Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.43


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Yaitu hari kelahiran anak pertama dari pasangan Elvan dan Rania. Saat ini Rania sudah berada di rumah sakit. Kebetulan beberapa menit yang lalu Elvan baru sampai di rumah sakit untuk mengantar istrinya yang akan melahirkan.


Terlihat Bu Rosma datang dengan membawa tas ukuran sedang. Bu Rosma sengaja datang lebih telat dari pada anaknya. Karena tadi habis menyiapkan pakaian bayi untuk di bawa ke rumah sakit. Dan juga membantu bibi membereskan kamar yang akan di siapkan untuk cucunya nanti jika sudah lahir.


Bu Rosma menghampiri Elvan yang sedang duduk di depan ruang persalinan.


"Van, bagaimana keadaan istrimu? Apa sudah melahirkan?"


"Lagi proses, Mah. Barusan dokter dan perawat lainnya sudah memasuki ruang persalinan," ucap Elvan.


"Kita doakan yang terbaik saja untuk istrimu, Nak. Semoga persalinannya lancar. Oh iya kenapa kamu tidak ikut menemani istrimu di dalam? Harusnya kamu menemaninya disaat dia berjuang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anak kalian."


"Sebenarnya sih aku ingin masuk, tapi tadi Rania bilang kalau aku tunggu di luar saja. Dia malu jika  aku ikut."


"Baiklah, kalau begitu kita tunggu saja dulu."


Setelah cukup lama menunggu akhirnya pintu ruang persalinan terbuka. Terlihat dokter yang menangani Rania keluar dari ruangan itu.


"Dok, bagaimana istri dan anak saya? Apa keduanya baik-baik saja?" Tanya Elvan yang saat ini sudah berdiri di dekat dokter itu.


"Alhamdulillah, persalinannya berjalan dengan lancar. Ibu dan anaknya baik-baik saja.''


Elvan dan Bu Rosma merasa lega mendengar penuturan dokter.


''Dok, apa saya boleh menemui istri saya?'' tanya Elvan.


''Silakan, Pak.''


Elvan dan Bu Rosma memasuki ruangan itu.


Seorang perawat memberikan bayi tampan mungil itu kepada Elvan. Elvan menggendongnya, lalu dia mengadzankannya.


Rania tersenyum melihat suaminya yang sedang mengadzankan anaknya.


Setelah selelsai mengadzankan, Elvan kembali memberikan anaknya ke perawat yang tadi. Bayi mungil itu langsung dibawa ke ruangan bayi.

__ADS_1


''Dok, kapan saya di perbolehkan pulang?'' Rania bertanya kepada dokter yang tadi menanganinya.


''Mungkin sekitar dua sampai tiga hari, Bu. Oh iya sekarang ibu akan langsung di pindahkan ke ruang perawatan, kebetulan ruangan ini akan di pakai oleh pasien lain yang akan melahirkan juga,'' ucap dokter.


''Dok, siapkan ruangan terbaik saja. Nanti sekalian anakku juga di pindahkan ke ruangan yang sama dengan istriku,'' pinta Elvan.


''Baik, Pak.


Kini Rania langsung di pindahkan ke ruang perawatan. Setelah mengantar istrinya ke ruang perawatan, Elvan mengikuti seorang perawat yang akan memindahkan bayi mereka dari ruang bayi. Sesampainya di ruang bayi Elvan dan perawat itu tidak melihat anak Elvan dan Rania. Box bayi tempat bayi mungil itu sudah kosong.


''Sus, dimana anak saya? Kenapa tidak ada?'' tanya Elvan.


''Tadi ada kok, ini aneh sekali. Kenapa sekarang jadi tidak ada?''


''Siapa yang berani mengambil ankku?'' Elvan mengusap rambutnya dengan kasar.


''Kita lihat CCTV rumah sakit saja, Pak. Dari sana bisa terlihat semuanya.''


''Baik, ayo cepat! Saya takut sekali jika anak saya kenapa-napa,'' dengan cepat Elvan keluar dari ruangan itu.


Kini keduanya sudah berada di ruangan CCTV. Elvan meminta petugas CCTV untuk mengecek CCTV di ruangan bayi. Kini Elvan tampan serius menatap tayangan CCTV itu. Dia mengepalkan kedua tangannya saat tahu siapa yang sudah menculik anaknya. Ternyata dia Clara mantan istrinya.


