Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.58 Tamat


__ADS_3

Elvan merasa aneh melihat istrinya yang masih tertidur. Padahal sekarang sudah pukul tujuh pagi. Biasanya istrinya selalu bangun lebih awal.


Elvan yang sudah terlihat rapi, dia mencoba untuk membangunkan istrinya.


"Sayang, kita sarapan yuk! Mas sudah siap sejak tadi nih. Kok tumben sekali kamu tidur terus?" Elvan menggoyang-goyangkan tubuh istrinya yang sedang tidur.


"Emm ... " Rania tampak menggeliat. Dia membuka kedua matanya, menatap suaminya yang berdiri di samping ranjang. "Kamu sudah rapi, Mas?"


"Iya, sayang. Mas tinggal sarapan saja. Sejak tadi nungguin kamu tapi kamunya tidak bangun-bangun."


"Maaf, Mas. Pagi ini aku sedang malas untuk bangun."


"Jadi kamu mau ikut sarapan tidak? Mas mau sarapan nih."


"Tidak deh, Mas Elvan sarapan duluan saja."


"Baiklah, Mas akan sarapan sekaligus berangkat ke kantor," Elvan mengecup sekilas kening istrinya, lalu dia keluar dari kamarnya.


Elvan bergabung dengan ibunya yang berada di ruang makan. Sepertinya ibunya juga baru mau sarapan.


"Van, dimana istrimu?" tanya Bu Rosma.


"Masih mengantuk dia, Mah. Kayaknya tidur lagj deh."


"Tidak biasanya istrimu seperti itu, Van."


"Iya, Mah. Tapi biarkan saja deh. Mungkin dia kecapean karena semalam aku mengajaknya melakukan itu."


"Astaga, jangan tiap malam juga kali, tuh kan istrimu kelelahan."


"Iya deh, besok-besok aku tidak akan mengajak Rani untuk melakukannya setiap hari."


Hanya sebentar mereka berbicara. Kini keduanya fokus menikmati sarapan mereka.


Setelah selesai sarapan, Elvan akan langsung untuk pergi ke kantor. Namun sebelum itu dia menemui anaknya yang berada di kamarnya.


"Sayang, papah berangkat dulu ya. Kamu tidak boleh nakal," Alvin mencium kedua pipi anaknya. Kebetulan anaknya sedang ditemani oleh pembantunya.


Saat hendak pergi, anaknya ingin ikut dengannya. Namun Alvin mencoba bicara perlahan dengan anaknya, bahwa dia tidak bisa mengajaknya. Akhirnya anaknya menurut dengannya.


Beberapa menit setelah kepergian suaminya, Nirmala terbangun dari tidurnya. Dia langsung membersihkan diri. Saat dia pergi keluar kamar, dia melihat suasana tampak sepi. Dia pergi ke kamar anaknya, tapi ternyata anaknya tidak ada.


'Kemana semua orang?' batin Rania.


Tadi Rania juga sudah mencari keberadaan ibunya dan pembantunya, namun tidak ada.


Rania pergi ke depan. Dia bertanya kepada sopirnya yang sedang bersantai di depan rumah.


"Pak, apa bapak melihat mamah dan Kevin?'' Rania bertanya kepada sopirnya yang sedang menikmati secangkir kopi.


''Tadi keluar, Non. Katanya pergi ke taman kompleks,'' jawabnya.


''Syukurlah, saya kira mereka kemana,'' Rania merasa tenang setelah tahu keberadaan mereka.


Rania merasa sangat ingin sarapan bubur ayam. Dia akan pergiย keluar untuk membelinya.


Rania mengambil dompetnya di kamar, lalu dia pergi untuk membeli bubur ayam di depan kompleks. Dia sengaja berjalan kaki karena memang jaraknya dekat. Sesampainya di depan kompleks, Rania menyapa satpam yang sedang berjaga. Lalu dia menyeberang untuk membeli bubur ayamย  yang ada di seberang jalan. Rania tidak langsung pulang, dia memakan bubur ayamnya disana.


