
Saat tahu jika istrinya bersama dengan saingan bisnisnya, Elvan menjadi khawatir. Dia takut kalau Roy melakukan sesuatu kepada istrinya. Mungkin saja Roy sengaja menculik istrinya karena beberapa kali perusahaan Roy kalah tender dari perusahaannya.
Elvan melihat Reno yang baru keluar dari kamar hotel.
''Ren, aku pergi dulu ya, Istriku di culik sama Roy. Kamu tangani semua pekerjaan disini,'' pinta Elvan.
''Baik, Pak Bos. Tapi Roy ...'' Reno terpaksa menghentikan perkataannya karena Elvan yang sudah melangkah pergi dari sana.
Elvan sudah keluar dari hotel tempatnya menginap. Saat ini dia sudah berada di parkiran. Elvan langsung saja masuk ke mobilnya.
''Sabar ya, sayang. Mas pasti akan menyelamatkanmu,'' gumam Elvan, lalu dia segera mengemudikan mobilnya.
Setelah melakukan perjalanan selama tiga jam, akhirnya dia sampai juga di depan kantor milik Roy. Dia menghampiri satpam yang sedang berjaga.
''Permisi, Pak. Saya mau tanya dimana alamat rumah Pak Roy?''
''Maaf, itu privasi dan saya tidak mungkin memberitahukannya kepada sembarang orang.''
''Saya ini rekan bisnisnya,'' Elvan mengambil ponsel miliknya. Dia memperlihatkan fotonya bersama dengan beberapa rekan bisnisnya. Termasuk Roy juga ada di foto itu.
''Baiklah, Pak Roy tinggal di jalan cempaka nomor 12.''
''Terima kasih, Pak.'' Elvan mengambil uang dari saku celananya. ''Ini uang untuk bapak.''
''Terima kasih banyak, Pak.'' satpam itu terlihat senang.
Elvan langsung saja pergi karena dia sudah mendapatkan informasi yang dia inginkan. Elvan dan Roy memang tidak dekat, karena dari dulu mereka itu memang saingan bisnis.
Elvan yang hendak mengemudikan mobilnya, tak jadi saat mendengar ponselnya berdering. Dia mengambil ponsel miliknya, dan melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata itu panggilan masuk dari ibunya.
''Hallo, Mah.'' ucap Elvan.
''Hallo, Nak. Istrimu tidak ada di rumah. Nomornya juga tidak aktif. Apa dia menghubungimu?''
''Jadi Rania belum pulang ya?'' bukannya menjawab, namun Elvan balik bertanya.
''Belum, Nak. Mamah khawatir sekali sama dia.''
__ADS_1
''Mamah tenang saja. Sekarang aku mau mencarinya. Rania di culik oleh saingan bisnisku,'' ucapnya.
''Astaga, benarkah?''
''Iya, Mah. Ini aku juga mau ke rumahnya.''
''Bukankah kamu di luar kota?''
''Aku baru sampai di ibukota, Mah. Ini mau mencari istriku.''
''Syukurlah. Tolong cari Rania ya. Jangan pulang dulu sebelum ketemu,'' pintanya.
''Baik, Mah.'' jawabnya.
Hanya sebentar mereka berteleponan. Kini keduanya sudah menyudahinya. Elvan langsung saja mengemudikan mobilnya menuju ke rumah Roy. Kebetulan dia tahu jalan cempaka itu di daerah perumahan cempaka.
Akhirnya Elvan sampai juga di depan perumahan cempaka. Dia masuk ke gerbang masuk perumahan itu, lalu mencari nomor rumah Roy.
Elvan menghentikan mobilnya di depan rumah mewah bercat putih. Dia turun dari mobil, lalu melangkah mendekati rumah itu.
''Roy ... Roy ... '' Elvan berteriak memanggil Roy.
''Permisi, apa Pak Roy ada di rumah?'' Elvan bertanya dengan sopan.
''Maaf, Pak. Dari kemarin Tuan Roy tidak pulang ke rumah,'' jawabnya.
''Astaga,'' Elvan mengusap kasar rambutnya.
''Kenapa, Pak?''
''Ah tidak. Kalau begitu saya permisi dulu,'' setelah mengatakan itu Elvan segera pergi.
'Sebenarnya kemana kamu membawa istriku, Roy.' batin Elvan yang sudah berada di dalam mobil.
