Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.48


__ADS_3

Rania melihat Ningsih ysng sedang memasak di dapur. Namun Ningsih memasak agak banyak dari biasanya.


"Ning, itu banyak sekali masaknya. Aku dan mamah tidak mungkin akan habiskan semuanya loh," ucap Rania yang baru sampai di dapur.


"Saya sengaja masak agak banyak, Non. Nanti saya mau mengantar makan siang untuk Tuan dan juga Mas Reno."


"Jadi kamu mau ke kantor suami saya?"


"Iya, Non. Tapi itu juga kalau boleh."


"Boleh sekali. Nanti biar di antar sopir ya."


"Baik, Non."


Rania tetap disana, dia membantu Ningsih. Dia ingin menyiapkan bekal sendiri untuk suaminya.


Rania sudah menaruh makan siang untuk suaminya ke dalam wadah. Dia juga sudah menyiapkan buah potong untuk suaminya. Dia juga menuliskan memo untuk suaminya dan ditempel di atas tempat makan.


''Ningsih, nanti kamu kasihkan ini untuk suami saya ya,'' pinta Rania.


''Baik, non.'' jawabnya.


Rania berlalu pergi dari dapur. Dia akan mengajak Bu Rosma untuk makan siang. Kebetulan makan siangnya sudah di hidangkan ke atas meja.


Ningsih pergi ke kamar untuk bersiap-siap. Dia akan memakai pakaian terbaiknya. Setelah bergantai pakaian dia kembali ke dapur dan bersiap untuk pergi.


Rania dan Bu Rosma yang hendak pergi ke ruang makan, melihat Ningsih yang terlihat sudah bersiap pergi dengan menenteng dua kotak makan siang.


''Ningsih, semangat. Kami mendukungmu,'' ucap Bu Rosma.


''Saya jadi malu, Nyonya.''


''Tidak usah malu-malu, nanti keburu ketikung orang,''


''Saya pamit pergi dulu ya, Non, Nyonya. ucap Ningsih berpamitan.


Setelah berpamitan, Ningsih segera keluar. Dia menghampiri Pak sopir yang sedang duduk bersantai bersama satpam penjaga gerbang. Dia memintanya untuk mengantarkannya pergi.


Saat ini Ningsih sudah berada di perjalanan. Dia sudah tak sabar untuk bertemu dengan lelaki pujaannya.


Sesampainya di kantor, Ningsih tampak terperangah melihat bangunan menjulang tinggi di depannya. Lalu dia melangkah masuk ke dalam kantor itu. Ningsih yang merasa bingung, dia menghampiri resepsionis yang sedang berjaga.


''Maaf, Kak. Saya mau tanya. Dimana ruangan Pak Elvan dan Pak Reno?''


''Mau ngapain ya cari atasan kita?''


''Saya mau mengantar makan siang. Saya ini pembantu di rumah Pak Elvan.''


''Oh seperti itu. Ruangan Pak Elvan dan Pak Reno itu ada di lantai paling atas. Kebetulan ruangan mereka juga berhadap-hadapan.''


''Baik, Kak. Terima kasih.''


''Sama-sama,'' jawabnya.


Ningsih langsung bertanya dimana letak lift. Saat sudah dikasih tahu, dia langsung saja pergi menuju ke lift yang berada tak jauh dari sana.


Akhirnya Ningsih sampai juga di lantai atas. Dia langsung mencari letak ruangan Elvan. Saat sudah ketemu, dia mengetuk pintu masuk ruangan itu.


Tok tok


''Permisi,'' ucap Ningsih.

__ADS_1


"Masuk!" jawab Elvan, dari dalam.


Ningsih langsung membuka pintu. Dia melangkah menghampiri Elvan yang sedang serius bekerja.


"Permisi, Tuan. Saya mau mengantar makan siang," kata Ningsih.


"Taruh saja dimeja! Oh iya tadi istri saya menelepon, katanya kamu mau antar makan siang untuk Reno."


"Iya, Tuan."  Ningsih tampak malu.


"Langsung ke ruangannya saja."


"Baik, Tuan." Ningsih segera keluar dari ruangan itu.


Elvan mengambil memo yang di tuliskan oleh istrinya. Dia tersenyum saat membaca tulisan itu.


'Kamu perhatian sekali sih, sayang." Batin Elvan.


Elvan menghentikan pekerjaannya. Dia akan segera makan siang karena sudah tak sabar untuk melahap bekal makan siang yang disiapkan oleh istrinya.


Ningsih tampak gugup, beberapa kali dia menghirup napasnya sebelum mengetuk pintu ruangan Reno.


Tok tok


"Permisi," ucap Ningsih.


"Masuk!"


Ningsih membuka pintu ruang kerja Reno.


Reno mengernyitkan keingnya saat melihat pembantunya Elvan datang ke ruangannya.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Reno.


