
Reno datang ke ruangan Elvan untuk meminta tanda tangan. Dia menaruh berkas ke atas meja, dan menunggu sampai Elvan menandatanganinya.
''Pak, kemarin saya melihat Ningsih berada di taman bersama Roy. Mereka sedang berciuman,'' ucap Reno.
Elvan yang baru memegang bolpoin dan hendak tanda tangan, dia menghentikannya.
''Benarkah?'' Elvan terlihat terkejut. Dia tidak menyangka jika wanita sepolos Ningsih bisa-bisanya berbuat seperti itu. Apalagi di tempat terbuka seperti taman.
''Benar, saya juga menegur mereka.''
''Biar nanti saya menasihati Ningsih.''
Elvan menutup dokumen yang sudah dia tandatangani, lalu dia memberikannya lagi kepada Reno.
''Kalau begitu saya permisi dulu,'' Reno segera keluar dari ruangan itu.
Beberapa menit setelah kepergian Reno, Elvan melihat pintu ruangannya terbuka. Ternyata istrinya yang datang. Elvan tersenyum senang melihat kedatangan istrinya.
''Sayang, kok kamu datang kesini sih? Anak kita kamu tinggal?''
''Iya, Mas. Aku bawakan makan siang untuk kamu. Kebetulan Kevin sedang tidur. Ada mamah juga yang jagain, jadinya aku pergi kesini.''
Elvan mengajak istrinya unutk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Rania mulai membuka kotak makan siang yang dia bawa. Dia juga akan ikut makan bersama dengan suaminya.
Elvan memperhatikan istrinya yang sedang mengambilkan nasi dan lauk untuknya.
''Sayang, kamu perhatian sekali sih.''
''Harus dong, Mas. Biar kamu tambah cinta.''
''Mas pasti akan selalu cinta kok, asal selalu di kasih jatah.''
''Ah Mas Elvan ingatnya jatah doang.''
''Harus dong, sayang.''
__ADS_1
Keduanya menghentikan obrolannya. Kini fokus menyantap makan siang masing-masing.
Hanya dalam hitungan menit, keduanya telah menghabiskan makan siangnya. Rania mengambil buah potong yang sudah dia siapkan dari rumah, lalu mengajak suaminya untuk memakannya bersama.
Elvan mengingat perkataan Reno tadi. Dia langsung mengatakannya kepada istrinya.
''Sayang, tadi Reno bilang kalau kemarin dia melihat Ningsih dan Roy berada di taman. Dia menyaksikan mereka yang sedang berciuman. Menurutmu Roy berbahaya tidak sih? Mas kok takut kalau dia berbuat hal yang lebih kepada Ningsih.''
''Itu juga yang Rani takutkan, Mas.''
''Lalu, apa kita tetap membiarkan mereka berhubungan?''
''KIta tidak bisa memaksa mereka, Mas. Tapi nanti aku coba bicara sama Ningsih. Semoga saja dia mau mendengarkanku.''
.........
Anisa sudah pulang dari kantor suaminya. Dia langsung saja menghampiri anaknya yang ada di kamar.
Saat membuka pintu kamar, dia melihat ibunya yang sedamg tidur di samping Kevin. Sedangkan Kevin tidak tidur, namun tidak rewel sama sekali.
''Aduh anak mamah kok tidak ikut tidur sama nenek?'' Anisa mendekati anaknya yang sedang tidur. Dia duduk di pinggiran ranjang.
"Em ... '' Bu Rosma membuka kedua matanya. ''Nak, kamu sudah pulang?''
''Iya, Mah. Rani baru saja pulang,'' jawabnya.
''Maafkan mamah ya, Nak. Tadi mamah jagain Kevin malah ketiduran.''
''Tidak apa-apa kok, Mah. Yang penting Kevin tidak menangis.''
''Dia mah memang anak baik, Nak. Masih kecil juga tidak rewel, jadi mamahnya tidak kerepotan.''
''Iya, Mah. Aku juga bangga sama anakku ini,'' ucap Rania sambil menatap putranya dengan gemas.
''Rani, mamah keluar dulu ya. Mau arisan bareng teman sosialita mamah.''
''Tapi mamah mandi dulu kan? Habis tidur loh tadi.''
__ADS_1
''Iya, Nak. Mamah mandi dulu biar fresh.''
Beberapa menit setelah kepergain Bu Rosma, Kevin tampak merengek.
''Sayang, kamu kenapa? Kamu mau nen?'' Rania langsung membuka tiga kancing bajunya bagian atas. Dia mulai menyusui anaknya.
Rania merasa gemas melihat anaknya yang tampak lahap meminum ASI.
''Ternyata anak mamah haus ya,'' Rania mengusap pelan punggung anaknya.
Lama kelamaan Kevin tertidur. Saat melihat anaknya yang sudah tertidur pulas, Rania memindahkan anaknya ke box bayi. Lalu dia keluar dari kamar.
Rania pergi ke dapur untuk mengambil minum. Dia melihat Ningsih yang seang senyum-senyum sendiri.
''Ning, kamu kenapa?'' tanya Rania.
''Tidak kok, Non.''
''Oh iya, apa kamu dan Roy berniat untuk lebih serius lagi dari sekedar pacaran?''
''Saya tidak tahu, Non. Untuk saat ini kami masih pacaran.''
''Jika sekedar pacaran, lebih baik kalian jangan sering ketemu, Ning. Aku takut kalau Roy ngapa-ngapain kamu,'' ucap Rania.
''Roy baik sama saya kok, Non.''
''Tapi tidak berciuman di tempat umum juga kan? Coba saja kalau kalian melakukannya di tempat sepi, pasti Roy bisa berbuat lebih.''
''Maaf, Non. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi.''
''Tidak perlu minta maaf kepada saya, tapi minta maaflah kepada diri sendiri,'' Rania yang sudah selesai minum, dia menaruh gelasnya ke atas meja.
Rania segera pergi dari sana. Dia juga hanya mengatakan itu saja kepada Ningsih. Sebenarnya dia tidak mau ikut campur masalah percintaan Ningsih, namun terpaksa dia menasihatinya, karena dia sudah menganggap Ningsih seperti keuarga sendiri. Terlebih lagi Ningsih itu anaknya Bi Darmi. Pasti Bi Darmi juga akan sedih kalau tahu bahwa anaknya berpacaran namun melakukan hal-hal seperti itu.
'Pasti Non Rania tahu dari Reno. Dasar tukang ngadu,' batin Ningsih.
Tring
__ADS_1
Ningsih mendengar ponselnya yang ada disaku celananya berdering menandakan ada pesan masuk. Dia langsung saja merogoh saku celananya, dan mengambil ponselnya. Ternyata Roy yang mengirimnya pesan. Roy mengajaknya untuk bertemu malam ini. Sejenak Ningsih berpikir, pasti majikannya tidak membolehkannya untuk keluar bersama Roy. Terlebih Rania sudah mengetahuinya jika dia dan Roy sudah berciuman.
Dengan terpaksa Ningsih menolak ajakan Roy. Dia juga memberitahukan Roy bahwa Rania sudah tahu jika dia dan Roy brciuman di taman. Itu alasan atas penolakannya.