Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.22


__ADS_3

Malam harinya Elvan yang sedang bersantai, dia mendapat kabar dari orang suruhannya. Mereka sudah menemukan keberadaan Rania. Elvan langsung menyuruh mereka untuk membawa Rania ke apartemennya. Dan untuk bonus, Elvan akan mentransfernya. Elvan juga sudah menghubungi Bi Darmi dan memintanya untuk menjaga Rania agar tidak kabur.


''Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Rania,'' gumam Elvan, lalu dia mulai merebahkan dirinya ke atas kasur.


Sambil menatap langit-langit, Elvan tersenyum entah membayangkan apa. Hanya memikirkan Rania saja, itu mampu membuatnya melupakan permasalahan pernikahannya bersama Clara yang sudah berantakan.


Tok tok


Elvan yang sedang asyik berkhayal, merasa terganggu saat mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya.


''Siapa sih yang datang? Mengganggu saja,'' gumam Elvan.


Elvan beranjak dari atas tempat tidur, lalu dia pergi untuk membukakan pintu. Ternyata yang datang itu Reno.


''Ada apa sih?''


''Saya mau cari makan malam nih, mau ikut tidak?'' tanya Reno.


''Sebentar,'' Elvan kembali masuk ke kamar untuk mengambil sweater untuk dia kenakan.


Kini keduanya pergi keluar. Mereka akan mencari makan di restoran yang ada di luar hotel, sambil melihat-lihat pemandangan malam di kota itu.


Saat melihat ada toko pakaian wanita, Elvan meminta Reno untuk menghentikan mobilnya.


''Stop!'' ucap Elvan, sedangkan tatapannya sejak tadi dia menatap ke arah toko pakaian wanita yang ada di samping jalan.


''Kenapa berhenti disini? Restoran masih jauh di depan,'' ucap Reno.


''Aku ingin mencari pakaian wanita,'' ucapnya.


Reno langsung memarkirkan mobilnya di depan toko itu. Dia mengikuti Elvan yang sudah turun duluan. Dia juga ikut masuk ke dalam toko.


''Selamat datang di toko kami,'' ucap seorang pelayan wanita dengan ramah.


''Saya mencari daster wanita sama pakaian ibu hamil lainnya,'' ucap Elvan.


''Baik, mari ikut saya!'' ucapnya.


Elvan mengikuti pelayan wanita itu. Dia memilih beberapa pakaian untuk dia beli.


''Bro, Clara sedang hamil ya?" tanya Reno.


''Ini bukan untuk Clara,'' jawabnya.


''Lalu untuk siapa? Wah sepertinya aku kurang update nih.''

__ADS_1


''Tidak usah penasaran, nanti juga tahu sendiri,'' ucapnya.


Reno yang penasaran, memikirkan kemungkinan yang terjadi. Bisa saja bosnya yang sekaligus temannya itu menghamili wanita lain. Atau mungkin diam-diam bosnya punya istri kedua yang sedang hamil.


Setelah selesai berbelanja, mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka menuju ke restoran.


''Besok kita langsung pulang saja ya. Lagian di kantor cabang juga tidak ada kendala apa pun, semuanya baik-baik saja,'' ucap Elvan.


''Baik, Bos.'' ucap Reno.


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di restoran yang di tuju.


......


Elvan yang niatnya akan pergi tiga hari, dia mempercepatnya. Sehingga di hari ke dua mereka langsung kembali ke ibukota.


Pagi ini, tepat pukul tujuh pagi mereka baru memulai perjalanan. Sepanjang perjalanan, Elvan hanya mendengarkan musik dengan earphone.


Mereka tidak akan singgah kemana pun. Karena Elvan tidak ingin membeli oleh-oleh. Lagian dia sudah membeli oleh-oleh untuk Rania.


''Ren, nanti antarkan aku ke apartemen saja!'' pinta Elvan.


''Kenapa tidak ke rumah saja?'' tanya Reno.


''Tidak usah banyak tanya,'' ucapnya.


Reno semakin penasaran saja dengan hal yang ditutupi oleh Elvan.


'Sepertinya benar nih Elvan punya istri simpanan,' batin Reno.


Reno kembali fokus mengemudi tanpa bertanya apa pun lagi.


Lima jam sudah mereka di perjalanan, kini sampai juga di depan apartemen Elvan. Elvan melihat Reno yang hendak turun dari mobil.


