
Rania sudah kembali ke mobil. Dia meminta sopirnya untuk langsung pulang. Sepanjang perjalanan dia hanya diam saja. Begitu juga saat baru turun dari mobil, dia diam saja. Tidak mengucapkan terima kasih kepada sopirnya. Padahal biasanya dia selalu berterima kasih. Pak sopir yang melihat raut wajah Rania, mengira jika saat ini Rania sedang tidak baik-baik saja.
Rania melangkah memasuki rumah melewati Bi Darmi yang sedang menyapu. Namun dia juga diam saja, tidak menyapanya sama sekali. Bi Darmi juga merasa heran melihat raut wajah Rania yang tak biasanya. Bi Darmi keluar dari rumah, menghampiri Pak sopir yang habis memarkirkan mobil ke bagasi.
''Pak, itu Non Rania kenapa?"
''Saya tidak tahu, Bi. Sejak tadi diam saja seperti itu,'' ucapnya.
''Memangnya habis dari mana?"
''Tadi habis dari hotel. Setelah keluar dari hotel, saya melihat Non Rania berubah sedih,'' jelasnya.
''Ngapain pergi ke hotel?''
''Saya juga tidak tahu. Saya hanya mengantar saja.''
Rania yang sudah berada di kamar, dia langsung mengunci pintu kamarnya. Lalu dia menyalakan musik yang lumayan keras.
Rania naik ke atas tempat tidur. Dia mendengarkan musik sedih yang sedang dia putar. Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Rania meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Dia mencoba untuk menghubungi suaminya. Setelah beberapa kali mencoba menghubungi, akhirnya suaminya mengangkat juga panggilan teleponnya.
''Hallo, sayang. Ada apa?'' tanya Elvan dari seberang sana.
''Mas, kamu dimana?'' tanya Rania.
''Em aku di kantor, kok kamu bertanya seperti itu?''
Sejenak Rania terdiam, dia hanya tersenyum getir.
''Oh di kantor. Ya sudah lanjut saja kerjanya,'' Rania mematikan panggilan teleponnya dengan begitu saja.
Rania mematikan ponselnya. Dia memejamkan kedua matanya sambil menikmati alunan musik yang sedang dia dengarkan. Hingga tak sadar sampai dia tertidur.
Di luar kamar ada Bu Rosma dan Bi Darmi yang sedang berdiri di depan pintu. Bi Darmi juga sudah mengatakan keanehan Rania yang tak biasa. Tentu Bu Rosma sangat khawatir, takut jika terjadi sesuatu dengannya.
''Bi, tolong bantu saya cari kunci duplikat kamar Rania. Saya takut jika dia kenapa-napa karena mengurung diri seperti ini,'' ucap Bu Rosma.
''Baik, Nyonya.''
Bu Rosma dan Bi Darmi sudah mencari kunci duplikat kamar itu, namun mereka tidak menemukannya. Bu Rosma mencoba untuk menghubungi Elvan dan menanyakan kunci duplikat kamarnya, namun ternyata Elvan juga tidak tahu.
''Nyonya, kita harus bagaimana? Bibi takut kalau terjadi sesuatu sama Non Rania,'' ucap Bi Darmi.
''Sama, Bi. Saya juga takut. Saya mau panggil orang buat dobrak pintu saja. Saya khawatir sekali sama Rania.''
__ADS_1
''Biar saya yang panggilkan, Nyonya.''
''Baiklah, saya tunggu disini.''
Bi Darmi berlalu pergi untuk memanggil Pak sopir, dan akan memintanya untuk mendobrak pintu kamar Rania.
Kini pintu kamar itu sudah terbuka. Bu Rosma masuk ke dalam dan melihat Rania yang sedang tidur.
''Syukurlah kamu sedang tidur, Nak. Mamah khawatir sekali,'' Bu Rosma tersenyum menatap menantunya yang sedang terlelap.
Hanya sebentar Bu Rosma berada disana, kini Bu Rosma keluar dari kamar itu. Kebetulan musik yang Rania putar sudah di matikan olehnya.
Bu Rosma langsung menyuruh sopirnya untuk memperbaiki pintu yang tadi di dobrak.
Sore ini Elvan baru pulang dari kantor. Namun dia merasakan sesuatu yang berbeda. Istrinya tidak menyambut kedatangannya. Elvan tampak menengok kanan kirinya, namun dia tidak melihat istrinya.
''Mah, Rania dimana?'' Elvan bertanya kepada ibunya yang sedang duduk.
''Ada tuh di kamarnya. Dia mengurung diri terus loh di kamarnya. Coba kamu tanya dia kenapa, tadi mamah sudah tanya tapi katanya dia tidak kenapa-napa. Mamah lihat dia seperti sedang sedih.''
