
Sudah dua hari Elvan menginap di apartemen menemani Rania. Rasanya dia malas untuk kembali lagi ke rumahnya. Karena jika bertemu Clara, dia jadi mengingat lagi perselingkuhannya.
Elvan memutuskan untuk menginap beberapa hari lagi di apartemen. Dia juga mematikan ponselnya, karena tidak mau jika Clara terus menghubunginya.
Rania melihat suaminya yang sedang duduk bersantai sambil menonton acara televisi.
''Mas, kamu tidak berkemas?'' Rania menghampiri suaminya, lalu duduk di sofa yang ada di depan suaminya.
''Tidak, aku akan menetap disini untuk beberapa hari,'' Elvan mengalihkan arah pandangnya sehingga kini dia menatap Rania.
''Bagaimana dengan istrimu?''
''Kamu itu istriku, Ran.''
''Maksudku istri pertama kamu, Mas.''
''Aku lagi malas membahas dia,'' raut wajah Elvan seketika berubah.
Saat melihat raut wajah suaminya yang tiba-tiba berubah, Rania menyadari jika mungkin saja ada sesuatu antara suaminya dan istri pertamanya. Namun dia tidak mau bertanya, takutnya suaminya malah bad mood.
''Baiklah. Aku ke belakang dulu ya. Mas Elvan mau aku buatkan kopi atau teh?'' tanya Rania.
''Teh hangat saja,'' ucapnya.
Rania pergi dari hadapan suaminya.
Elvan melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata masih ada waktu tiga puluh menit lagi untuk dia bersantai. Karena nanti dia akan pergi ke kantor. Kebetulan tadi dia bangun lebih pagi dari biasanya.
Elvan melihat istrinya yang sudah kembali dengan membawa satu gelas teh hangat.
Rania menaruh gelas berisi teh hangat ke atas meja di depan suaminya.
''Di minum dulu tehnya, Mas.'' ucap Rania.
''Iya, terima kasih ya.''
''Sama-sama, Mas.'' Rania kembali duduk di sofa.
''Memangnya kamu tidak ingin teh hangat, kok bikinnya cuma satu?''
''Tidak ingin, Mas.'' ucapnya sambil tersenyum menatap suaminya.
Duduk berdua seperti itu membuat Elvan terlihat lebih dekat dengan istrinya. Namun untuk mengobrol yang lama, mereka masih terasa asing. Paling hanya mengobrol seperlunya saja. Terkadang Rania juga masih merasa sedikit malu dengan suaminya.
__ADS_1
Tiga puluh menit kemudian, Elvan berpamitan kepada istrinya karena akan berangkat ke kantor. Di antara ke duanya tidak ada adegan romantis seperti mencium kening, pipi, atau bibir. Keduanya hanya berjabat tangan saja.
Elvan sudah berada di parkiran. Dia segera mengemudikan mobilnya.
Saat ini Elvan sudah sampai di kantor. Kedatangannya di sambut hangat oleh beberapa karyawannya yang melihatnya.
Saat hendak menaiki lift, tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang mengejarnya. Elvan menoleh ke belakang, dia melihat asistennya yang kini sudah berdiri di belakangnya.
'''Ngapain kamu lari-lari?'' Alan bertanya kepada Reno.
''Ah tidak, aku hanya ingin mengejarmu saja,'' ucap Reno.
Elvan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah asistennya.
.....
Elvan yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya, dia mendengar ketukan pintu dari luar.
''Masuk!'' ucapnya.
Pintu ruangan itu terbuka. Terlihat Clara melangkah memasuki ruang kerja suaminya. Elvan memicingkan matanya melihat kedatangan suaminya.
''Ngapain kamu kesini?'' tanya Elvan.
Clara menarik kursi yang ada di depan meja kerja suaminya, lalu dia duduk disana.
''Aku ini lelaki dewasa, jadi mau menginap dimana saja juga aman,'' jawabnya.
''Kamu berubah, kamu tidak seperti suamiku yang ku kenal,'' Clara tampak memperhatikan suaminya yang sedang serius menatap layar laptopnya.
''Siapa pun bisa berubah,'' ucap Elvan tanpa mengalihkan arah pandangnya.
''Maaf ... '' akhirnya Clara mengatakan kata maaf untuk yang ke sekian kalinya. Namun sepertinya suaminya itu sulit untuk memaafkannya yang telah berkhianat.