''Ah kenyangnya,'' gumam Rania sambil mengusap perutnya dengan tangannya.


Rania langsung pulang setelah selesai memakan bubur ayam. Namun dia sengaja mampir ke taman kompleks. Dia melihat ibu dan anaknya yang masih berada di taman itu. Pembantunya juga ada bersama mereka.


''Wah, lagi pada main nih, mamah boleh gabung tidak?'' tanya Rania yang baru datang.


''Ayo Rai gabung saja. Tuh anakmu terlihat senang sekali di ajak kesini,'' ucap Bu Rosma.


Rania memperhatikan anaknya yang sedang asyik bermain di taman.


''Sayang, kamu kok duduk dibawah? Nanti baju kamu kotor loh,'' Rania mendekati anaknya. Dia hendak menggendong anaknya, namun anaknya tidak mau.


''Biarkan saja, Ran. Dia betah main di bawah. Lagian cuma sekedar duduk. Kalau dia mainan tanah, baru mamah pindahin dia.''


''Ya sudah deh, yang penting Kevin tidak rewel. Oh iya, aku kembali ke rumah ya. Aku sedikit tidak enak badan,'' ucap Rania.


''Kamu sakit, Nak?''


''Hanya sedikit tidak enak badan, Mah.'' jawabnya.


''Ya sudah tidak apa-apa pulang saja, tapi di temani bibi ya.''


''Iya, Mah.'' Rania pergi dari sana diikuti pembantunya yang tadi pergi dengan Bu Rosma.


Sesampainya di rumah, Rania langsung beristirahat di ruang keluarga sambil menonton televisi. Namun baru beberapa menit duduk, dia merasakan lapar lagi. Padahal biasanya kalau sudah makan ya sudah kenyang. Entah mengapa kali ini dia lapar lagi. Rania pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan. Rania melihat masih ada nasi dan lauk, tapi rasanya dia tidak ingin makan nasi. Rania membuka isi kulkas. Dia melihat ada puding, lalu mengambilnya.


Rania sudah kembali ke depan untuk menonton televisi lagi. Namun sambil menikmati puding miliknya.


Tring tring

__ADS_1


Rania melirik ponselnya yang ada di atas meja. Dia melihat siapa yang menelepon. Ternyata itu suaminya.


๐Ÿ“ž''Hallo, Mas. Ada apa?'' tanya Rania.


๐Ÿ“ž''Sayang, kamu sudah bangun?''


๐Ÿ“ž''Sudah, Mas. Aku juga sudah makan loh tadi beli bubur ayam. Tapi sayangnya masih lapar, jadi ini makan puding.''


๐Ÿ“ž''Kok kamu jadi doyan makan sih? Nanti gendut loh.''


๐Ÿ“ž''Memangnya Mas Elvan tidak mau jika melihat istrinya gendut?''


๐Ÿ“ž''Tidak apa-apa sih, sayang. Mau kamu kurus atau pun gendut, Mas tetap cinta.''


๐Ÿ“ž''Uhh suamiku memang yang terbaik. Aku jadi ingin, Mas.''


๐Ÿ“ž''Ingin apa, sayang?''


๐Ÿ“ž''Ingin melakukan itu denganmu.''


๐Ÿ“ž''Sejak kapan istriku jadi nakal hm,'' Elvan merasa jika istrinya sedikit aneh.


๐Ÿ“ž''Mungkin sejak menikah denganmu, Mas. Eh sudah dulu ya, aku lagi nonton televisi nih.''


๐Ÿ“ž''Iya, sayang.''


Kini keduanya sudah selesai berteleponan. Rania yang bilangnya mau lanjut nonton televisi, nyatanya dia malah mematikan televisinya. Rania pergi ke kamar untuk bersiap. Dia berniat untuk pergi ke kantor suaminya. Entah kenapa dia sangat ingin bertemu dengan suaminya.


Terlihat Rania menuruni tangga, dan penampilannya sudah rapi. Rania melihat Bu Rosma dan anaknya yang baru pulang.


