
Pagi ini Rania terbangun dari tidurnya. Dia meraba kasur sebelahnya. Namun ternyata suaminya sudah tidak ada. Rania membuka kedua matanya. Dia mendudukkan diri di atas tempat tidur.
'Tumben sekali Mas Elvan sudah bangun duluan,' batin Rania.
Rania melihat pintu kamar mandi terbuka. Terlihat suaminya keluar hanya menggunakan handuk saja untuk menutupi tubuhnya.
"Mas, tumben sekali kamu bangun lebih awal," ucap Rania.
"Iya nih, kebetulan hari ini ada kerjaan penting," jawabnya.
"Bagaimana jika aku ikut dengan Mas Elvan pergi ke kantor," Rania langsung turun dari atas tempat tidur.
"Tidak usah, sayang. Kamu di rumah saja istirahat."
"Aku mau ikut, dan Mas Elvan tidak bisa melarangku."
''Baiklah, Mas izinkan kamu ikut.''
Rania langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sebenarnya Rania sengaja ingin ikut ke kantor. Dia akan menyelidiki Nayla. Bisa saja selama ini Nayla sering menggoda suaminya. Atau mungkin Nayla itu wanita murahan. Rania tidak akan membiarkan suaminya menghabiskan waktu lagi bersama sekretarisnya itu.
Elvan dan Rania keluar dari kamar, keduanya sudah berpakaian rapi. Mereka akan langsung berangkat ke kantor.
Bu Rosma melihat anak dan menantunya yang berjalan berdampingan ke arahnya.
''Wah anak-anak mamah mau kemana nih?'' Bu Rosma bertanya sambil menatap anak dan menantunya.
''Mau ke kantor, Mah. Kebetulan Rania juga mau ikut,'' kata Elvan.
''Syukurlah kalau kalian akur. Tapi kalian sarapan dulu kan?''
''Tidak, Mah. Nanti sarapan di kantor saja,'' ucap Elvan.
''Tapi istrimu sedang hamil, Van. Masa kamu membiarkan dia pergi dengan perut kosong sih.''
''Rani mau bawa bekal saja, Mah.'' Rania berlalu pergi ke dapur. Dia akan menyiapkan bekal untuk sarapannya nanti.
Rania sudah selesai menyiapkan bekal. Dia menghampiri suaminya yang sedang duduk bersama ibunya.
__ADS_1
''Ayo, Mas!'' ajaknya.
''Iya, sayang.''
Elvan langsung berpamitan kepada ibunya, begitu juga dengan Rania yang ikut berpamitan.
Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil. Sesekali Rania menatap suaminya yang sedang mengemudi.
'Sampai sekarang pun kamu kok tidak jujur sama aku, Mas. Apa kamu memang sengaja? Atau mungkin kamu takut kalau aku marah. Jujur aku merasa sangat sakit kalau mengingat hari itu. Hari dimana aku melihatmu bersama wanita lain di bawah selimut yang sama,' batin Rania.
Sebenarnya Rania ingin sekali bertanya semua kebenaran itu kepada suaminya. Namun dia tidak punya keberanian. Takutnya jawaban yang suaminya katakan itu hal yang nantinya membuat hatinya terluka. Untuk sekarang Rania ingin menyelidikinya dulu. Dia ingin mencari tahu seperti apa sekretaris suaminya. Jika ternyata memang wanita penggoda, Rania akan langsung meminta suaminya untuk memecatnya.
Sesampainya di kantor, Rania mengikuti suaminya hingga kini sampai di ruangannya. Rania hanya memainkan ponselnya sambil duduk. Sedangkan Elvan sudah mulai mengerjakan pekerjaannya.
'Lebih baik aku temui Kak Reno saja. Siapa tahu aku bisa dapat informasi tentang Nayla,' batin Rania.
Rania berpamitan kepada suaminya jika dia akan pergi keluar sebentar.
Rania sudah berada di depan ruangan Reno. Dia mengetuk pintu ruangan itu. Setelah dipersilakan masuk, Rania lanagsung masuk ke dalam.
''Selamat pagi, Bu Bos. Ada yang bisa saya bantu?'' tanya Reno.
''Silakan duduk dulu!'' ucapnya dengan ramah.
Rania langsung duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Reno.
''Kak Reno kenal dekat tidak sama Nayla?'' tanya Rania.
