
Saat ini kandungan Rania sudah memasuki bulan ke tujuh. Kebetulan Bu Rosma juga sudah menyiapkan syukuran tujuh bulanan menantunya.
Bu Rosma dan Bi Darmi sedang sibuk memasak. Kebetulan Bu Rosma juga menyewa dua orang jasa katering untuk membantunya memasak. Bu Rosma sengaja tidak memesan menu makanan di luar, karena baginya jika memasak sendiri lebih enak.
Elvan yang baru masuk ke rumah, dia di panggil oleh ibunya. Kebetulan tadi Elvan habis jalan-jalan di sekitar kompleks perumahan.
''Van, tolong bantu mamah membagikan nasi kotak ke tetangga ya. Terus nanti kamu juga bagiin buat jamaah masjid belakang kompleks.''
''Sudah itu saja, Mah?"
''Tidak dong, nanti kamu juga bagiin untuk anak panti.''
''Siap, Mah.''
Elvan mengambil beberapa kotak makan yang terlihat berjejer, lalu membawanya pergi. Terlebih dahulu dia akan membagikan kotak makan itu ke tetangga.
Setelah satu jam lamanya, akhirnya Elvan selesai juga membagikan kotak makan itu. Kebetulan jarak panti asuhan cukup jauh dari rumahnya.
Saat ini Elvan berada di perjalanan pulang. Tiba-tiba dia mendengar ponselnya berdering. Ternyata itu istrinya yang meneleponnya. Istrinya meminta untuk di belikan makanan kesukaannya.
Akhirnya Elvan sampai juga di rumah. Dia mencari keberadaan istrinya.
''Mah, dimana Rania?'' Elvan bertanya kepada ibunya. Kebetulan ibunya sedang duduk bersantai.
''Ada tuh di taman belakang sama Reno.''
''Reno datang kesisni? Ngapain?''
''Istrimu yang minta dia untuk datang.''
Elvan buru-buru pergi ke taman belakang rumah. Sesampainya di taman, Elvan melihat istrinya dan juga Reno yang sedang mengobrol.
''Ekhem ... ekhem ... Kenapa kalian jadi seakrab ini?'' Elvan berdiri di belakang mereka.
Keduanya menoleh ke belakang menatap Elvan yang sedang berdiri disana.
''Mas Elvan mau ikut mengobrol juga?''
''Tidak,'' ucapnya tidak namun ternyata Elvan malah duduk di antara mereka berdua. Sengaja dia duduk di tengah karena tidak mau jika Reno berdekatan dengan istrinya.
''Maaf, Bu Rania. Sebaiknya saya pulang saja,'' Reno merasa tak enak. Walaupun hanya sekedar menemani, namun sepertinya Elvan cemburu kepadanya.
''Kenapa Kak Reno pulang? Pasti gara-gara Mas Elvan datang ya. Kamu sih Mas mengganggu saja,'' setelah menatap Reno, Rania beralih menatap suaminya.
''Sayang, kamu jangan selingkuh loh. Kamu terang-terangan berduaan di depaan Mas.''
''Siapa yang selingkuh? Ah pasti Mas Elvan cemburu ya,'' Rania meledek suaminya.
''Mas bicara serius, sayang.''
Melihat pasangan suami istri itu sedang mengobrol, Reno memutuskan untuk pergi dari sana.
__ADS_1
''Tuh Kak Reno pergi, pasti gara-gara Mas Elvan.''
''Biarin, lagian salah siapa berdua-duaan dengan istri orang.''
''Itu juga kemauan anak kita, Mas. Tadi tiba-tiba aku ingin mengobrol di temani oleh Kak Reno.''
''Jangan banyak alasan deh, bilang saja mau selingkuh.''
''Baiklah, jika Mas Elvan tetap cemburuan, lebih baik aku pergi dari rumah ini. Untuk apa punya suami yang tidak pengertian sama istri sendiri,'' Rania hendak beranjak dari duduknya, namun suaminya menahan tangannya.
''Jangan pergi! Maafkan suamimu ini. Mas terlalu cemburu sama kamu.''
''Oke, aku akan memafkan Mas Elvan, namun dengan satu syarat.''
''Apa itu?''
''Gendong aku sampai masuk ke rumah.''
''Tapi perut kamu sudah besar, sayang. Nanti Mas berat gendong kamunya.''
''Jadi Mas Elvan tidak mau menggendong aku?''
Lagi-lagi Elvan ada di posisi yang salah. Memang dia tidak seharusnya melarang atau pun menolak keinginan istrinya. Karena sedang hamil, istrinya jadi lebih manja dan semua keinginannya harus terpenuhi.
