
Sementara itu Justin sejak tadi mencoba menelfon Luna, namun tidak berhasil juga..
Justin semakin tak karuan fikiran nya ketika mendapati Luna juga tidak ada di rumah nya.
"kau ini kemana Luna..."Justin terus bergumam sembari menjalankan mobilnya.
dia terus mencari ke sudut kota, dan dia terus mencoba menghubungi handpone Luna, namun nihil hingga malam datang Justin tak mendapati sedikit pun informasi tentang Luna.
Akhirnya Justin merogoh ponselnya dan menelfon seseorang,
"bisa kau selidiki gadis itu? dan cari di mana letak gadis itu sekarang..."
Justin mematikan handpone setelah mengirimkan foto Luna, sungguh kali ini dia sedang merasa kalang kabut.
Dia merasa, seperti akan terjadi sesuatu oleh Luna, gadis yang selama ini dia cintai, namun Justin memilih tidak mengungkapkan nya, karena takut suatu saat dia benar benar akan kehilangan Luna, jadi biarlah rasa itu terus bersemi di hatinya dengan melihat Luna tersenyum dan selalu di dekatnya...
*****
"Saya permisi dulu tuan..." Mike pamit kepada Edward.
"ya....kau ingat yang ku minta ...?"tanya Edward dingin.
"ya tuan, malam ini saya akan menyelesaikan nya, besok pagi saya akan kembali..."Mike menjelaskan sembari menundukan kepalanya.
"bagus, pergilah, q percaya kemampuan mu..." Edward tersenyum membayangkan apa yang dia inginkan.
"baik tuan... permisi...." Mike memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan mansion kedua.
Sementara di kamar, Luna terus memukuli bantal guling yang dia tindih di atas kasur.
"dasar!!!!! menyebalkaaaaannnn....!!!!"
bug ....bug....bug.....
__ADS_1
"Wajahmu saja yang ganteng! tapi tidak dengan perilaku mu...! akkkkkkkkh !!!!! dasaaaar !!!!dasaaaar!!!!!"
Luna terus mengumpat dan meninju bantal giling itu, membayangkan wajah orang yang ada di bawah tubuhnya itu adalah Edward..
ceklek....
seketika tubuh Luna mematung dengan tangan kanan mengepal di udara,
"apa yang kau lakukan ...?"Edward bertanya dengan datar.
tubuh Luna mulai bergetar mendengar suara bariton itu, Luna menengok dan mendapati pria ganteng sedang bersidekap dada dan bersandar di gawangan pintu...
"kau memberaktak kan tempat tidur ku ...?"
"ha...tempat tidurnya ...?"Luna melotot sembari membatin.
"kenapa kau senang sekali melotot ?" Edward maju dan duduk di sofa.
"10 menit ku rasa cukup untuk membuatnya rapih lagi seperti semula, di mulai dari sekarang ...!!"
Luna gelagaban dan merasa panik, dia menarik ujung ujung seprei, bukan nya rapi malah lawan ujungnya selalu lepas ketika di tarik,
"akkkh gimana ini..?"guman Luna dalam hati.
sebenarnya hal mudah bagi Luna kalau cuma merapihkan kasur, tapi yang membuat semua itu tidak mudah adalah keberadaan pria yang sedang menatapnya di sofa,
tatapan tajam penuh dengan intimidasi, seperti harimau yang menyeringai memandang mangsanya.
"yes akhirnya berhasil..."Luna bersorak dalam hati.
kemudian dia ambil bantal bantal yang berserakan di lantai dan dia lipat selimut kemudian di letak kan di atas kasur...
"su..sudah tuan..."perkataan Luna putus putus karena ngos ngosan.
__ADS_1
" heuh..."Edward mendengus kemudian menyeringai sambil menolehkan pandangan nya ke arah jendela.
"sepertinya kau anak manja...!!"hardik Edward.
"baiklah, kau boleh tidur di manapun kau mau, aku akan tidur di kasur..."
Luna masih mematung di dekat tempat tidur Edward.
"atau kau mau tidur di dekat ku ?" Edward bicara tepat di samping telinga Luna.
seketika bulu kuduk Luna berdiri dengan tegak,
"boleeeeh....tapi aku tidak menjamin kau aman di sampingku..." Edward berbicara dengan lirih dan mengalun,
jeduar !!!!
mata Luna melotot seakan ingin keluar dari tempatnya, dia langsung lari menuju sofa, duduk dan berkata...
"saya di sini saja tuan..."
Luna menghapus keringat di keningnya, padahal suhu kamar terasa dingin, tapi entah kenapa Luna berkeringat.
"baiklah...matikan lampunya..!!"titah Edward.
Luna berdiri dan mematikan lampu kamar, kemudian dia merebahkan tubuhnya di sofa yang lumayan nyaman itu.
Luna ingin mengambil selimut, tapi dia tidak tahu tempatnya, akhirnya dia tidur meringkuk bagai anak kucing, biarlah seperti ini dulu, toh keadaan kamar gelap gulita tanpa penerangan apapun, jadi Luna tidak perlu khawatir Edward melihat pahanya karena kemeja yang di kenakan Luna tersingkap.
Sementara Edward merasa senang bisa mengerjai gadis di depan nya, dia terus senyum senyum sendiri membayangkan raut wajah takut Luna.
Sebenarnya dia tidak akan melakukan apapun jika Luna tidur satu kasur dengan dia, tp entah kenapa raut wajah Luna yang seperti itu membuat kesenangan sendiri bagi Edward...
dia pun tidak bermaksud hitung hitungan kepada Luna, namun dia masih merasa sakit hati ketika mengingat penghinaan yang di lakukan oleh Justin, yang menurut Edward itu kesalahan Luna, dan Edward akan balas dendam kepada Luna....
__ADS_1