Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.28


__ADS_3

Pagi ini Elvan sedang berkemas. Dia memasuk-masukan semua pakaiannya ke dalam koper. Sedangkan Rania, dia hanya duduk saja. Suaminya melarangnya untuk membantu membereskan pakaiannya karena sedang hamil. Elvan juga tadi sudah menyuruh Bi Darmi untuk mengemasi pakaian milik istrinya.


Terlihat Elvan yang sedang menutup koper miliknya. Rania yang baru masuk ke kamar, dia menghampiri suaminya.


"Mas, ayo sarapan dulu!''


''Iya, sayang. Sebentar!'' ucapnya.


Rania mencoba menajamkan pendengarannya. Takutnya dia salah dengar. Namun ternyata tidak, dia yakin sekali jika suaminya memanggilnya sayang.


''Baiklah, aku langsung ke ruang makan ya,'' Rania keluar lagi dari kamarnya.


Sesampainya di ruang makan, dia langsung duduk di kursi. Rania tampak diam sambil senyum-senyum sendiri. Rasanya begitu bahagia saat mendengar suaminya memanggilnya dengan sebutan sayang.


Saat melihat suaminya yang sudah datang, Rania mengambil piring kosong, lalu memasukan nasi dan lauk untuk suaminya.


Rania mencegah suaminya yang hendak mengambil piring.


''Mas, ini sudah aku ambilkan,'' Rania menaruh piring yang dia pegang ke atas meja depan suaminya.


''Terima kasih, kamu sangat perhatian,'' Elvan tersenyum menatap istrinya.


''Itu sudah menjadi tugasku, Mas.'' ucapnya.


Mereka tak bicara apa pun lagi. Rania mengambil nasi dan lauk untuknya. Lalu dia juga mulai makan. Di antara keduanya tidak ada yang berbicara lagi.


Setelah selesai makan, mereka duduk sebentar sambil bersantai. Terlihat Bi Darmi datang dan membawakan teh hangat untuk mereka.


''Silakan di nikmati, Tuan, Nona.'' ucap Bi Darmi dengan ramah.


''Tidak usah repot-repot, Bi. Lagian kita hanya duduk sebentar kok. Nanti juga langsung pergi.''


''Tidak apa-apa, Non.''


Hanya lima belas menit mereka duduk bersantai. Elvan dan Rania pergi ke kamar untuk mengambil barang-barang mereka. Karena sekarang juga mereka harus pergi.


''Bi ... Bibi ... Ayo pergi!'' ucap Elvan dengan sedikit mengeraskan suaranya agar terdengar dari belakang.


''Iya, Tuan.'' terlihat Bi Darmi yang baru keluar dari kamarnya, lalu menghampiri mereka.


Mereka berjalan beriringan keluar dari apartemen itu


''Rai, biar aku saja yang bawakan kopermu,'' Elvan mengambil koper yang sedang di pegang oleh istrinya.


''Terima kasih, Mas.''


''Sama-sama. Aku hanya tidak mau istriku ini kecapean karena bawa koper.''


Kini mereka sudah sampai di mobil. Elvan tampak memasukkan semua barang bawaan mereka. Sedangkan istrinya dan Bi Darmi sudah masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Elvan membuka pintu mobilnya, lalu dia duduk di sebelah istrinya. Elvan mengemudikan mobilnya menuju ke rumah ibunya.


Setelah cukup lama di perjalanan, kini mereka sampai juga di kediman Bu Rosma. Elvan mengajak istrinya dan Bi Darmi untuk turun.


Ternyata Bu Rosma sedang berdiri di depan rumah. Bu Rosma sengaja menunggu kedatangan anak dan menantunya.


''Selamat datang, Nak. Akhirnya kalian datang juga,'' Bu Rosma mendekati Rania, lalu menggandeng tangannya. Bu Rosma mengajak Rania untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Elvan mengikuti mereka yang sudah melangkah duluan.


''Mah, antar Bi Darmi ke kamarnya tuh,'' pinta Elvan saat melihat ibunya yang sudah duduk di sofa bersama dengan istrinya.


''Oh iya,'' Bu Rosma beranjak dari duduknya. ''Ayo ikut saya, Bi!'' ajaknya.


''Baik, Nyonya.'' Bi Darmi mengikuti kemana Bu Rosma pergi.


Kini Bu Rosma sudah kembali, dan bergabung lagi dengan anak dan menantunya.


''Van, kamu ajak istrimu ke kamar gih!'' pinta Bu Rosma.