Elvan segera mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah itu. Sekarang dia tidak tahu kemana dia harus pergi. Elvan teringat akan sesuatu, dia mencoba untuk menelepon nomor Roy, namun ternyata nomornya tidak aktif. Tadinya dia ingin melacak keberadaannya, namun karena nomornya tidak aktif, jadi tidak bisa.
Elvan terus mengemudikan mobilnya tanpa arah tujuan. Dia begitu mengkhawatirkan istrinya.
__ADS_1
....
Rania tampak asyik melahap rujak buah. Kebetulan tadi dia merengek, memintanya dengan alasan sedang mengidam. Mau tidak mau Roy menurutinya karena merasa berisik. Sejak tadi Rania terus merengek layaknya anak kecil. Sebenarnya Roy malas menuruti keinginan Rania, namun dia tidak tega.
Rania yang baru selesai memakan rujak buah, dia langsung tertidur karena kekenyangan.
'Menggemaskan sekali istrinya Elvan ini. Tapi sayangnya dia sedang hamil,' batin Roy sambil menatap Rania yang sedang tidur.
Roy pergi dari ruangan itu membiarkan Rania yang sedang tidur.
Setelah kepergian Roy, Rania membuka kedua matanya. Tadi dia hanya berpura-pura tidur saja untuk mengelabuhinya. Selama Roy pergi tadi, Rania sudah melihat-lihat celah yang bisa saja dia lewati untuk kabur. Untung saja penjagaan tidak terlalu ketat. Rania yang ada di dalam rumah masih merasa bebas. Semua pintu juga tidak di kunci kecuali pintu yang terhubung ke luar. Bahkan penjagaan juga di depan pintu depan rumah saja.
Rania melihat dari jendela bahwa Roy pergi menggunakan mobilnya. Rania bisa memakai kesempatan ini untuk kabur. Rania mendekati jendela yang ada di samping rumah. Tadi dia sudah mengeceknya dan ternyata pintu jendela itu tidak terkunci. Rania membuka kaca jendela, lalu dia naik melewati jendela itu. Untung saja badannya kecil, jadi dia muat melewati jendela. Dia juga berhati-hati mengingat ada kehidupan lain di dalam perutnya.
Rania bernapas lega saat dia berhasil keluar dari sana. Dengan berjalan mengendap-ngendap, dia menatap kanan kirinya. Dia mulai melangkah pergi keluar dari area rumah itu. Untung saja dua lelaki yang bertubuh kekar yang sedang berjaga, mereka tidak menyadari kepergiannya. Karena mereka hanya asyik main kartu.
Akhirnya Rania bisa keluar juga dari area rumah itu. Sekarang di sedang berjalan menuju ke jalan keluar kompleks perumahan.
Saat ini Rania sudah sampai di jalan raya. Dia menatap kanan kirinya mencari taxi atau angkutan umum yang lewat. Namun belum juga ada yang lewat.Dia takut kalau penculik itu mengejarnya.
Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam berhenti di depan Rania. Terlihat pintu mobil terbuka. Dengan senyum mengembang Elvan turun dari mobil. Dia menghampiri istrinya yang sedang berdiri di pinggir jalan.
"Sayang, syukurlah akhirnya kamu ketemu juga," Elvan memeluk istrinya. Hanya sebentar dia memeluk, kini dia menatap wajah istrinya lalu menciuminya.
"Mas Elvan kok ada disini?"
"Iya, sayang. Mas mencarimu kemana-mana."
"Kok sudah pulang dari luar kota?"
"Iya, sayang. Mas pulang karena tahu kalau kamu di culik. Ayo kita masuk ke mobil! Kita mengobrolnya di mobil saja, sambil Mas mengemudi."
"Iya, Mas."
Mereka berdua memasuki mobil. Elvan langsung mengemudikan mobilnya menuju ke alamat rumahnya. Sepanjang perjalanan mereka saling mengobrol. Rania juga bercerita awal mula dia bisa di culik, dan bagaimana sekarang ini bisa lolos dari mereka.
Elvan menoleh ke samping menatap istrinya.
__ADS_1
''Mas bangga sekali punya istri pemberani sepertimu. Tapi lain kali kamu jangan pergi sendirian ya. Mas takut jika kamu kenapa-napa."
"Iya, Mas. Aku janji tidak akan pergi sendirian lagi."