Elvan berkeliling di sekitar rumah sakit untuk mencari keberadaan Clara. Namun dia tidak menemukannya. Lalu dia pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya. Sepertinya dia harus mencari Clara ke tempat lain. Tempat pertama yang akan dia tuju yaitu rumah Clara. Bisa saja Clara membawa bayi mungil itu pulang ke rumahnya.


Dalam perjalanan, dia mendengar ponselnya berdering. Ternyata itu istrinya yang menghubunginya. Elvan langsung mengangkat panggilan telepon itu.


''Hallo, sayang. Ada apa?''


''Mas, kamu pergi kemana sih? Kok lama sekali perginya?'' tanya Rania.


''Mas sedang keluar sebentar, sayang. Maaf ya tadi Mas lupa bilang.''


''Keluar kemana, Mas?''


''Mas sedang cari makan, tadi mendadak lapar.''


''Oh iya hati-hati, Mas.''

__ADS_1


Kini keduanya sudah selesai berteleponan. Elvan menaruh ponselnya, lalu dia kembali fokus mengemudi.


Sesampainya di rumah Clara, ternyata Clara tidak ada di rumah. Di rumah itu hanya ada pembantunya saja. Elvan memaksa masuk ingin mengecek rumah itu. Karena mungkin saja anaknya ada di dalam


Setelah mengecek ke dalam, ternyata anaknya tidak ada disana. Elvan langsung saja pergi. Kali ini dia akan mencari Clara ke apartemen.


Elvan duduk di dalam mobil dan tampak diam. Lalu dia teringat jiika dia bisa melacak nomor. Dia langsung saja melacak keberadaan Clara. Ternyata benar, saat ini Clara berada di apartemen. Elvan langsung menghubungi n polisi dan memintanya untuk datang ke apartemen Clara. Dia juga segera mengemudikan mobilnya menuju ke apartemen itu.


Sesampainya di apartemen itu, ternyata bertepatan dengan kedatangan polisi. Elvan mengajak polisi itu untuk pergi bersamanya ke apartemen yang di tinggali oleh Clara.


Elvan yang sedang berdiri di depan apartemen, dia langsuyng memencet bel. Sedangkan dua orang polisi yang bersamanya, mereka bersembunyi agar tidak terlihat oleh Clara.


Clara yang sudah membuka pintu apartemen, dia melihat Elvan berdiri disana.


''Cla, dimana anakku?'' tanya Elvan.


''Kenapa tanya anak ke aku?" Tanyakan saja kepada istrimu itu!''


''Kamu tidak usah mengelak lagi, Cla. Aku tahu kok kalau kamu datang ke rumah sakit dan mengambil anakku. Aku sudah melihatnya dari rekaman CCTV rumah sakit.''


Clara yang mendengar Elvan berbicara seperti itu, dia langsung saja menutup pintunya. Namun Elvan lebih cepat menahan pintu itu sehingga Clara tidak bisa menutupnya. Lalu kedua polisi muncul dari tempat persembunyiannya.


''Jangan bergerak! Biarkan kami menggeledah tempat ini!'' salah seorang polisi mengarahkan pistol kepada Clara. Sedangkan polisi yang satunya langsung saja menerobos masuk.


Elvan juga ikut masuk ke dalam untuk mengecek keberadaan anaknya.


Clara hendak kabur, namun dia di kejar oleh polisi yang tadi mengarahkan pistol. Sekarang Clara tidak bisa berbuat apa pun lagi. Dia harus berurusan dengan hukum karena sudah menculik bayi dari rumah sakit. Apalagi bukti yang dimiliki oleh Elvan sangatlah kuat.


Elvan masuk ke dalam sebuah kamar, dia melihat putranya yang terbaring di atas tempat tidur.


''Anakku, akhirnya papah menemukanmu, Nak.'' Elvan langsung saja menggendong anaknya.


''Pak Elvan, bisakah setelah ini ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan?'' tanya Pak Polisi.


''Baik, Pak. Tapi saya mau ke rumah sakit dulu untuk mengantarkan anak saya kepada istri saya. Saya takut jika anak saya ini kenapa-napa, karena tadi di bawa pergi sama Clara.''


''Baiklah, saya tunggu di kantor.''

__ADS_1


Kini keduanya keluar dari apartemen itu.


__ADS_2