
Siang ini Rania berinisiatif untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya. Dia sengaja memasak makanan kesukaan suaminya.
Bu Rosma melihat menantunya yang yang baru keluar dari kamar dan sudah memakai pakaian yang rapi.
"Rani, kamu mau pergi sekarang?"
"Iya, Mah. Aku ingin pergi lebih awal."
Rania berlalu pergi menuju ke dapur untuk mengambil kotak makan siang yang sudah di siapkannya. Rania menghampiri Bu Rosma yang sedang duduk untuk berpamitan.
''Mah, aku pergi dulu ya,'' Rania mengangkat tangannya, dia mengajak Bu Rosma untuk bersalaman.
''Iya, Nak. Hati-hati ya.''
''Siap, Mah.'' Rania memperlihatkan senyum manisnya.
Rania pergi dengan di antar oleh sopir. Saat ini dia sudah berada di perjalanan. Rania menatap ke samping kirinya. Dia melihat ada penjual batagor di pinggir jalan tepat depan swalayan. Dia meneguk ludahnya sendiri. Rasanya sudah lama sekali dia tidak memakan batagor.
''Pak, berhenti dulu ya di dekat penjual batagor itu!'' ucap Rania sambil menunjuk penjual batagor yang ada di pinggir jalan.
''Baik, Nona.'' Pak sopir langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan dekat penjual batagor.
Rania turun dari mobil. Dia melangkah mendekati penjual batagor itu.
''Pak, batagornya satu porsi ya, di bungkus.'' ucap Rania.
''Baik, Neng. Sebentar ya,'' ucapnya.
''Iya, Pak.''
Rania melihat ada kursi plastik yang ada di samping gerobak batagor. Sambil menunggu pesanannya selesai di buat, dia memilih untuk duduk di kursi itu.
Terlihat seseorang datang menghampiri Rania, dengan membawa kresek belanjaan di tangannya.
''Hey pelakor,'' ucapnya dari samping.
Rania tidak menoleh ke sumber suara, karena dia tidak merasa kalau dirinya itu pelakor. Namun dia menoleh saat ada yang menepuk bahunya. Rania melihat Clara yang sedang berdiri cukup dekat dengannya.
''Ada apa, Cla? Siapa yang kamu maksud pelakor?''
''Ya kamu, memangnya siapa lagi yang merebut suami orang.''
''Maaf, tapi aku bukan wanita yang seperti kamu tuduhkan,'' jawabnya.
''Neng, ini pesanannya sudah,'' ucap penjual batagor.
''Eh iya, Pak.'' Rania langsung beranjak dari duduknya. Dia mengambil uang receh dari dompetnya.
''Aduh ... '' terdengar suara Clara yang mengaduh sakit.
__ADS_1
Tentu Rania menoleh ke sampingnya. Dia melihat Clara yang terjatuh ke jalan.
''Neng, tadi orang ini mau memukul perut Neng menggunakan high heels yang dia pakai, jadi saya mendorongnya,'' ucap seorang ibu-ibu dari arah belakang Rania. Rania baru melihat ibu-ibu itu, karena memang baru datang kesana.
''Astaga benarkah?'' Rania sedikit tak menyangka jika Clara akan berbuat seperti itu.
''Benar Neng.'' ucapnya.
''Terima kasih karena sudah menyelamatkan saya, Bu.''
''Sama-sama, Neng. Lain kali harus lebih berhati-hati lagi.''
''Baik, Bu.''
Andai saja tidak ada ibu itu, mungkin Clara akan berhasil mencelakai kandungan Rania. Rania tidak menyangka jika Clara akan melakukan hal sekeji itu.
Clara sudah pergi dari sana karena dia merasa malu.
Rania buru-buru masuk ke mobil.
Pak sopir melihat Rania yang suah duduk di jok belakang.
''Non Rania tidak apa-apa?''
''Saya tidak apa-apa kok, Pak.'' jawabnya.
Pak sopir langsung mengemudikan mobil itu menuju ke kantor Elvan.
Rania melangkahkan kakinya memasuki kantor suaminya. Tepatnya kantor yang dulu merupakan tempatnya bekerja. Beberapa karyawan melihat kedatangan Rania. Mereka tahu kalau Rania itu dulunya office girl di kantor itu. Namun mereka tetap menyambutnya dengan ramah. Karena mereka tahu jika sekarang Rania sudah menjadi istri dari bos mereka.
