Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.15


__ADS_3

Elvan yang ingin memaafkan istrinya begitu saja, nyatanya masih saja sulit. Dia terus mengingat saat istrinya berciu*man dengan lelaki lain.


Setelah melihat istrinya yang baru selesai makan dan minum vitamin, Elvan mendekati istrinya. Dia duduk di sofa depan istrinya berada.


''Cla, ada yang ingin aku katakan kepadamu,'' ucap Elvan kepada istrinya.


''Apa itu?''


Elvan tahu jika apa yang akan dia katakan nanti pasti sedikit menyinggung perasaan istrinya. Namun itu semua demi kebaikan mereka. Elvan tidak mau ke depannya ada kebohongan-kebohongan lagi yang di lakukan oleh istrinya.


''Setelah anak itu lahir, aku minta untuk tes DNA. Ini semua demi kebaikan kita berdua. Aku tidak mau merawat anak yang ternyata bukan darah dagingku. Apalagi jika anak itu hasil perselingkuhan,'' ucap Elvan.


''Jadi Mas Elvan meragukan anak yang ada di kandunganku?'' tanya Clara.


''Aku hanya ingin memastikannya saja. Lagian ini demi kebaikan kita,'' ucapnya.


Ini yang Clara takutkan. Kemungkinan sangat kecil jika anak itu darah daging suaminya. Apalagi dia lebih sering bercinta dengan kekasihnya dari pada dengan suaminya. Tapi jika di lihat dari usia kandungannya, saat itu selain dia berhubungan dengan kekasihnya, dia juga berhubungan dengan suaminya. Clara berharap jika itu anak suaminya. Jika bukan, mungkin hanya sampai disini statusnya menjadi nyonya di rumah itu.


Setelah mengatakan itu kepada istrinya, Elvan memutuskan untuk pergi ke kamar.


Dia yang sudah berada di kamar, mencoba untuk mengirim pesan ke nomor Rania. Ternyata Rania langsung membalasnya. Kini keduanya asyik saling berbalas pesan. Bahkan sesekali Elvan senyum-senyum sendiri.


Elvan baru ingat jika dia belum memberitahukan ibunya mengenai kehamilan Clara. Sambil menunggu balasan pesan dari Rania, Elvan mencoba untuk menelepon ibunya.


Saat ini Bu Rosma sudah mengangkat panggilan telepon itu.


"Hallo, ada apa, Nak?" Tanya Bu Rosma dari seberang sana.


"Aku mau memberitahukan kepada mamah kalau saat ini Clara sedang hamil," ucapnya.


"Hamil?" Bu Rosma terkejut saat mendengar penuturan anaknya. Entah terkejut karena bahagia, atau terkejut karena hal lain.


"Iya, Mah. Sudah dulu ya, aku hanya ingin mengatakan itu."


"Baiklah, nanti mamah mampir ke rumah kalian.''


''Iya, Mah. Elvan tunggu kedatangan Mamah,'' ucapnya.


Hanya sebentar keduanya berteleponan. Kini keduanya sudah menyudahi panggilan itu.

__ADS_1


..............


Elvan sedang mengambil beberapa pakaian dari lemari, lalu dia masukan ke dalam koper. Dia akan pergi ke apartemen yang di tinggali oleh Rania. Karena untuk dua hari ke depan dia akan menginap disana.


Clara yang baru masuk ke kamar, melihat suaminya yang sedang memasukkan pakaian ke koper.


''Mas, apa kamu akan pergi saja? Apa tidak bisa jika untuk sementara waktu biar karyawan kamu saja yang menghandle pekerjaan di luar kota,'' ucap Clara yang kini sudah berada di samping suaminya.


''Tidak bisa, Cla. Aku harus tetap pergi.''


''Tapi aku tidak mau di tinggal sendirian, Mas.'' ucapnya.


''Disini ada bibi kok yang bisa menjaga kamu,'' ucapnya.


Elvan merasa aneh dengan istrinya Karena sebelumnya istrinya tidak pernah berkomentar apa pun saat dia akan pergi. Malah terlihat biasa-biasa saja. Tapi sekarang istrinya memintanya untuk tidak pergi.


Sebenarnya bukan tanpa alasan Clara meminta suaminya untuk tidak pergi. Dia ingin terlihat seperti istri yang tak ingin berpisah dengan suaminya walaupun untuk sebentar saja. Apalagi kekasihnya sudah memutuskan hubungan dengannya setelah tahu jika dia sedang hamil. Itu berarti hanya Elvan satu-satunya harapannya.