"Rani, kamu mau kemana?" tanya Bu Rosma.


"Tiba-tiba aku ingin ke kantor Mas Elvan, Mah. Aku kangen sama Mas Elvan. Kalau aku titip Kevin sama mamah, apa tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa, Nak. Kamu pergi saja!"


Setelah berpamitan kepada Bu Rosma, Rania langsung pergi diantar oleh sopirnya.


Bu Rosma menatap kepergian menantunya dengan sedikit aneh. Tidak biasanya menantunya menyusul suaminya ke kantor saat masih pagi seperti ini. Paling tidak biasanya menantunya pergi untuk mengantar makan siang. Namun kaliย ini menantunya sedikit aneh.


Rania sudah berada di perjalanan. Dia sengaja tidak memberitahu suaminya jika dia akan datang. Karena dia ingin kedatangannya itu menjadi kejutan.


Akhirnya Rania sampai juga di kantor suaminya. Dia yang baru turun dari mobil, langsung saja melangkahkan kakinya memasuki kantor suaminya. Kedatangannya itu disambut oleh karyawan suaminya yang berpapasan dengannya atau pun yang melihatnya. Rania memasuki lift, lalu memencet tombol menuju ke lantai paling atas.


Ting


Rania membuka pintu ruangan suaminya tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Kejutan .... " ucap Rania yang baru datang.


Elvan yang sedang bekerja, dia menatap ke sumber suara. Wajahnya tersenyum karena merasa bahagia dengan kedatangan istrinya.


"Sayang, kamu kok datang jam segini. Tumben sekali loh," Elvan menghentikan pekerjaannya. Dia menghampiri istrinya yang sedang menutup pintu.


Rania bukan hanya menutup pintu, namun dia juga mengunci pintu ruangan suaminya.


"Aku kangen sama kamu, Mas." Rania bergelayut manja di lengan suaminya.


"Kenapa pintunya pakai dikunci segala?"


"Aku hanya tidak mau jika ada orang lain yang melihat kita," Rania mendorong suaminya, lalu membiarkan suaminya bersandar di dinding. Dengan cepat dia menyambar bibir suaminya yang sudah menjadi candu.


Elvan menyambut hangat apa yang dilakukan oleh istrinya.


Rania membuka satu persatu kancing kemejaย  suaminya.


"Sayang, kita di kantor loh. Apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Elvan.


"Iya, Mas. Aku sudah tidak tahan," Rania membuka ikat pinggang suaminya. Dia juga membuka resleting celana suaminya.


Saat melihat istrinya menaikan dresnya, Elvan mengajak istrinya untuk berpindah tempat.


"Jangan melakukan disini, sayang! Kita melakukannya di sofa saja."


Saat sudah berada di dekat sofa, Rania mendorong suaminya sehingga kini duduk di sofa. Lalu dia naik ke pangkuan suaminya. Elvan membiarkan apa yang dilakukan oleh istrinya. Menurutnya istrinya begitu agresif. Ini pertama kalinya dia melihat istrinya seperti itu.


Rania memejamkan kedua matanya saat baru melakukan penyatuan.


Elvan duduk sambil menyandarkan kepalanya ke sofa. Dia menikmati sensasi nikmat dari istrinya.


Rania sudah meracau tak jelas di pangkuan suaminya. Dia menaik turun kan tubuhnya mencari kepuasan.


Elvan melihat istrinya yang tiba-tiba berhenti.


"Kenapa kamu berhenti, sayang?" tanya Elvan.


"Aku lelah, Mas."

__ADS_1


"Baiklah, biar Mas yang ambil kendali," Elvan merubah posisi mereka. Namun dia meminta istrinya untuk berbaring di sofa.


Elvan langsung menyerang istrinya dengan kasar. Karena seperti itulah yang biasanya membuat istrinya puas. Rania tampak menikmati apa yang dilakukan oleh suaminya. Dia berpegangan pada pinggiran sofa untuk menahan tubuhnya agar tidak terpental. Namun tiba-tiba dia merasakan perutnya yang sangat sakit.