''Nanti saja, Mah. Tapi sepertiya aku mau menempati kamar yang ada di lantai bawah saja. Aku tidak mau kalau Rania naik turun tangga. Aku takut kalau kandungannya kenapa-napa.''


''Iya, Nak. Itu lebih baik.''


Setelah selesai mengobrol, Elvan mengajak istrinya ke kamar yang ada di lantai bawah. Kebetulan kamar itu sudah di bersihkan oleh pembantu yang bekerja di rumah itu. Jadi mereka tinggal menempati saja.


Tring tring


Rania mengambil ponsel suaminya yang ada di atas meja, lalu memberikannya kepada suaminya.


Elvan menatap layar ponselnya. Ternyata yang meneleponnya itu asistennya.


''Hallo, Ren. Ada apa?''


''Maaf, Pak Bos. Saya hanya mau mengingatkan kalau siang ini ada meeting dengan klien.''


''Astaga, aku hampir melupakannya. Baiklah, aku akan segera pergi ke kantor.''


Hanya sebentar keduanya berbicara. Kini Elvan sudah mematikan panggilan telepon itu. Elvan melirik istrinya yang sedang duduk.


''Rai, maaf ya sepertinya aku harus pergi ke kantor. Kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal?''


''Tidak apa-apa, Mas.''


Elvan segera mengambil pakaian yang akan dia kenakan. Sedangkan Rania memilih untuk keluar dari kamar itu.


...........


Bu Rosma menghampiri Rania yang sedang duduk sendirian di sofa.


''Rai, ikut mamah yuk!'' ajaknya.

__ADS_1


''Kemana, Mah?''


''Mamah mau ajak kamu ke butik. Mamah mau membelikanmu beberapa pakaian,'' ucapnya.


''Pakaianku masih banyak kok, lagian masih layak pakai juga.''


''Tidak apa-apa, Nak. Bisa buat nambah koleksi loh. Lagian Mamah juga mau belanja. Kamu mau kan menemani mamah.''


''Baiklah aku mau. Aku ambil tas dulu ya di kamar.''


''Iya, Nak.'' Bu Rosma tetap berdiri di tempatnya menunggu Rania keluar.


Rania kembali menghampiri Bu Rosma. Mereka langsung saja pergi keluar dari rumah. Mereka pergi di antar oleh sopir.


''Rai, nanti habis belanja, kita cari makan di luar ya,'' Bu Rosma menatap menantunya yang duduk di sebelahnya.


''Iya, Mah. Terserah mamah saja,'' ucapnya sambil tersenyum.


Hanya dua puluh menit perjalanan, mereka sampai juga di butik langganan Bu Rosma. Mereka berdua turun dari mobil, lalu melangkah memasuki butik.


Terlihat seorang wanita seusia Bu Rosma bersama dengan seorang wanita muda. Wanita itu teman sosialita Bu Rosma.


''Hai, Jeng. Kita ketemu disini juga nih. Ngomong-ngomong mau beli apa?"'


''Saya mau belanja nih. Oh iya ini menantumu?'' Bu Rosma bertanya kepadanya.


''Iya, masa lupa sih sama menantu saya yang seorang desainer terkenal ini. Kebetulan menantu dan anak saya baru pulang dari luar negeri.''


''Wah hebat ya menantu jeng Farah.''


''Iya dong. Kalau menantu Jeng Rosma kerjanya apa?''


''Dia hanya ibu rumah tangga. Saya tidak meminta menantu saya untuk bekerja. Hanya cukup mengurus suami saja di rumah.''


''Hati-hati loh, wanita di luar sana lebih menggoda. Harus pintar-pintar jaga suami,'' ucap Bu Farah sambil menatap Rania.


''Maksud Jeng Farah itu apa ya? Anak saya itu lelaki yang setia,'' Bu Rosma merasa tak terima saat Bu Farah berbicara seperti itu.''


''Ah tidak, kami pergi dulu, Jeng.'' setelah mengatakan itu Bu Farah dan menantunya pergi ke kasir untuk membayar.


Bu Rosma menatap Rania yang berdiri di sampingnya.


''Tidak usah dengarkan omongannya, Ran."'


''Iya, Mah. Tapi biar bagaimana pun aku ini memang hanya ibu rumah tangga. Tidak seperti menantunya yang terlihat berkelas.''


''Jangan sedih! Lebih baik kita pilih-pilih pakaian yuk! Pilih saja semua yang paling bagus, biar kamu juga terlihat berkelas. Semuanya biar mamah yang bayar.''


"Baik, Mah." Rania mengikuti kemana Bu Rosma pergi.

__ADS_1


__ADS_2