuk ke kamarnya juga. Mereka membiarkan Ningsih mengobrol berdua dengan Roy.


"Kamu saudaranya Rania?" Roy bertanya kepada Ningsih.


"Bukan, saya hanya pembantu disini." ucapnya.

__ADS_1


'Astaga, aku kok tidak menyelidikinya dulu kalau dia cuma pembantu. Tapi tak apa lah, lumayan cantik juga.' batin Roy.


__ADS_2