''Selamat siang, Bu.'' ucap resepsionis dengan ramah.
''Siang juga. Apa suami saya ada?'' tanya Rania.
''Pak Elvan ada di ruangannya, Bu.''
''Baiklah,'' Rania tersenyum menatap resepsionis itu, lalu dia melangkah pergi menuju ke ruangan suaminya yang ada di lantai paling atas.
Hanya dalam hitungan menit, Rania sampai juga di ruangan suaminya. Saat ini dia berada di depan ruangan itu.
Tok tok
Rania mengetuk pintu ruangan itu.
''Masuk!'' ucap Elvan dari dalam.
Rania membuka pintu, dia melihat suaminya yang sedang fokus menatap layar laptopnya. Namun beberapa detik kemudian Elvan menatap ke depan. Senyum mengembang terlihat di wajahnya. Dia senang melihat istrinya yang tiba-tiba datang.
''Sayang, kamu kok tidak bilang-bilang dulu kalau mau datang?''
__ADS_1
''Maaf, Mas. Aku sengaja memberi kejutan,'' ucapnya.
Elvan beranjak dari duduknya. Dia mendekati istrinya yang sedang melangkah ke arahnya.
''Kita duduk di sofa saja, ayo!'' ajaknya.
''Iya, Mas.''
Elvan menggandeng tangan istrinya. Mereka melangkah mendekati sofa yang ada di ruangan itu.
Rania membuka kotak makan siang yang dia bawa.
''Aku sengaja memasak makanan kesukaan kamu, Mas. Ayo makan dulu!''
Elvan menatap porsi makanan yang dibawa oleh istrinya cukup banyak.
''Kok banyak sekali, sayang?"
''Iya, Mas. Aku kan ikut makan juga.''
''Baiklah, Mas jadi tambah bersemangat kalau makan berdua.''
Mereka mulai megambil nasi dan lauk lalu menaruhnya ke piring berukuran kecil. Sesekali Elvan menatap istrinya yang hanya diam saat makan. Tak sengaja dia melihat ada sisa makanan yang ada di bibir istrinya.
Elvan mendekatkan wajahnya dengan istrinya. Dia mengambil sisa makanan yang ada di bibir istrinya dengan lidahnya. Spontan Rania terkejut dengan aksi suaminya.
''Mas, kamu kok jilatin aku? Aku kan bukan makanan?''
''Tadi ada sisa makanan di bibir kamu, jadi Mas bersihkan.''
''Tisu juga ada loh, kenapa pakai lidah?''
''Biar lebih romantis, sayang.''
Rania tersenyum, hatinya berbunga-bunga. Dia tidak pernah terpikirkan kalau suaminya akan melakukan hal itu. Namun di sisi lain dia merasa senang.
Kini keduanya sudah selesai makan siang. Elvan memilih untuk kembali bekerja. Sedangkan Rania duduk bersantai di sofa. Rania menghubungi sopir yang tadi mengantarnya. Dia meminta sopirnya untuk pulang duluan saja. Karena dia akan pulang nanti bersama suaminya.
Rania memainkan ponselnya. Namun terkadang dia jenuh karena tidak ada teman mengobrol. Suaminya tampak serius dengan pekerjaannya. Rania mau mengajak mengobrol pun rasanya tak enak. Dia takut mengganggu suaminya.
Lama-kelamaan Rania mengantuk. Akhirnya dia tertidur dengan menyenderkan kepalanya di sandaran sofa.
Elvan yang sedang fokus bekerja, dia tidak mendengar suara istrinya. Elvan menoleh ke samping. Dia melihat istrinya yang sedang tidur. Elvan tersenyum, dia mendekati istrinya yang tampak terlelap.
''Bumilku habis makan malah bobo,'' Elvan menggendong istrinya. Dia membawa istrinya ke kamar pribadinya yang ada di ruangan itu.
Elvan duduk di pinggir ranjang. Dia menatap istrinya yang sedang terlelap.
''Saat tidur pun kamu masih terlihat cantik, sayang.'' Elvan mendekatkan bibirnya. Dia mencium istrinya yang sedang tidur.
__ADS_1
Saat melihat istrinya menggeliat, barulah Elvan menyudahi ciumannya itu.
''Mas lanjut kerja dulu ya, sayang.'' dengan cepat dia mengecup singkat kening istrinya.