
Dua bulan kemudian.
Tak terasa semakin lama usia kandungan Rania semakin bertambah. Tentu Rania sangat menjaga kandungannya. Untuk kecurigaannya kepada suaminya sudah dia percayakan kepada Reno. Namun sampai saat ini Reno belum mengatakan hal apa pun kepadanya. Walaupun akhir-akhir ini Reno lebih sering menemuinya, bahkan saling bertukar pesan, namun Reno tidak mengatakan apa pun menyangkut hubungan Elvan dan Nayla.
Entah kenapa saat ini Rania tampak gusar. Dia punya firasat tak enak yang terus mengganjal di hatinya.
Bu Rosma melihat menantunya yang sedang mondar-mandir di depan pintu kamarnya.
''Rani, kamu kenapa, Nak? Dari tadi mamah lihat kamu mondar mandir di depan pintu,'' Bu Rosma menghampiri menantunya.
''Hanya sedikit cemas saja, Mah.'' ucapnya.
''Kamu mencemaskan suamimu? Kamu tenang saja, suamimu pasti baik-baik saja kok.''
''Tapi aku takut jika terjadi sesuatu dengan suamiku.''
Bu Rosma memegang kedua tangan menantunya, dan menggenggamnya.
''Kamu harus percaya kalau suamimu baik-baik saja, Nak. Lebih baik kita ngeteh saja yuk! Kebetulan tadi Bi Darmi sudah membuatkan teh hangat untuk kita.'
''Iya, Mah.'' Rania dan Bu Rosma saling bergandengan tangan. Mereka pergi ke ruang keluarga.
Baru beberapa menit mereka duduk bersama, tiba-tiba Bu Rosma mendengar ponselnya berdering. Ternyata yang menghubunginya itu teman sosialitanya. Ternyata temannya itu mengajaknya hangout. Mau tidak mau Bu Rosma menerima ajakannya.
Bu Rosma melirik menantunya yang duduk di sebelahnya.
''Rani, sepertinya mamah tidak bisa menemani kamu. Teman mamah ngajakin hangout nih.''
''Pergi saja, Mah. Rani tidak apa-apa kok tidak di temani juga. Lagian kalau Rani jenuh, nanti bisa minta Bi Darmi untuk menemani.''
''Maaf ya, Nak.''
''Santai saja, Mah. Aku tidak apa-apa kok.''
Bu Rosma langsung pergi ke kamarnya, karena akan bersiap untuk pergi.
Setelah kepergian Bu Rosma, Rania hanya duduk sendirian. Dia menyalakan televisi karena merasa jenuh.
Tok tok
Rania mendengar ada yang mengetuk pintu rumahnya. Dia bergegas untuk membukakan pintu itu. Ternyata yang datang itu Reno.
''Kak Reno kok ada disini? Memangnya kakak tidak ikut Mas Elvan ke luar kota?''
''Ke luar kota? Kita tidak ada pekerjaan di luar kota,'' ucapnya.
''Tapi Mas Elvan bilang katanya pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis,'' Rania merasa kecewa, karena suaminya bisa berbohong kepadanya.
''Minggu ini kita tidak ada rencana pergi ke luar kota,'' ucap Reno.
__ADS_1
''Lalu kemana perginya suamiku?''
Tring tring
Rania mendengar ponselnya berdering.
''Sebentar, Kak. Aku mau angkat telepon,'' RaniaΒ Β kembali masuk ke dalam rumah. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Dia melihat nomor tidak dikenal yang menghubunginya.
Rania mengangkat panggilan telepon itu. Dia mendegar suara yang sangat familiar dari seberang sana. Ternyata yang meneleponnya itu Clara.
π''Ada apa, Cla?''
π''Kamu pasti terkejut kalau mengetahui dimana suamimu sekarang,'' ucapnya.
π''Apa maksudmu? Awas ya kalau kamu berani macam-macam dengan suamiku.''
π''Bukan aku yang macam-macam, tapi suamimu yang macam-macam,'' ucapnya.
Menurut Rania, Clara sedikit berbasa-basi saat berbicara.
π''Langsung saja pada intinya!''
π''Baiklah, aku akan kirim pesan saja biar lebih jelas.''
Rania langsung mematikan panggilan telepon itu. Dia membuka pesan, dia terus melihat nomor Clara. Dari nomor itu terlihat jika Clara sedang mengetik.
Tring
Kedua mata Rania terbelalak saat melihat foto itu. Disana terlihat ada papan nama pengantin yang bertuliskan Elvan dan Nayla. Rania terlihat sangat marah. Dia menghampiri Reno yang masih berada di depan rumah.
''Kak Reno, ayo kita pergi!'' pintanya.
''Mau kemana Bu Bos?'
''Menurut saja! Kita pergi ke sebuah tempat,'' ucapnya.
''Baik, Bu Bos.''
Reno melangkah duluan menuju ke mobilnya, sedangkan Rania mengikutinya di belakang Kondisinya yang saat ini sedang hamil, jadi Rania tidak mau jalan terlalu cepat. Saat sudah berada di dalam mobil, Rania memberitahu alamat rumah yang akan mereka tuju. Dia juga memperlihatkan foto yang tadi Clara kirimkan. Tentu Reno sangat terkejut.