''Aku sudah memaafkanmu, namun untuk bersikap seperti semula rasanya aku masih sulit. Jika melihat wajahmu, aku terus mengingat pengkhianatanmu itu, Cla.''
Clara menunduk lesu. Suaminya yang sangat penyayang, bahkan selalu membangga-banggakannya, kini terlihat berbeda dalam sekejap mata. Bagi Elvan, kepercayaan itu sangat penting. Dan istrinya telah merusak kepercayaan itu.
''Iya aku tahu jika apa yang aku lakukan sudah sangat fatal. Maaf karena sudah membuatmu terluka. Aku permisi dulu,'' setelah mengatakan itu, Clara melangkahkan kakinya keluar dari ruangan suaminya.
Clara akan melakukan cara lain untuk mengambil hati suaminya. Sepertinya untuk sekarang bukan waktu yang tepat. Perlahan-lahan dia harus membuat suaminya lupa akan pengkhianatannya, dan kembali bersikap manis seperti semula.
Saat ini Clara sedang berada di perjalanan pulang dengan menggunakan taxi online. Namun saat di lampu merah, tak sengaja dia melihat mantan kekasihnya ada di samping kirinya, dan dia bersama dengan seorang wanita. Ya, kata putus yang di lontarkan saat itu bukan main-main. Bahkan kini mantan kekasihnya itu sudah memiliki kekasih baru. Sekarang Clara merasa jika orang sekitarnya perlahan menjauh darinya.
__ADS_1
'Biarkan Kenan pergi, tapi kamu jangan, Mas Elvan,' batin Clara.
Setelah kepergian istrinya, Elvan kembali fokus mengerjakan pekerjaannya. Namun tak lama dia mendengar lagi ada yang mengetuk pintu ruangannya.
''Masuk!'' ucapnya.
Terlihat Bu Rosma melangkah memasuki ruangan anaknya.
''Van, mamah ganggu ya?"' Bu Rosma bertanya kepada anaknya yang sedang menatap layar laptopnya.
Elvan mengalihkan arah pandangnya. Dia menatap ibunya yang duduk di hadapannya.
''Tidak sama sekali,'' jawabnya.
Bu Rosma melihat raut wajah anaknya terlihat berbeda. Sepertinya anaknya sedang bad mood.
''Kamu kenapa? Ada masalah?''
''Tidak kok,'' ucapnya.
''Mau punya anak kok tidak bersemangat.''
''Entah, aku masih kurang yakin dengan anak yang di kandung oleh Clara.''
''Maksud kamu, kamu curiga jika anak yang Clara kandung itu bukan anakmu?''
''Ya seperti itulah.''
''Kalau benar bukan anak kamu, itu bagus dong. Itu berarti kamu bisa cepat-cepat menceraikannya dan mencari istri baru.''
''Mamah terlihat mendukung sekali kalau aku dan Clara bercerai.''
''Dari dulu mamah memang kurang suka sama dia. Apalagi dia tidak bisa apa-apa. Hanya bisa dandan doang pamer badan pakai pakaian sexy. Istri macam apa coba? Kamu-nya saja yang terlihat cinta banget sama dia, sampai-sampai mamah menasihati juga kamu abaikan. Kamu tidak mau mendengarkan apa kata mamah.''
''Maaf, Mah. Untuk ke depannya aku akan selalu mendengarkan apa kata mamah,'' ucapnya.
“Jika mamah menjodohkanmu dengan wanita pilihan mamah, apa kamu akan menurut?”
Walaupun Elvan mengatakan akan menuruti kemauan ibunya, tapi tidak dengan pasangan. Dia bisa memilih pasangan sendiri. Lagian jika dia bercerai dengan Clara, bukan berarti dia akan mencari pasangan baru. Karena tidak ada yang ke tiga dalam pernikahannya. Karena ada Rania yang mungkin saja akan dia jadikan sebagai pengganti Clara, dan menjadi istri satu-satunya. Bila saatnya tiba, dia akan mengatakannya kepada ibunya.
“Tidak, aku bisa mencari pasangan sendiri,” ucapnya.
“Mamah trauma kalau kamu dapatnya wanita seperti Clara lagi.”
__ADS_1
“Semoga saja tidak, Mah.”
Mereka berdua masih terus mengobrol. Sampai-sampai Alan menghentikan pekerjaannya dan serius menyahut apa pun yang ibunya katakan.