''Baiklah istriku yang cantik,'' Elvan langsung menggendong istrinya ala bridal style. Walaupun terasa berat, namun dia harus menahannya demi melihat istrinya bahagia.
Elvan berpapasan dengan ibunya yang hendak pergi ke kamar.
Elvan langsung saja menurunkan istrinya dari gendongannya.
''Biasa, Mah. Istriku sedang manja.''
''Oh jadi Mas Elvan menganggap aku ini manja. Oke lah kalau begitu, biar aku dimanjakannya sama orang lain saja'' Rania tampak mengerucutkan bibirnya.
''Jangan ngambek dong, sayang.'' Elvan mengecup singkat bibir istrinya.
''Astaga kalian tidak tahu tempat. Disini ada mamah loh yang melihat,'' Bu Rosma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Iya nih Mas Elvan, udah tahu lagi dapat hukuman, masih saja main sosor.''
''Cuma dikit kok, sayang.'' Elvan tampak memperlihatkan senyum manisnya.
.......
Malam harinya kediaman Bu Rosma sudah tampak ramai. Karena semua tamu undangan sudah datang. Di acara tujuh bulanan menantunya, Bu Rosma sengaja membuat acara pengajian dan dzikir bersama di rumahnya.
Cukup lama acara itu berlangsung, dari pukul tujuh malam dan selesai pukul sembilan malam.
Kini semua tamu baru saja pulang. Kediaman Bu Rosma sudah tampak sepi seperti sedia kala.
Elvan melihat istrinya yang sedang membantu beres-beres.
__ADS_1
''Sayang, kamu kok bantu beres-beres? Istirahat saja yuk! Nanti kamu kecapean loh.''
''Tidak cape kok, Mas.''
''Menurut saja!'' Elvan menggandeng tangan istrinya pergi dari sana.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar. Rania langsung mengganti pakaian panjang yang dia kenakan, lalu berganti dengan memakai gamis rumahan. Sejak tadi Elvan menatap istrinya yang sedang berganti pakaian. Rania yang menyadari jika suaminya memperhatikannya, dia mengedipkan sebelah matanya.
Elvan mengira jika istrinya itu memberikan lampu hijau untuknya. Elvan mendekati istrinya, lalu dia memeluknya dari belakang.
''Sayang, apa malam ini kita akan melakukan itu? Anak kita pasti perlu di tengok. Lagian kita hanya melakukannya dua kali selama menikah. Sekarang kan perut kamu sudah besar, anak kita juga sudah bisa di tengok biar nanti keluarnya lancar.''
Rania terkekeh geli mendengar suaminya yang terlihat sangat ingin melakukan hubungan suami istri.
''Memangnya harus di tengok ya?''
''Iya dong, sayang. Kita harus sering-sering olahraga bertiga. Kamu, aku, dan anak kita.''
''Bagaimana anak kita berolahraga? Dia kan masih di dalam perut?''
''Ya kalau kita melakukan itu, anak kita di dalam juga ikut olahraga, sayang.''
Elvan mencoba untuk membujuk istrinya. Bahkan dia mengatakan kata-kata yang tidak masuk akal. Dia hanya asal bicara saja.
''Kalau saat kita olahraga anak kita juga ikutan, itu berarti anak kita mendengar suara-suara sexy kita. Ah tidak mau, nanti anak kita ternodai.''
Rania berpura-pura polos di depan suaminya. Bahkan dia mengikuti suaminya yang berbicara asal.
''Tidak dong, sayang. Anak kita tidak akan mendengar ibu dan ayahnya yang sedang berolahraga.''
''Mas gimana sih, tadi katanya kalau kita olahraga, anak kita ikutan juga di dalam sana.''
'Ah salah bicara lagi,' batin Elvan.
Elvan tidak bisa beralasan apa pun lagi, karena istrinya terus menjawab perkataannya.
''Ah tidak jadi,'' Elvan hendak berbalik arah namun istrinya menahannya. ''Kenapa, sayang? Kamu mau apa?''
''Apa Mas Elvan masih ingin jika kita melakukan itu?''
''Memangnya boleh?''
''Ya sudah kalau tidak mau. Aku mau tidur lebih awal.''
Mendengar istrinya yang menyetujuinya, Elvan langsung menggendong istrinya, lalu di rebahkan di atas tempat tidur.
''Sayang, katanya Mas dapat hukuman tidak boleh menyentuhmu?''
''Tidak apa-apa deh sampai aku melahirkan. Setelah aku melahirkan baru aku menghukum Mas Elvan.
Elvan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan lagi. Dia langsung saja menyerang istrinya.
__ADS_1