
Terlihat sepasang suami istri yang berada di bawah selimut yang sama, yang tak lain adalah Elvan dan Rania. Mereka baru saja selesai dengan pergumulan panasnya di pagi menjelang siang ini.
Elvan memainkan rambut panjang istrinya. Dia menatap wajah cantik istrinya dari jarak dekat.
''Terima kasih, sayang. Kamu sudah menjadi istri yang baik. Makin hari kamu juga makin pintar melayani suami,'' sesekali Elvan mendaratkan kecupannya di wajah istrinya.
''Sama-sama, Mas. Itu sudah kewajibanku menyenangkanmu, agar kamu tidak tergoda dengan wanita lain.''
''Tidak ada waktu untuk melihat kecantikan wanita lain, sayang. Karena istriku saja sudah sangat menggoda.''
Kruyuk kruyuk
Perut Rania berbunyi, menandakan dia merasa lapar.
''Sayang, kita makan dulu yuk!'' ucap Elvan.
''Iya, Mas. Tapi mandi dulu tentunya. Badanku lengket nih.''
''Iya, sayang. Kita mandi berdua saja biar cepat selesai.''
''Tapi kamu jangan macam-macam loh, Mas.''
''Tidak akan, sayang. Nanti keburu kamu kelaparan kalau kita berlama-lama.''
''Bagus deh.''
Elvan dan Rania turun dari atas tempat tidur. Mereka pergi ke kamar mandi untuk mandi bersama.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, mereka keluar dari kamar. Rania menggunakan handuk kecil di kepalanya. Dia belum sempat mengeringkan rambutnya karena keburu kelaparan.
Sesampainya di ruang makan, mereka melihat masakan yang sudah tertata rapi di atas meja makan.
''Masih hangat nih, Mas. Siapa kira-kira yang masak?'' Rania bertanya kepada suaminya.
''Mungkin bibi, sayang.''
__ADS_1
''Itu mamah yang memasak,'' sahut Bu Rosma yang baru muncul disana. Kebetulan tadi setelah memasak Bu Rosma pergi ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Bu Rosma menarik kursi yang ada di sebelah Rania, lalu duduk disana.
''Duh enaknya seperti pengantin baru saja, jam segini habis keramas,'' ucap Bu Rosma.
''Maklum, Mah. Mas Elvan dari semalam jatahnya minta nambah terus,'' ucap Rania.
Bu Rosma beralih menatap anaknya yang duduk di hadapannya.
''Kalau begitu stamina kamu bertambah dong, Van. Bagus tuh nanti kamu bisa bantu-bantu di rumah baru Roy dan Ningsih.''
''Bantu-bantu apa, Mah?''
''Bantu turunin barang-barang dari mobil terus masukin ke rumah. ''
''Astaga, aku ini bukan kuli panggul, Mah.''
''Setidaknya kamu bantu-bantu, Mas. Terserah mau bantuin bagian apanya,'' ucap Rania.
''Memangnya kapan pindahannya, Mah?'' Elvan bertanya kepada ibunya.
''Baiklah, nanti sore Elvan bantuin mereka. Lagian kita sudah menganggap mereka itu seperti saudara kita sendiri.''
''Iya, Nak. Mamah senang karena kita bertambah saudara.''
Hanya sebentar mereka mengobrol, kini mereka mulai memakan makan siangnya.
.......
Rania melihat suaminya yang baru pulang dan tampak lesu. Sepertinya suaminya kelelahan.
''Mas, bagaimana pindahan rumahnya? Kamu bantuin apa saja?'' tanya Rania.
''Banyak yang Mas bantu, sayang. Ini juga sampai kecapean seperti ini. Kuli panggulnya cuma satu, jadi Mas bantuin deh.''
__ADS_1
Rania beranjak dari duduknya, lalu dia beralih duduk di sebelah suaminya.
''Biar aku bantu pijat kamu, Mas.''
''Wah terima kasih, sayang. Kamu perhatian sekali sama suamimu ini.''
''Iya dong, Mas. Aku kan istri yang baik,'' Rania mulai memijat punggung suaminya.
Bu Rosma menghampiri anak dan menantunya yang berada di ruang keluarga.
''Sepertinya anak mamah kecapean nih,'' ucap Bu Rosma.
''Iya, Mah. Aku cape sekali habis jadi kuli panggul,'' ucap Elvan.
''Sesekali kamu mengerjakan pekerjaan seperti itu, Van. Biar bisa merasakan bagaimana para kepala keluarga di luar sana yang mencari uang saja harus kerja keras.''
''Iya, Mah. Elvan harus bersyukur karena kita selalu diberi kemudahan. Coba saja kalau kita hidup susah seperti mereka di luar sana, belum tentu Elvan sanggup.''
''Tapi tetap kita harus menyisihkan sedikit rezeki kita dan memberikannya kepada orang yang membutuhkan,'' sahut Rania.
''Benar, sayang.''
Bu Rosma tersenyum menatap anak dan menantunya.
''Mamah senang deh keluarga kita selalu seperti ini. Kalian selalu akur, tidak ada masalah. Semoga saja ke depannya keluarga kita selalu tentram,'' ucap Bu Rosma.
''Amin, Mah.'' ucap Elvan dan Rania bersamaan.
''Sayang, kita ke kamar yuk! Lanjut pijatnya di kamar saja,'' ajak Elvan.
''Ayo, Mas.'' Rania beralih menatap Bu Rosma yang sedang duduk di hadapannya. ''Mah, kita ke kamar dulu ya,'' ucapnya.
''Iya, Nak.''
Rania dan Elvan berjalan bergandengan tangan menuju ke kamar mereka.
__ADS_1
Elvan sengaja mengajak istrinya ke kamar karena dia ingin istrinya memijat seluruh tubuhnya. Bukan hanya punggung saja yang dipijat.