"Jangan panggil saya bapak!"


"Baiklah, Mas."


"Jangan panggil Mas, kamu itu bukan siapa-siapa saya."


"Maaf, Tuan."


"Terserah deh mau panggil siapa, yang penting jangan panggil Mas. Oh iya makasih ya untuk makanannya."


"Sama-sama," jawabnya.


Reno melihat Ningsih yang masih berdiri disana.


"Ngapain kamu masih berdiri disitu?"


"Mau nungguin Tuan selesai makan," jawabnya.


"Pergi saja! Lagian ngapain di tungguin?"


"Tapi kotak makannya, nanti saya akan bawa lagi."


"Tidak usah, kamu pulang saja! Nanti bisa saya titipkan ke Pak Elvan."


Ningsih sedikit menunduk, terlihat jelas bahwa Reno terang-terangan menolak keberadaannya. Akhirnya dia pergi dari ruangan itu.


Dengan lesu, Ningsih keluar dari kantor. Dia menghampiri Pak Sopir yang sedang menunggunya di parkiran.

__ADS_1


"Pak, kita langsung pulang." Ucap Ningsih.


"Baik, Neng Ningsih."


Rania yang sedang duduk bersantai di depan rumah, melihat pembantunya yang sudah pulang. Namun tidak membawa kotak makan yang tadi dibawanya.


"Ningsih, kok cepat sekali pulangnya?" tanya Rania.


"Iya, Tuan Reno mengusirku."


"Kenapa panggil tuan, bukankah sebelumnya panggilnya Mas tampan?"


"Dia tidak mau dipanggil seperti itu, katanya aku ini bukan siapa-siapanya. Jadi tidak pantas jika memanggilnya dengan sebutan Mas."


"Sombong sekali Kak Reno ini, oke nanti aku kasih pelajaran."


"Jangan, Non! Saya malu nanti."


"Baiklah, aku tidak akan mengatakan apa pun."


Setelah selesai mengobrol dengan Rania, kini Ningsih masuk ke dalam rumah.


Rania punya ide untuk mengundang Reno makan malam bersama di rumahnya. Dia langsung menghubungi suaminya untuk mengatakan niatnya itu. Ternyata suaminya setuju dengan niat baik istrinya.


..........


Rania sudah membantu Ningsih untuk merias wajahnya. Malam ini Ningsih akan ikut makan malam bersama majikannya. Tentu itu atas keinginan Bu Rosma dan juga Rania. Mereka sangat antusias untuk menjodohkan Ningsih dan  Reno.


Terlihat Bu Rosma memasuki kamar tamu untuk menghampiri Rania dan Ningsih. Kebetulan Rania merias Ningsih di dalam kamar itu.


''Rani, Ningsih, ayo keluar! Itu Reno sudah datang,'' ucap Bu Rosma dari depan pintu.


''Mah, Rani ganti baju atau tidak ya? Masa pakai piyama sih?''


''Tidak usah, Rani. Nanti suamimu malah berkomentar.''


''Baiklah, seperti ini saja berarti ya.''


Ningsih berterima kasih kepada Rania karena telah meriasnya.


Mereka keluar dari kamar lalu langsung pergi ke ruang makan. Namun sebelum bergabung dengan Elvan dan Reno, terlebih dahulu mereka cuci tangan di wastafel yang ada di dapur.


Rania menarik kursi tepat di depan Reno. Dia menyuruh Ningsih untuk duduk disana. Lalu dia duduk di sebelah Ningsih. Kebetulan di depannya itu suaminya.


Reno sedikit heran karena Ningsih yang hanya seorang pembantu ikut makan malam di meja makan yang sama dengan majikannya. Dia juga merasa heran melihat penampilan Ningsih yang tidak seperti biasanya.


''Terima kasih ya Nak Reno sudah mau makan malam disini sama kami,'' ucap Bu Rosma sambil menatap Reno.


''Harusnya saya yang berterima kasih karena sudah di undang makan malam disini, Tante. Tapi ngomong-ngomong ini makan malam dalam rangka apa?'' tanya Reno.


''Ada deh, sebaiknya kita langsung makan dulu. Mengobrolnya nanti saja,'' ucap Bu Rosma.


Rania mulai mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.


Bu Rosma melihat Reno yang hendak mengambil nasi, namun melarangnya.


''Ren, biar Ningsih saja yang melayani kamu,'' ucap Bu rosma.


''Tidak usah, Tante.''


''Biar aku saja, tidak apa-apa kok,'' Ningsih merebut piring yang di pegang oleh Reno.

__ADS_1


Reno memperhatikan Ningsih yang sedang mengambilkannya makan.


'Sepertinya ada yang aneh dengan dia. Penampilannya berbeda, terus makan satu meja sama majikaan. Pasti ini ada sesuatu yang aku tidak tahu,' batin Reno.


__ADS_2