
Satu bulan kemudian.
Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu telah tiba. Yaitu hari pernikahan Ningsih dan Roy. Kebetulan sudah dari satu jam yang lalu ijab qabul mereka di lakukan. Sekarang tinggal foto bersama keluarga. Rania dan keluarganya ikut berfoto dengan pengantin. Karena mereka juga berperan penting di acara pernikahan itu. Bu Rosma ikut mendanai semua yang Ningsih perlukan untuk pernikahannya. Bi Darmi juga sangat berterima kasih kepada Bu Rosma yang sudah sangat baik kepadanya dan juga anaknya.
Terlihat Rania dan suaminya yang baru turun dari atas pelaminan.
''Mas, kita ambil makan yuk! Aku lapar nih,'' cap Rania.
''Iya, sayang. Ayo!'' mereka berjalan berdampingan.
Saat hendak mengambil orange jus, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Elvan dari arah samping.
''Hai Elvan, lama tidak bertemu,'' ucap seorang wanita yang kini melangkah mendekati Elvan dan Rania.
''Elsa, kapan kamu pulang ke indonesia?'' Elvan tidak menyangka bertemu dengan teman kuliahnya disini.
''Aku pulang satu minggu yang lalu,'' Elsa yang sudah berada di dekat Elvan, dia mencium pipi kanan dan kiri Elvan. Memang itu sudah kebiasaan orang barat, jadi Elsa pun mengikutinya.
Rania tampak tak suka dengan wanita yang barusan mencium suaminya. Dia menyiramkan orange jus yang sedang dia pegang ke baju wanita itu.
''Hai, jangan berbuat tidak sopan kepada suami orang! Sudah jelas-jelas ini ada istrinya,'' Rania menatap tajam wanita itu.
''Eh maaf, itu hanya kebiasaan saya saat di luar negeri,'' lalu Elsa beralih menatap Elvan.''Van, saya pergi dulu ya. Sampai berjumpa kembali,'' setelah mengatakan itu, Elsa pergi dari sana.
''Sayang, kamu jangan begitu dong sama Elsa,'' ucap Elvan.
''Mas Elvan gimana sih, ada yang mencium kok di biarkan saja?'' Rania tampak kesal kepada suaminya.
''Sayang, kebiasaan Elsa itu memang seperti itu. Bukan sama Mas saja. Maaf ya, lain kali mas tidak akan membiarkan wanita lain mencium pipi Mas.''
Rania tak mengatakan apa pun lagi kepada suaminya. Dia mendiami suaminya sebagai rasa kekesalannya.
Setelah menghabiskan makannya, Rania mengajak suaminya untuk pulang dari pesta itu. Dia mengikuti keinginan istrinya. Mereka berpamitan kepada Bu Rosma dan juga kedua pengantin, jika mereka akan langsung pulang.
__ADS_1
Saat ini keduanya berada di perjalanan pulang. Sejak tadi Elvan memperhatikan istrinya yang duduk di sebelahnya.
''Sayang, jangan mendiami mas terus dong. Mas kan sudah minta maaf.''
''Hm,'' hanya itu yang kelaur dari mulut Rania.
Elvan tahu jika saat ini istrinya masih merasa kesal. Dia kembali fokus mengemudi. Dia tidak mengatakan apa pun lagi kepada istrinya.
Kini mereka sampai juga di depan rumah. Elvan menatap istrinya yang turun duluan dengan menggendong anaknya.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Elvan langsung pergi menghampiri istrinya. Elvan melihat istrinya yang habis keluar dari kamar anaknya. Mungkin saja tadi habis menidurkan anaknya, karena memang kevin sudah tidur sejak tadi saat di perjalanan.
''Sayang, ngambeknya sudah dong,'' Elvan memeluk istrinya dari arah belakang.
Rania melepaskan tangan suaminya yang memeluknya, lalu dia pergi ke dapur untuk mengambil air dingin. Elvan mengikuti kemana istrinya pergi.
Rania yang habis minum, dia melihat suaminya yang sedang memperhatikannya.
''Mas, kenapa lihatin aku seperti itu?'' tanya Rania.
''Modus,'' Rania mengabaikan suaminya yang sedang menatapnya. Dia memilih pergi dari sana.
Elvan mengikuti istrinya. Dia duduk di samping istrinya yang kini sedang duduk di ruang keluarga.
Rania menyalakan televisi. Dia mengabaikan suaminya yang duduk di sebelahnya.
Rania yang sedang fokus menonton televisi, dia merasakan tangan suaminya sudah berada di atas pahanya. Rania langsung menyingkirkan tangan suaminya. Namun ternyata suaminya kembali menaruh tangannya disana. Kali ini Rania memukulnya.
Plak
''Aww ... '' Elvan langsung menjauhkan tangannya.
Rania menatap sekilas ke arah suaminya, lalu dia kembali fokus menatap layar televisi.
__ADS_1
''Sayang, kamu kok pukul suamimu sih?'' Elvan berucap dengan sedikit meringis.
''Jangan macam-macam! Lagi asyik-asyik nonton malah di ganggu.''
''Cuma pegang doang masa tidak boleh sih?''
''Tidak,'' ucapnya.
''Ya sudah deh,'' dengan sedikit lesu, Elvan pergi dari sana. Dia pergi ke kamarnya yang ada di lantai atas.
Rania terkekeh geli melihat kepergian suaminya. Untuk sekarang dia membiarkan suaminya mengira jika dia masih marah. Padahal Rania hanya mengerjai suaminya dengan berpura-pura merajuk.
.........
Rania dan yang lainnya sedang makan malam bersama. Rania hanya makan sedikit. Dia langsung pergi dari sana.
Setelah kepergian Rania, Bu Rosma menatap anaknya yang duduk di hadapannya.
''Van, kenapa istrimu? Kenapa dia hanya makan sedikti?'' tanya Bu Rosma.
''Aku juga tidak tahu, Mah. Mungkin saja dia masih marah kepadaku.''
''Memangnya kamu punya salah apa kepada istrimu?''
''Tadi siang saat berada di pesta pernikahan Roy, ada teman lamaku yang baru pulang dari luar negeri. Saat bertemu denganku, dia mencium pipiku. Itu kan sudah kebiasaan orang barat, Mah. Rania yang menyaksikan jadinya marah sama aku,'' ucap Elvan.
''Ya pasti marah, kamu ini bagaimana sih,'' Bu Rosma menarik telinga anaknya.
''Aduh mamah jangan KDRT dong,'' Elvan memegangi telinganya yang sedikit sakit.
''Lagian kamu berani macam-macam sama istrimu.''
''Aku kan sudah minta maaf, Mah. Tapi dia masih ngambek saja. Terus aku harus ngapain dong?''
__ADS_1
''Pikir saja sendiri,'' Bu Rosma berlalu pergi dari sana, karena sudah menghabiskan makanannya.
Elvan tampak memikirkan cara agar istrinya tidak mendiaminya lagi.