Ternyata Istriku Selingkuh

Ternyata Istriku Selingkuh
Episode.40


__ADS_3

Terlihat Rania yang baru memasuki kantor suaminya. Penampilannya hari ini tampak berbeda. Dia memakai dres berwarna merah. Kaca mata hias yang dia taruh di atas kepala. Bahkan barang-barang lain yang dia pakai merupakan barang branded semua. Beberapa karyawan yang melihat kedatangan istri bosnya, mereka tampak kagum melihat penampilan Rania yang tampak berbeda dari biasanya.


''Selamat datang ibu Rania,'' ucap seorang resepsionis yang sedang berjaga.


''Sauami saya ada?''


''Pak Elvan ada di ruangannya, Bu.''


Rania berlalu pergi ke arah lift. Saat hendak memasuki lift, dia melihat Reno yang juga hendak memasuki lift.


''Kak Reno mau ke atas juga? Ayo!''


''Nona Rania duluan saja,'' ucapnya.


''Ayo masuk! Jangan membantah perintah istri atasan loh.''


''Baik, Nona.'' akhirnya Reno ikut masuk ke dalam lift.


Ting


Lift itu berhenti di lantai paling atas. Rania dan Reno keluar bersamaan. Kebetulan Elvan sedang berada di luar ruangannya. Dia melihat kedatangan istrinya. Rania yang melihat kedatangan suaminya, dia berpura-pura mendekati Reno.


Elvan melangkah cepat mendekati istrinya yang sedang bersama Reno.


''Reno, kenapa kamu bersama istriku di dalam lift? Harusnya kamu membiarkan istriku dulu naik, barulah kamu. Kenapa harus bersamaan?'' Elvan terlihat cemburu, apalagi saat melihat istrinya dekat-dekat dengan Reno.


''Tadi niat saya juga seperti itu, tapi Non Rania yang memaksa untuk naik lift bersama.''


Elvan beralih menatap istrinya. Penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Jika biasanya dia berpenampilan sederhana, kali ini tampak mewah. Elvan menarik tangan istrinya agar lebih dekat dengannya.


Reno langsung saja berpamitan untuk pergi.


''Maaf, Pak. Saya permisi dulu mau ke ruangan saya,'' Reno langsung berlalu pergi dari hadapan mereka.


Elvan menggandeng tangan istrinya menuju ke ruangannya. Rania beberapa kali mencoba melepaskan tangannya dari suaminya, namun tidak bisa lepas karena suaminya memegangnya dengan erat. Setelah sampai di ruangannya, barulah Elvan melepaskan pegangan tangannya.


''Kenapa sih Mas Elvan narik-narik aku?''


''Habisnya Mas kesal sama kamu. Kamu berduaan di dalam lift bersama Reno. Terus penampilan kamu juga terlihat sangat cantik, mewah, berkelas. Kamu seperti mau cari doi saja.''


''Nah boleh juga tuh, Rani mau cari berondong.''


''Enak saja, suruh tuh berondong melawan Mas. Awas saja kalau sampai ada berondong beneran yang mendekati kamu.''


''Cie cemburu nih,'' Rania sedikit meledek suaminya.

__ADS_1


''Iya dong, namanya juga cinta ya sudah pasti cemburu.''


''Masa sih cinta?''


''Iya, sayang. Cintaku padamu takan pernah berubah.''


''Tidak kreatif sekali sih. Pakai kata-kata lain coba, itu kan judul lagu.''


''I love you,'' ucap Elvan.


''Cari kata-kata lain!''


''Siap, sayangku. Mas tidak bisa merangkai kata-kata indah. Izinkan ini menjadi PR.''


''Oke, besok aku mau dengar.''


Hanya sebentar mereka mengobrol. Elvan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Rania hanya duduk santai di sofa. Sesekali dia menyalakan kameranya, dan mengarahkannya ke arahnya. Dia mengambil beberapa foto dengan pose yang berbeda.


Sesekali Elvan menatap istrinya yang sedang berfoto. Rania tidak terlihat sebagai istri pemalu seperti biasanya. Kali ini terlihat sangat narsis. Namun Elvan tidak berani menegur istrinya. Dia membiarkan istrinya yang sedang asyik berfoto. 


.......


Terlihat Clara yang sedang duduk sendirian di salah satu kursi. Kebetulan saat ini dia berada di kafe langganannya. Tak sengaja dia mendengar seseorang yang menyebutkan nama Rania dari arah belakangnya. Dia menoleh ke belakang. Ternyata ada seorang lelaki yang juga sedang duduk dengan posisi membelakanginya. Clara beranjak dari duduknya, lalu dia menghampiri lelaki yang sedang duduk di belakangnya.