''Jangan pergi ya, plis!'' Clara memeluk suaminya, dan terus memohon.


''Maaf, Cla. Aku tetap harus pergi,'' Elvan melepaskan tangan istrinya yang memeluknya.


Clara merasa jika suaminya mulai berubah. Biasanya suaminya itu sangat menurut, tapi kali ini tidak. Clara mengira jika suaminya itu kecewa saat tahu jika dia berselingkuh di belakangnya.


'Bagaimana pun caranya, aku harus bisa membuat Mas Elvan kembali mempercayaiku. Dan dia kembali bersikap baik kepadaku,' batin Clara sambil menatap kepergian suaminya.


Saat ini Elvan sedang berada di perjalanan menuju ke apartemen. Tiba-tiba dia mendengar ponselnya berdering. Dia melihat siapa yang menelepon, dan ternyata itu Rania. Elvan menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia langsung mengangkat telepon itu.


''Hallo, Ran. Ada apa?''


''Mas Elvan lagi dimana?''


''Aku lagi di jalan nih mau ke tempatmu,'' ucapnya.


''Bisa minta tolong belikan ayam bakar. Aku sedang ingin memakan ayam bakar yang di jual di restoran.''


''Baiklah, nanti akan aku belikan. Kamu mau apa lagi selain ayam bakar?''


''Hanya itu saja.''

__ADS_1


Hanya sebentar mereka berteleponan. Kini keduanya sudah menyudahinya. Elvan tersenyum sambil menaruh ponselnya kembali. Hanya menuruti keinginan ibu hamil saja, itu membuatnya merasa bahagia.


Elvan keluar dari restoran dengan menenteng kantong plastik yang berisi pesanan istrinya. Dia kembali ke mobilnya yang berada di parkiran. Setelah masuk ke dalam, dia kembali mengemudikan mobilnya menuju ke apartemennya.


Ternyata jarak dari restoran ke apartemen cukup dekat. Kini dia sudah sampai di apartemen. Kebetulan Rania sengaja menunggu kedatangan suaminya. Sejak tadi dia duduk di ruang depan. Saat melihat pintu apartemen yang terbuka, Rania langsung beranjak dari duduknya. Lalu dia menghampiri suaminya yang baru datang.


''Mas, mana pesananku?'' tanya Rania.


''Ini,'' Elvan menyodorkan kantong plastik berisi ayam bakar pesanan istrinya.


''Terima kasih, Mas.'' spontan Rania mencium pipi suaminya, karena dia yang terlalu bahagia.


''Sama-sama,'' ucapnya sambil tersenyum menatap istrinya.


‘’Eh maaf, tadi aku refleks,’’ ucap Rania malu-malu.


‘’Tidak apa-apa, lagian sah-sah saja mencium suami sendiri. Cepat di makan ayamnya,’’ ucap Elvan kepada istrinya.


‘’Ayo makan sama-sama saja, ini ayamnya ada dua loh,’’ ucap Rania.


‘’Untuk kamu saja, aku tidak lapar. Lagian itu jatah dua orang, untuk kamu dan anak kita.’’


‘’Kok dede di hitung sih? Dia kan masih di perut?’’


‘’Tapi yang bikin kamu lapar minta ini itu ya anak kita. Jadinya sekalian beli dua.’’


‘’Terima kasih, Mas. Kamu perhatian sekali sama anak ini,’’ ucap Rania sambil mengusap perutnya.


‘’Sama-sama, Rai. Aku lakukan semuanya demi kalian agar tetap sehat.’’


‘Kenapa semakin aku melihat sikapmu yang baik, semakin aku takut jika kamu mengambil anak ini dariku, Mas.’ Batin Rania.


Walaupun saat ini dia dan Elvan sudah menikah, namun pikiran negatif masih terus terlintas di pikirannya. Karena pernikahan mereka hanya sebatas tanggung jawab terhadap anak, Rania berpikiran jika nantinya setelah anak itu lahir, kemungkinan suaminya juga akan menceraikannya. Yang Rania takutkan jika suaminya akan mengambil anaknya.


Elvan melihat istrinya yang sedang diam entah memikirkan apa.


‘’Rai, jangan melamun!’’ Elvan menepuk pelan bahu istrinya.


‘’Eh ... tidak. Aku mau ke dapur dulu ambil piring,’’ Rania beranjak dari duduknya lalu pergi ke dapur.

__ADS_1


__ADS_2