''Apa ini nyata? Mana mungkin Pak Elvan mendua?''
''Inilah kenyataannya. Mau percaya atau tidak, sebenarnya aku juga kurang percaya.''
''Baiklah, saya akan mengemudi dengan cukup cepat agar kita cepat sampai di alamat rumah itu,'' Reno mulai menyalakan mesin mobilnya. Dia mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah Elvan.
Sesekali Reno menatap Rania yang duduk di sampingnya. Rania hanya diam saja sambil menatap ke luar.
''Jangan berpikir terlalu keras, Bu Bos sedang hamil loh.''
__ADS_1
''Bagaimana bisa aku tidak kepikiran sedangkan suamiku menikah dengan wanita lain.''
''Kita beerdoa saja semoga pernikahan itu tidak terjadi. Saya mengenal Elvan sejak dulu, dan dia itu bukan tipe lelaki yang tukang selingkuh. Kalaupun dia menikah lagi, pasti karena ada sesuatu. Contohnya saat dia masih menjadi suaminya Clara, dia menikahimu karena ternyata kamu hamil anaknya. Bisa jadi dia sekarang menikahi Nyla juga karena hal itu,'' ucap Reno.
''Jika memang karena Nayla hamil, aku tidak akan mengampuni mereka berdua,'' ucapnya.
''Kali ini saya ada di pihakmu. Saya siap melindungimu, Bu Bos.''
''Jangan panggil aku Bu Bos, di dengarnya tidak enak. Panggil saja aku Rania.''
''Baiklah, Rania.''
Reno kembali fokus mengemudi.
Sejak tadi Rania meminta Reno untuk lebih cepat mengendarai mobilnya. Padahal sejak tadi juga dia sudah mengemudi dengan cukup cepat. Rania sudah tidak sabar untuk sampai.
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di alamat rumah sesuai yang di kirimkan oleh Clara. Rania dan Reno menatap ke luar. Tenyata di depan rumah itu sudah cukup ramai.
''Kak, ayo kita masuk!'' ajak Rania yang sudah tidak sabar.
''Jika saat kita masuk tapi ternyata yang di dalam bukan Pak Elvan gimana?''
''Itu urusan belakangan, yang terpenting sekarang kita cek saja dulu.''
Kini keduanya turun dari mobil. Rania melangkah terlebih dahulu, sedangkan Reno mengikutinya di belakang. Saat melihat papan nama bertuliskan Elvan dan Nayla, Rania hanya tersenyum getir. Dia melanjutkan langkahnya memasuki rumah itu. Sesampainya di dalam, dia melihat suaminya duduk di depan penghulu dan di sebelahnya itu Nayla.
''Tunggu!'' Rania menghentikan suaminya yang akan mengucapkan ijab qabul.
Elvan dan Nayla sama-sama terkejut melihat kedatangan Rania.
''Ibu-ibu, Bapak-bapak,'' Rania menyapa semua tamu undangan yang ada disana. ''Perlu kalian ketahui jika saya ini istri sah dan istri satu-satunya dari lelaki itu,'' ucapnya sambil menunjuk Elvan.
Terdengar bisik-bisik para tamu undangan yang hadir disana.
''Dan wanita itu, dia Nayla yang merupakan sekretaris penggoda. Dia hanya seorang pelakor yang berniat merebut suami saya. Coba ibu-ibu bayangkan, istri mana yang tidak akan marah jika tahu suaminya akan menikah lagi. Apalagi saya ini sedang hamil. Jadi saya minta untuk semua yang ada disini di mohon untuk pergi. Karena sampai kapan pun pernikahan ini tidak akan terjadi,'' ucap Rania.
''Hu pelakor tidak tahu diri,'' ucap seorang ibu-ibu yang duduk paling belakang, lalu yang lainnya ikut menyahut. Mereka berbondong-bondong keluar dari rumah itu.
Rania mendekati suaminya dan Nayla. Reno masih mengikutinya di belakangnya.
''Dasar pelakor tidak tahu diri,'' Rania memegang rambut panjang Nayla, lalu dia mengambil gunting dari dalam tas. Kebetulan tadi Rania sengaja membawa gunting. Rania memotong rambut Nayla sangat pendek. Bahkan terlihat jelek sekali rambutnya pendek seperti itu.
Saat Nayla hendak menyerangnya, Elvan menghalangi agar Nayla tidak menyerang Rania.
''Sayang, kita perlu bicara,'' ucap Elvan kepada istrinya.
''Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Mas.'' Rania menatap Reno lalu memberi kode.
Reno segera mendekati Elvan, lalu menariknya keluar.
__ADS_1
''Maaf, Pak Bos. Ini semua perintah dari Bu Bos,'' ucap Reno.
Rania mengibaskan rambut panjangnya di depan wajah Nayla, lalu dia berlalu pergi mengikuti Reno dan suaminya.