''Oke, Mah. Kalau begitu aku langsung ke kamar,'' Elvan berlalu pergi dari sana.
Saat ini Elvan sudah sampai di kamarnya. Dia melihat istrinya yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
''Sayang,'' Elvan memanggil istrinya, namun istrinya sama sekali tidak menoleh.
''Sayang, kamu seserius ini sampai tidak menyadari suamimu ini datang,'' Elvan memeluk istrinya dari samping.
''Apa sih peluk-peluk,'' Rania melepaskan pelukan suaminya.
Elvan merasa jika istrinya sedang bad mood. Beberapa kali dia mencoba menggodanya, namun ternyata tidak berpengaruh. Istrinya tetap cuek.
''Baiklah, Mas tidak akan mengganggumu,'' Elvan pergi dari dekat istrinya.
Elvan membuka lemarinya, dia mengambil pakaian ganti. Sesekali dia melirik ke arah istrinya.
'Jika kamu tahu kejadian tadi pagi, pasti kamu akan marah sama aku, sayang.' Elvan benci kepada dirinya sendiri. Entah kenapa tadi pagi dia dan sekretarisnya berada di kamar yang sama. Dia tidak ingat apa-apa. Namun dia dan sekretarisnya berada di bawah selimut yang sama dan tubuh mereka polos tak berbusana.
Elvan berlalu pergi menuju ke kamar mandi.
Rania tak sengaja mendengar ada notif di ponsel suaminya. Dia beranjak dari duduknya, lalu mengambil ponsel suaminya yang ada di atas nakas. Dia melihat ada pesan masuk. Ternyata itu dari sekretaris suaminya.
*Nayla*
__ADS_1
Pak Alvin tenang saja, saya tidak apa-apa kok.
Sekiranya seperti itu isi pesan yang di kirimkan oleh sekretaris suaminya. Rania menghapus pesan itu, lalu dia menarauh kembali ponsel suaminya ke atas nakas.
''Ternyata kalian memang sering berkomunikasi,'' gumam Rania.
Rania merasakan sakit yang tak berdarah. Mungkin hati suaminya juga tidak lagi untuknya. Entah besok atau lusa, suaminya masih menganggapnya istri lagi atau tidak.
'Apa sebaiknya aku pergi saja dari rumah ini? Ah tidak, jika aku pergi, bagaimana dengan nasib anakku. Mungkin aku akan pura-pura tidak tahu saja,' batin Rania.
Rania merubah raut wajahnyaa. Dia tidak akan cemberut lagi. Rania keluar dari kamarnya, dia akan pergi ke ruang keluarga.
Bu Rosma melihat Rania yang kini sudah berada di ruang keluarga.
''Ran, sudah mandi?''
''Sudah, Mah.'' ucapnya sambil tersenyum.
Mereka mulai mengobrol. Kali ini Rania sudah tidak terlihat sedih seperti tadi. Namun sebenarnya dia menyembunyikan kesedihannya itu.
''Rani, tadi kamu kenapa mengurung diri di kamar?''
''Tiak apa-apa, Mah. Aku hanya sedang ingin sendiri.''
''Kata Bi Darmi, tadi pagi kamu pergi ke hotel, memangnya kamu ngapain?''
Sejenak Rania terdiam, dia mencari alasan yang tepat agar Bu Rosma percaya.
''Em itu, Mah. Tadi pagi aku habis menemui teman lamaku yang bekerja di hotel itu,'' jawabnya.
''Terus kenapa saat pulang raut wajahmu berubah?''
''Itu karena aku bertemu dengan Roy. Jadi suasana hatiku hancur seketika,'' Rania terpaksa berbohong agar ibunya tak lagi mencurigainya.
''Roy saingan bisnis Elvan?''
''Iya, Mah.''
''Kalau begitu biar mamah bicara saja sama Elvan, biar dia beri pelajaran sama Roy karena sudah gangguin kamu.''
''Tidak usah, Mah. Aku tidak mau kalau Roy malah berbuat jahat. Mamah jangan bilang-bilang Mas Elvan ya. Aku janji tidak akan pergi-pergi keluar lagi tanpa ada yang mendampingi.''
''Baiklah, Tapi syaratnya kamu harus ceria lagi, Nak.'''
__ADS_1
''Iya, Mah. Aku pasti akan selalu ceria kok.''
Beberapa menit kemudian, Elvan datang dan ikut mengobrol bersama mereka. Elvan juga terlihat manis sekali di depannya, seolah dia tidak mempunyai salah apa pun.