''Lumayan dekat, karena kita kerja bertiga. Memangnya kenapa?''
''Apa Nayla itu ada hubungan sama suami saya?''
Mendengar penuturan Rania, tentu Reno terkejut. Karena Nayla itu wanita baik-baik.
''Setahu saya sih tidak ada hubungan spesial kecuali rekan kerja. Lagian Nayla itu wanita baik-baik,'' jawabnya.
''Kak Reno bicara seperti itu bukan karena Kak Reno juga simpanannya dia kan?''
''Aduh bumil ada-ada saja sih kalau bicara. Sedang cemburu ya sama suami?''
__ADS_1
''Lebih dari cemburu. Saya sedang menyelidiki hubungan mereka.''
''Kenapa terlihat yakin sekali kalau mereka memiliki hubungan serius?''
''Karena ada buktinya,'' Rania mengambil ponselnya. Dia mencari video durasi pendek dimana suaminya dan Nayla sedang memadu kasih.
Reno hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menatap video atasannya itu.
''Saya tidak menyangka jika Pak Bos melakukan itu. Selama ini mereka terlihat biasa saja sih. Saya tidak melihat ada hubungan spesial diantara keduanya.''
''Bisa jadi saat di belakang kita, mereka memang bermain api.''
''Ibu Bos tenang saja, saya akan menyelidiki mereka.''
''Bagus, saya tunggu saja kabar dari Kak Reno. Oh iya, bolehkah aku meminta nomor ponsel Kak Reno? Ya biar kita saling berkomunikasi membahas masalah ini. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, Kak Reno bisa bicara sama aku.''
''Boleh,'' Reno memberikan ponselnya kepada Rania, membiarkan Rania untuk menyalin nomor ponselnya.
...............
Rania dan Reno sudah menyelidiki Elvan dan Nayla. Namun di antara keduanya tidak ada hal yang mencurigakan.
Terlihat Reno yang baru keluar dari ruangannya. Dia hendak pulang. Namun sebelum pergi, dia berpamitan dulu kepada Elvan. Saat Reno sudah sampai di lantai bawah, tiba-tiba dia ingat jika ponsel miliknya tertinggal. Reno memilih untuk kembali ke atas.
Kini dia sudah sampai di lantai atas. Saat dia melangkah menuju ke ruangannya, tak sengaja dia mendengar suara samar-samar dari ruangan Nayla. Reno melihat pintu ruangan Nayla yang tidak tertutup rapat. Dia melihat ke dalam sekaligus menguping pembicaraan.
''Kalau kamu hamil, kamu bilang saja sama aku. Aku pasti akan bertanggung jawab dengan anak itu.''
''Iya, Pak. Tapi saya rasa bapak tidak perlu sampai bertanggung jawab. Karena kita sama-sama tidak mengingat kejadiana itu,'' ucap Nayla.
Reno yang berada di depan pintu, dia sangat terkejut mendengar pembicaraan Elvan dan Nayla. Dia tidak pernah menyangka jika keduanya mempunyai hubungan khusus. Bahkan tadi dia mendengar kata hamil. Tapi sekarang percaya atau tidak, dia harus menaruh curiga kepada keduanya. Mungkin Rania juga sudah mencurigai suaminya. Sehingga beberapa hari yang lalu menanyakan tentang Nayla.
'Apa aku harus katakan semua yang aku dengar ini kepada Rania. Tapi ini sangat menyakitkan jika dia sampai tahu,' Reno masih bimbang. Dia tidak mau jika terjadi sesuatu kepada Rania jika saja dia membicarakan apa yang dia dengar.
Reno buru-buru pergi dari sana karena takut ketahuan.
Beberapa menit setelah kepergian Reno, terlihat Elvan yang keluar dari ruangan sekretarisnya. Dia dan sekretarisnya keluar bersamaan, namun mereka tidak pulang bersama.
Elvan sudah berada di mobil. Dia segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya. Saat di perjalanan, dia melihat ada toko kue bolu yang merupakan makanan kesukaan istrinya. Elvan memutuskan untuk singgah. Dia memarkirkan mobilnya di depan toko kue itu.
__ADS_1
'Mungkin Rania akan senang jika aku membelikannya kue,' batin Elvan sambil melangkah mendekati toko itu.