
Elvan melihat istrinya yang sedang rebahan di atas tempat tidur. Bahkan istrinya belum mandi sejak tadi.
''Sayang, cepat bangun! Katanya kita mau beli perlengkapan bayi,'' Elvan mendekati istrinya, dia meminta istrinya untuk turun dari atas tempat tidur.
''Aku malas sekali mandi, Mas.'' ucapnya dengan sedikit merengek.
''Lalu kita mau pergi kapan? Kalau nanti siang keburu panas loh.''
'''Sekarang juga panas, Mas.''
''Iya, tapi kalau sekarang sinar mataharinya menyehatkan, sayang.''
''Tapi aku malas mandi gimana dong?''
'Biar Mas yang mandiin kamu saja.''
''Ah tidak mau, nanti Mas Elvan malah macam-macam.''
''Tidak akan, sayang. Kamu kan sedang hamil.''
''Baiklah aku mau,'' Rania langsung beranjak dari atas tempat tidur.
Elvan membantu istrinya untuk melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu keduanya masuk ke kamar mandi. Elvan benar-benar memandikan istrinya. Dia tidak melakukan hal-hal lain.
Terlihat Elvan yang sedang mengeringkan tubuh istrinya dengan handuk. Setelah itu dia mengajak istrinya keluar dari kamar mandi.
''Sayang, kamu mau pakai pakaian yang mana? Biar Mas carikan ya,'' Elvan mendekati lemari pakaian lalu membukanya.
''Terserah Mas Elvan saja. Tapi aku tidak mau pakai yang lengan panjang, nanti gerah loh.''
''Baik, sayang.'' Elvan menatap deretan pakaian milik istrinya. Dia mengambilkan dres lengan pendek namun bawahnya panjang. ''Sayang, kamu pakai ini saja ya,'' Elvan memperlihatkan dres yang sedang dia pegang kepada istrinya.
''Baiklah,'' Rania hanya menurut saja.
Elvan juga sudah mengambilkan dalaman untuk istrinya. Dia langsung membantu istrinya untuk memakainya. Pagi ini Elvan merasa puas, karena dengan kemanjaan istrinya, dia bisa bebas memegang-megang bagian tubuh istrinya.
''Mas, kok pakaikan bra juga lama sekali?''
''Tidak kok, sayang. Mas sedikit memandang, ini kan kesempatan langka,'' Elvan tampak cengengesan.
Plak
Rania memukul pelan lengan suaminya.
__ADS_1
''Biar aku pakai sendiri. Keburu aku kedinginan loh.''
''Maaf, sayang. Jangan ngambek dong.''
''Makannya jangan macam-macam.''
Elvan melanjutkan lagi membantu memakaikan pakaian ke tubuh istrinya.
Kini Rania sudah tampak rapi, bahkan dia juga sudah memoles wajahnya dengan riasan yang sedikit tipis.
''Mas, ayo berangkat!'' Rania menyambar tas miliknya yang ada di atas sofa. Dia menatap suaminya yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
''Iya, sayang.'' Elvan menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja, lalu mengikuti istrinya yang sudah melangkah duluan.
Dengan menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mereka sampai juga di toko perlengkapan bayi. Sebenarnya karena tadi singgah dua kali, jadi mereka sampai agak telat.
Elvan menatap istrinya yang sedang makan batagor. Kebetulan tadi membelinya di penjual batagor pinggir jalan.
''Sayang, kita sudah sampai nih.''
''Sebentar, Mas. Aku habisin batagorku dulu,'' Rania tampak lahap memakan batagor.
Beberapa menit kemudian Rania sudah selesai memakan batagor.
''Siap, sayang.'' Elvan membuka apintu mobilnya, begitu juga dengan istrinya.
Kebetulan sekali di depan toko itu ada wastafel, jadi Rania cuci tangan disana saja, Dia tidak jadi ke toilet.
''Selamat datang, Pak, Bu. Silakan di pilih-pilih,'' ucap seorang pelayan yang menyapa Elvan dan Rania dengan ramah.
''Terima kasih, Mba. Kebetulan kami ingin membeli perlengkapan bayi,'' ucap Rania.
''Untuk bayi laki-laki atau perempuan?''
''Laki-laki, Mba.''
''Biar saya bantu carikan. Mari masuk!''
Elvan dan Rania memilih-milih pakaian bayi laki-laki. Mereka asal ambil saja, asal menurut mereka itu bagus.
Cukup banyak juga yang mereka beli. Rania memilih untuk duduk, sedangkan suaminya sedang berada di kasir untuk membayar barang belanjaan mereka. Elvan meminta pegawai toko untuk membawakan barang belanjaan mereka ke mobil, sedangkan dia dan istrinya pergi duluan ke mobil.
.......
__ADS_1
Rania melihat persediaan susu miliknya, namun ternyata tinggal sedikit. Rania menghampiri Bu Rosma yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah.
"Mah, ke supermarket yuk! Persediaan susu milikku sudah habis," Rania mendudukkan dirinya di depan Bu Rosma.
"Sekarang?"
"Iya, Mah. Mamah mau kan anterin aku?"
"Mau, nanti sekalian mamah belanja juga. Ya sudah, lebih baik sekarang kita bersiap saja."
Rania dan Bu Rosma sama-sama pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
Kini keduanya sudah selesai bersiap. Mereka akan pergi dengan di antar oleh sopir. Namun sebelum pergi Rania menelepon suaminya dan berbicara jika dia akan pergi ke swalayan bersama Bu Rosma. Elvan tidak marah saat tahu jika istrinya akan pergi. Lagian perginya juga bersama ibunya, pasti akan aman-aman saja.
Rania dan Bu Rosma sudah sampai di swalayan. Mereka tampak berkeliling mencari sesuatu yang akan mereka beli.
Bu Rosma melihat menantunya yang sedang berdiri di depan etalase deretan susu ibu hamil.
"Rani, mamah mau keliling dulu ya sebentar. Mamah mau cari barang-barang yang mau Mamah beli.
"Iya, Mah. Aku juga mau berkeliling cari sesuatu yang mau aku beli selain susu."
Bu Rosma langsung pergi dari hadapan Rania.
Setelah mengambil susu ibu hamil dan memasukkannya ke troli, kini Rania berkeliling untuk mencari barang yang akan dia beli. Tak sengaja dia bertabrakan dengan seseorang.
"Aduh bagaimana sih? Kalau jalan hati-hati dong," ucap orang itu yang tak lain adalah Clara.
"Maaf, Non Clara."
Clara menatap Rania dari atas sampai bawah. Dia juga melihat perut Rania yang sudah besar.
"Sepertinya sekarang kamu sudah bahagia. Tapi jangan senang dulu, nanti juga kamu di tendang dari keluarga itu," ucap Clara.
"Itu tidak akan," ucap seseorang dari arah belakang yang tak lain adalah Bu Rosma.
Keduanya menoleh ke sumber suara.
"Eh mamah, kita ketemu disini,' kata Clara, sambil menatap Bu Rosma.
"Jangan panggil mamah! Memangnya saya ibumu. Dan satu lagi, jangan pernah ganggu menantu kesayangan saya!" sorot mata itu begitu tajam menatap Clara.
Clara langsung saja pergi dari sana tanpa permisi.
__ADS_1