''Permisi, maaf tadi saya mendengar Anda menyebutkan nama Rania. Apa kira-kira itu Rania yang saya kenal?''


''Iya benar,'' lalu Clara mengangkat tangannya, mengajak lelaki di depannya untuk bersalaman. ''Perkenalkan saya Clara, saya ini mantan istrinya Elvan.''


''Senang bertemu dengan nona. Saya ini Roy, saingan bisnis Elvan. Hanya saja saya selalu kalah saing.''


''Jangan menyerah, Pak Roy. Suatu saat pasti punya cara untuk mengalahkan bisnisnya Elvan."


"Ya semoga saja secepatnya saya bisa mengalahkan bisnisnya," Roy tampak tersenyum menyeringai.


"Oh iya tadi saya mendengar Pak Roy menyebutkan nama Rania. Memangnya kenapa dengan dia?"


"Saya tertarik kepadanya," jawabnya.


"Wah benarkah? Bagaimana jika kita bekerja sama," tawarnya.


"Bekerja sama dalam hal apa?"


"Untuk mendapatkan Rania, begitu juga saya agar bisa kembali ke mantan suami saya."


"Bagus juga, saya setuju."

__ADS_1


"Lalu, apa yang akan kita lakukan?"


"Nanti kita pikirkan lagi. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?"


"Boleh sekali," Clara mulai menyebutkan nomor ponselnya, dan Roy mulai mencatatnya.


Sekarang mereka sudah tidak membahas Rania dan Elvan lagi. Namun mereka hanya mengobrol biasa.


Setelah cukup lama mengobrol, kini keduanya memutuskan untuk langsung pulang.


Roy sudah berada di perjalanan pulang. Tak sengaja dia melihat seseorang yang di kenalnya yang tak lain adalah Rania. Terlihat Rania yang sedang berdiri di depan rumah makan padang. Roy langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu dia menghampiri Rania.


Rania tidak menyadari kedatangan Roy. Karena Roy dari arah sampingnya


"Hai, sayang. Akhirnya kita bertemu lagi," ucap Roy yang saat ini sudah berada di dekat Rania.


Rania menoleh saat mendengar suara seseorang yang sangat familiar.


"Ngapaian kamu ada disini?" Rania tampak sinis.


"Jangan jutek-jutek dong, nanti cantiknya hilang," Roy terlihat menggoda.


Sungguh aneh, baru pertama kalinya ada seorang lelaki yang naksir istri orang, apalagi sedang hamil. Namun Rania tak terlalu menanggapi Roy. Mau dia cinta atau benci pun, tetap saja Rania tidak suka kepadanya. Apalagi dia wanita yang sudah bersuami.


"Sana pergi! Aku malas kalau lama-lama melihat wajahmu."


"Tidak apa-apa sekarang di tolak, tapi lihat saja nanti, pasti aku berhasil untuk meluluhkan hatimu," ucap Roy.


"Jangan mimpi!" Rania pergi dari hadapan Roy, kebetulan taxi online yang dia pesan sudah datang. Roy menatap sekilas kepergian Rania. Dia tersenyum entah sedang memikirkan apa.


Tak lama, Rania sampai juga di rumah. Setelah membayar, dia langsung turun dari taxi. Rania melangkah memasuki gerbang rumah yang dia tempati.


Kebetulan Bu Rosma baru saja menutup pintu rumahnya. Niatnya hendak pergi. Bu Rosma melihat kedatangan menantunya.


"Kamu sudah pulang, Nak?"


"Iya, Mah.Oh iya mamah mau kemana?"


"Mamah mau arisan sama teman-teman sosialita mamah. Kamu mau ikut tidak?"


"Tidak mau, Mah. Aku takut ditanya lulusan mana, pekerjaan apa, ya gitu lah," Rania mengingat saat pergi ke butik bersama Bu Rosma. Mereka bertemu dengan salah satu teman Bu Rosma, dan bertanya seperti itu.


"Maafkan perkataan teman mamah waktu itu ya."


"Aku sudah memaafkan bahkan melupakan. Tadi hanya tak sengaja mengingat."

__ADS_1


Hanya sebentar mereka mengobrol. Bu Rosma berpamitan kepada menantunya, lalu segera pergi.


__ADS_2