''Ngapain ikut turun?'' tanya Elvan.


''Mau mampir ke apartemen. Penasaran nih sama seseorang yang ada di apartemenmu.''


''Ada Bi Darmi tuh. Kamu mau ketemu sama Bi Darmi?''


''Tidak,'' akhirnya Reno tidak jadi turun. Dia memilih pulang dengan rasa penasarannya itu.


Elvan melangkah menuju ke lift. Dia masuk ke lift lalu memencet tombol lantai dua, dimana apartemennya berada.


Saat ini Elvan berdiri di depan apartemennya. Dia langsung saja memencet kode akses masuk. Kini pintu itu sudah terbuka. Elvan melangkah masuk ke apartemen.

__ADS_1


''Permisi,'' ucap Elvan yang baru masuk.


Rania yang sedang duduk bersantai, dia menghampiri suaminya yang baru datang.


''Mas Elvan,'' Rania tersenyum menatap suaminya, lalu dia mengambil koper yang di bawa oleh suaminya.


Elvan mendekati istrinya, lalu dia memeluknya.


''Jangan pergi!'' ucap Elvan sambil mengusap punggung istrinya.


Deg deg


Tiba-tiba Rania merasakan jantungnya berdetak dengan cepat. Dia malu kalau sampai suaminya merasakannya.


'Aku takut jika perlakuan manismu ini hanya sementara, Mas. Kamu menyuruhku tetap tinggal, sedangkan setelah lahiran nanti, kamu menyuruhku pergi. Aku tidak siap dengan hatiku. Itu terlalu sakit rasanya,' batin Rania.


Hanya sebentar Elvan memeluknya. Kini dia sudah melepaskan pelukan itu. Elvan menatap wajah istrinya.


''Kalau Clara datang dan menyakitimu, kamu bilang saja sama Mas. Jangan malah pergi ya. Mas tidak mau kamu kenapa-napa di luar sana.''


''Aku memang pantas pergi. Aku tidak mau merusak pernikahan orang lain. Dari awal semuanya salah. Pernikahan ini salah,'' Rania berucap seperti itu, padahal dalam hatinya dia sedih.


''Tidak ada yang salah dengan pernikahan kita. Ini sudah takdirnya kita di persatukan. Jangan merasa menjadi pihak yang salah. Karena yang pantas di salahkan itu aku yang telah merusak masa depanmu.''


''Tapi aku ... '' perkataan Rania terhenti karena Elvan menaruh jari telunjuknya di bibirnya.


''Sttt jangan katakan apa pun lagi! Ayo ke kamar! Aku lelah mau istirahat,'' Elvan menggandeng tangan istrinya menuju ke kamar. Dia juga kembali mengambil koper yang sedang di pegang oleh istrinya.


Sesampainya di kamar, Elvan langsung pergi ke kamar mandi yang ada di kamar itu. Sedangkan Rania mengambilkan pakaian ganti untuk suaminya.


Rania duduk di sofa yang ada di kamarnya sambil menonton acara televisi.


Beberapa menit kemudian Elvan keluar dari kamar mandi. Namun dia hanya menutupi tubuhnya dengan handuk. Rania menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Karena ini baru pertama kalinya dia melihat suaminya selesai mandi hanya dengan menggunakan handuk saja. Biasanya Rania tidak pernah di kamar jika suaminya sedang mandi.


''Kenapa kamu menutupi wajahmu seperti itu?''


''Tidak apa-apa,'' ucap Rania yang masih menutupi wajahnya, dan dia tampak malu-malu.


Elvan hanya tersenyum kecil, lalu dia mengambil pakaian gantinya yang ada di atas ranjang.


''Terima kasih ya sudah menyiapkan pakaian ganti untukku.''


''Sama-sama, itu sudah kewajibanku sebagai istri,'' ucapnya.


'Sungguh kamu berbeda sekali dengan Clara. Jika di sampingmu, aku merasa seperti suami beruntung karena mempunyai istri yang tidak pernah melalaikan tugasnya untuk melayani suami,' batin Elvan sambil menatap istrinya penuh kekaguman.

__ADS_1


Elvan yang awalnya menikahi Rania hanya sebatas tanggung jawab, lama-kelamaan entah kenapa dia memiliki perasaan yang dia sendiri tidak bisa menjelaskannya. Yang pasti saat dekat dengan Rania membuatnya merasa tenang.


__ADS_2