"Aww aduh ... " Rania merintih.


Spontan Elvan menghentikan aksinya.


"Sayang, kamu kenapa?" Revan panik saat mendengar istrinya merintih.


"Tiba-tiba aku merasakan perutku sakit, Mas."


"Sepertinya Mas terlalu kasar melakukannya. Maafkan Mas ya, sayang."


"Tidak kok, Mas. Aku suka yang kasar."


"Tapi sekarang perutmu sakit, sayang. Kita langsung ke rumah sakit ya. Mas tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu."


"Iya, Mas."


Elvan membersihkan bagian bawah istrinya. Setelah itu dia membantu istrinya untuk kembali berpakaian.


"Sayang, kamu tunggu mas sebentar ya! Mas mau ke toilet dulu mau bersih-bersih."


"Iya, Mas."


Lima belas menit kemudian, Elvan sudah selesai membersihkan dirinya. Dia menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa. Elvan menggendong istrinya, lalu membawanya keluar.


Semua karyawan yang berpapasan dengan Elvan, mereka melihat jika Elvan yang begitu perhatian kepada istrinya.


Elvan meminta sopir istrinya untuk mengantar mereka pergi ke rumah sakit. Elvan dan istrinya duduk di jok belakang. Sepanjang perjalanan, dia terus mengusap pelan perut istrinya yang masih sakit.


Untung saja jalanan tidak macet, sehingga mereka bisa lebih cepat sampai di rumah sakit.


Elvan turun dari mobil, dia menggendong istrinya memasuki rumah sakit. Dia meminta pertolongan kepada seorang perawat yang lewat, agar istrinya bisa ditangani dengan cepat.


Kini Rania sudah berada di ruang penanganan dan sedang di tangani oleh Dokter.


Elvan yang sedang duduk, dia melihat pintu ruangan itu terbuka. Dia beranjak dari duduknya, lalu menghampiri dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Elvan.


"Mari kita bicara di dalam saja, Pak!" ucapnya.


"Baik, Pak."Elvan mengikuti dokter itu memasuki ruangan dimana istrinya berada.


Kini keduanya duduk saling berhadap-hadapan.


"Setelah saya memeriksa, ternyata istri bapak tidak sakit, namun dia sedang hamil. Hanya saja sepertinya terjadi guncangan hebat sehingga istri bapak merasakan sakit perut."


"Hamil, Dok?" Elvan terlihat senang saat mengetahui fakta itu.


"Benar, Pak. Saya minta agar kalian jangan melakukan aktivitas yang bisa membahayakan janin, seperti berhubungan suami istri. Karena sekarang kehamilan istri anda masih sangat rentan."


"Baik, Dok."


Rania yang sedang berbaring di ranjang pasien, dia menghampiri suaminya.


"Mas, aku senang karena kita diberi kepercayaan lagi," Rania mendudukkan diri di sebelah suaminya.


"Iya, sayang. Mas juga senang karena kamu hamil lagi."


Dokter memberikan resep obat yang sudah di tuliskan kepada Elvan.


"Ini resep obat dan vitamin yang harus di tebus, Pak.


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama, semoga istrinya lekas sembuh."


"Amin," ucap Alvin dan Rania bersamaan.


Alvin dan Rania berpamitan kepada dokter, lalu mereka keluar dari ruangan itu. Mereka akan menebus obat, setelah itu akan langsung pulang.


"Mas, aku senang deh karena akhirnya aku hamil lagi."


"Mas juga senang, sayang. Mas janji akan menjaga kamu dan calon anak kita. Mas tidak mau kalian kenapa-napa," Elvan mendaratkan ciumannya di kening istrinya.


Rania merasa beruntung karena suaminya terlihat begitu menyayanginya. Dia harap bukan hanya sekarang suaminya sangat perhatian, namun besok, nanti dan seterusnya dia ingin jika suaminya akan seperti itu.


Rania tersenyum menatap suaminya. Dia menggadeng tangan suaminya.


.


.


.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2